Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

SEBARAN LOGAM BERAT DALAM SEDIMEN ESTUARI WAKAK-PLUMBON, SEMARANG, JAWA TENGAH Haeruddin .; Harpasis S . Sanusi; Dedi Soedharma; Edy Supriyono; Mennofatria Boer
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.581 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengamati penyebaran spasial dan temporal logam dalam sedimen estuari Wakak- Plumbon, Semarang, Jawa Tengah, serta kaitannya dengan berbagai faktor yang mempengaruhi distribusinya dlam sedimen (konsentrasi karbon organik total, redoks potensial sedimen dan ukuran butiran sedimen). Untuk mengamati distribusi spasial logam dalam sedimen, sedimen dikumpulkan dari 9 titik pengamatan, 3 titik masing -masing diambil dari Sungai Plumbon, Wakak dan laut. Pengamatan distribusi temporal dilakukan pada 3 stasiun pengamatan di laut (A, B dan C) terhadap 5 logam dominan. Sedimen dikumpulkan dengan Petersen grab, kemudian dianalisis kandungan logamnya dgan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa logam Pb, Cd dan Ni konsentrasinya lebihtinggi ke arah hulu sungai dan memiliki hubungan negatif dengan salinitas, sehingga sumber masukannya diduga berasal dari hulu. Logam Cu, Cr dan Hg lebih tinggi di laut dan memiliki hubungan positif dengan Salinitas, sehingga sumber masukan diduga berasal dari laut. Logam seng konsentrsainya tinggi di laut dan diduga terjadi secara alami. Selain salinitas, faktor lain yang dominan pengaruhnya terhadap penyebaran logam dalam sedimen estuari Wakak-Plumbon adalah karbon organik total. Konsentrasi logam cenderung lebih tinggi dengan meningkatnya konsentrasi karbon organik total.Kata kunci: penyebaran spasial dan temporal, logam, sedimen dan estuaria Wakak-Plumbon.
KAJIAN POTENSI BIOAKTIF KARANG LUNAK (OCTORALLIA: ALCYONACEA) DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA Dedi Soedharma; Mujizat Kawaroe; Abdul Haris
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1173.634 KB)

Abstract

Dalam upaya memperkaya khasanah pengetahuan karang lunak di Indonesia, dilakukan penelitian mengenai kajian potensi bioaktif karang lunak di beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Selama penelitian, kegiatan ini berhasil mendata 39 spesies (12 genera, 4 famili) karang lunak yang tersebar di Pulau Pari, PulauPramuka, dan Pulau Kotok. Genus Lobophytum mendominasi perairan dangkal (3 m), sedangkan genera Sarcophyton dan Dendronephthya lebih kerap ditemukan di perairan dalam (10 m). Dari ke-39 spesies tersebut,ekstrak dari 30 jenis karang lunak menunjukkan bioaktivitas terhadap keberadaan bakteri patogen Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Ditinjau dari lokasi pengambilan contoh terhadap daratan utama, kandungan bioaktif karang lunak semakin tinggi bila semakin jauh dari daratan utama. Hal yang serupa berlaku untuk karang lunak yang hidup di kedalaman yang lebih dalam.Kata kunci: potensi, bioaktif, karang lunak, bakteri, Kepulauan Seribu.
AFFINITAS PENEMPELAN LARVA KARANG (SCLERACTINIA) PADA SUBSTRAT KERAS Edi Rudi; Dedi Soedharma; Harpasis S . Sanusi; John I Pariwono
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2585.254 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di ekosistem terumbu karang Kepulauan Seribu DKI Jakarta dengan tujuan untuk mengkaji kemampuan (affinitas) rekrutmen karang (Ordo Scleractinia) pada tiga jenis substrat keras berbeda, yaitu semen, genteng dan batu kapur. Substrat penempelan berukuran 20 x 20 x 3 cm3 diletakkan secara vertikal pada rak yang ditanam di dasar perairan dengan kedalaman 5 m. Substrat ditempatkan di dalamperairan selama tiga bulan, kemudian diambil dan dibawa kelaboratorium untuk diidentifikasi serta dihitung jumlah rekruit karang yang menempel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan affinitas rekrutmen karang pada tiga substrat yang dicobakan. Affinitas terbaik adalah substrat batu kapur yang ditandai kelimpahan rekruit paling tinggi dibandingkan substrat lain. Selama penelitian ditemukan enam spesies rekruit karang pada ketiga jenis substrat, yaitu: Pocillopora damicornis, Seriatopora hystrix dan Stylophora pistillata dari Famili Pocilloporidae; Acropora millepora dan A. tenuis dari Famili Acroporidae, dan; Porites sp. dari Famili Poritidae. Kelimphan spesies P. damicornis dominan pada ketiga jenis substrat. Kondisi terumbu karang di lokasi penelitian (Pulau Payung) tergolong baik dengan tutupan karang keras 67%, sedangkan dilokasi sekitarnya yaitu Pulau Pari tergolong sedang (36%) dan Pulau Lancang tergolong buruk (15%).Kata kunci: rekrutmen, karang, substrat penempelan.
PEMODELAN KO-EKSISTENSI PARIWISATA DAN PERIKANAN: ANALISIS KONVERGENSI –DIVERGENSI (KODI) DI SELAT LEMBEH SULAWESI UTARA Parwinia .; Akhmad Fauzi; Dedi Soedharma; Andin H Taryoto; Mennofatria Boer
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 14 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.781 KB)

