Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

HUBUNGAN KARAKTER AGRONOMI DAN HASIL PADI BERDASARKAN UMUR BIBIT MENGGUNAKAN METODE SAWAH APUNG DI KABUPATEN PANGANDARAN Nasrudin, Nasrudin; Isnaeni, Selvy; Ramadhan, R. Arif Malik
Jurnal Agrotek Tropika Vol 11, No 3 (2023): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 11, Agustus 2023
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v11i3.6483

Abstract

Lahan pertanian suboptimal yang disebabkan oleh banjir dapat menyebabkan cekaman abiotik yang akan menghambat proses metabolisme sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Penerapan sawah apung dengan menggunakan varietas unggul dan ketepatan umur bibit merupakan solusi yang dapat dilakukan agar tanaman mampu beradaptasi pada cekaman abiotik dan mampu tumbuh optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji ketahanan dua varietas padi berdasarkan umur bibit berbeda yang ditanam menggunakan metode sawah apung di lahan sawah banjir Kabupaten Pangandaran. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Oktober 2022 di Lahan Sawah Dusun Buniayu, Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor yaitu varietas sebagai faktor pertama yang terdiri atas Inpari 30 Sub-Ciherang dan Inpari 3, serta umur bibit sebagai faktor kedua yang terdiri atas 14 hari setelah semai (HSS)dan 21 HSS. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan varietas mempengaruhi parameter jumlah anakan umur 2, 4, 6, 8, dan 10 MST, luas daun, panjang akar, biomasa tanaman, jumlah malai per rumpun, serta bobot gabah per rumpun. Perlakuan umur bibit mempengaruhi parameter jumlah anakan umur 2 dan 6 MST serta bobot gabah per rumpun. Padi varietas Inpari 3 memiliki karakteristik agronomi dan hasil yang lebih baik dibandingkan padi varietas Inpari 30 Sub-Ciherang. Penggunaan umur bibit 14 HSS menghasilkan pertumbuhan anakan lebih baik dibandingkan umur bibit 21 HSS, sedangkan umur bibit 21 HSS menghasilkan hasil padi lebih tinggi dibandingkan dengan umur bibit 14 HSS.
Effect of Temperature on Biological Character of Spodoptera frugiperda J.E. Smith Ramadhan, R. Arif Malik; Isnaeni, Selvy
CROPSAVER Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v7i1.50407

Abstract

Spodoptera frugiperda is a pest that is capable of migrating over a wide range. Currently, the S. frugiperda attack can be said to be comprehensive in almost all regions of Indonesia. The level of adaptability of S. frugiperda to the suitability of the agroecosystem needs to be reviewed further in order to predict the potential for S. frugiperda attacks in the future. This research aims to test the suitability of temperature for the biological activity of  S. frugiperda. The treatments tested in this study included temperatures (A) 34.0±2.2 oC, (B) 27.0±4.1 oC, and (C) 19.0±1.3 oC. Each treatment used 5 larvaes 2nd instar and was repeated 6 times so that the number of test insects used was 120. The parameters observed in this study included growth, development, feeding activity and mortality rate of the test insects. The data obtained was then analyzed using ANOVA and tested further with DMRT at an error level of 5%. Differences in rearing temperature can affect growth, development, feed consumption and larval mortality. Temperature (B) 27±4.1 ℃ is the most suitable temperature for S. frugiperda. Temperatures (A) 34.0±2.2 ℃ and (C) 19.0±1.3 ℃ are less suitable temperatures, but S. frugiperda can still carry out its life cycle. This research can provide an overview to anticipate S. frugiperda attacks that may occur due to global warming in the future.
Pengaruh ekstrak n-heksan daun pepaya (Carica papaya) terhadap aktivitas biologis ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda J. E. Smith) Silahudin, Imam Muhamad Alam; Ramadhan, R. Arif Malik; Rizkie, Lilian
Agrokompleks Vol 25 No 1 (2025): Agrokompleks Edisi Januari
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v25i1.794

