Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

KARAKTERISASI PROSES PENGERINGAN JAGUNG DENGAN METODE MIXED-ADSORPTION DRYING MENGGUNAKAN ZEOLITE PADA UNGGUN TERFLUIDISASI Hargono Hargono; Mohamad Djaeni; Luqman Buchori
Reaktor Volume 14, Nomor 1, April 2012
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.265 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.1.33-38

Abstract

CHARACTERIZATION OF CORN DRYING PROCESS USING MIXED-ADSORPTION DRYING METHOD UTILIZING ZEOLITE PARTICLES IN A FLUIDIZED BED SYSTEM. Corn (Zea mays L.) representing important food requirement besides paddy and wheat. Handling of time after rice harvest become the priority so that corn quality can be awaked better. Drying process by adsorption-fluidized bed become a choice to replace the conventional corn drying systems. This research aim to look for the effect of the inlet air temperature, type of zeolite, and ratio of corn and zeolite to drying rate, content of protein and fat, and to calculate dying rate constant, k. Energy efficiency is calculated based on amount of heat is used to evaporate the water from corn (Qevap) divided by total of heat requirement for the regeneration of zeolite and increase the air temperature (Qintr). This research conducted by mixing zeolite as adsorben with the corn with the certain comparison ratio in the fluidized bed at temperature of 30-50oC. Results of research indicate that the fastest drying rate is marked by biggest water rate degradation that happened at 50oC by zeolite sintetis and ratio of corn and zeolite is 25:75%. Drying rate constant is 0.0303. Protein content degradates from 9.10% to 8.30%, while for the content of fat is constant. Energy efficiency is obtained of 81.23%. Jagung (Zea mays L.) merupakan kebutuhan pangan yang penting selain padi dan gandum sehingga penanganan paska panen menjadi prioritas agar kualitas jagung dapat terjaga dengan baik. Proses pengeringan dengan cara adsorpsi-unggun terfluidisasi menjadi suatu pilihan untuk menggantikan sistim pengering jagung konvensional yang boros energi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh suhu udara masuk, jenis zeolite, dan rasio berat jagung dan zeolite terhadap kecepatan pengeringan, kandungan protein dan lemak dan menghitung harga konstanta laju pengeringan, k. Untuk keperluan energi dihitung pula efisiensi energi (h) berdasarkan jumlah panas yang digunakan untuk menguapkan air dari jagung (Qevap) dibagi dengan kebutuhan panas total untuk meregenerasi zeolite dan menaikkan suhu udara (Qintr). Penelitian dilakukan dengan mencampurkan zeolite sebagai adsorben dengan jagung dengan rasio perbandingan tertentu dalam suatu unggun yang difluidisasi menggunakan udara pada suhu percobaan 30-50oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pengeringan paling cepat ditandai oleh penurunan kadar air yang paling besar yang terjadi pada suhu 50oC dengan menggunakan zeolite sintetis dan dengan rasio berat jagung dan zeolite adalah 25% : 75%. Nilai konstanta laju pengeringan diperoleh 0,0303. Kadar protein terjadi penurunan dari 9,10% menjadi 8,30%, sedangkan untuk kandungan lemaknya relatif tetap. Hasil perhitungan diperoleh efisiensi energi (h) sebesar 81,23%.
UPAYA PENINGKATAN MUTU DAN EFISIENSI PROSES PENGERINGAN JAGUNG DENGAN MIXED-ADSORPTION DRYER Luqman Buchori; Mohamad Djaeni; Laeli Kurniasari
Reaktor Volume 14, No. 3, APRIL 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.285 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.3.193-198