Abstract

Perlindungan sebagian kawasan pesisir untuk konservasi dan pariwisata bahari akan memberikan manfaat baik secara ekonomi maupun ekologi. Namun demikian dalam kondisi dimana area yang dilindungi ini tumpang tindih dengan area penangkapan ikan tradisional maka diharapkan kegiatan- kegiatan ini dapat saling ko-eksis. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab issu tersebut melalui pemodelan bio-ekonomi. Dilakukan di Selat Lembeh Sulawesi Utara yang terkenal sebagai area yang dimanfaatkan untuk perikanan tangkap dan pariwisata. Penelitian ini juga menghasilkan empat tipologi interaksi antara pariwisata dan perikanan tergantung dari besaran kapasitas ekonomi dan kapasitas biofisik. Beberapa alternative kebijakan untuk melindungi pengelolaan kawasan pesisir yang mungkin dapat dilakukan adalah melalui kemitraan antara pengelola kawasan konservasi dan wisata dengan nelayan (sebagai guide diving, pemandu wisata). Analisis dinamik merupakan interaksi antara kegiatan perikanan yang diwakili dengan potensi perikanan dengan kegiatan pariwisata yang diwakili jumlah wisatawan. Konvergensi terjadi pada tahun ke 40 dengan nilai biomasa ikan sebesar lebih kurang 13 ton dengan jumlah tersebut wisatawan sebanyak 119 orang. Sementara itu interaksi dinamik melalui analisis phase line memiliki keseimbangan stable focus dimana keseimbangan system jangka panjang akan dicapai melalui penyesuaian antara kedua kegiatan tersebut. Artinya bahwa peningkatan jumlah wisatawan hanya bisa dicapai jika kegiatan perikanan dikurangi Kata kunci: daerah perlindungan laut, ko-eksistensi, konvergensi, divergensi.
BISAKAH TRANSPLANTASI KARANG PERBAIKI EKOSISTEM TERUMBU KARANG ? Beginer Subhan; Hawis Madduppa; Dondy Arafat; Dedi Soedharma
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 1 No 3 (2014): Desember
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RINGKASANTransplantasi karang merupakan teknik perbanyakan koloni karang dengan memanfaatkan reproduksi aseksual karang secara fagmentasi. Berbagai kalangan dapat terlibat dalam mengusahakan dan melakukan rehabilitasi karang dengan metode ini.  Namun saat ini metode yang digunakan masih ada yang mengadopsi metode untuk perdagangan karang hias bukan untuk rehabilitasi.  Metode dengan beton dan pengontrolan terhadap alga salah satu kunci keberhasilan dalam transplantasi karang.  Pencarian bibit-bibit karang yang unggul yang kuat terhadap alga dan penyakit menjadi solusi penting dalam peningkatan keberhasilan transplantasi karang.Kata kunci: transplantasi karang, metode beton, penyakit karang, alga
THE COMPOSITION AND DISTRIBUTION OF BENTHIC FORAMINIFERA AT CORAL REEF ECOSYSTEM IN THOUSANDS ISLAND Lumban Nauli Lumban Toruan; Dedi Soedharma; Kresna Tri Dewi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 5 No. 1 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.236 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v5i1.7741

Abstract

Composition and distribution of foraminifers are affected by human activities and have close association with coral reef ecosystem. The aims of this research were to investigate the benthic foraminifers’ composition and distribution in sediment of coral reef ecosystem. Eleven stations of Karang Bongkok, Pramuka, and Onrust Island were observed in this study. The sediments were taken from surface substrate up to 2 cm under the substrate. Samples were washed on sieve with mesh size 0,063 mm, and then dried in oven with 50°C of temperature  for two hours. After separating from the sediment, the foraminifers were laid on foraminiferal slide and indentified using binocular microscope. The highest composition of symbiont-bearing foraminiferal assemblages which associated with reef ecosystem was in East Pramuka (78.17%) and the lowest was in South Onrust (21,83%). The opportunistic type had the highest composition in South Onrust (38.67%) and the lowest was in South Karang Bongkok. In west Pramuka had the highest composition of heterotrophic type (57.17%) and the lowest was in North Onrust (11.33%). Onrust Island was dominated by opportunistic type, indicating high nutrient. The highest amount of foraminifers’ taxa was found in Karang Bongkok with good coral reef coverage, while the lowest in Onrust facing with Jakarta Bay. Keywords: composition, distribution, benthic foraminifers, coral reef.
MORPHOLOGY AND CELL BIOMASS OF SPONGE Aaptos aaptos AND Meutia Samira Ismet; Dedi Soedharma; Hefni Effendi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 3 No. 2 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.701 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v3i2.7829

