Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Komparasi Nilai Sufistik dalam Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique dengan Terapi Mind Healing Technique Rahmi, Rahmi; Nurjanah, Dian Siti; Naan, Naan
Jurnal Riset Agama Vol. 3 No. 3 (2023): December
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jra.v3i3.32356

Abstract

Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) therapy and Mind Healing Technique (MHT) therapy have similar Sufistic values which make perceptions equalize the meaning of the Sufistic values of the two therapies. This research aims to find the sufistic values contained in SEFT Therapy, explain the sufistic values contained in MHT Therapy, and most importantly to compare the sufistic values contained in SEFT therapy and MHT therapy. This research uses a qualitative approach with the research method Library Research or Library Study and Internet Searching or Internet Study. The results obtained from this research are that SEFT Therapy and MHT Therapy have three similar Sufistic values which have different meanings. The comparison of Sufistic values obtained from the two therapies is surrender, sincerity and gratitude. Surrender in SEFT Therapy is seen as an attitude of graceful acceptance of whatever happens in life, while surrender in the MHT view is a healing effort that does not force the results because it believes that healing is the right of Allah SWT. According to SEFT, sincerity refers more to blessing, which is a condition where a person will not complain about any misfortune that occurs in his life, then according to MHT, sincerity is sincerity that knows no boundaries and is selfless for anything given to other people. Lastly, the meaning of gratitude in SEFT is recognition of all the blessings that have been given by Allah SWT. while MHT interprets gratitude as an effort to enjoy the blessings given by Allah SWT.
EPISTEMOLOGI SUFI (Telaah literatur atas definisi Pengobatan cara sufi) Naan, Naan
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i1.9552

Abstract

AbstractThe essence of the teachings of the Sufis is with God. The goal is taqarrub ilallah, to get closer to Allah. This close relationship is maintained and arranged in such a way through ritualistic Sufi teachings. The research method used is qualitative. The researcher analyzed the data on the Sufism texts. The results of data processing state that in Sufism, all activities of human life are worship. Worship is not enough with prayer and fasting, but it is perfected with morals. Worship which is accompanied by morals directs salik to perfection, where the physical and mental dimensions are in unity. This unity of identity is what is healthy in Sufism. Healthy in Sufism means physical, mental and spiritual health.
The Representation of Sufistic Life Value to Build Growth Mindset in Movie “Buya Hamka Vol.1” Syarifani, Nara; Naan, Naan; Widarda, Dodo; Setiawan, Cucu; Hakim, Maman Lukmanul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i2.23886

Abstract

Communicators may use movies as a medium to deliver their message. Movies offer great insights, lessons, and morals that viewers can apply in their lives. Grounded to Pierce’s semiotic analysis, the biographical movie “Buya Hamka Vol.1” presents lessons and interpretations of Sufistic life principles. This study aimed to elucidate the connection between the movie “Buya Hamka Vol. 1”, an inspirational video for a growth mindset, and the conveyed message and meaning inherent in a Sufistic existence. It employed a qualitative methodology under Charles Sanders Pierce's semiotic theory of content analysis. The findings indicated that the movie “Buya Hamka Vol. 1” is relevant to the values of a Sufistic life value, including lust and sense, sincerity, zuhud, tawakal, qonaah, and happiness. The audience can cultivate a growth mindset through the inspirational life narrative of Buya Hamka, shaping moral character, seeking guidance from spiritual mentors, and looking for a positive and nurturing environment. Film dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan komunikan kepada komunikator. Para penonton dapat mengambil nilai-nilai penting, pelajaran serta hikmah berharga dari film tersebut sehingga dapat direalisasikan pada kehidupan nyata. Film Buya Hamka vol.1 merupakan film biopic yang terdapat pesan dan makna nilai kehidupan sufistik dalam konteks Pierce. Penelitian ini berfokus untuk mengungkap relasi di antara pesan serta makna nilai kehidupan sufistik dalam film Buya Hamka vol.1 yang berperan sebagai inspiration video dengan proses pengembangan growth mindset. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode konten analisis teori semiotika Charles Sanders Pierce melalui tahapan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada film Buya Hamka vol.1 memiliki relevansi dengan nilai-nilai kehidupan sufistik perspektif Tasawuf Modern Buya Hamka seperti hawa nafsu dan akal, ikhlas, zuhud, tawakal, qonaah dan bahagia. Nilai-nilai tersebut dapat membangun growth mindset pada penonton dengan menginspirasi mereka melalui perjalanan hidup Buya Hamka, mengembangkan karakter yang baik, mencari bimbingan dari guru spiritual, dan mencari lingkungan yang positif dan mendukung.
TASAWUF SEBAGAI PSIKOTERAPI PENYAKIT HATI Naan, Naan; As-Shidqi, Muhammad Haikal
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.3909