Abstract

Insektisida sintetik cukup efektif dalam mengendalikan larva Spodoptera frugiperda, akan tetapi terdapat berbagai dampak negatif bagi lingkungan, manusia, dan terjadinya resistensi OPT. Carica papaya memiliki kandungan metabolit sekunder yang bersifat insektisidal. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial terdiri dari 5 taraf perlakuan di antaranya 0%, 0,05%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, dan 0,8% ekstrak daun pepaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa senyawa-senyawa yang terkandung dalam ekstrak n-heksan daun C. papaya di antaranya alkaloid, steroid, dan terpenoid. Ekstak n-heksan daun papaya berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva secara kumulatif pada 23 hari setelah aplikasi (HSA), mortalitas yang disebabkan oleh pemberian ekstrak n-heksan daun C. papaya masih kurang efektif yaitu masih di bawah0%. Pada perkembangan instar II-VI menunjukan perlakuan 0,8% lebih lambat 8,93 hari dibandingkan dengan perlakuan kontrol.
PENGEMBANGAN SISTEM DIAGNOSA HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN JAGUNG BERDASARKAN INTENSITAS KERUSAKAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR Kusumahdinata, R. Ramdan; Sudiarjo, Aso; Hikmatyar, Missi; Ramadhan, R. Arif Malik
Antivirus : Jurnal Ilmiah Teknik Informatika Vol 17 No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Universitas Islam Balitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35457/antivirus.v17i1.3066

Abstract

Corn plants have the potential to be attacked by pests or diseases that can appear at any time such as leaf blight, leaf rust and downy mildew. Obstacles facing farmers are sometimes the lack of information about the symptoms found so that sometimes the diagnosis is not correct and the treatment is wrong, resulting in reduced corn production. Along with technological advances, a technology has also been produced that can adopt the process of human thinking, namely artificial intelligence technology or AI or Artificial Intelligence. including an expert system, which is a computer-based system that adopts the knowledge and experience of an expert, and reasoning techniques to solve a problem, similar to how an expert in a particular field solves the problem. The development that will be made is "Development of a Diagnostic System for Pests and Diseases in Corn Plants Based on Damage Intensity Using the Certainty Factor Method".
Respons Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays L. saccharata) Terhadap Aplikasi Beberapa Dosis Pupuk Hayati Trichoderma sp.: Response of Sweet Corn Crops (Zea mays L. saccharata) to the Application of Several Doses of Trichoderma sp. Sheli Mustikasari Dewi; R. Arif Malik Ramadhan
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 2 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i2.6469

Abstract

Jagung manis merupakan salah satu varietas jagung komersial di Indonesia. Kebutuhan jagung manis di Indonesia masih rendah sedangkan permintaan konsumsi jagung manis terbilang tinggi. Penggunaan teknologi yang inovatif diupayakan dapat meningkatkan produktivitas dan produksi. Upaya yang bisa dilakukan yakni salah satunya dengan memanfaatkan biofertilizer. Jamur Trichoderma sp. merupakan salah satu mikroorganisme yang dikenal biofungisida fungsional. Trichoderma sp. dapat berfungsi sebagai agen hayati pertumbuhan tanaman, dan dapat pula sebagai organisme pengurai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat respons hasil tanaman jagung pada aplikasi pupuk hayati Trichoderma sp. dengan berbagai dosis. Penelitian dilakukan pada bulan November 2023 sampai dengan Januari 2024 di kebun percobaan Rawasari, Kelurahan Munjuljaya, Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dosis Trichoderma sp. yaitu: 0 g; 15 g; 30 g; 45 g; dan 60 g. Kombinasi perlakuan ada 5 dengan 5 kali ulangan. Variabel pengamatan yaitu komponen hasil (bobot tongkol dengan kelobot, bobot tongkol tanpa kelobot, panjang tongkol dan diameter tongkol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada komponen hasil respon terbaik yaitu perlakuan 60 gr dosis Trichoderma sp. terhadap bobot tongkol dengan kelobot (268,35 g), bobot tongkol tanpa kelobot (240,35 g), panjang tongkol (29,91 cm) dan diameter tongkol (4,98 cm). Sweet corn is one of the commercial maize varieties in Indonesia. The demand for sweet corn in Indonesia is still low while the demand for sweet corn consumption is high. The use of innovative technologies is sought to increase productivity and production. One of the efforts that can be done is by utilizing biofertilizer. Trichoderma sp. is one of the microorganisms known as functional biofungicide. Tricodherma sp. can function as a biological agent of plant growth, and can also be a decomposing organism. The purpose of this study was to see the response of corn plant yield to the application of Trichoderma sp. biofertilizer with various doses. The research was conducted from November 2023 to January 2024 at the Rawasari Experimental Farm, Munjuljaya Village, Purwakarta Regency. This study used a Randomized Group Design (RGD) with 5 treatment doses of Trichoderma sp. namely: 0 g; 15 g; 30 g; 45 g; and 60 g. There were 5 treatment combinations with 5 replications. The observation variables were yield components (cob weight with kelobot, cob weight without kelobot, cob length and cob diameter). The results showed that in the yield component the best response was the treatment of 60 gr dose of Trichoderma sp. on the weight of cob with kelobot (268.35 g), cob weight without kelobot (240.35 g, cob length (29.91 cm) and cob diameter (4.98 cm).
Karinding: kearifan lokal budaya Jawa Barat sebagai pengendali hama pada tanaman padi Malik Ramadhan, R. Arif; Amanda, Adinda Putri
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.44996

