Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pelatihan Pemanfaatan Limbah Perkebunan Kelapa Sawit sebagai Bahan Baku Baglog Budidaya Jamur Tiram di Desa Sabah Balau, Lampung Selatan Khaerunissa Anbar Istiadi; Erma Suryanti; Hida Arliani Nur Anisa; Arysca Wisnu Satria; Deviany Deviany; Yuni Sukmawati; Dini Meilinda; Andreas Dwi Nugroho; Triya Yuli Andini; Aji Hafidz Talaga
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i4.6601

Abstract

Kelapa sawit sebagai salah satu komoditas perkebunan unggulan di Indonesia menghasilkan limbah berupa pelepah selama proses produksi kelapa sawit. Desa Sabah Balau, Lampung Selatan merupakan kawasan yang dikelilingi oleh perkebunan karet sebagai komoditas utama serta tanaman kelapa sawit yang diusahakan masyarakat sekitar. Pengolahan limbah pelepah sawit berpeluang menyelesaikan permasalahan lingkungan serta menghasilkan nilai ekonomi bila diproses menjadi produk yang bernilai tinggi, yaitu media tanam jamur tiram (baglog). Pemberian informasi mengenai potensi limbah pelepah kelapa sawit di Desa Sabah Balau dilakukan melalui Pengabdian Kepada Masyarakat yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan dan persiapan, tahap pelaksanaan, serta tahap evaluasi. Tahap pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui sosialisasi dan praktik. Materi sosialisasi terintegrasi dengan praktik meliputi bahan baku dan produksi baglog, proses sterilisasi dan inokulasi serta cara budidaya jamur tiram yang baik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan di Desa Sabah Balau berupa sosialisasi dan praktik pembuatan media tanam jamur tiram (baglog) meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai potensi limbah pelepah kelapa sawit sebagai bahan baku baglog, proses pembuatan baglog, serta proses budidaya jamur tiram.
Pengaruh Perlakuan Awal terhadap Karakteristik Bioetanol dari Limbah Kulit Singkong Karet (Manihot glaziovii) Yuniarti, Reni; Satria, Arysca Wisnu; Wiandini, Wandha; Zaezarini, Nabhila; Achmad, Feerzet; Yusupandi, Fauzi
Jurnal Teknik Kimia USU Vol. 13 No. 1 (2024): Jurnal Teknik Kimia USU
Publisher : Talenta Publisher (Universitas Sumatera Utara)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jtk.v13i1.13174

Abstract

Rubber cassava peel waste (Manihot glaziovii) has a high carbohydrate content, so it is feasible to convert it into bioethanol. In general, bioethanol production consists of four steps, pretreatment, hydrolysis, fermentation, and purification. The purpose of this study was to determine the suitable treatment for obtaining bioethanol with the finest characteristics from rubber cassava peel using three treatment variations, the pretreatment process with variations in the dissolving ratio of sodium hydroxide (NaOH) 0.5 M of 1:10; 1:12.5; and 1:15 (w/v), the hydrolysis process with various concentrations of sulfuric acid (H2SO4) of 0.15 N; 0.30 N; and 0.45 N, and the fermentation process with variations in the fermentation time for 3 days, 7 days, and 9 days. Based on the research results, the highest glucose content was 0.91%, with variations in dissolving NaOH 0.5 M 1:15 (w/v) in the pretreatment process and variations in the concentration of 0.30 N H2SO4 in the hydrolysis process, while the highest ethanol content was 68.05% at a fermentation time of 7 days.
Pengaruh Perlakuan Awal terhadap Karakteristik Bioetanol dari Limbah Kulit Singkong Karet (Manihot glaziovii) Yuniarti, Reni; Satria, Arysca Wisnu; Wiandini, Wandha; Zaezarini, Nabhila; Achmad, Feerzet; Yusupandi, Fauzi
Jurnal Teknik Kimia USU Vol. 13 No. 1 (2024): Jurnal Teknik Kimia USU
Publisher : Talenta Publisher (Universitas Sumatera Utara)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jtk.v13i1.13174

