Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pembuatan Katalis CaO Superbasa dari Batu Kapur untuk Sintesis Biodiesel Ningsih, Sintya; Zamhari, Mustain; Dewi, Erwana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2023): Desember 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v7i3.10789

Abstract

Sebagian besar wilayah indonesia berpotensi memiliki batu kapur atau batu gamping. Dimana pulau Sumatera merupakan salah satu penghasil batu kapur terbesar di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan tepatnya di kota Baturaja, daerah Ogan Komering Ulu (OKU). Upaya yang dapat dimanfaatkan dari batu kapur sebagai katalis heterogen karena mengandung Kalsium Oksida (CaO). Pada penelitian ini batu kapur dikalsinasi dengan variasi suhu 750?C, 850?C, dan 950?C dengan waktu selama 3 jam, 4 jam, dan 5 jam. Intensitas CaO tertinggi yang didapatkan pada hasil analisa XRD yaitu pada suhu 950?C dengan waktu 4 jam. Adapun puncak karakteristik sebesar 2? = 32,27? ; 36,51? ; 51,73? ; 63,43? ; 66,21? ; 78,53? dan 84,62?. Rasio mol yang digunakan untuk mereaksikan minyak jelantah dan metanol yaitu sebesar 1 : 19 menggunakan proses transesterifikasi, dimana katalis CaO superbasa yang digunakan yaitu sebesar 2 gram pada suhu 60?C selama 1 jam dengan kecepatan pengadukan 750 rpm. Hasil analisis yang didapatkan yaitu yield biodiesel sebesar 84%, titik nyala sebesar 89,7?C, densitas sebesar 0,86 gr/cm3, dan viskositas sebesar 4,00 mm2/s.
Pengolahan Pati Rumbia menjadi Serbuk Glukosa secara Hidrolisis Enzimatis dengan Variasi Perbandingan Pati dan Air, Suhu Evaporasi, dan Suhu Pengeringan Az’zahrah, Nandyta Rizqi; Dewi, Erwana; Yerizam, Muhammad
Jurnal Teknik Kimia USU Vol. 13 No. 1 (2024): Jurnal Teknik Kimia USU
Publisher : Talenta Publisher (Universitas Sumatera Utara)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jtk.v13i1.13327

Abstract

Glucose is a simple sugar that can be used as an sucrose alternative. Rumbia starch is rich in carbohydrates and abundant in Indonesia, potentially being used as a raw material for the production of glucose powder. The process involves starch hydrolysis, evaporation, and drying. The purpose of this study was to obtain optimal conditions of reducing sugar content, evaporation, and drying temperature based on variations in starch and water ratio (1:3, 1:4, 1:5, and 1:6), evaporation temperature (100 °C and 115 °C), and drying temperature (50 °C, and 70 °C). From this study, the optimal ratio of starch and water was 1:4 with a reduced sugar content of 99,77%. The optimal evaporation temperature was 115 °C, the brix content obtained is 85%, and the optimal drying temperature was 70°C, the water content obtained is 3,60%. Based on SNI of glucose, the glucose powder products meet the standard for water content and ash content. However, only in the ratio of starch and water 1:4 and 1:5, the reducing sugar content met the SNI of glucose.
Studi Kasus Meg Cross Exchanger Terhadap Suhu Lean Meg yang Melebihi Desain di PT Titis Sampurna Kurniawan, Belly; Dewi, Erwana; Anerasari, Anerasari
Jurnal Media Infotama Vol 21 No 1 (2025): April 2025
Publisher : UNIVED Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jmi.v21i1.6676

