Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

The Effect of Marketing Mix on Consumer Satisfaction and Loyalty for Indonesian Brand Salad Dressing “XYZ” Christian Arianto Rahardjo; Harianto Harianto; Heny K. Suwarsinah
Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) Vol. 5 No. 2 (2019): JABM Vol. 5 No. 2, Mei 2019
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jabm.5.2.308

Abstract

XYZ’, as a salad dressing product, can help consumers to prepare meals in a short time. In Indonesia, growth in salad dressing products every year is relatively high, increasing by 120% per year. The market share of salad dressings is also getting bigger with the addition of new players and variants. The purpose of this research was identifying the attributes affecting consumers’ satisfactions and their satisfaction levels. The attributes used in this research were related to the marketing mix. Consumer loyalty is also important so that ‘XYZ’ can compete to fulfil consumer needs. This research used a quantitative descriptive method by conducting an online survey of ‘XYZ’ salad dressing consumers and direct interviews in shopping centers. The respondent criteria were females who were more than 18 years old and lived in Jabodetabek area. The technique of data processing and analysis used in this research was a quantitative descriptive analysis by using Structural Equation Modeling (SEM) and LISREL software version 8.7. Based on the results of research and evaluation on respondents, it can be concluded the marketing mix that has a significant effect on consumer satisfaction is product, price, and place. Promotion has no significant effect on consumer satisfaction. Consumer satisfaction has a significant effect on consumer loyalty. Suggestions to increase consumer satisfaction and loyalty to ‘XYZ’ brand are to sell products that meet consumer tastes and to maintain the product quality. The placement of ‘XYZ’ product in the shopping center must be taken into account to make it easy to find and maintain its product availability in the market. This can increase consumer satisfaction and lead to an increase in consumer loyalty.Keywords: consumer loyalty, consumer satisfaction, marketing mix, salad dressing, SEMAbstrak: “XYZ” sebagai salah satu produk salad dressing, dapat membantu konsumen menyiapkan makanan dalam waktu singkat. Pertumbuhan produk salad dressing setiap tahun cukup tinggi yaitu meningkat 120% tiap tahun. Pangsa pasar salad dressing juga semakin besar dengan bertambahnya pemain baru dan varian baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui atribut yang mempengaruhi kepuasan dan bagaimana tingkat kepuasan konsumennya. Atribut yang diambil dalam penelitian ini terkait dengan bauran pemasaran. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan Teknik pengolahan dan analisis data pada penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Alat bantu analisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dan software LISREL versi 8.7. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bauran pemasaran yang berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen adalah variabel produk, harga, dan tempat. Sebaliknya variabel promosi memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen. Saran yang dapat diberikan untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas konsumen produk “XYZ” adalah dengan menjaga rasa produk agar sesuai dengan selera konsumen dan menjaga kualitas produk. Penempatan produk “XYZ” di pusat perbelanjaan juga harus diperhatikan agar selalu mudah ditemukan serta menjaga ketersediaan produk di pasaran. Hal tersebut dapat meningkatkan kepuasan konsumen dan berujung pada kenaikan loyalitas konsumen.Kata kunci: bauran pemasaran, kepuasan konsumen, loyalitas konsumen, salad dressing, SEM
STRATEGI PEMASARAN PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS PADA PT. PRASADHA PAMUNAH LIMBAH INDUSTRI (PPLI): MARKETING STRATEGY ANALYSIS OF MEDICAL WASTE PT. PRASADHA PAMUNAH LIMBAH INDUSTRY ( PPLI ) Imam Zulkarnain; Harianto Harianto; Kirbrandoko Kirbrandoko
Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) Vol. 6 No. 3 (2020): JABM Vol. 6 No. 3, September 2020
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jabm.6.3.514