Abstract

THE EFFORT OF EFFICIENCY AND QUALITY IMPROVEMENT ON CORN DRYING PROCESS USING MIXED-ADSORPTION DRYER. The main problem in corn drying process is the low of energy efficiency (50%) and quality products. Consequently, operating costs in large for fuel consumption and the short shelf life of corn. Zeolite adsorption dryers have the potential to overcome this problem. This research aims to study composition of corn-zeolite and the effect of temperature on drying speed and protein and fat content in corn. Research variables are the ratio of corn and zeolite (1:0, 1:3, 1:1, 3:1) and intake air temperature (room temperature, 30oC, 40oC, 50oC). Sampling for moisture testing performed every 15 minutes. For energy purposes also calculated the energy efficiency (h) based on the amount of heat used to evaporate water from the corn (Qevap) divided by the total heat requirement to regenerate the zeolite and raising the air temperature (Qintr). Profiles of temperature and water in the mixed adsorption dryer are also studied. The results showed that the greater number of zeolite used, the water content of the final outcome a little more drying, protein and fat content of the final result of drying is relatively constant. The larger intake air temperature, the water content of the less drying results, protein content decreases, and the fat content does not change/relatively constant. The best variable was a ratio of corn: zeolite is 1:3 and air temperature was 50oC. While the variables that are suitable and in accordance with ISO standards for dry foods (14%) are air temperature of between 40oC and 50oC with a ratio of corn:zeolite is 1:3. The energy efficiency of 81.23% is obtained. Modeling done with FEMLAB (COMSOL) can describe the moisture content and temperature profiles in the corn and zeolite. Keywords: corn; drying; energy efficiency; mixed adsorption dryer; zeolite Abstrak Masalah utama proses pengeringan jagung adalah rendahnya efisiensi energi (50%) dan mutu produk sehingga beban biaya operasi besar untuk konsumsi bahan bakar. Pengering adsorpsi dengan zeolite berpotensi untuk mengatasi permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh komposisi jagung-zeolite dan suhu terhadap kecepatan pengeringan dan kandungan protein dan lemak di dalam jagung. Penelitian dilakukan dengan variabel berubah yaitu rasio antara jagung dan zeolit (1:0, 1:3, 1:1, 3:1) dan suhu udara masuk (suhu kamar, 30oC, 40oC, 50oC). Pengambilan sampel untuk pengujian kadar air dilakukan setiap 15 menit. Untuk keperluan energi dihitung pula efisiensi energi (h) berdasarkan jumlah panas yang digunakan untuk menguapkan air dari jagung (Qevap) dibagi dengan kebutuhan panas total untuk meregenerasi zeolit dan menaikkan suhu udara (Qintr). Profil temperatur dan air di dalam mixed adsorption dryer juga dipelajari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah zeolit yang digunakan, kadar air hasil akhir pengeringan makin sedikit, kadar protein dan lemak hasil akhir pengeringan relatif konstan. Semakin besar suhu udara masuk pengering, kadar air hasil pengeringan makin sedikit, kadar protein semakin menurun, dan kadar lemak tidak berubah/relatif konstan. Variabel yang terbaik adalah variabel dengan rasio jagung:zeolit yaitu 1:3 dan menggunakan suhu udara pengering 50oC. Sedangkan variabel yang cocok dan sesuai dengan standar SNI untuk makanan kering (14%) adalah variabel dengan menggunakan suhu udara pengering antara 40oC dan 50oC dengan rasio berat jagung : zeolit adalah 1:3. Efisiensi energi diperoleh sebesar 81,23%. Pemodelan yang dilakukan dengan Femlab (COMSOL) dapat menggambarkan profil kandungan air dan suhu di dalam jagung dan zeolit. Kata kunci : jagung; pengeringan; efisiensi energi; mixed adsorption dryer; zeolit
DRYING TIME ESTIMATION OF CARRAGEENAN-EGG WHITE MIXTURE AT TRAY DRYER Mohamad Djaeni; Aji Prasetyaningrum; Nurul Asiah; Ratnawati Hartono
International Journal of Science and Engineering Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.327 KB) | DOI: 10.12777/ijse.6.2.122-125

