Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN POTENSI ANALGETIK EKSTRAK ETANOL DAN AIR UMBI RUMPUT TEKI (Cyperus rotundus L.) TERHADAP TIKUS Sprague Dawley Erni Rustiani; Min Rahminiwati; Tia Mutiara
Ekologia: Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup Vol 17, No 2 (2017): Ekologia : Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/ekol.v17i2.762

Abstract

The aim of this study is to compare the potential of ethanolic and water extracted of teki grasstuber on   white  male  rat strain Sprague  Dawley  at  two  months of age and ± 200 g of body weight. The rats were divided among four groups. Each group consists of six rats. The  groupswere ethanolic and water extracted  of  teki  grass tuber, positive control group (Paracetamol) and a negative control group (distilled water). Analgesic potency was tested by inducing pain stimuli previously to the animals, in the form of  heat stimuli  by putting it ona hot plate with  the temperature of 55°C. The responses of rats observed were licking and moving or lifting of their legs. Observations  were made for 1 minute, before  and  after  administration  of  pain stimulus at 15, 30, 45  and 60 minute. The results showed that ethanol and  water  extract  at an effective dose of 49 mg / 200 g of BW, gave relatively the same effect as an analgesic or   positive control group. Keywords : analgesic, ethanol and water extract of teki grass tuber, pain
Pengembangan Sediaan Sirup Ekstrak Rumput Kebar (Biophytum petersianum) Sebagai Estrogenik Dengan Variasi Jenis Pemanis Erni Rustiani; Rega Anitania; Mulyati Effendi
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 4 (2021): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Post Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman rumput kebar (Biophytum petersianum) diketahui memiliki khasiat estrogenikkarena mengandung senyawa kimia golongan alkaloid, saponin, tanin, dan flavonoid. Ekstrak rumputkebar dapat memperbaiki kinerja reproduksi. Penelitian ini bertujuan menentukan formula sediaansirup terbaik dan paling disukai  oleh panelis. Sebanyak 4 formula sirup dibuat dengan variasi pemanisyaitu F1 (sirupus simpleks 20%), F2 (stevia 4%), F3 (madu 30%) dan F4 (sukralosa 0,5%). Ekstrakrumput kebar diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dan  dikeringkanmenggunakan alat vacuum dryer. Pengujian parameter mutu sirup meliputi organoleptik,  pH, bobotjenis,viskositas, kadar flavonoid dan uji stabilita pada suhu  sejuk 5 - 10˚C dan suhu ruang 25˚-30˚Cselama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formula memenuhi persyaratan mutu kecualibobot jenis. Sirup rumput kebar dengan pemanis sirupus simplek 20% adalah yang paling disukaipanelis. Sediaan sirup stabil disimpan pada suhu sejuk  5- 10˚C.Kata Kunci: rumput kebar, flavonoid, sirupus simplek, stevia, sukralosa, madu.
Formulation and In-Vitro Penetration Test of Ketoprofen Patch with Addition Aloe vera Powder (Aloe vera L.) Bioenhancer Andini, Septia; Rustiani, Erni; Lathifah, Umi
FITOFARMAKA: JURNAL ILMIAH FARMASI Vol 14, No 1 (2024): FITOFARMAKA: Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jf.v14i1.9874

Abstract

Ketoprofen is a non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) which is generally used to reduce pain and inflammation. The main obstacle in administering drugs via transdermal is the low penetration of drugs through the skin. Aloe vera contains lignin compounds which are thought to be bioenhancer. This research aims to formulate ketoprofen and aloe vera powder in form patch and compare penetration patch with and without the addition of aloe vera powder. Preparation patch 3 formulas were made with different ratios of HPMC E5 and Eudragit E100 polymers F1 (6:2), F2 (8:2), F3 (10:2). Formula 3 is the best formula with a comparison of HPMC E5 and Eudragit E 100 of 10:2. Formula 3 has a thin, dry patch and is easy to remove from the mold. F3 then remade with additions bioenhancer by 5 % and patch without additions bioenhancer. The results of the physical quality test showed that the formula with and without the addition of aloe vera as an enhancer has uniform weight, thickness, pH and folding resistance which meets the requirements for patch preparation. Franz diffusion cell result for patch preparations with the addition of aloe vera showed a better penetration value than without the addition of aloe vera with a cumulative value of 92.5815 μg/cm2 and a total flux of 260.4355 μg/cm2 hour.
Analysis of Flavonids and Terpenoids in Ethanol Extract of Colocasia esculenta L. (Schoot) Stalk and Leaves Erni Rustiani; Aulia Fitriani; Sri Wardatun
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 5 No. 4 (2021): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v5i4.349