Abstract

According to the Indonesia Health Profile Information (http://kemenkes.go.id/) in 2018 reported estimates of the amount of medical waste that every day 2,820 hospitals in Indonesia are 230,840 kg per day. To date the best technology for treating and disposal medical waste is incinerators. In middle of 2019 PPLI decided to build an incinerator so that this was a new line of business for PPLI (Prasadha Pamunah Limbah Industri), this is very interesting when at one side PPLI is the big player in hazardous waste management but at another side PPLI is new comer for medical waste management, with the aim of analyzing the market at medical waste management service, identify of actors, factors and objectives that influence the medical waste management business. Through the swot analysis method it was found that PPLI was in quadrant 1, which means that PPLI has great strength and support from external side to succeed in medical waste management service business, which means PPLI facilities and services are complete so that mean PPLI can be the one company for Total Hazardous Waste Management in Indonesia. Keywords: hospital, medical waste, total hazardous waste management, PPLI, SWOT
Profitability of the Three Types of Smallholder Pig Farming in Indonesia: An Adaptation of Enterprise Budgeting Method Ester Nurani Keraru; Harianto Harianto; Yusalina Yusalina
Buletin Peternakan Vol 45, No 4 (2021): BULETIN PETERNAKAN VOL. 45 (4) NOVEMBER 2021
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v45i4.68763

Abstract

This study aims to analyze the production cost structure and to measure the profitability of three types of smallholder pig farming, namely farrow-to-finish, pig-finishing, and pig-nursery in Indonesia. This study employed the data from the Statistics Indonesia-Livestock Business Household Survey (ST2013-STU). The measurement of profitability was carried out by calculating the profitability of three types of pig farming business using the adapted enterprise budgeting method. Based on the production cost structure, the percentage of pig feed costs accounted for more than 70% of the total cash of the three types of pig farming. The percentage of unpaid labor costs is more than 50% of the total non-cash. Based on the measurement results of the profitability indicators, it can be shown that the pig-finishing  type has the highest profitability among the three types of smallholder pig farming. Government policies are needed to increase pig farmers' access to financing and better pig farming technology.
Strategy to Improve the use Of Village and Regional Information Systems (SIDEKA) In Cianjur District Eka Chandra Kusuma; Harianto Harianto; Lala M Kolopaking
JURNAL MANAJEMEN AGRIBISNIS Vol 8 No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JMA.2020.v08.i02.p01

Abstract

ABSTRAK Pendanaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) dapat meningkatkan kesuksesan penggunaan Sistem Informasi Desa dan Kawasan (SIDEKA). Dalam penelitian ini, menggunakan Confirmatory Factor Analisis (CFA) terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan penerapan SIDEKA di Kabupaten menunjukan bahwa pendanaan alokasi SIDEKA, SDM pendidikan pengelola dan pendamping SIDEKA berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kesukesaan penerapan SIDEKA. Beberapa alternatif strategi telah berhasil dirumuskan dengan menggunakan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities dan Threaths (SWOT) terhadap faktor-faktor internal dan eksternal. Strategi prioritas yang dipilih berdasarkan penilaian responden adalah strategi kelemahan dan peluang (WO) diantaranya pertama mengalokasikan dan peningkatan dana SIDEKA. Kedua, melakukan kerja sama pendidikan dan pelatihan untuk pengelola. Dan ketiga, peningkatan jaringan Informasi dan Komunikasi di Kabupaten Cianjur
PERAN INDUSTRI KARET DALAM PEREKONOMIAN PROVINSI JAMBI: PENDEKATAN SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI Musdhalifah Machmud; Hermanto Siregar; Harianto Harianto; Wayan R Susila
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 37, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v37i2.659

