Samuel Saut Martua Samosir
Fakultas Hukum Universitas Jember

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Penerapan Deferred Prosecution Agreement dalam Penyelesaian Tindak Pidana Korupsi oleh Korporasi Vicko Taniady; Y. A. Triana Ohoiwutun; Samuel Saut Martua Samosir
Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal) Vol 12 No 4 (2023)
Publisher : University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JMHU.2023.v12.i04.p13

Abstract

he punishment for corporate corruption causes problems in the criminal justice system and the impact of the sentence. This study aims to analyze the situation of resolving corruption crimes committed by corporations and initiating the application of the Deferred Prosecution Agreement (DPA) as a restorative justice mechanism. The research method used is normative doctrinal law explained by statutory, conceptual, case, and comparative study approaches. The results of this study, DPA policy is a settlement of cases out of court through termination of prosecution based on negotiations between the prosecutor's office as a dominus litis and corporations that focus on recovery and maintaining the existence of corporations. The application of DPA is manifest in the principles of the criminal justice system. DPA has been implemented in several countries, such as the United States and England, which have successfully handled corporate crimes. Through problem analysis, principles of the criminal justice system, and comparative studies, the DPA can be applied in Indonesia, which will be designed as a restorative justice mechanism. The draft DPA regulation will also contain several matters, including procedures for implementing DPA, sanctions, prosecutors' considerations, and other technical matters that will later be regulated in Indonesian laws and regulations. midanaan terhadap korporasi yang melakukan tindak pidana korupsi mengalami problematika baik dalam sistem peradilan pidana hingga dampak pemidanaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis problematika penyelesaian tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh korporasi, serta menggagas penerapan Deferred Prosecution Agreement (DPA) sebagai mekanisme keadilan restoratif. Metode penelitian yang digunakan adalah hukum normatif doktrinal yang dielaborasikan dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual, kasus, dan studi perbandingan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan DPA merupakan penyelesaian perkara diluar pengadilan melalui penghentian penuntutan yang didasarkan pada negosiasi antara jaksa sebagai dominus litis dengan korporasi yang berfokus terhadap pemulihan dan tetap mempertahankan eksistensi dari korporasi. Penerapan DPA juga sesuai dengan asas-asas sistem peradilan pidana di Indonesia. Sejatinya, penerapan DPA telah diterapkan dibeberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris yang terbukti berhasil dalam menangani perkara tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi. Melalui analisis problematika, asas-asas sistem peradilan pidana, dan studi komparatif, maka gagasan DPA dapat diterapkan di Indonesia, yang nantinya akan didesain sebagai mekanisme keadilan restoratif. Selain itu, desain peraturan DPA juga akan tercantum beberapa hal yang meliputi tata cara penerapan DPA, sanksi, pertimbangan jaksa, dan hal teknis lainnya yang nantinya akan diatur dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Pertanggungjawaban Pidana Korporasi: Analisis UU Perbankan dan Tanggungjawab Bank atas Kejahatan Karyawan Hariyono, Dwiki Agus; Suarda, I Gede Widhiana; Samosir, Samuel Saut Martua
JURNAL ANTI KORUPSI Vol 11 No 1: Mei 2021
Publisher : PUSAT KAJIAN ANTI KORUPSI FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jak.v3i1.27572