Abstract

Colocasia esculenta L. (Schoot) is a widely used plant in developing countries in Asia, Africa, and Central America. The parts of the Colocasia plant that can be used are the tubers, stalks, and leaves. There has not been much research on the content of this plant. The study aims to determine the flavonoids and terpenoids in the ethanol extract of Colocasia stalk and leaves. The maceration method with 70% ethanol solvent and drying with vacuum evaporator. Determination of flavonoid levels based on quercetin marker compounds using AlCl3 reagent by UV-Vis spectrophotometry. The terpenoid levels were carried out gravimetrically with petroleum ether as a solvent. The results showed that the ethanol extract of Colocasia stalk and leaf contained flavonoids, respectively 3.18 +0.0581% and 4.33 +0.0285%, while the results of the terpenoid levels for stalks were 7.10 +0.0676% and leaves were 8.39 +0.0023%.
Formulasi Tablet Kunyah Kombinasi Tepung Cangkang Telur dan Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera L.) Rustiani, Erni; Zulkarnaen, Dea Muthia Zahara; Andini, Septia
Majalah Farmasetika Supl. 9 No. 1, Tahun 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i7.58884

Abstract

Cangkang telur memiliki kandungan kalsium dan magnesium  sedangkan  daun kelor (Moringa oleifera L.) mengandung mineral seperti kalsium dan zinc. Kedua bahan alam tersebut mengandung kalsium yang bila dikombinasikan bermanfaat sebagai suplemen untuk kesehatan tulang sehingga agar mudah digunakan bagi pasien maka diformulasikan dalam bentuk tablet kunyah. Pemilihan bentuk tablet kunyah karena dapat digunakan untuk pasien yang sulit menelan obat konvensional seperti anak-anak dan lansia, memiliki onset yang lebih cepat, dan dapat digunakan tanpa harus menyiapkan air. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula tablet kunyah yang paling disukai oleh panelis berdasarkan sifat mutu fisik tablet dan uji hedonik, serta menentukan nilai kadar kalsium dan zinc dalam tablet dan ekstrak. Tablet kunyah dibuat dengan metode granulasi basah dengan berbagai jenis pemanis yaitu F1 (Aspartam), F2 (Xylitol), F3 (Stevia). Evaluasi granul meliputi uji laju alir, sudut istirahat, indeks kompresibilitas serta rasio hausner. Hasil granul yang diperoleh sangat baik dan mudah mengalir.  Evaluasi mutu tablet meliputi uji organoleptik, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur tablet, serta penetapan kadar kalsium dan zinc. Hasil ketiga formula tablet kunyah memiliki bentuk bulat cembung, warna hijau muda, bau khas aromatik dan rasa manis. Keseragaman ukuran dan bobot tablet kunyah memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia. Analisis statistik memperlihatkan bahwa perbedaan jenis pemanis tidak mempengaruhi mutu tablet kunyah berdasarkan nilai kekerasan (sig. 0,345 > 0,05), kerapuhan (sig. 0,404 > 0,05),  dan waktu hancur tablet (sig.0,875 > 0.05). Sedangkan hasil uji hedonik menunjukkan bahwa  perbedaan jenis pemanis mempengaruhi penilaian rasa dan aroma tablet kunyah (sig. 0,00 < 0,05). Kesimpulannya bahwa tablet kunyah kombinasi tepung cangkang telur dan ekstrak daun kelor dengan pemanis Aspartam (F1) merupakan formula yang paling disukai oleh 20 orang panelis dan memiliki kadar kalsium sebesar 4,0090%  dan zinc 0,00080%. 
PENGEMBANGAN SEDIAAN TABLET ESTROGENIK DARI EKSTRAK RUMPUT KEBAR (Biophytum petersianum) MENGGUNAKAN VARIASI KONSENTRASI PENGIKAT PVP K-30 Wilda Nurhikmah; Erni Rustiani; Dania Triska Puspita
Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51352/jim.v9i2.661