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa linkages dan dampak industri karet alam terhadap perekonomian daerah Jambi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Provinsi Jambi tahun 2015. Metode penelitian ini adalah dengan mendisagregasi matriks SNSE dari ordo 52x52 menjadi 55x55 dengan mendisagregasi sektor perkebunan menjadi 4 sektor, yaitu industri ban; industri karet remah dan karet asap; industri barang-barang lainnya dari karet; dan industri kayu, barang dari kayu, dan lain lain. Hasil temuan menunjukkan bahwa industri karet primer maupun hilir berperan signifikan terhadap perekonomian Provinsi Jambi, yaitu sebesar IDR 29,86 Trilliun atau 69,17% dari nilai tambah faktor produksi di Provinsi Jambi dan penyerapan tenaga kerja sebesar 630 ribu orang atau 40,2% dari jumlah tenaga kerja di Provinsi Jambi. Hasil temuan menunjukkan bahwa forward dan backward linkage dari semua industri karet primer dan dua jenis industri karet hilir (industri karet remah dan karet asap; dan industri kayu, barang dari kayu dan lain lain) memiliki forward linkage < 1 dan backward linkage >1 sehingga hanya efektif sebagai leading sector saja. Perubahan yang terjadi di sektor lain atau menggunakan pembangunan sektor lain tidak akan efektif untuk mendorong pertumbuhan keempat subsektor industri karet tersebut. Sektor industri karet primer dan dua jenis industri karet hilir tersebut akan tumbuh jika sektor itu sendiri yang ditumbuhkan. Dari aspek penggandaan pendapatan secara total, subsector perkebunan karet memiliki penggandaan pendapatan total yang tertinggi. Dengan demikian, untuk meningkatkan pendapatan pada agisbisnis karet secara keseluruhan, maka pemilihan pembangunan fokus di subsector perkebunan karet merupakan kebijakan  yang strategis dan prioritas karena penggandaan pendapatan totalnya yang tertinggi (1,35) disusul oleh perkebunan selain karet (1,28); industri kayu, barang dari kayu (1,17) dan industri karet remah dan karet asap (1,09).  Kebaruan penelitian ini adalah secara spesifik mendisagregasi sektor perkebunan karet menjadi subsubsektor perkebunan karet yang lebih rinci.
Analisis Pendapatan Dan Faktor Produksi Usahatani Ubikayu Berdasarkan Pasar Yang Dipilih Petani (Study Kasus Petani di Kabupaten Lampung Tengah) Nuni Anggraini; Harianto Harianto; Lukytawati Anggraeni
Journal of Food System & Agribusiness Volume 1 Nomor 1 Tahun 2017
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jofsa.v1i1.80

Abstract

The success of a farm can be seen from the amount of income and a combination optimum factors of production. The objectives of this study were to analyze the cassava farm income and to identify the factors that influence the production of cassava farming in Central Lampung Regency. This study was conducted in Central Lampung Regency, Lampung Province as center of cassava production with select 78 cassava farmers. R/C ratio and Cobb Douglas Production Function analysis was used in this study. The results revealed that income cassava farmers who sell their crops to the plant is greater than the income of farmers who sell to traders. Factors affecting on cassava production are land, seed, N fertilizer, K fertilizer and marketing channels dummy. Based on the value of return of scale in the amount of 1.30, implying that the cassava farming in Central Lampung Regency is located on Increasing Return to Scale (IRS). The income of cassava farming can be enhanced through the harvesting of cassava as recommended so as to reduce the magnitude of rafaksi. Keywords : Production, farming, cassava, income, cobb-douglas
PERENCANAAN MODEL DAN STRATEGI PENGELOLAAN SENTRA KELAUTAN DAN PERIKANAN TERPADU (SKPT) BIAK DI KABUPATEN BIAK NUMFOR, PAPUA Umari Hasan; Harianto Harianto; Catur Sarwanto
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1267.144 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v9i2.7778

