Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Kinetika dan termodinamika komposit HAp-Fe3O4 dari cangkang tutut (Bellamya javanica) sebagai adsorben Pb(II) pada limbah akumulator: Kinetics and thermodynamics of HAp–Fe₃O₄ composite from tutut snail shell (Bellamya javanica) as Pb (II) adsorbent in battery wastewater Iswara, Muhammad Dicky; Sutriah, Komar; Charlena, Charlena
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 28 No. 11 (2025): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 28(11)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/gczc9396

Abstract

Peningkatan jumlah kendaraan listrik dan perkembangan industri otomotif telah menyebabkan akumulasi limbah akumulator bekas yang mengandung logam berat berbahaya, khususnya Pb(II). Jika tidak ditangani dengan baik, limbah ini dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem. Adsorpsi menggunakan material berbasis hidroksiapatit (HAp) menjadi salah satu metode penanganan yang efektif. Cangkang tutut (Bellamya javanica), limbah biomineral yang kaya akan kalsium karbonat (CaCO3) berpotensi dimanfaatkan sebagai prekursor kalsium pada sintesis HAp. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum pada pH, waktu, suhu, dan konsentrasi komposit HAp-Fe3O4 sebagai adsorben ion timbal Pb(II), menentukan seberapa efisien adsorben komposit HAp-Fe3O4 dalam mengadsorpsi ion timbal, menentukan parameter kinetika dan termodinamikanya dalam proses adsorpsi, serta memberikan solusi material ramah lingkungan dan berkelanjutan yang dapat diimplementasikan untuk mengurangi kandungan logam berat pada lingkungan yang dihasilkan dari limbah akumulator. Komposit disintesis melalui metode deposisi kimia. Hasil karakterisasi menunjukkan struktur berpori dengan luas permukaan 3002 m2/g, ukuran pori 2,21 nm, dan volume pori 3,32 cc/g. Optimasi menunjukkan kondisi optimum pada pH 6, waktu kontak 50 menit, suhu 25°C, dan konsentrasi awal 10 ppm. Studi kinetika mengikuti model pseudo-order-dua (K2 = 2,23 g/mg·menit), mengindikasikan adsorpsi kimia. Parameter termodinamika ( ΔG°<0, ΔH°<0, ΔS°>0) menunjukkan proses spontan, eksoterm, dan disertai peningkatan entropi. Model isoterm Freundlich menunjukkan kesesuaian terbaik (1/n = 0,82; KF = 467). Aplikasi terhadap limbah akumulator menunjukkan efisiensi adsorpsi 99,23%, menurunkan Pb(II) dari 2,28 ppm menjadi 0,017 ppm, sesuai baku mutu Permen LH No. 5 Tahun 2014. Komposit ini menunjukkan potensi tinggi sebagai adsorben logam berat yang efektif dan berkelanjutan.
PEMANFAATAN LIMBAH AIR LERI, KOTORAN KAMBING, DAN SAYURAN BUSUK SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR PADA BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.) Fendy, Fendy; Fadila, Rina Fitriana; Rohma, Fitria Ainun; Zahra, Imelda; Sari, Nurwita Mukti; Charlena
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2025.v9i2.37

Abstract

Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) adalah komoditas hortikultura yang populer di Indonesia. Upaya untuk meningkatkan produksinya termasuk penggunaan pupuk, baik yang padat maupun cair. Pupuk cair lebih diutamakan karena cepat diserap oleh tanaman dan mudah diproduksi menggunakan limbah rumah tangga organik, seperti air cucian beras (leri), yang mengandung nutrisi yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Penelitian ini mengevaluasi dampak pupuk organik cair yang berasal dari campuran air leri, kotoran kambing, dan sayuran yang terdekomposisi terhadap kinerja pertumbuhan bayam merah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari delapan perlakuan dengan masing-masing tiga ulangan. Perlakuan tersebut mencakup satu perlakuan kontrol (tanpa aplikasi pupuk) dan tujuh taraf perlakuan formulasi pupuk organik cair yang berbeda. Setiap formulasi POC dibuat dari kombinasi air leri, sayuran busuk, dan kotoran kambing dengan persentase yang bervariasi. Pupuk ini diaplikasikan pada tanaman bayam merah selama 30 hari. Pupuk organik cair yang telah difermentasi kemudian diuji untuk kandungan fosfor, kalium, besi, dan pH. Penerapan pupuk organik cair memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan tanaman, seperti yang ditunjukkan oleh tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar. Di antara semua perlakuan, formula F (100% kotoran kambing) memberikan hasil terbaik di semua parameter pertumbuhan.