Claim Missing Document
Check
Articles

Menavigasi Ketidakpastian Ekonomi : Istri Nelayan Sebagai Agen Kesejahteraan Rumah Tangga Komunitas Pesisir Desa Teluk Rhu Teguh Widodo; Rina Susanti
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 6 No. 2 (2026): Juni: Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v6i3.11922

Abstract

This study analyzes the role of fishermen's wives in navigating household economic life in the coastal community of Teluk Rhu Village, Rupat Utara District, Bengkalis Regency. The economic uncertainty faced by fishermen's households is not only conjunctural but also structural, stemming from fish catches, dependence on ecological conditions, and limited access to stable resources. In this situation, the household's economic burden cannot be fully borne by the head of the family, resulting in the expansion of women's roles as active economic actors. This study uses a qualitative approach with a descriptive case study design. Data were obtained through in-depth interviews, observations, and documentation of fishermen's wives who met certain criteria, then analyzed interactively through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results show that fishermen's wives play a strategic role in responding to the economy through livelihood diversification, such as fishery product processing, small-scale trade, and informal household businesses. This role not only serves as additional income but also functions as a socio-economic adaptation mechanism that enables households to reduce poverty in high-risk conditions. In addition, fishermen's wives also contribute to financial management, strengthen social capital, and provide for the family's basic needs. These findings confirm that women are not only contributors to the household economy but also key agents in coastal families' economic resilience strategies, which are shaped through structural pressures and adaptation to needs.
HUBUNGAN KELAS SOSIAL DENGAN KEPUTUSAN MENGGUNAKAN LAYANAN TREATMENT DI KLINIK KECANTIKAN BAREFACE PEKANBARU Irna Dewi Febrianti; Rina Susanti
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 7 (2026): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i7.2026.1633-1640

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kelas sosial terhadap keputusan menggunakan layanan treatment di Klinik Kecantikan Bareface Pekanbaru. Menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatif, data dikumpulkan melalui kuesioner dari 100 responden member aktif yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Analisis data dilakukan melalui uji regresi linear sederhana menggunakan IBM SPSS 25.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas sosial memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap keputusan penggunaan layanan dengan persamaan regresi Y = 33,896 + 1,178X. Hasil uji-t menunjukkan nilai 8,503 1,986 (Sig. 0,000). Nilai koefisien determinasi () sebesar 0,425 mengindikasikan kontribusi variabel kelas sosial sebesar 42,5%, yang masuk dalam kategori pengaruh sedang.Secara keseluruhan, keputusan member berada pada kategori dominan (skor 5.553). Responden bertindak sebagai aktor rasional yang lebih mengutamakan kualitas hasil medis dan profesionalitas tenaga ahli dibandingkan sekadar atribut status sosial. Penelitian ini menyimpulkan adanya pergeseran perilaku konsumsi di masyarakat modern Pekanbaru, di mana layanan kecantikan telah menjadi bagian dari gaya hidup luas yang melampaui batasan strata sosial tertentu.
PILIHAN RASIONAL PEREMPUAN PEKERJA JURU PARKIR DI KOTA PEKANBARU Rizka Irvianti; Rina Susanti
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 4 (2026): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i4.2026.882-889