Abstract

Aaptos aaptos and Petrosia sp. sponges are known for their ability to produce potential marine bioactive compound. As a metazoan animal with simple body structure, the morphology and it association with symbiont-bacteria could influence their bioactive compound both type and activity, as much as their habitat adaptation. In order to determine morphology and its cell biomass of Aaptos aaptos dan Petrosia sp., samples were taken from the West Pari Island, at 7 m depth. Preserved samples (in 4% formaldehyde) were examined using a histological mounting and centrifugation method to separate the cells fraction of sponge’s tissues. A. aaptos sponge has a soft body structure with 55.9% skeleton-forming fraction, 14.2% sponge cell fraction and 29.9% bacteria fraction. Meanwhile, Petrosia sp. sponge has a rigid body with dominant skeleton-forming fraction (68.6%), and lesser sponge cell and bacteria associated (19.7% and 11.7%, respectively).Keywords: A. aaptos, Petrosia sp, morphology, cell biomass
Periode Pemijahan Spons Aaptos aaptos (Porifera: Demospongia) di Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Mujizat Kawaroe; Dedi Soedharma; Rahmadsyah Deny Siregar
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 13, No 2 (2008): June 2008
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v13i2.2673

Abstract

The purpose of this research was to study spawning period of sponge Aaptos aaptosat Pari Island, Thousand Islands, DKI Jakarta. The result showed that spawningtime occurred at 17.00-18.00, and within that time the sponge closed their osculumto throw out the zygote leaving the body faster. The duration of spawning rangefrom 4 minutes to 41 minutes. Based on the lunar periode, spawning for spongeAaptos aaptos started from early new moon till few days after full moon. Spawningmostly took place during spring tides. Based on the PCA analysis, it was found thatwater temperature and pressure had strong correlation with spawning time.
Beberapa Aspek Pertumbuhan Lamun Enhalus acoroides (Linn. F) Royle di Pulau Barrang Lompo Makassar Supriadi Supriadi; Dedi Soedharma; Richardus F Kaswadji
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 23, No 1 (2006)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2006.23.1.139

Abstract

A study has been conducted to investigate some aspects related to seagrass Enhalus acoroides growth in Barrang Lompo Island Makassar by using a modified tagging method.  Tagging was applied monthly to 20 seagrass stands for seven months with weekly observations. The results showed that Enhalus acoroides growth had a quadratic pattern and was strongly affected by exposed environmental condition, turbidity, nutrient, and temperature.
STUDY OF CORAL REEF AFTER TSUNAMI IN WEH AND ACEH ISLANDS WATERS Muliari Muliari; Dedi Soedharma; Neviaty P. Zamani; Yudi Herdiana
Jurnal Pendidikan Almuslim Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Pendidikan Almuslim
Publisher : FKIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Tsunami in Aceh had caused to the damage of the Aceh nese reefs ecosystem. However, the ability to recover is naturally found in the coral reef. The purpose of the research are to determine percentages of hard coral cover and coral recruitment in Weh and Aceh Islands. The research was conducted in 2006, 2008, 2009, and 2011. The research was done in Aceh islands, utilization areas, marine natural tourist park (TWAL) and regional marine conservation areas (KKLD). Point Intercept Transect (PIT) and square transect Methods were applied in the research. The research showed that the percentages of hard coral cover in 2011 in Aceh island and utilization areas are 49,38% and 34,16 %, respectively. On the other hand, in marine natural tourist park (TWAL) and regional marine conservation areas (KKLD) are 32,66% and 41,27 % respectively. The percentages of coral cover had increased from 2006, 2008 to 2009. Meanwhile in the percentages of coral cover marine natural tourist park (TWAL) and regional marine conservation areas (KKLD) decreased in 2011. The highest recruitment occurred in 2008 in all survey areas and decreased in 2009. Thus, this study concluded that there existed a recovery of coral reef ecosystem with an increase in the percentage of hard coral cover and coral recruitment from 2006 to 2011. Keywords : Coral reef, tsunami, Weh and Aceh islands