Abstract

The drying is the last step to find carrageenan product. Currently, the carrageenan drying still deals with too long drying time. This because, during the process carrageenan and water forms gel stucture in which hampers the water diffusion to the surface. Foaming agent introduction such as egg white can be considered to break the gel structure and make the drying process being smooth and fast. This paper discusses the effect of egg white as foaming agent on the drying time of carrageenan. In this study, the carrageenan was mixed with egg white to form foam that can break the gel and create the pore for improving the surface area.  The carrageenan and egg white mixture was then dried at different air temperature and humidity. Results showed that the drying time was shortened with the presence of egg whiet as well as the increase of air temperature. For example, the drying time at air temperature 80oC with  20 % egg white was about 60 minutes shorter than that of without foam. In addition, the lowering air dehumidification affected the drying time positively.
Preparation of Natural Zeolite for Air Dehumidification in Food Drying Mohamad Djaeni; Laeli Laeli Kurniasari; Setia Budi Sasongko
International Journal of Science and Engineering Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.262 KB) | DOI: 10.12777/ijse.8.2.80-83

Abstract

Drying with air dehumidification with solid adsorbent improves the quality of food product as well as energy efficiency. The natural zeolite is one of adsorbent having potential to adsorb the water.  Normally, the material was activated to open the pore, remove the organic impurities, and increase Si/Al rate. Hence, it can enhance the adsorbing capacity. This research studied the activation of natural zeolite mined from Klaten, Indonesia as air dehumidification for food drying. Two different methods were used involving activation by heat and NaOH introduction.  As indicators, the porosity and water loaded were evaluated. Results showed both methods improved the adsorbing capacity significantly. With NaOH, the adsorbing capacity was higher. The simple test in onion and corn drying showed the presence of activated natural zeolite can speed up water evaporation positively. This performance was also comparable with Zeolite 3A
Drying Spirulina with Foam Mat Drying at Medium Temperature Aji Prasetyaningrum; Mohamad Djaeni
International Journal of Science and Engineering Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.186 KB) | DOI: 10.12777/ijse.3.2.1-3

Abstract

Spirulina is a single cell blue green microalgae (Cyanobacteria) containing many Phytonutrients (Beta-carotene, Chlorophyl, Xanthophyl, Phyocianin) using as anti-carcinogen in food. Producing dry spirulina by quick drying process at medium temperature is very important to retain the Phytonutrient quality. Currently, the work is still challenging due to the gel formation that block the water diffusion from inside to the surface.  This research studies the performance of foam-mat drying on production of dry spirulina. In this method the spirulina was mixed with foaming agent (glair/egg albumen, popular as white egg) at 2.5% by weight at air velocity 2.2 m/sec. Here, the effect of spirulina thickness and operational temperature on drying time and quality (Beta-carotene and color) were observed. The drying time was estimated based on the measurement of water content in spirulina versus time. Result showed that the thicker spirulina, the longer drying time. Conversely, the higher operational temperature, faster drying time. At thickness ranging 1-3 mm and operational temperature below 70oC, the quality of spirulina can fit the market requirement
PENGERINGAN JAGUNG DENGAN METODE MIXED-ADSORPTION DRYING MENGGUNAKAN ZEOLITE PADA UNGGUN TERFLUIDISASI M Djaeni; A. Agusniar; D. Setyani; Hargono .
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman yang penting, sebagai sumber makanan dan obat. Penanganan pasca panen jagung yaitu pengeringan sangat menentukan kualitas jagung untuk penggunaan selanjutnya. Proses pengeringan dengan cara adsorpsi menjadi suatu pilihan untuk menggantikan sistim pengering jagung konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu udara masuk, jenis zeolite, dan rasio berat jagung dan zeolite terhadap kecepatan pengeringan dan menghitung harga konstanta laju pengeringan. Pada penelitian ini, zeolite sebagai adsorben dicampur dengan jagung dengan rasio perbandingan tertentu dalam suatu unggun, kemudian difluidisasi dengan udara dengan suhu 30oC-50oC.  Udara akan menguapkan air dari jagung, dan pada saat yang sama, zeolite akan menyerap air dari udara ini, sehingga kelembaban udara akan terjaga rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pengeringan paling cepat ditandai oleh penurunan kadar air yang paling besar, yang terjadi pada suhu 50oC, dengan menggunakan zeolite sintetis, dan dengan rasio berat jagung dan zeolite adalah 25% : 75%. Harga konstanta laju pengeringan pada variabel ini adalah 0,0303. Hasil menunjukkan bahwa semakin meningkatnya suhu udara pengering maka penurunan kadar air semakin besar sehingga laju pengeringan semakin cepat. Kata kunci: adsorpsi; jagung; pengeringan; zeolite.
PENGERINGAN KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT Eucheuma Cottonii PADA SPRAY DRYER MENGGUNAKAN UDARA YANG DIDEHUMIDIFIKASI DENGAN ZEOLIT ALAM M. Djaeni; A. Prasetyaningrum1; A. Mahayana
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v8i2.428