Abstract

Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) adalah pusat bisnis kelautan dan perikanan terpadu dari hulu ke hilir berbasis kawasan, yang telah dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2016 melalui berbagai kegiatan seperti pembangunan fasilitas usaha, fasilitas pendukung, penyaluran bantuan usaha, dan pelatihan tenaga kerja perikanan. Kawasan SKPT Biak belum beroperasi secara maksimal karena beberapa hal, antara lain belum memiliki model dan strategi pengelolaan kawasan. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu: 1) menyusun model pengelolaan SKPT Biak; 2) mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternalyang mempengaruhi pengelolaan SKPT Biak; 3) merumuskan alternatif dan prioritas strategi pengelolaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan Business Model Canvas (BMC) yang disesuaikan untuk organisasi non-profit, serta analisis strengths, weaknesses, opportunities, threats (SWOT) yang diintegrasikan dengan Analitycal Hierarchy Process (AHP). Hasil analisis pada penelitian ini adalah model pengelolaan SKPT Biak, yang memilikitiga segmen yang dinilai relatif lebih penting dan sangat mempengaruhi kesuksesan segmen lainnya yaitu: Proporsi Nilai, Aktifitas Kunci, dan Arus Pendapatan. Prioritas strategi yang dirumuskan, yaitu: (1) Mengoptimalkan semua sumber daya produksi untuk menciptakan nilai yang dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dan mitra, serta untuk menarik pelanggan dan investor baru; (2) Melakukan promosi peluang investasi dan kerja sama, serta mengusulkan alokasi bantuan dalam rangka mengoptimalkan seluruh aktifitas dalam kawasan SKPT Biak; (3) Penyusunan peraturan penerapan retribusi, sistem pembayaran, pengelolaan, dan sanksi dengan melibatkan Pemeritah, asosiasi usaha, dan instansi terkait lainnya; serta (4) Menyusun perencanaan seluruh kegiatan dan anggaran dalam rangka optimalisasi pengelolaan kawasan SKPT Biak, untuk diusulkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kementerian terkait, serta Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Swasta (BUMN/BUMS) penyalur Corporate Social Responsibility/Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (CSR/PKBL).Title: Model and Strategy Planning on Integrated Management of Biak Marine and Fisheries Center (SKPT) in Biak Numfor District, PapuaIntegrated Marine and Fisheries Center (SKPT) is an integrated marine and fisheries business center from the upstream to downstream based on area, which has been developed by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries since 2016 through various activities, such as the construction of business facilities, supporting facilities, business support distribution, and training for fisheries labors. The SKPT Biak area has not yet operated optimally due to several factors, including the lack of area management model and strategy. This research has three main objectives namely : 1) develop a SKPT Biak management model;  2) identify internal and external factors that affect the management of SKPT Biak; 3) formulate alternative and priority management strategies. The method used in this research is descriptive method using Business Model Canvas (BMC) which is adjusted for non-profit organizations, as well as strengths, weaknesses, opportunities, threats (SWOT) analysis which is integrated with the Analitycal Hierarchy Process (AHP). The results of the analysis inthis study is management model of SKPT Biak, that the segments that are considered relatively more important and greatly affect the success of other segments, that is: Proportion of Values, Key Activities, and Revenues. Formulated priority strategies are: (1) Optimizing all production resources to create value that can increase customer and partner loyalty, and to attract new customers and investors; (2) Promoting investment opportunities and cooperation, and proposing the allocation of assistance in order to optimize all activities in the SKPT Biak area; (3) Formulation of regulations on user fees, payment systems, management, and sanctions involving the Government, business associations, and other relevant agencies; and (4) Arranging the planning of all activities and budgets in the context of optimizing the management of the Biak SKPT area, to be proposed to the KKP, relevant ministries, as well as BUMN/BUMS channeling CSR /PKBL. 
Implementasi Kebijakan Perberasan di Tingkat Petani: Kinerja dan Perspektif ke Depan Surya Abadi Sembiring; Harianto Harianto; Hermanto Siregar; Bungaran Saragih
Analisis Kebijakan Pertanian Vol 8, No 4 (2010): Analisis Kebijakan Pertanian
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/akp.v8n4.2010.339-361