Abstract

Tindak Penelitian normatif ini bertujuan untuk meneliti doktrin pertanggungjawaban pidana korporasi yang ada dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 diubah menjadi Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan serta meneliti pertanggungjawaban sebuah bank terhadap kejahatan dari karyawannya. Penelitian ini menggunakan metode deduksi dan bahan hukum dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian yang didapat menjelaskan dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 diubah menjadi Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan terdapat satu doktrin pertanggungjawaban pidana korporasi yang dapat ditemukan pada Pasal 46 ayat (2) yaitu vicarious liability doctrine. Apabila dibandingkan dengan peraturan perundang-undangan lain yang mengatur korporasi sebagai subjek hukum pidana dan dapat dimintai pertanggungjawaban pidana sebut saja Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup ketiga peraturan tersebut formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi memiliki perbedaan dalam hal pembebanan pertanggungjawaban secara pidana dan sanksi pidana yang dapat dikenakan, kemudian apabila karyawan melakukan kejahatan maka bank atau korporasi tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara pidana hanya sebatas sanksi administratif.
Kedudukan Keterangan Saksi Dalam Pembuatan Putusan Pidana Berkaitan Dengan Pasal 169 KUHAP (Studi Putusan Nomor: 575/Pid.B/2020/PN Cbi) Masrita, Wanda Eka Sri; Tanuwijaya, Fanny; Samosir, Samuel Saut Martua
MIMBAR YUSTITIA : Jurnal Hukum dan Hak Asasi Manusia Vol 8 No 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/mimbar.v8i1.6390

Abstract

A court decision is a judge's statement regarding the criminal justice process issued by the court. The verdict contains all the facts and circumstances related to the evidence and the judge's considerations at the trial. One of the pieces of evidence is witness testimony. The position of witness testimony occupies the first position in the hierarchy of Article 184 of the Criminal Procedure Code. Then how can a witness who is still in a husband and wife relationship with the defendant be used as evidence? However, the verdict is not explained explicitly in accordance with the provisions of Article 169 of the Criminal Procedure Code. If the verdict is not explained in detail, it will cause ambiguity. The author uses a normative legal research method with a statutory and conceptual approach. The verdict does not explicitly state that the witness has received approval from the public prosecutor and the defendant and the witness want it. Based on the provisions of Article 168 letter c of the Criminal Procedure Code, the testimony of a wife or husband who has a relationship with the defendant cannot be heard and can be withdrawn. A good verdict, the judge in his considerations must explain the facts and circumstances accompanied by evidence that proves the defendant's guilt. The results of this study are that a good verdict must contain all the facts during the trial process to ensure justice, certainty and benefit to the community.
KONSEP TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BIASA DAN PEMBUNUHAN BERENCANA DALAM KATEGORI KEJAHATAN TERHADAP NYAWA Masrita, Wanda Eka Sri; Fanny Tanuwijaya; Samuel Saut Martua Samosir
Realism: Law Review Vol. 2 No. 3 (2024): Realism: Law Review
Publisher : Sabtida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71250/rlr.v2i3.37

Abstract

The crime of murder is included in the category of crimes against life. The qualifications for the crime of murder consist several forms listed in Articles 338-350 of the KUHP. Broadly speaking, forms of murder are divided into two, the crime of ordinary murder and the crime of premeditated murder. These two forms of criminal acts of murder have differences, namely in the element of planning. The provisions of Article 338 of the Criminal Code explain murder in basic form, namely the intentional killing of another person. Meanwhile, Article 340 of the Criminal Code explains the deliberate taking of another person's life which is preceded by a plan. However, the meaning planning element in the Criminal Code is not explained in detail. This needs to be studied further regarding the differences between ordinary murder and premeditated murder. In analyzing this research, the author uses a normative juridical method with a statutory regulatory approach and a conceptual approach. The results of this research show that when it comes to planning elements, criminal events and the evidentiary process are seen which are linked to the theory of legal science doctrine applied by judges as a guide in making legal considerations in decisions
FUNGSIONALISASI PASAL 44 KUHP DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (SUATU RE-ORIENTASI & RE-EVALUASI MENUJU REFORMULASI) Ohoiwutun, Y A Triana; Nugroho, Fiska Maulidian; Martua Samosir, Samuel Saut; Setiyoargo, Arief
Veritas et Justitia Vol. 5 No. 2 (2019): Veritas et Justitia
Publisher : Faculty of Law, Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25123/vej.v5i2.3613