Abstract

Tinjauan: Kualitas Produk dan Efisiensi Energi Proses pengeringan dengan suhu tinggi akan menurunkan kualitas karaginan yang dihasilkan. Penelitian ini membahas penggunaan spray dryer yang dilengkapi dengan sistem adsorpsi menggunakan zeolit untuk pengeringan karaginan. Pada proses ini udara sebagai media pengering dikontakkan dengan zeolit untuk menurunkan kelembabannya. Kelembaban udara yang rendah akan meningkatkan driving force proses pengeringan, sehingga proses dapat dijalankan secara lebih efisien pada suhu yang lebih rendah dari pengeringan konvensional. Aspek yang dikaji pada penelitian ini adalah pengaruh suhu operasi dan kecepatan linier udara terhadap evaluasi efisiensi energi, mutu dan kadar air produk. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu dan kecepatan udara pengering, proses pengeringan akan lebih cepat. Pada suhu 125°C dan kecepatan udara 14 m/detik dihasilkan karaginan dengan kadar air 11,35%, kekuatan gel 116 g/cm2 dengan efisiensi rendemen produk 0,92, serta efisiensi energi 83,52%.Kata kunci : pengeringan; spray dryer; dehumidifikasi; karaginan; zeolit.
PENGERINGAN GABAH MENGGUNAKAN ZEOLIT 3A PADA ALAT UNGGUN TERFLUIDISASI Djoko Mulyono; Jefri Chandra Runanda; R Ratnawati; M. Djaeni
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.533 KB)

Abstract

Indonesia sebagai negara agraris memiliki tanah yang subur dan hasil pertanian yang melimpah, salah satu hasil pertanian tersebut adalah gabah. Produksi gabah di Indonesia termasuk tiga besar penghasil gabah dunia. Penanganan gabah di Indonesia sering kali terkendala dengan masalah pengeringan. Masih banyak di Indonesia para petani menggunakan cahaya matahari sebagai media pengering, tentu hal ini tidak selalu menguntungkan karena cuaca di Indonesia tidak selalu cerah dan pengeringan menggunakan cahaya matahari ini membutuhkan waktu yang lama, sehingga dibutuhkan proses pengeringan yang lebih efisien dari segi energi dan waktu pengeringan, maka dari itu digunakan pengeringan dengan menggunakan zeolit sintetis. Pada proses pengeringan ini lebih efisien karena proses perpindahan panas dan massa terjadi secara simultan di dalam unggun terfluidisasi. Bahan yang dikeringkan dikontakkan dengan gas panas sehingga dengan panas tersebut dapat menguapkan uap air yang terdapat pada bahan dan dengan ditambahakannya zeolit sehingga udara menjadi lebih kering yang dapat mempercepat proses pengeringan sehingga lebih efisien. Pada pengeringan ini digunakan beberapa variabel diantaranya suhu 30-60oC, flow rate udara 2-5 m/s dan perbandingan gabah dan zeolit 40, 60, 80 dan 100 % gabah dan variabel yang diamati adalah 5 gr gabah setiap 5 menit. Dari hasil percobaan diperoleh temperatur yang baik untuk proses pengeringan adalah pada suhu 60oC, untuk variabel flow rate yang paling baik adalah pada kecepatan udara sebesar 5 m/s dan untuk variabel perbandingan gabah dan zeolit yang paling baik adalah pada perbandingan gabah : zeolit sebesar 40 : 60.
PENINGKATAN KUALITAS GABAH DENGAN PROSES PENGERINGAN MENGGUNAKAN ZEOLIT ALAM PADA UNGGUN TERFLUIDISASI Rohmat Figiarto; Sheila Luvi Galvani; M. Djaeni
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.433 KB)

