Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Analisis Protein, Kalsium, dan Magnesium Nugget Keong Sawah (Pila ampullacea) dengan Substitusi Tepung Cangkang Telur Ayam Ras (Gallus gallus domesticus) Indah, Dhevy Restu; Wardana, Agung Setya; Luthfianto, Dodik
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nugget merupakan makanan yang digemari anak-anak, namun nugget daging ayam memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan daging keong dengan diversifikasi produk Nugget keong sawah, yang memiliki nilai gizi lebih tinggi dengan harga murah. Tujuan penelitian mengetahui kadar protein, kalsium, dan magnesium Nugget keong sawah dengan penambahan tepung cangkang telur ayam ras. Penelitian menggunakan Jenis penelitian eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan tiga kali pengulangan. Penambahan tepung cangkang telur ayam dilakukan dengan konsentrasi 0%, 5%, 10%, dan 15%. Analisis protein menggunakan metode Kjeldahl, analisis kadar kalsium dan magnesium menggunakan alat spektrophotometry. Analisis data kadar protein dan kalsium menggunakan uji Kruskal Wallis dan analisis data magnesium menggunakan One Way Anova analisis kadar protein dengan hasil tertinggi pada perlakuan 0% sebesar 6,06%, kadar kalsium dengan hasil tertinggi pada perlakuan 15% sebesar 0,42%, dan magnesium didapatkan hasil tertinggi pada perlakuan 15% sebesar 555,46 ppm. Hasil uji kadar protein didapatkan nilai p = 0,130, kalsium nilai p = 0,014, dan magnesium nilai p = 0,000. Penelitan ini tidak ada perbedaan kadar protein Nugget keong dengan penambahan tepung cangkang telur. ada perbedaan kadar kalsium dan magnesium pada Nugget keong dengan penambahan tepung cangkang telur ayam.
Gambaran Nilai Gizi Yogurt Buah Pisang Ambon dengan Penambahan Ekstrak Kelor Luthfianto, Dodik; Noviyanti, Retno Dewi; Puspitasari, Erika Nur
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yogurt merupakan produk olahan susu yang sangat diminati masyarakat diberbagai kalangan usia. Yogurt memiliki beragam macam tekstur, dari tekstur yang mirip dengan es krim bahkan beberapa produk yogurt berbentuk liquid, selain itu yogurt juga memiliki rasa khas yang sedikit asam. Yogurt mempunyai berbagai manfaat untuk kesehatan, namun sebagian besar yogurt dimanfaatkan untuk memelihara kesehatan pencernaan. Modifikasi olahan yogurt saat ini banyak dilakukan, tujuannya adalah untuk meningkat nilai gizi dan manfaat dari bahan mentahnya dan yogurtnya. Pembuatan yogurt pisang ambon dengan substitusi daun kelor diharapkan memiliki kombinasi yang kuat karena dari kedua bahan memiliki nilai gizi yang baik untuk kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kandungan zat gizi mikro (kalsium, kalium, magnesium dan zinc) pada yogurt buah pisang dengan penambahan ekstrak kelor. Metode penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pada penelitian ini adalah konsentrasi daun kelor sebesar 6 ml, 8 ml dan 10 ml. perbandingan konsentrasi penambahan ekstrak daun kelor pada yogurt dengan variasi penambahan buah pisang ambon yaitu : perlakuan A (penambahan ekstrak daun kelor 6 ml dari volume susu sapi dan pisang ambon), perlakuan B (penambahan ekstrak daun kelor 8 ml dari volume susu sapi dan pisang ambon), perlakuan C (penambahan ekstrak daun kelor 10 ml dari volume susu sapi dan pisang ambon). Hasil penelitiannya adalah zat gizi kalium rata - rata 0,46% tertinggi sebesar 0,5%, magnesium rata-rata 78,2 ppm tertinggi sebesar 83,5 ppm, zinc rata-rata 16,95 ppm tertinggi sebesar 21,38 ppm dan kalsium rata-rata 676,37 ppm tertinggi sebesar 722,57 ppm. Kesimpulannya adalah kandungan zat gizi kalium magnesium, dan zinc tertinggi pada perlakuan dengan penambahan ekstrak daun kelor 10 ml. Kandungan kalsium, tertinggi pada perlakuan dengan penambahan ekstrak kelor 6 ml.
Analisis Kadar Zat Besi, Vitamin C, Dan Daya Terima Es Krim Kurma Dengan Penambahan Sari Lemon Putri, Yayu Ayuning Mustika; Wardana, Agung Setya; Luthfianto, Dodik
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah kurma atau yang dikenal dengan nama latin Phoenix dactylifera merupakan salah satu jenis tumbuhan palem yang buahnya memiliki rasa manis sehingga dapat dikonsumsi oleh banyak orang. Sedangkan Lemon sejenis buah yang dapatdimanfaatkan untuk penyegar dan penyedap. Kurma kaya akan kandungan gizi terutama zat besi dan lemon banyak mengandung vitamin C. Metode Penelitian : jenis penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), tiga kali pengulangan dan tiga perlakuan penambahan kurma dan sari lemon. Hasil : rata rata kadar zat besi tertinggi pada es krim kurma (Phoenix dactylifera) dengan penambahan sari lemon (Citrus limon) sebesar 66,56 ppm dan kadar vitamin C rata rata sebesar 1,92 mg. Uji kenormalan data dari analisis kadar zat besi dan vitamin C menggunakan uji Shapiro Wilk diperoleh data berdistribusi normal (p>0,05), sedangkan untuk uji analisis kadar zat besi (Fe) menggunakan uji One Way Analysis Of Variance (ANOVA) (p: 0,000) dan uji analisis kadar vitamin C menggunakan uji kruskal wallis (p: 0,046). Hasil uji statistik daya terima menggunakan uji Friedman untuk warna (p: 0,234), aroma (p: 0,558), tekstur (p: 0,627) dan tekstur (p: 0,000). Kesimpulan ada perbedaan kadar zat besi, vitamin C, dan daya terima rasa dan untuk daya terima warna, aroma dan tekstur tidak ada perbedaan.
Kandungan Zinc, Fe, Lemak dan Sifat Organoleptik Bakso Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) dengan Jantung Pisang Kepok (Musa acuminata) sebagai Pangan Fungsional Pencegah Stunting: Zinc, Iron, Fat Content, and Organoleptic Properties of Tongkol Fish Meatballs (Euthynnus affinis) with Kepok Banana Blossom (Musa acuminata) as Functional Food for Preventing Stunting Kusudaryati, Dewi Pertiwi Dyah; Adiningrum, Rahma; Wardana, Agung Setya; Luthfianto, Dodik
Amerta Nutrition Vol. 9 No. 1SP (2025): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 5th Amerta Nutrition Conferenc
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v9i1SP.2025.141-151