Abstract

MEG Cross Exchanger adalah suatu alat sebagai tempat terjadinya pertukaran panas antara dua fluida yang berbeda temperaturnya, dimana satu fluida memberikan panas dan satu fluida lainya menerima panas. Mono Ethylene Glycol (MEG) merupakan salah satu bahan chemical yang biasa digunakan untuk mencegah terjadinya hidrat dalam proses produksi Liquified Petroleum Gas (LPG). Alat yang digunakan untuk menginjeksikan MEG ke aliran gas tersebut berupa pompa, yang mana pompa tersebut mempunyai daya tahan terhadap panas fluida yang dialirkan, apabila panas fluida yang dialirkan melebihi kemampuan pompa, biasanya akan menyebabkan pompa rusak (terjadinya kebocoran pompa). Studi kasus ini dilakukan di PT Titis Sampurna yang bertujuan untuk mengevaluasi kinerja heat Exchanger tersebut, dan mendapatkan suhu optimum lean MEG yang menuju ke suction pompa MEG dengan cara dilakukan optimasi suhu masuk rich MEG dan pembersihan. Metode yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja MEG cross exchanger adalah metode perhitungan buku Kern dan Carl Yaws dengan cara menghitung fouling factor. Nilai fouling factor (Rd) yang didapatkan sebelum dilakukan optimasi dan pembersihan yaitu 0,8324 ft2.hr.F/Btu dengan suhu lean MEG 173,8oF. Kemudian setelah dilakukan optimasi suhu masuk rich MEG dapat menurunkan suhu lean MEG ke 167oF dengan nilai fouling factor 0,7746 ft2.hr.F/Btu . Hal tersebut menandakan bahwa MEG cross exchanger dalam keadaan kotor karena nilai Rd sebelum dilakukan pembersihan jauh lebih besar dibandingkan dari nilai desain yaitu 0,0043 ft2.hr.F/Btu. Kemudian setelah dilakukan dua kali pembersihan di bagian tube dan shell didapatkan nilai Rd sebesar di 0,0032 ft2.hr.F/Btu dengan suhu lean MEG 142oF. Hal ini menandakan bahwa dengan dilakukanya pembersihan dapat menjadikan kinerja MEG Cross Exchanger Lebih baik, sehingga perpindahan panas lebih maksimal dan membuat suhu lean MEG yang menuju ke suction pompa sudah sesuai dengan spesifikasi pompa MEG Kata kunci : MEG Cross Exchanger, Mono Ethylene Glycol, pertukaran panas, fouling factor, pembersihan, optimasi suhu.
Pengurangan Kadar Ammonia dalam Limbah Cair Pupuk pada Jet Bubble Column Menggunakan NaOH Adis Aisyah Amini; Indah Purnamasari; Erwana Dewi
Jurnal Serambi Engineering Vol. 10 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As a developing country, Indonesia is experiencing continuous industrial growth, including the urea fertiliser industry. The presence of the urea fertilizer industry produces wastewater containing ammonia pollutants, a primary component in the manufacture of fertilizers. Wastewater containing ammonia is discharged into rivers, polluting the environment and affecting living organisms both directly and indirectly. The aim of this study is to reduce the ammonia levels in the fertiliser effluent and to monitor the effect of the added NaOH solvent using a Jet Bubble Column. The reduction of ammonia levels in the wastewater was carried out by adding 0.3 M NaOH solvent to 1 litre of wastewater at a liquid flow rate of 0.9 litre/minute with varying air flow rates of 8 litre/minute and 12 litre/minute and temperatures of 35°C, 40°C, 45°C, 50°C and 55°C over an operating time of 60 minutes. The samples were analysed using Nessler UV/Vis spectrophotometry at a wavelength of 460 nm, and the mass transfer coefficient (kLa) and efficiency of ammonia reduction by the Jet Bubble Column were calculated. The highest efficiency obtained was 68.75%, reducing 434.214 ppm in 60 minutes at an air flow rate of 12 litres/minute and a temperature of 55°C. Higher flow rates and temperatures resulted in greater reductions, with the highest kLa being 1,074.
Manufacturing Chocolate Bar Using VCO as Cocoa Butter Substitute by Conching and Tempering (Reviewed from Conching Time and Variation of Substitute): Pembuatan Cokelat Bar Menggunakan Vco Sebagai Cocoa Butter Substitute Secara Conching dan Tempering (Ditinjau dari Waktu Conching dan Variasi Substitute) Zain, Raina Khoirunisa; Dewi, Erwana; Yerizam, Muhammad
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Department of Food Science and Biotechnology, Faculty of Agriculture Technology, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpa.2025.013.02.5