Abstract

Rubber cassava peel waste (Manihot glaziovii) has a high carbohydrate content, so it is feasible to convert it into bioethanol. In general, bioethanol production consists of four steps, pretreatment, hydrolysis, fermentation, and purification. The purpose of this study was to determine the suitable treatment for obtaining bioethanol with the finest characteristics from rubber cassava peel using three treatment variations, the pretreatment process with variations in the dissolving ratio of sodium hydroxide (NaOH) 0.5 M of 1:10; 1:12.5; and 1:15 (w/v), the hydrolysis process with various concentrations of sulfuric acid (H2SO4) of 0.15 N; 0.30 N; and 0.45 N, and the fermentation process with variations in the fermentation time for 3 days, 7 days, and 9 days. Based on the research results, the highest glucose content was 0.91%, with variations in dissolving NaOH 0.5 M 1:15 (w/v) in the pretreatment process and variations in the concentration of 0.30 N H2SO4 in the hydrolysis process, while the highest ethanol content was 68.05% at a fermentation time of 7 days.
Sosialisasi Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari Sampah Rumah Tangga pada Pekon Way Kerkai Achmad, Feerzet; Setianingrum, Nur; Jarwinda, Jarwinda; Satria, Arysca Wisnu; Firmansyah, Agus; Susanto, Herri
Babakti: Journal of Community Engangement Vol. 1 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/babakti.v1i1.5

Abstract

Pekon/Desa Way Kerkai, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung yang memiliki potensi komoditi kopi dan cabai. Adanya lahan pertanian yang cukup luas tetapi limbah pertanian yang dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan secara maksimal, dapat mencemari lingkungan dan mempengaruhi hasil pertanian di Pekon Way Kerkai. Demikian halnya dengan pengelolaan sampah organik rumah tangga masyarakat yang dibuang begitu saja tanpa ada proses lebih lanjut dan berpotensi mencemari lingkungan. Tujuan Kegiatan KKN PPM ini adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat dan petani tentang bagaimana cara mengelola limbah dan sampah organik menjadi pupuk cair atau Mikroorganisme Lokal (MOL). Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini yaitu penyuluhan dan pelatihan pembuatan MOL. Hasil dari kegiatan ini yaitu masyarakat dan petani memahami tentang proses pembuatan dan manfaat pupuk organik cair berbahan MOL untuk tanaman. Pemahaman petani meningkat dari rata-rata 30% sebelum pelatihan dan mencapai 90% setelah pelatihan ini berdasarkan kuisioner yang dibagikan sebelum dan sesudah pelatihan. Selain itu pelatihan ini dapat menjadi usaha atau bisnis serta sebagai bentuk memanfaatkan limbah yang tidak termanfaatkan dengan baik.
PEMBUATAN BIOCHAR-SLOW-RELEASE-FERTILIZER DARI LIMBAH PELEPAH KELAPA SAWIT Satria, Arysca Wisnu; Ariyanto, Dika Ariyanto; Anisa, Hida Arliani Nur; Istiadi, Khaerunissa Anbar; Sari, Dian Anggria; Muhyi, Abdul; Alawiyah, Alawiyah
MAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences Vol. 1 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/maximus.v1i2.1578

Abstract

Industri kelapa sawit dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi lingkungan terkait dengan limbah cair dari industri pengolahan maupun limbah padat dari perkebunan. Limbah padat dari perkebunan kelapa sawit, seperti pelepah sawit, sesungguhnya dapat dimanfaatkan ulang menjadi biochar yang digunakan sebagai bahan pelapis slow-release-fertilizer. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh variasi komposisi, bahan pelapis, dan bahan perekat terhadap daya lepas nitrogen pada biochar-slow-release-fertilizer, serta mempelajari kinetika pelepasannya. Variasi yang digunakan adalah rasio biochar/bentonite 20%:80% – 80%:20%, jenis perekatnya asap cair dan minyak jarak, dan jumlah pupuk urea 30% massa total. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil optimum yang diperoleh untuk bahan perekat asap cair dan minyak jarak adalah berturut-turut pada rasio biochar/bentonite 50%:50% dan 60%:40%. Sedangkan hasil uji pelindian mendapatkan bahwa kedua formula tersebut mampu mempertahankan pelepasan nitrogen total hingga 28 hari, dibanding 13 hari untuk formulasi yang tidak dimodifikasi. Uji kinetika pelepasan menggunakan model Korsmeyer-Peppas menunjukkan bahwa mekanisme pelepasan kedua sampel tersebut mengikuti difusi Fickian. Kata kunci : Biochar Pelepah Sawit, Pupuk Pelepasan Lambat, Asap Cair, Minyak Jarak, Model Pelepasan
INOVASI MEDIA TANAM ANGGREK DARI LIMBAH PELEPAH KELAPA SAWIT Satria, Arysca Wisnu; Siragih, Rajuman S; Amelia, Tiara; Nur Anisa, Hida Arliani; Istiadi, Khaerunissa Anbar; Sari, Dian Anggria; Alawiyah, Alawiyah
MAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/maximus.v1i1.1580