Abstract

Uncertainty with regard to the proper implementation of Article 44 of the Criminal Code is to be discussed.  In legal practice, the existence of mental disorder in those who are accused of murder or homicide will be made dependent on the decision of psychiatrist (authorized to conduct forensic psychology or psychiatry). In the case that such mental disorder is determined to be existing during a pre-trial hearing, the court is under no obligation to order cessation of the criminal proceeding. It is noted that in a number of cases the decision to terminate investigation or cease court proceeding falls completely under the Judge discretionary power.  The author’s recommendation is that a reformulation of Art. 44 of the Criminal Code is in order.
Perlindungan Hukum Penyebaran Data Pribadi Anak oleh Orang Tua Herdianingtias, Putri Agustin; Wildana, Dina Tsalist; Samosir, Samuel Saut Martua
WICARANA Vol 3 No 2 (2024): September
Publisher : Kantor Wilayah Kementerian Hukum Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57123/wicarana.v3i2.66

Abstract

Masyarakat Indonesia menggunakan media sosial yang memudahkan informasi disebar dan dikelola. Namun secara sadar maupun tidak sadar masyarakat menyebarkan data pribadinya di sosial media yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Negara memiliki kebijakan mengenai pelindungan data pribadi yang diatur dalam UU PDP. Pasal 2 Ayat (2) UU PDP menimbulkan pertanyaan berkaitan dengan penyebaran data pribadi anak oleh orang tua dan bentuk upaya perlindungan hukumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perbuatan orang tua yang membagikan data anaknya termasuk kegiatan pribadi atau rumah tangga sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Ayat (2) UU PDP dan untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum bagi data pribadi anak. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual dengan menggunakan bahan hukum primer dan sekunder. Penelitian ini menghasilkan bahwa perbuatan orang tua yang menyebarkan data pribadi anak diperbolehkan dan termasuk kegiatan pribadi atau rumah tangga selama orang tua mengedepankan tanggung jawab dan kewajibannya sesuai Pasal 26 Ayat (1) UUPA sedangkan bentuk upaya perlindungan hukum bagi anak dapat dilakukan oleh negara dengan megoptimalkan tugas KPAI dan adanya kebijakan berupa UU ITE yang melindungi anak sebagai pengakses sistem elektronik dan UU PDP yang berisi larangan dan sanksi penyalahgunaan data pribadi.
Legal Construction of FPIC to Protect Ulayat Right Samosir, Samuel Saut Martua; Rahayuningsih, Toetik
Arena Hukum Vol. 17 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.arenahukum2024.01702.9

Abstract

This study explores the legal frameworks for protecting the ulayat rights of Indigenous peoples, focusing on their current challenges. Additionally, the study examines the role of the Free, Prior and Informed Consent (FPIC) policy as a potential solution for safeguarding these rights. The study employs a normative legal research method, incorporating four approaches: statutory, conceptual, case-based and comparative. It uses literature review techniques to analyse the legal issues, drawing on primary and secondary legal materials. Although the protection of Indigenous peoples’ ulayat rights is enshrined in various regulations and the constitution, the actual implementation of these protections falls short of expectations. Therefore, adopting FPIC as a national legal instrument is crucial. FPIC has been successfully implemented in countries like India and the Philippines, where it has proven effective in ensuring the active participation of Indigenous peoples in decisions that affect their rights.
PENERAPAN ASAS KEPENTINGAN TERBAIK BAGI ANAK KORBAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN YANG MELAKUKAN ABORSI Y.A. Triana Ohoiwutun; Samuel Saut Martua Samosir; Chosya Sheila Aprilliana Arimbhi
JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL Vol. 2 No. 1 (2023): Maret: JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jhpis.v2i1.1261