Abstract

Abstract One of the important components in making chocolate is cocoa butter because it affects the texture and melting point of the final product. The production process involves several stages, from fermentation to extraction. Therefore, cocoa butter has a high price with limited and fluctuating supply. Cocoa butter also has characteristics that are difficult to replace by other vegetable fats. However, cocoa butter substitutes can be used as an alternative as a more economical substitute. One of them is VCO, which has a high lauric acid content, can soften the texture and has the potential to be a substitute fat in chocolate products. In this study, VCO: Cocoa Butter substitution was carried out with a composition ratio of 0:100, 25:75, 50:50, 75:25, 100:0 (%wt). Chocolate making is processed by conching for 8 and 16 hours with an optimum temperature of 50 ℃ and processed by tempering. From the analysis results, a ratio of 25:75 (%wt) was obtained which produced chocolate characteristics in accordance with SNI 3749-2009, namely with a melting point of 33.2 ℃, water content of 1.20%, ash content of 1.16%, fat content of 43.66%, protein content of 4.89%, and carbohydrate content of 49.09%. VCO tends to lower the melting point of chocolate bars.   AbstrakSalah satu komponen penting dalam pembuatan cokelat adalah cocoa butter karena berpengaruh terhadap tekstur dan titik leleh produk akhir. Proses produksinya melibatkan beberapa tahap, mulai dari fermentasi hingga ekstraksi. Maka dari itu, cocoa butter memiliki harga tinggi dengan pasokan terbatas dan fluktuatif. Cocoa butter juga memiliki karakteristik yang sulit digantikan oleh lemak nabati lainnya. Namun demikian, cocoa butter substitute dapat digunakan sebagai alternatif sebagai pengganti yang lebih ekonomis. Salah satunya adalah VCO, yang memiliki kandungan asam laurat yang tinggi, dapat melembutkan tekstur dan berprotensi menjadi lemak pengganti pada produk cokelat. Dalam penelitian ini, dilakukan substitusi VCO : Cocoa Butter dengan perbandingan komposisi yaitu 0:100, 25:75, 50:50, 75:25, 100:0 (%wt). Pembuatan cokelat diproses secara conching selama 8 dan 16 jam dengan suhu optimum 50 ℃ serta diproses secara tempering. Dari hasil analisis, diperoleh perbandingan 25:75(%wt) yang menghasilkan karakteristik cokelat sesuai dengan SNI 3749-2009, yaitu dengan titik leleh 33,2 ℃, kadar air 1.20%, kadar abu 1,16%, kadar lemak 43,66%, kadar protein 4,8928%, dan kadar karbohidrat 49,0872%. VCO cenderung menurunkan titik leleh pada cokelat bar.
Pembuatan Karpet Karet Dari Kompon Karet Menggunakan Bahan Pengisi Silika Dan Tanah Liat Vinni Nursyifah; Selastia Yuliati; Erwana Dewi
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 4: Juni 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i4.8457

Abstract

Karpet karet merupakan salah satu jenis karpet karet yang dibuat dari bahan kompon karet dan diproses melalui metode cetak vulkanisasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh penggunaan silika dan lempung sebagai filler dalam proses pembuatan kompon karet karpet, serta memperoleh komposisi optimum yang memenuhi persyaratan. Pada penelitian ini, variasi yang digunakan adalah bahan filler penguat yaitu silika dan variasi bahan filler non penguat yaitu lempung dengan variasi perbandingan silika : lempung sebesar 50 : 0, 45 : 5, 40 : 10, dan 35 : 15. Parameter yang diuji adalah kekerasan Shore A, tegangan putus Mpa, perpanjangan saat putus N/cm2 dan ketahanan pegcepatan. Hasil pengujian kompon karet karpet yang mendekati persyaratan SNI terdapat pada perlakuan P1 (variasi silika : lempung = 50 : 0) dengan total bahan filler yang digunakan sebesar 50 phr. Karakteristik fisik-mekanik kompon karet karpet yang diperoleh menghasilkan nilai-nilai yaitu kekerasan 68 shore A, tegangan putus 2110 N/mm2, perpanjangan putus 610%, dan ketahanan terhadap retak. Hasil uji kekerasan yang diperoleh dari semua percobaan tidak memenuhi SNI 12-1000-1989 untuk karpet karet, sedangkan hasil uji kuat tarik, perpanjangan putus dan ketahanan terhadap percepatan memenuhi SNI 12-1000-1989 untuk karpet karet.
Pemanfaatan Pati Umbi Talas (Colocasia Esculenta [L] Schott) untuk Pembuatan Glukosa melalui Proses Hidrolisis Asam sebagai Bahan Baku Produksi Bioetanol Jonathan P Silalahi; Anerasari M; Erwana Dewi
JURNAL RISET RUMPUN ILMU TEKNIK Vol. 4 No. 1 (2025): April : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Teknik
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurritek.v4i1.4960

Abstract

Bioethanol can basically be made with basic ingredients in the form of vegetables which contain high starch and carbohydrates such as taro tubers (Colocasia esculenta [L] Schott). The choice of taro in making ethanol is because taro is classified as a tuber like cassava which has 66.8% starch content and 7.2% water content. The process of making glucose is done through acid hydrolysis (HCl) with variations in acid concentration (12, 14, 16, 18, and 20%) and hydrolysis time (1.5; 2; and 2.5 hours). From the analysis, it can be seen that the result of hydrolysis is liquid sugar (glucose) with the highest level of 27.8%brix.
OPTIMASI PROSES PEMBUATAN GULA CAIR BERBAHAN BAKU PATI JAGUNG MANIS MENGGUNAKAN METODE HIDROLISIS ENZIMATIS DAN EVAPORATOR BERTEKANAN Riko, Muhamad; Dewi, Erwana
JURNAL TEKNOLOGI PANGAN DAN ILMU PERTANIAN (JIPANG) Vol. 7 No. 02 (2025): Jurnal Teknologi Pangan dan Ilmu Pertanian (JIPANG)
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jipang.v7i02.6091