Abstract

Kebar grass (Biophytum petersianum Klotzsch) contains steroid, saponins, flavonoids, alkaloids, and triterpenoids. The use of Kebar grass extract can increase the development of follicles because it contains saponins which are the basic ingredients for the synthesis of steroid hormones and can improve the performance of reproductive system. This study aims to determine the quality the tablets made from Kebar grass extract with varying concentrations of PVP K-30 binder. Tablets were made in 3 formulas with varying concentrations of PVP K-30 as a binder, namely 2% (F1), 3% (F2), and 4% (F3). Methods of making tablets by wet granulation. Tablet quality testing includes organoleptic, weight uniformity, thickness, diameter, hardness, friability, and disintegration time. The flavonoid quercetin was used as a marker for tablet analysis. The results showed that the tablets were round in shape, white-gray in color, had a slightly bitter taste and had a characteristic aromatic odor. The average value of tablet weight uniformity is 290.06 – 306.45 mg (KV <5%), tablet diameter is 0.91 -0.92 cm, thickness is 0.41 – 0.48 cm, hardness is 4.06 – 7.95 kp, friability 0.17 – 0.21% and tablet disintegration time < 15 minutes. The results of the statistical analysis showed that the differences in the concentration of PVP K-30 did not affect the hardness and friability of the tablets (p> 0.05). The level of the flavonoid quercetin in the tablet is 0.17 – 0.21%. The conclusion that Kebar grass extract tablets can be made using PVP K-30 at a concentration of 2-4% as a binder and the quality of the tablets is not significantly different.
Formulasi dan Uji Aktivitas Sediaan Emulgel Ekstrak Daun Talas (Colocasia esculenta (L). Schott) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus, Proteus mirabilis, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa Ameliya, Helvi; Rustiani, Erni; Sulistiyono, Fitria Dewi
Jurnal Medika Farmaka Vol 1 No 3 (2023): Jurnal Medika Farmaka
Publisher : LP4M STIKes Karsa Husada Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33482/jmedfarm.v1i3.18

Abstract

Introduction: Taro leaf (Colocasia esculenta (L). Schott) are known to contain flavonoid compounds that have antibacterial activity that causes wound infections. One of the topical dosage forms for the treatment of bacterial infections in wounds is emulgel which can convey the active substance of the drug with hydrophobic properties. Appropriate and effective topical administration is expected to reduce and prevent wound infection. This study aims to determine the antibacterial activity of taro leaf extract emulgel preparations against Staphylococcus aureus, Proteus mirabilis, Escherichia coli and Pseudomonas aeruginosa bacteria based on the width of inhibition (LDH) value. Methods: Taro leaf extract emulgel preparations were made as many as 4 formulas with different extract concentrations namely (F1) 5%, (F2) 7.5% and (F3) 10% and (F0) as a negative control containing only emulgel base. Testing of emulgel preparations includes organoleptic, homogeneity, pH, spreadability, and viscosity. Antibacterial testing using disc paper diffusion method with positive control sulfadiazine silver and negative control emulgel base. Results: The results showed that the emulgel preparation was viscous, brownish green in color, and had a distinctive smell of taro leaf extract. The mean pH values were 5.657-5.912, spreadability 5.845-6.258 cm, and viscosity 7830-9780 cps. Statistical test results of antibacterial activity of taro leaf extract emulgel with sig 0.000 <0.05 showed that all concentrations of taro leaf extract emulgel provide inhibition against bacteria. Conclusion: The best antibacterial activity was shown by 10% concentration of taro leaf extract emulgel against Staphylococcus aureus (10.69mm), Pseudomonas aeruginosa (10.50mm), Escherichia coli (10.34mm) and Proteus mirabilis (10.14mm) all with strong inhibition zone category (10-20mm).
Pemberdayaan Masyarakat Tentang Penggunaan Antibiotika Melalui Edukasi Gema Cermat Dengan Metode CBIA Di Desa Jambu Luwuk Kabupaten Bogor Setiani, Lusi Agus; Sofihidayati, Trirakhma; Rustiani, Erni
Jurnal Karya Abdi Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2020): Jurnal Karya Abdi Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.052 KB) | DOI: 10.22437/jkam.v4i3.11583

Abstract

Antibiotika merupakan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Perilaku yang salah dalam tata cara penggunaan antibiotika menjadi risiko terjadinya resistensi antibiotik. Gema Cermat atau Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kesadaran, kepedulian dan pemahaman masyarakat tentang cara penggunaan obat dengan tepat dan benar. Pelaksanaan pengabdian masyarakat dilakukan di Desa Jambu Luwuk Kabupaten Bogor. Metode yang digunakan adalah CBIA, pemberian brosur Gema Cermat, buku saku cara penggunaan obat dan penggolongan obat, pre-test, post-test dan materi melalui presentasi secara oral yang diberikan oleh apoteker. Hasil edukasi dan sosialisasi Gema Cermat, yaitu perbaikan nilai masyarakat mengenai cara penggunaan obat khususnya anibiotika yang benar dan tepat dapat dilihat dari kenaikan nilai rata-rata pre-test 69,0476 menjadi 79,523 pada post-test. Dapat disimpulkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat menjadi lebih paham mengenai cara penggunaan obat yang baik dan benar terutama pemakaian antibiotik yang sesuai di masyarakat.
Pemberdayaan Masyarakat Non Produktif Melalui Pelatihan Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Sebagai Minuman Herbal Peningkat Daya Tahan Tubuh Di Desa Jambu Luwuk Kabupaten Bogor Sofihidayati, Trirakhma; Rustiani, Erni; Setiani, Lusi Agus
Jurnal Karya Abdi Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2021): Jurnal Karya Abdi Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.231 KB) | DOI: 10.22437/jkam.v5i3.16285