Abstract

Implementasi kebijakan perberasan yang efektif menyebabkan tujuan kebijakan perberasan tercapai. Tujuan makalah adalah  menganalisis kinerja dan perspektif kedepan implementasi kebijakan perberasan dalam Instruksi Presiden terhadap petani. Basis informasi penelitian adalah 30 orang kontak tani yang ditentukan secara pursposive sampling dari 59 kelompok tani pada  enam desa sentra produksi padi di kecamatan Sei Rampah, kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan (1) implementasi  Bantuan Langsung Benih Unggul, pupuk bersubsidi dan perbaikan jaringan irigasi tidak efektif, sebaliknya implementasi Harga Pembelian Pemerintah efektif, dan (2) implementasi kebijakan yang tidak efektif menyebabkan kelangkaan pupuk, pemupukan berimbang tidak tercapai, terjadi peningkatan biaya produksi dan konversi lahan sawah. Kebijakan strategis yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah (1) membangun dan memperbaiki jaringan irigasi, (2) mengawasi distribusi pupuk bersubsidi, (3) membeli langsung gabah petani, (4) menaikkan harga pembelian pemerintah, (5) mendorong peningkatan kinerja penyuluh pertanian lapangan, dan (6) memberikan bantuan benih unggul kepada petani 25 kg per ha.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Petani Penggarap Kubis dalam Melakukan Bagi Hasil di Kecamatan Naman Teran Edwina Sari Br Ginting; Harianto Harianto; Wiwiek Rindayati
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.133 KB) | DOI: 10.21776/ub.jepa.2020.004.03.15

Abstract

Sistem bagi hasil merupakan bentuk usaha yang paling sederhana dan merupakan hasil warisan dari sistem foedaal. Sistem bagi hasil ini telah menjadi budaya yang sangat sulit untuk dihilangkan dari kehidupan masyarakat pedesaan (Scheltema 1985). Bagi hasil pada usahatani kubis di Kabupaten Karo tidak terlepas dari adanya simbiosis mutualisme antara pemilik lahan dan petani penggarap. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola sistem bagi hasil yang digunakan oleh petani. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani penggarap kubis dengan menggunakan analsis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola bagi hasil yang diterapkan petani penggarap kubis di Kecamatan Naman Teran yaitu sistem bagi hasil pola bagu dua. Keputusan petani penggarap dalam melakukan bagi hasil secara signifikan dipengaruhi oleh jumlah tanggungan petani, luas lahan dan pendapatan usahatani kubis.
The Impact of Vertical Integration Intensity on Broiler Farms Technical Efficiency: The Case of Contract Farming in West Sumatera Harianto Harianto; N. Kusnadi; D. A. Paramita
Tropical Animal Science Journal Vol. 42 No. 2 (2019): Tropical Animal Science Journal
Publisher : Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.956 KB) | DOI: 10.5398/tasj.2019.42.2.167

Abstract

Contractual arrangements of different types have increasingly found in West Sumatera not only in subsistence and commercial crops but particularly also in livestock sector.  Contract farming in livestock agribusiness is generally defined as broiler farms under an agreement between farmers and a livestock inputs supplier. Within this broad definition, there are different variants of contracts depending on the formality and intensity of contractual arrangement. This study objective was to prove that the design of a contract, as representation of vertical integration intensity in broiler agribusiness, has different efficiency effects on production.  The stochastic frontier production function was used in this study, and employed a regression method to estimate the level of technical efficiency.  Data were collected from 87 broiler fattening farms consisted of 50 broiler fattening farms under formal contractual system and 37 broiler fattening farms under informal contractual system. The results showed that farm experience and improvement of the contract system would reduce the level of technical inefficiency of broiler farms. The study concluded that broiler farms under formal and detail contract farming had greater technical efficiencies compared to broiler farms under informal unwritten contract arrangement.  However, the broiler farms under informal contract obtained higher net returns compared to the broiler farms under formal contract arrangement.