Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

HARMONIZATION OF FOSTER’S POLITICAL ECOLOGY AND ISLAMIC THOUGHT: A STRUCTURAL SPIRITUAL APPROACH TO INDONESIA’S ENVIRONMENTAL CRISIS Afif Kholidin; Khoirul Fathoni; Ali Musyafak; Saifudin Zuhri; Ida Nur Lailatul Kodriyah; Fathul Mufid
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol. 23 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v23i2.15123

Abstract

This article proposes an interdisciplinary framework that bridges Marxist political ecology and Islamic ethics to address ecological injustice in Muslim-majority contexts. Existing scholarship reveals a critical research gap: while political ecology particularly John Bellamy Foster’s theory of the metabolic rift diagnoses capitalism as the systemic driver of ecological degradation, it often overlooks the spiritual and ethical dimensions of human nature relations. Conversely, Islamic environmental thought emphasizes the theological values of stewardship (khalīfah), justice (‘adl), and balance (mīzān), yet tends to lack a rigorous structural critique of capitalist modes of production and consumption. To overcome this epistemic divide, the study synthesizes these two perspectives into a hybrid model of ecological justice that is both structurally critical and spiritually grounded. Theoretically, it advances political ecology by reintroducing religion not merely as moral discourse but as an analytical category capable of shaping socio-ecological critique. Practically, it outlines four domains of implementation: (1) ecological justice policies through environmental zakat and waqf; (2) integration of eco-ethical principles into Islamic education; (3) mosque-centered community empowerment; and (4) the adoption of green technologies aligned with sustainability (istidāmah). This integrated framework enriches global sustainability debates by offering a non-secular paradigm rooted in Islamic ethical thought, while positioning Indonesia as a potential model for environmentally responsible Muslim societies that combine structural reform with moral transformation.
Dekolonisasi Manajemen Sumber Daya Manusia : Telaah Kritis Islamophobia Perspektif Habermas, Bourdieu, dan Islam Sigit Muttaqin; Fathul Mufid; Ulya
Jurnal Manajemen Dayasaing Vol. 28 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Dayasaing
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/dayasaing.v28i1.14963

Abstract

Fenomena Islamophobia dewasa ini tidak hanya terjadi dalam konteks sosial dan politik global, tetapi juga mengakar dalam praktik organisasi dan manajemen sumber daya manusia (MSDM). Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Islamophobia terhadap MSDM melalui perspektif teori tindakan komunikatif Jurgen Habermas dan teori kekuasaan simbolik Pierre Bourdieu, serta menawarkan model konseptual MSDM berbasis nilai-nilai Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kritis dengan pendekatan hermeneutik Islami terhadap literatur empiris dan teoretis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islamophobia beroperasi melalui dua mekanisme utama yaitu pertama, distorsi komunikasi, yaitu kegagalan organisasi membangun dialog setara dan bebas dominasi, kedua, kekerasan simbolik, yaitu penerimaan tanpa sadar terhadap norma dan nilai sekuler yang menyingkirkan identitas religius Muslim. Kedua mekanisme ini menyebabkan kolonisasi dunia hidup (Habermas), dan reproduksi habitus sekuler (Bourdieu). Sebaliknya, paradigma Islam yang berlandaskan tauhid, ‘adl, dan musawah menawarkan basis etika dan spiritual untuk membangun MSDM yang humanis dan komunikatif. Integrasi antara rasionalitas komunikatif, kesadaran struktural, dan nilai-nilai Islam melahirkan model MSDM yang humanis komunikatif berbasis tauhid, bebas dominasi, reflektif, dan keadilan sosial dalam organisasi. Temuan ini menegaskan bahwa dekolonisasi pengetahuan dan spiritualisasi MSDM menjadi langkah strategis untuk mengatasi bias Islamophobia dan membangun manajemen yang adil serta berkeadaban