Abstract

Pada era otonomi daerah yang kini mulai dilaksanakan, sangat diperlukan adanya peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan dan pemerintahan. Upaya untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat daerah sebenarnya telah banyak dilakukan oleh pemerintah. Namun berbagai program tersebut masih dirasa kurang memberikan kesejahteraan pada warga masyarakat di daerah (desa). Desa Jambu Luwuk di Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor memiliki banyak petani dan pedagang buah Pisang. Limbah kulit pisang belum banyak dimanfaatkan di desa Jambu Luwuk. Tim PKM melihat potensi limbah dapat diolah menjadi minuman herbal untuk peningkat daya tahan tubuh. Dengan adanya kondisi wabah pandemi covid-19 ini membuat pemerintah menghimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga imunitas/ daya tahan tubuh dengan berbagai cara, salah satunya minuman yang berkhasiat. Tanaman pisang merupakan salah satu tanaman unggulan di Indonesia dan merupakan buah dengan jumlah produksi terbesar. Kulit pisang menjadi bagian yang jarang dimanfaatkan, bagian tersebut dibiarkan atau dibuang sehingga menjadi limbah. Kulit pisang diketahui mengandung senyawa golongan flavonoid seperti naringenin dan rutin yang berperan sebagai antioksidan. Kegiatan PKM diperuntukkan bagi masyarakat non produktif di Desa Jambuluwuk, terutama ibu-ibu rumah tangga dan para pemudi di lingkungan Karang Taruna. Kegiatan dimulai dengan penyuluhan dan pemaparan tentang manfaat serta kandungan kulit pisang. Selanjutnya tim menjelaskan mengenai minuman herbal dengan bahan baku yang diperoleh dari limbah kulit pisang dan aman untuk dikonsumsi terutama untuk meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat. Tahap terakhir adalah memberikan pemaparan mengenai pengemasan minuman herbal serta manajemen pemasaran/ keuangan agar produk tersebut dapat dijual dipasaran. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mitra sehingga mereka dapat mengembangkan usaha untuk meningkatkan pendapatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Antidimentia activity of instant granule containing a combination of Brassica oleracea L. Var. Italica and Centella asiatica L. Urban extracts in male mice (Mus musculus) model of dementia Erni Rustiani; Suci Sintya; Min Rahminiwati
Indonesian Journal of Pharmacology and Therapy Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing Universitas Gadjah Mada and Indonesian Pharmacologist Association or Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFARI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijpther.17391

Abstract

Dementia is a progressive cognitive impairment characterized by cognitive decline and memory loss. Acetylcholine levels in dementia patients decrease due to increased levels of acetylcholinesterase which breaks down acetylcholine into choline and acetate. Gotu kola (Centella asiatica L. Urban) contains asiaticoside,while broccoli (Brassica oleracea L. Var Italica) contains glucosinolate. Both compounds are believed to have acetylcholinesterase inhibitor activity. This study aimed to evaluate the antidementia activity of instant granules of a combination of B. oleracea and C. asiatica extracts in male white mice model of dementia. Thirty-five male mice were used in this experimental divided into seven group with five mice in each group. All groups were induced with hyoscine butylbromide intraperitoneally except the normal control group (group I). Group II (negative control) was given Na CMC 0.5% orally, and group III (positive control) was given piracetam intraperitoneally. Groups IV to VII were given instant granules with different formulation, namely namely group IV (25 mg :190 mg dose 1x), group V (25 mg : 190 mg dose 2x), group VI (190 mg : 190 mg dose 1x) and group VII (190 mg : 190 mg dose 2x). Y-maze test for mice was carried out for 5 min by allowing mice to explore the three arms of the Y-maze freely. A significant difference in antidementia activity between groups given the instant granules was observed (p <0.05). The instant granules combination with a ratio of B. oleracea andC. asiatica extracts (190 mg : 190 mg) had a higher antidementia activity than that combination of 25 mg : 190 mg. The instant granules combination with a ratio of B. oleracea and C. asiatica extracts (190 mg : 190 mg) at dose 2x had a higher antidementia activity than at dose 1x. In conclusion, the instant granules combination of B. oleracea and C. asiatica have a potential antidementia activity.