Abstract

The demand for sugar in Indonesia continues to increase, both in the form of sucrose (cane sugar) and liquid sugar. However, domestic sugarcane production remains insufficient. This limitation encourages the search for alternative sweeteners that can be locally produced, one of which is liquid sugar derived from starch through enzymatic hydrolysis. This study utilized sweet corn starch hydrolyzed using α-amylase and glucoamylase enzymes, followed by concentration using a pressurized evaporator. The objective of this research is to determine the optimum conditions in the production process of liquid sugar from sweet corn starch. The hydrolysis process was carried out by varying the enzyme volume at 0.8 ml, 1.0 ml, and 1.2 ml. The hydrolysate was then concentrated using a pressurized evaporator at a temperature of 130 °C and a pressure of 1.2 bar, with evaporation times ranging from 20 to 95 minutes. Based on the research results, the optimum process conditions were obtained at an enzyme volume of 1.2 mL with an evaporation time of 80 minutes. Under these conditions, the resulting product had the highest sugar content of 55.98% with a pH of 4.84, total dissolved solids of 65%, air content of 40.76%, and ash content of 0.609%.
Optimasi Proses Pengolahan Serat Batang Kunyit (Curcuma Longa) Menggunakan Alat Dekortikator untuk Bahan Baku Tekstil Wijaya, Olvie Zahroh; Dewi, Erwana; Yuniar
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 05 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-October 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i05.23855

Abstract

Indonesia memiliki potensi sumber serat alami yang ramah lingkungan, salah satunya batang kunyit (Curcuma longa). Serat batang kunyit mengandung selulosa yang cukup tinggi, sehingga berpeluang menggantikan serat sintetis dalam industri tekstil. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan proses pengolahan serat batang kunyit menggunakan alat dekortikator dan perendaman larutan NaOH (Natrium Hidroksida) dengan variasi konsentrasi dan waktu perendaman. Proses meliputi pengambilan serat, perendaman kimia (alkalisasi), bleaching, pengeringan, dan pemintalan serat menjadi benang dengan menggunakan alat pintal tradisional charkha. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi NaOH 5% dengan waktu perendaman 4 jam. Kondisi tersebut menghasilkan serat dengan kadar selulosa tertinggi sebesar 36,04%, kadar hemiselulosa terendah 10,46%, kekuatan tarik mencapai 1,56 MPa, dan tingkat kehalusan serat sebesar 9,81 tex. Proses ini terbukti dapat meningkatkan kualitas serat batang kunyit, sehingga layak digunakan sebagai bahan baku tekstil ramah lingkungan.
Pemurnian Garam Rakyat Menjadi NaCL Standar Industri Akbar, Kiki; Zamhari, Mustain; Dewi, Erwana
TEKNIKA SAINS Vol 8, No 2 (2023): TEKNIKA SAINS
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/teksis.v8i2.2537

Abstract

Penelitian ini bertujuan mencapai standar garam industri dengan meningkatkan konsentrasi garam rakyat menjadi NaCl SNI melalui penambahan Na2CO3 dan NaOH, serta meningkatkan kualitasnya melalui metode kristalisasi untuk pemurnian yang dapat diaplikasikan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemurnian garam rakyat ke NaCl standar industri dipengaruhi oleh Na2CO3 dan NaOH, mengendapkan Ca dan Mg, mencapai konsentrasi 98-99 persen NaCl. Implikasinya, pemurnian ini dapat diterapkan di Indonesia, mendukung industri garam, dan ekonomi pesisir pantai. Proses penelitian menggunakan Evaporasi-kristalisasi dengan Na2CO3 dan NaOH, mengurangi kehilangan garam. Analisis kandungan NaCl, Mg, dan Ca dilakukan dengan AAS, mengikuti standar SNI 01-3556-2000 dan ASTM E534-98, memastikan kualitas garam sesuai persentase kadar NaCl, Ca2+, dan Mg2+. Ini memberikan landasan untuk meningkatkan potensi industri garam di Indonesia, fokus pada bahan baku NaCl SNI. Pemurnian ini, dengan konsentrasi yang tinggi, berpotensi mendukung industri besar di Indonesia, menggunakan sumber daya garam yang melimpah, dan memberikan kontribusi positif pada ekonomi pesisir pantai.