Abstract

Abstract Di tengah krisis kehidupan yang sangat mengedepankan materialistis, sekuler serta kehidupan yang sangat sulit. Kemamampuan menyusuaikan diri serta mengontrol emosi dalam menghadapi permasalahan-permasalahan kehidupan tersebut, menjadikan manusia rentan terhadap terjangkitnya penyakit hati, seseorang yang diserang oleh penyakit hati kepribadinnya menjadi terganggu, mereka seringkali tidak merasakan bahwa dirinya itu sedang sakit, sebaliknya ia menganggap bahwa dirinya itu normal dan bahkan lebih baik, dan lebih unggul dari orang lain.  Disini tasawuf sebagai ilmu yang identik mengenai hati memberikan peranannya sebagai terapi dalam memberikan ketahanan terhadap krisis spiritualitas yang mengakibatkan mereka tidak tahu lagi siapa yang dia maksud dan tujuan hidup di muka bumi. Kurangnya kejelasan tentang makna dan tujuan hidup, akhirnya mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui berbagai jenis penyakit hati yang dapat diselesaikan dengan psikoterapi mistik, tasawuf sebagai gambaran peran psikoterapi dalam mengatasi penyakit hati, dan untuk menggambarkan implementasi tasawuf sebagai psikoterapi dalam mengatasi penyakit hati. Penelitian ini termasuk dalam studi literatur dan kualitatif karena datanya disajikan dalam bentuk pernyataan-pernyataan. Untuk menjawab masalah psikologisnya, tasawuf mengajarkan tentang hidup bahagia dengan menerapkan ajaran-ajarannya, yaitu maqamatul ahwal. Hidup bahagia harus hidup dalam keadaan sehat baik secara fisik maupun mental dan Hidup bahagia dengan penyakit hati tidak akan pernah didapat. Hal itu akrena kebahagiaan hidup akan tercipta jika seseorang mampu membuang seluruh penyakit hati yang ada dalam hati, dan yang pada akhirnya akan menjadikan seseorang tersebut hidup dalam keadaan bahagia. Kata Kunci: Tasawuf, Psikoterapi, Hati.   Abstract In the midst of a life crisis that puts forward materialistic, secular and very difficult life, the ability to adapt and control emotions in dealing with life's problems, makes humans vulnerable to mental disorder. Someone attacked by this problem becomes disturbed, often do not feel that they are sick, and on the contrary, they think that they are normal and even better, and superior to others. Sufism as a heart management knowledge plays a therapeutic role in providing resistance to spiritual crises that result in unmeaningful of life. The purpose of this study was to determine the types of liver disease that can be resolved with mystical psychotherapy, Sufism as a description of the role of psychotherapy in overcoming mental or phycological diseases, and to describe the implementation of Sufism as psychotherapy in overcoming them. This research is library study and qualitative reaearch, the data is presented in the form of statements. To answer psychological problems, Sufism teaches about how life happily. To live happily, people must live in a healthy state both physically and mentally, and to get rid of all mental diseases, which in turn will make them live in a happy state. Keyword: Sufism; Psychotehrapy; ,Heart 
Hubungan Syukur dengan Kecemasan Rendahnya Ekonomi pada Pelaku Judi Slot Online Kabupaten Bandung Ns, Fahmi Eka; Naan, Naan Naan
AL-FIKRA Vol 22, No 2 (2023): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v22i2.21702

Abstract

Penelitian ini berangkat dari fenomena para pecandu judi slot online yang mengalami gangguan kecemasan. Kecemasan ini membuat manusia selalu merasa gelisah dan tidak sampai merasa kalau semua pemberian Allah itu adalah ketiadaan yang tidak mampu untuk diingat dan disyukuri. Oleh karenanya kebersyukuran sangat diperlukan untuk merubah gangguan psikologis manusia ini. Kebersyukuran atau gratitude adalah faktor yang dapat memunculkan kesejahteraan atau ketentraman pada psikologis dikarenakan dia mampu mengatasi kerentanan pada emosi individu, dimana pada saat mengalami kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan rasa syukur terhadap kecemasan rendahnya ekonomi pada pelaku judi slot online. Judi slot online. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional dengan pendekatan kuantitatif.   Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara rasa syukur dengan kecemasan akan rendahnya ekonomi pecandu judi slot online di kabupaten Bandung. Jenis korelasinya adalah korelasi negatif rendah yang ditujukan dari nilai -2,586, artinya semakin tinggi atau semakin banyaknya intensitas rasa syukur yang diterapkan oleh pecandu judi slot online maka semakin berkurang tingkat kecemasan akan rendahnya ekonomi yang dialami oleh pelaku judi slot online.
From Ancient to Islam: A Political Philosophy Perspective on The Sundanese Triumvirate Mustapa, Hasan; Gozali, Nanang; Naan, Naan
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 9 No. 1 (2024): Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v9i1.33298