Abstract

One of problem in paddy production in Indonesia is at paddy grain drying process. This far, farmers in indonesia are very dependent on sun rays to dry their paddy grain, therefore, when the rain season comes, they find it hard to dry it. Also, the quality of sun drying is considered low. The goals of this research are to dry paddy grain in fluidized bed using natural zeolite to make drying process faster, to obtain the effect of operation condition to drying process, and to obtain the effect of operation condition to paddy quality. the  condition operation in this research are air temperatures (30, 40, 50, 60C), air velocity (1.5, 2, 2.5, 3 m/s),  and rasio of paddy grain to zeolite (0%, 20, 40, 60% zeolite).  this research are done by drying paddy grain in fluidized bed  in certain time until the moisture content of paddy grain  is 12 - 14%. The result of this research are as follow: at 30C Nc = 0.0054, at 60C Nc = 0.012. air velocity at 1.5 m/s  Nc = 0.0071, where at 3 m/s Nc = 0.0115. Non zeolit variable  Nc = 0.0051, where at 60% zeolite, Nc = 0.0068. From these data, we can conclude that as the air temperature, air velocity and %w zeolite increase, the drying rate will increase therefore drying process takes shorter time. The best quality of dry paddy grain is produced when the air temperature is 40C. The increasity of air velocity %w zeolite can improved the quality of paddy grain.
PEMANFAATAN MINYAK GORENG BEKAS MENJADI DETERGEN ALAMI MELALUI KOMBINASI REAKSI TRANS-ESTERIFIKASI DAN SULFONASI Aga Aulia Rahman; Galih Satrio Lelono; Mohamad Djaeni
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.594 KB)

Abstract

Deterjen adalah produk yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk membersihkan pakaian. Mengingat efek buruk detergen sintetis bagi alam yaitu susah terdegradasi oleh alam, maka perlu di cari inovasi pengganti bahan pembuatan detergen yang ramah lingkungan dan juga pengurangan limbah minyak goreng bekas yang cukup melimpah. Dengan dilakukannya studi ini diharapkan dapat mengetahui kondisi optimum pembuatan detergen alami dari minyak goreng bekas dengan teknologi tepat guna, serta mengetahui variabel yang berpengaruh dalam pembuatannya. Penelitian dilakukan dengan memproduksi Metil ester sulfonat (MES) sebagai bahan aktif dalam detergen dengan proses kombinasi trans-esterifikasi dan sulfonasi dengan bahan baku minyak goreng bekas yang selanjutnya di pelajari kondisi operasi dalam pembuatan detergen alami dari MES yang di campurkan bahan lain sebagi komposisi detergen tersebut. Penelitian ini mengkaji suhu operasi, %zeolit, dan kecepatan pengadukan sehingga di dapat kondisi operasi optimum dalam pembuatan detergen alami dari minyak goreng bekas. Variabel tetap yang digunakan dalam penelitian ini adalah volume MES sebanyak 100ml, berat CMC sebanyak 20%, berat soda ash sebanyak 45%, dan jenis bahan penunjang yaitu zeolit Na . Sedangkan variabel berubahnya adalah suhu operasi pada 60oC, 80oC dan 100oC, % zeolit sebanyak 10%, 20%, dan 30%, serta kecepatan pengadukan 120 rpm, 180 rpm dan 240 rpm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum pada suhu 105°C, kecepatan pengadukan 260 rpm, dan % zeolit sebanyak 32% sehingga menghasilkan daya detergensi sebesar 46% mendekati daya detergensi surfaktan LAS murni sehingga detergen dari minyak goring bekas ini layak di gunakan. Variabel bebas yang paling berpengaruh adalah kecepatan pengadukan, di ikuti oleh %zeolit kemudian suhu.