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan perempuan bekerja sebagai juru parkir dan aktivitas kerja juru parkir perempuan di Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menggunakan teori pilihan rasional oleh James S. Coleman. Populasi penelitian mencakup seluruh perempuan yang bekerja sebagai juru parkir di Kota Pekanbaru sebanyak 436 jiwa dan sampel ditetapkan sebanyak 50 responden mneggunakan rumus slovin. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan instrument kuesioner, observasi dan dokumentasi. Data yang dikumpul dianalis secara statistic deskriptif dengan formula tendensi sentral dan disajikan tabel kontingensi. Hasil penelitian menunjukkan, sumber daya internal menjadi faktor yang paling tinggi (70,0%) menjadi alasan perempuan bekerja sebagai juru parkir yang diukur dengan indikator keterampilan, pengetahuan, kondisi fisik, dan motivasi personal. Tingkat aktivitas kerja juru parkir perempuan di Kota Pekanbaru tergolong sedang (60,0%) pada aspek intensitas kerja, atribut dan peralatan juru parkir, tugas kerja, interaksi juru parkir, jenis kendaraan yang dilayani, setran dan penghasilan. Disamping itu, adanya keterkaitan antara alasan bekerja juru parkir perempuan dengan aktivitas kerjanya, yakni perempuan dengan pertimbangan sumber daya internal cenderung memiliki tingkat aktivitas kerja yang tergolong tinggi (66,7%).  
PEMAKNAAN RUANG COFFEE SHOP BAGI PEREMPUAN PERKOTAAN (STUDI PADA KELOMPOK ARISAN LUXURY DI KOTA PEKANBARU) Sakinah Dentayano; Rina Susanti
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 11 (2025): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i11.2025.4492-4499

Abstract

Fenomena meningkatnya aktivitas arisan di kalangan perempuan perkotaan yang tidak dilakukan di rumah, melainkan di ruang publik seperti coffee shop. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan pemilihan coffee shop sebagai tempat arisan dan mengetahui makna ruang coffee shop bagi perempuan perkotaan dalam kelompok arisan luxury di Kota Pekanbaru serta mengetahui ruang coffee shop dimaknai oleh kelompok arisan luxury di Kota Pekanbaru. Teori yang gunakan adalah teori interaksi simbolik Herbert Mead yang menekankan pada proses interaksi dalam membangun simbol dan makna sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian diambil secara purposive sampling dengan enam orang informan yang merupakan anggota aktif kelompok arisan luxury. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa coffee shop dimaknai sebagai representasi gaya hidup modern, ruang relaksasi, dan sarana membangun citra sosial. Pemilihan coffee shop didasarkan pada pertimbangan suasana yang santai, estetik, serta mendukung aktivitas sosial seperti berfoto dan berbagi di media sosial. Melalui interaksi yang terjalin, coffee shop juga menjadi simbol identitas kelompok, memperkuat relasi antaranggota, dan mencerminkan selera serta preferensi mereka terhadap konsumsi. Coffee shop tidak hanya berfungsi sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang simbolik yang mempresentasikan modernitas, kebersamaan, dan ekspresi diri anggota kelompok arisan luxury di pekanbaru.
MODAL SOSIAL MASYARAKAT PERKOTAAN DALAM MENGURANGI RISIKO BENCANA BANJIR Siti Safitri; Rina Susanti
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 4 (2026): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i4.2026.857-863

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis unsur-unsur modal sosial masyarakat terdampak dalam mengurangi risiko bencana banjir di Kelurahan Meranti Pandak serta mengidentifikasi unsur yang paling dominan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei deskriptif terhadap 71 responden yang dipilih melalui teknik proportional random sampling dari total 242 kepala keluarga terdampak banjir. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur tiga dimensi modal sosial, yaitu jaringan sosial, norma sosial, dan kepercayaan sosial dalam bentuk bonding, bridging, dan linking. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat modal sosial masyarakat berada pada kategori sedang hingga tinggi. Norma sosial menjadi unsur yang paling dominan dalam mendukung pengurangan risiko banjir, diikuti oleh kepercayaan sosial, sedangkan jaringan sosial berada pada posisi kurang dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa kekuatan nilai gotong royong dan solidaritas kolektif menjadi fondasi utama dalam respons masyarakat terhadap banjir. Pengurangan risiko bencana di wilayah ini sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan sosial yang terbangun dalam komunitas.
PERSEPSI RISIKO DAN STRATEGI ADAPTASI RUMAH TANGGA MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI DESA SAHILAN DARUSSALAM Yessi Tri Yuniarti; Rina Susanti
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 1 (2026): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i1.2026.354-363