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan asas kepentingan terbaik bagi anak dalam kebijakan reformulasi berhubungan dengan anak korban tindak perkosaan, serta mengevaluasi perluasan bentuk tindak pidana kejahatan persetubuhan terhadap anak yang dapat dilakukan aborsi ditinjau asas kepentingan terbaik bagi anak. Metode penelitian ini menggunakan tipe penelitian yuridis normatif. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan yakni pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Sumber bahan hukum yang digunakan yaitu bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Analisis bahan hukum menggunakan metode berfikir deduktif serta melakukan studi kepustakaan dengan cara meneliti bahan pustaka. Penelitian ini berkesimpulan (1) Dibutuhkan 2 alat bukti sebagai bukti dari adanya perkosaan, sehingga hal tersebut memberikan ruang penguatan dari segi hukum disamping adanya konseling yang dtentukan sebagai syarat diperbolehkannya aborsi; (2) supaya asas kepentingan terbaik bagi anak dapat diterapkan terhadap anak korban tindak pidana yang akan melakukan aborsi, di dalam UU Kesehatan harus segera direformulasi yang mengatur mengenai kualifikasi tentang anak korban peresetubuhan yang dapat dilakukan aborsi tidak hanya korban perkosaan saja, hal ini bertujuan agar apa yang menjadi tujuan pemerintah untuk menjaga dan melindungi hak-hak anak.
Penerapan Pemeriksaan Saksi Secara Bersama-Sama Dalam Persidangan Perkara Pidana Uun Ulfiana; Y.A Triana Ohoiwutun; Samuel Saut Martua Samosir
JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL Vol. 2 No. 4 (2023): Desember: JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jhpis.v2i4.2527

Abstract

The examination of witnesses regulated by Act No. 8 of 1981 on the Code of Criminal Procedure Law (hereinafter referred to as KUHAP) is a provision concerning formal criminal law. In the case No. PDM-242/JKTSL/10/2022 with the accused Ferdy Sambo (FS) and the case N. P.D.M-246/Jktsl/10/2022 with Princess Chandrwati (PC) there is an event conducted examination of witnesses jointly, becoming a material of investigation, whether such examination can be carried out simultaneously considering the witness in giving explanations must be independent. To respond to the focus of research in this research use normative jurisprudential research methods with conceptual approaches and legislative approaches. The conclusion is that the joint examination of witnesses is based on Article 172 (1) of the Convention. Accordingly, the public prosecutor or the accused or the legal counselor may prepare a witness of a qualitative nature, subject to the provisions of applicable law, so that the testimony of the witnesses may have a valid proof force. Furthermore, it is expected that the law enforcement agencies will be able to carry out witness examination procedures accurately and honestly in order to the objective of the examination in the trial, which is to material truth.
DISPARITAS PEMIDANAAN PERKARA PERSETUBUHAN OLEH TERDAKWA ANAK TERHADAP KORBAN ANAK Rahmawati, Reza; Nurhayati, Dwi Endah; Samosir, Samuel Saut Martua
Jurnal Ilmu Hukum: ALETHEA Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu Hukum: ALETHEA
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/alethea.vol6.no1.p64-82

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor yuridis penyebab terjadinya disparitas pemidanaan perkara persetubuhan oleh terdakwa anak terhadap korban anak jika ditinjau dari kebijakan pemidanaan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak juncto Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak serta menganalisis kebijakan formulasi sistem pemidanaan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dalam perkara persetubuhan oleh terdakwa anak terhadap korban anak agar tidak terjadi disparitas pemidanaan. Penelitian ini menunjukkan faktor yuridis penyebab terjadinya disparitas pemidanaan adalah ketentuan dalam Pasal 79 ayat (3) Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang tidak memberlakukan minimum khusus pidana penjara bagi anak. Oleh karena itu, kebijakan formulasi agar menghindarkan terjadinya disparitas pemidanaan dalam perkara persetubuhan yang dilakukan terdakwa anak terhadap korban anak adalah merumuskan kebijakan yang menyimpangi ketentuan Pasal 79 ayat (3) dengan memberikan pengecualian yakni ditentukan minimum khusus pidana penjara apabila korbannya anak.