Abstract

Background: Stunting is commonly associated with deficiencies in micronutrients such as zinc and iron, as well as low fat intake in children. The use of nutrient-rich Tongkol fish and Kepok banana blossom for producing meatballs has the potential to prevent stunting. Objectives: This study aims to determine the zinc, iron, fat content, and the organoleptic properties of Tongkol fish meatballs added with Kepok banana blossom. Methods: The study employed a completely randomized design with three treatments, consisting of different ratios of Tongkol fish to Kepok banana blossom in groups F1 (60%:40%), F2 (50%:50%), and F3 (40%:60%). The zinc and iron content were analyzed using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS), fat content was determined using the Soxhlet method, and organoleptic properties were assessed through hedonic testing. Data were analyzed using One-Way ANOVA and the Kruskal-Wallis test. Results: The highest zinc and iron content was observed in group F2, with values of 243.42±4.89 ppm and 405.40±16.45 ppm, respectively, while the highest fat content was found in groups F1 and F3, both at 0.52%. Statistical analysis revealed significant differences in zinc content (p-value<0.001) and iron content (p-value=0.001), while no significant difference was found in fat content (p-value=0.283). There was a significant difference in taste (p-value=0.028), but no significant differences were observed in color (p-value=0.182), aroma (p-value=0.853), and texture (p-value=0.820). Conclusions: The treatment group F2 exhibited the highest levels of zinc and iron, while the fat content did not show statistically significant differences. There was a difference in taste; however, no significant differences were observed in color, aroma, and texture in the organoleptic tests.
Peran Kader Kesehatan dan Inovasi Olahan Bekatul serta Kombucha Bunga Telang dalam Penanganan Diabetes Mellitus di Desa Dagen, Karanganyar Wijayanti, Wijayanti; Noviyanti, Retno Dewi; Luthfianto, Dodik; Haryanti, Rusiana Sri; Rezaldi, Firman
Jurnal Medika: Medika Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/pcjpmw74

Abstract

Diabetes mellitus is one of the non-communicable diseases with a steadily increasing prevalence in Indonesia and can lead to serious complications if not properly managed. Health cadres play an important role in prevention, early detection, and community support to improve the quality of life of patients. Training health cadres is an effective strategy to equip them with knowledge and skills related to diabetes mellitus. In Dagen Village, Karanganyar Regency, ITS PKU Muhammadiyah Surakarta and STIKes Tujuh Belas Karanganyar collaborated to carry out educational activities. The materials provided included the basic concepts of diabetes mellitus, the role of health cadres, balanced nutrition for patients, and the practice of local food innovation. The introduced innovations were food processing using rice bran and fermented butterfly pea kombucha, which are expected to support the health of diabetes patients. The evaluation results showed a significant improvement, with the average pre-test score of 26.3 increasing to 30.15 in the post-test, and 100% of participants showing progress. This proves the effectiveness of the training activities.  In conclusion, health cadres have a strategic role as educators, companions, and community mobilizers in managing diabetes. The use of local food ingredients through healthy food innovations can be an applicable solution to support a healthy lifestyle and reduce the risk of complications in diabetes patients, particularly in Dagen Village.