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi risiko dan mengidentifikasi strategi adaptasi rumah tangga menghadapi bencana banjir di Desa Sahilan Darussalam. Analisis ini dilakukan berpedoman pada teori risk society oleh Ulrich Beck dan dipadukan dengan teori adaptasi oleh John Twigg. Populasi penelitian adalah seluruh rumah tangga di Dusun 3 Pulau Baru yang tinggal di wilayah aliran Sungai Kampar dan terdampak banjir paling parah dengan total 134 kepala keluarga. Sampel penelitian berjumlah 57 responden yang ditentukan menggunakan rumus Taro Yamane dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kuantitatif deskriptif menggunakan perhitungan tendensi sentral (minimum, mean, median) disajikan dalam bentuk tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat persepsi risiko rumah tangga yang mencakup indikator persepsi risiko dampak ekonomi, sosial budaya dan infrastruktur tergolong tinggi yaitu sebesar 93,0%. Sedangkan strategi adaptasi rumah tangga yang mencakup indikator strategi adaptasi ekonomi, infrastruktur dan sosial budaya tergolong pada kategori kurang optimal yaitu sebesar 87,7%. Kesimpulannya persepsi risiko bencana banjir rumah tangga berkaitan dengan strategi adaptasi yang dilakukan oleh rumah tangga.
TINDAKAN SOSIAL ANAK JALANAN BEKERJA DI KOTA PEKANBARU Indra Arya Putra; Rina Susanti
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 3 (2026): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i3.2026.892-897

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang anak jalanan memilih bekerja serta keterkaitannya dengan aktivitas kerja yang mereka lakukan, dengan menggunakan perspektif teori tindakan sosial Max Weber. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik sensus terhadap 37 anak jalanan yang bekerja. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara terstruktur, dan observasi lapangan, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan anak untuk bekerja dipengaruhi oleh kombinasi faktor rasional, seperti pemenuhan kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab keluarga, serta faktor nonrasional berupa kondisi emosional, kebiasaan, dan pengaruh lingkungan sosial. Mayoritas responden memiliki tingkat intensitas dan konsistensi kerja pada kategori sedang hingga tinggi. Hasil analisis silang memperlihatkan bahwa anak dengan alasan rasional yang kuat cenderung memiliki aktivitas kerja yang lebih intens dan berkelanjutan, sedangkan anak dengan tingkat rasionalitas sedang berusaha menyeimbangkan antara bekerja dengan kebutuhan lain, seperti bersekolah, beristirahat, dan bersosialisasi. Temuan ini menunjukkan bahwa keterlibatan anak jalanan dalam aktivitas kerja bukan semata-mata akibat tekanan ekonomi, melainkan merupakan bentuk tindakan sosial yang memiliki makna subjektif dan bersifat adaptif terhadap kondisi sosial dan keluarga
Gerakan Komunitas dalam Pelestarian Mangrove: Strategi Kelompok Harapan Bersama di Bengkalis Oni Andriani Putri; Rina Susanti
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i1.2549