Abstract

The green revolution promoted synthetic pesticide use in agriculture, but this practice negatively affects the environment and health. Karinding, a traditional musical instrument from West Java, is believed to offer an eco-friendly alternative for repelling pests in rice cultivation. This study aimed to evaluate the effectiveness of karinding as a pest control method. A non-factorial randomized block design was used with four treatments: control, manual karinding, recorded karinding, and synthetic pesticide. Each treatment involved 10 rice clumps, repeated four times, with 10-m spacing to minimize bias. Parameters observed included pest attack intensity, insect diversity, soil pH, and microorganism population. Results showed no significant difference in pest attacks between weeks 4–12, except in week 7 where synthetic pesticides had the lowest intensity (13.15%). Insect diversity was moderate across treatments, highest in the control (H’=2.083) and lowest in the pesticide treatment (H’=1.595), with no dominant species (C<0.5). The synthetic pesticide reduced overall insect populations, although some species remained. Soil pH in karinding treatments ranged from 5.7–5.8, with higher microorganism populations than in the pesticide treatment. The highest number of panicles per hill was in the control (40.72), and the lowest in the pesticide treatment (22.27), while panicle length and dry grain weight were not significantly different. Although less effective than synthetic pesticides in suppressing pests, karinding helps preserve insect diversity and soil health, making it a promising environmentally friendly pest control alternative.   ABSTRAK Revolusi hijau mendorong penggunaan pestisida sintetik dalam pertanian, namun penggunaannya berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Karinding, alat musik tradisional Jawa Barat, diyakini sebagai alternatif ramah lingkungan untuk mengusir hama pada tanaman padi. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas alat musik karinding sebagai alat untuk mengendalikan hama pada padi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan rancangan acak kelompok non-faktorial dengan empat perlakuan: kontrol, karinding manual, karinding rekaman, dan pestisida sintetik. Setiap perlakuan terdiri atas 10 rumpun padi dan diulang sebanyak empat kali. Untuk mengurangi bias, jarak antar perlakuan dibuat sejauh 10 m. Parameter yang diamati meliputi intensitas serangan hama, keanekaragaman serangga, serta kondisi tanah (pH dan populasi mikroorganisme). Hasil penelitian menunjukkan intensitas serangan hama pada 4-12 minggu setelah tanam tidak berbeda signifikan, kecuali pada minggu ke-7, di mana pestisida sintetik memberikan intensitas serangan terendah (13,15%). Keanekaragaman serangga tergolong sedang dengan nilai terendah pada perlakuan pestisida sintetik (H’=1,595) dan tertinggi pada kontrol (H’=2,083), tanpa serangga dominan (C<0,5). Populasi serangga pada perlakuan pestisida sintetik lebih sedikit dibandingkan perlakuan lain, kecuali beberapa spesies tertentu. Karinding memperbaiki kondisi tanah dengan pH 5,7-5,8 dan populasi mikroorganisme lebih tinggi dibanding pestisida sintetik. Hasil tanaman menunjukkan jumlah malai per rumpun tertinggi pada kontrol (40,72) dan terendah pada pestisida sintetik (22,27). Panjang malai dan bobot gabah kering tidak berbeda signifikan antar perlakuan. Kesimpulannya, penggunaan karinding tidak efektif mengendalikan hama seperti pestisida sintetik, namun dapat menjaga keanekaragaman serangga dan kesehatan tanah sehingga berpotensi menjadi metode pengendalian ramah lingkungan.   Kata kunci: Hama padi; intensitas serangan; karinding; pengendalian ramah lingkungan; pertanian berkelanjutan