Abstract

Anggrek merupakan salah satu tanaman hias dengan keanekaragaman yang tinggi, khususnya di Pulau Sumatera. Permintaan serta nilai komersial anggrek menjadikan budidaya anggrek semakin berkembang. Media tanam yang umumnya digunakan merupakan cacahan tanaman pakis, namun status pakis yang hampir punah menjadikan tanaman pakis menjadi salah satu tanaman yang perlu dilindungi. Limbah pelepah sawit dengan kandungan unsur hara yang beragam merupakan salah satu bahan potensial dalam pengembangan media tanam. Penelitian bertujuan untuk mengembangkan alternatif media tanam anggrek dari limbah pelepah sawit terfortifikasi dan menganalisis kelayakan ekonominya. Cacahan limbah pelepah sawit difortifikasi dengan pupuk serta direkatkan menggunakan getah damar kemudian dicetak dalam bentuk pellet. Hasil penelitian terbaik ditunjukkan pada pelet dengan rasio sawit/pakis sebesar 60%:40% dimana komponen N-P-K yang terekstrak berturut-turut sebesar 6,0; 4,4; dan 4,2 ppm/g pelet. Hasil uji tekan juga menunjukkan bahwa penambahan 60% serbuk pelepah sawit mampu memberikan kekuatan tekan tertinggi pada media pelet sehingga mampu memberikan penahanan nutrisi dan air tertinggi. Sementara itu, hasil analisis ekonomi menujukkan bahwa pabrik pelet media tanam layak didirikan, yang ditunjukkan oleh nilai Internal Rate of Return 16,47%; Pay Back Period 2,26 tahun, Break Even Point 58,86%; Return On Investment 44,26%; dan Net Present Value Rp 1.236.691.035,00.
Penurunan Kadar COD Air Limbah Domestik Menggunakan Fly Ash dengan Metode Adsorpsi Riztu, Sonia; Pradita, Natania Anggreani; Sufra, Rifqi; Adriansyah, Endi; P.T.Z, Luter evons; Suzana, Asih; Satria, Arysca Wisnu; Sanjaya, Andri
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 24, No 3 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v24i3.5677

Abstract

Domestic wastewater was collected from a drainage system on Soekarno Hatta Street, Kalibalau Kencana, Kecepatan District, Bandar Lampung City, with a high Chemical Oxygen Demand (COD) content of 4,867 mg/L. If the wastewater is discharged directly into water bodies, it can reduce the availability of dissolved oxygen, potentially disrupting the survival of aquatic organisms. This research aims to determine the effect of contact time on the reduction of COD levels in domestic wastewater, the effect of fly ash adsorbent both activated and non-activated on the reduction of COD values, and its impact on other parameters according to domestic wastewater quality standards. Fly ash was activated using 6M NaOH and heated at 160°C for 1 hour. The adsorption process was carried out with varying contact times of 30, 60, 90, 120, and 150 minutes, using both activated and non-activated adsorbents with masses of 1.5 and 3 grams. The results of this study showed that the adsorption test with the activated adsorbent with masses of 1.5 and 3 grams reached optimum times of 90 and 60 minutes, respectively, with percentage reductions of 98.78% and 99.03%. In contrast, for the non-activated adsorbent with masses of 1.5 and 3 grams, optimum times occurred at 150 minutes, with percentage reductions of 95.64% and 90.79%, respectively.