Abstract

Kelompok Harapan Bersama merupakan aktor Gerakan Sosial Baru yang berfokus pada isu lingkungan, khususnya pelestarian mangrove di Desa Pangkalan Jambi, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang dilakukan kelompok dalam pelestarian mangrove dengan menggunakan pendekatan Gerakan Sosial Baru oleh Rajendra Singh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Informan penelitian terdiri dari enam anggota aktif kelompok yang telah bergabung lebih dari lima tahun serta satu informan kunci dari aparatur Desa Pangkalan Jambi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelompok Harapan Bersama menjalankan tujuh strategi utama dalam pelestarian mangrove, yaitu: (1) sosialisasi melalui metode ceramah dan praktik langsung kepada masyarakat, (2) mobilisasi massa melalui keterlibatan masyarakat lokal dan pemanfaatan media sosial, (3) pembibitan dan penanaman mangrove, (4) pengawasan dan pengendalian melalui patroli rutin serta penerapan aturan preventif dan represif, (5) pengembangan inovasi Alat Pemecah Ombak berbasis pengetahuan lokal, (6) pembangunan jejaring dengan berbagai pihak, serta (7) pengembangan kawasan ekowisata mangrove. Strategi-strategi tersebut menunjukkan bahwa gerakan pelestarian mangrove tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga merupakan proses sosial yang melibatkan partisipasi masyarakat, kolaborasi multipihak, serta inovasi berbasis lokal.
THE STRENGTH OF SOCIAL CAPITAL OF THE SEKAT BAKAU GROUP IN THE CONSERVATION OF MANGROVE ECOSYSTEMS IN BURUK BAKUL VILLAGE, BUKIT BATU DISTRICT, BENGKALIS REGENCY Alika Nurmala Siregar; Rina Susanti
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 2 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i2.8033

Abstract

The damage to the mangrove ecosystem on the coast of Riau, especially in Buruk Bakul Village, which experiences 4 meters of erosion each year, has become a serious environmental problem due to abrasion and land conversion. In response to these conditions, the local community formed the Sekat Bakau Group which focuses on self-help mangrove conservation. This study aims to analyze the typology of the group's social capital in carrying out its conservation role. The approach used is qualitative descriptive, with data collection techniques in the form of observation, in-depth interviews, and documentation. The results of the study indicate that social capital is a strong bond for carrying out conservation actions, consisting of elements of social networks, trust, norms, recognition and proactive actions. The five elements have formed a circle of relationships in the typology of bonding, bridging and linking social capital. The social capital possessed is able to drive conservation actions even though the group has limited economic capital. The results of this study also show the typology of the Sekat Bakau Group's social capital in preserving the mangrove ecosystem, which at the bonding level shows strong internal group membership, at the bridging level there are ties with the community, village government and other conservation groups and at the linking level there are ties and assistance from partners.
PERILAKU MASYARAKAT PEMUKIMAN KUMUH PADA RUANG SUNGAI KAMPAR Citra Dewa Silalahi; Rina Susanti
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 7 (2026): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v9i7.%p

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya fenomena pemukiman kumuh pada ruang sungai di Desa Pulau Birandang, Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar. Umumnya pemukiman kumuh diidentikkan dengan wilayah perkotaan namun hal ini terjadi di wilayah pedesaan. Tujuan penelitian  untuk mengidentifikasi representasi perilaku masyarakat pemukiman kumuh pada ruang sungai serta menganalisis faktor-faktor sosiologis yang mempengaruhinya. Kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan total responden sebanyak 57 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal tepat di pemukiman kumuh pada bantaran sungai. Analisis yang digunakan untuk membedah fenomena ini adalah teori sosiologi behavioral dari B.F. Skinner. Hasil penelitian menunjukkan representasi perilaku masyarakat terhadap sungai secara mayoritas cenderung negatif yaitu sebesar 52,6% 30 responden, sedangkan perilaku positif berada di angka 47,4% 27 responden. Di sisi lain, hasil terhadap faktor penyebab menunjukkan nilai yang sangat dominan pada ketiga indikator, yaitu faktor pengetahuan skor 1253, faktor sosial skor 643, dan faktor budaya skor 623. Kesimpulannya penelitian ini mengungkap adanya kesenjangan antara aspek kognitif di dalam pikiran warga dengan tindakan nyata mereka di lapangan. B.F. Skinner, tingginya pengetahuan, nilai sosial, dan budaya warga baru sebatas membentuk perilaku tertutup (covert behavior) karena tidak didukung oleh stimulus fisik berupa ketersediaan fasilitas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) resmi. Keterbatasan infrastruktur di pemukiman kumuh  memaksa mayoritas masyarakat untuk tetap memunculkan respons operan negatif