Abstract

Political leadership in Sundanese civilisation has existed since the 15th century. Although the mechanics of power transition have evolved ideologically, Tri Tangtu Di Bumi, a philosophical ideal of leadership, is still embedded in Sundanese society's social structure. This knowledge has evolved from the ancient (Sunda Wiwitan) Hindu age to Islam. This study investigates Tri Tangtu di Bumi as a manifestation of Sundanese political philosophy. The method used in this study is a philosophical examination of Sundanese society's triumvirate notions. According to the research findings, Tri Tangtu di Bumi is identical to Trias Politica. This leadership style delegates political power and legitimacy to three individuals: Prabu, Rama, and Resi. Prabu symbolises the government and Rama represents people's voices. Meanwhile, Resi mostly serves as a mediator and judge. Tri Tangtu's spirit can still be found in the lives of the Baduy, Banten, Kampung Naga, Tasikmalaya, and Ciptagelar tribes of Sukabumi today. 
Pendidikan Akhlak Berbasis Mistisisme Islam dan Implementasinya Dalam Menanamkan Akhlak Mulia Jais, Ahmad; Naan, Naan
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 12 No. 001 (2023): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam (Special Issue 2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v12i001.5552

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi nilai-nilai kebaikan dalam tasawuf dan implementasinya dalam menanamkan akhlak mulia di era disrupsi. Seperti diketahui bahwa perkembangan teknologi informasi yang kian cepat telah berdampak terhadap kehidupan remaja saat ini. Kekerasan, perundungan, tawuran, pornografi dan perbuatan tercela lainnya banyak dipengaruhi oleh informasi di internet terkhusus media social. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode kajian pustaka. Data penelitian didapatkan dari berbagai sumber seperti artikel, buku, internet dan sumber lain yang sesuai dengan tema penelitian. Setelah data terkumpul selanjutnya data dianalisis. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pendidikan ahklak dalam tasawuf (mistisisme Islam) menunjukkan bahwa spiritualitas adalah kunci menuju keunggulan. Model pendidikan akhlak yang ditunjukkan pada hasil penelitian ini adalah melalui metode ta’alluq (hubungan), tahaqquq (realisasi) dan takhalluq (adopsi). Tahapan ini dapat dicapai melalui zikir agar terus mengingat Allah. Tasawuf hadir untuk memaksimalkan potensi akal, hati dan pancaindera agar selalu terpaut hatinya untuk selalu berbuat baik kepada manusia dan terlebih kepada Allah. Generasi muda saat ini perlu memahami dan mengaktualisasi nilai-nilai dan norma-norma ajaran Islam yang berkaitan dengan sikap dan prilaku secara utuh. Pemahaman tersebut yaitu tentang hubungan dengan Allah swt (hablu min Allah)., hubungan dengan sesama manusia (hablu min naas) yang meliputi kesalehan pribadi dan masyarakat secara adil serta hubungan manusia dengan alam semesta sebagai hamba Allah Swt.
Harmony with Nature: A Literature Review of Islamic and Perennial Values in Cikondang Indigenous Traditions Supandi, Didi; Sa'ari, Che Zarrina binti; Abdillah, Abdillah; Naan, Naan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.27558

Abstract

The Cikondang indigenous community, one of the indigenous communities in Bandung Regency, holds a wealth of rich and diverse cultural values, including Islamic and timeless values that serve as guidelines for life. However, in an era of modernization and rapid environmental change, challenges to the preservation of such traditions and values are increasing. A lack of understanding and documentation regarding the relationship between these values and harmony with nature can result in the loss of cultural identity and damage the balance of local ecosystems. Therefore, this research aims to explore and analyze existing literature to understand how Islamic and perennial values are reflected in the traditions of the Cikondang community and how these values can contribute to efforts to maintain harmony between humans and nature. The research method used is a literature review. The selected literature includes journal articles, books, and academic sources relevant to the themes of local wisdom, religious values, and community relations with the environment, with a focus on publications from the last two decades. The results demonstrate that there is an integration of Islamic and perennial values in the Cikondang indigenous community. These values create a social system that encourages collaboration between humans and nature, where the Cikondang people see themselves as part of the ecosystem, not its master. Islamic values address environmental management, such as the concept of khalifah (stewardship), encouraging people to preserve natural resources. Similarly, perennial values promote respect for nature and encourage strengthening the relationship between humans and nature. Masyarakat adat Cikondang, salah satu komunitas adat di Kabupaten Bandung, memiliki kekayaan nilai budaya yang kaya dan beragam, termasuk nilai-nilai Islam dan nilai-nilai abadi yang menjadi pedoman hidup. Namun, di era modernisasi dan perubahan lingkungan yang cepat, tantangan terhadap pelestarian tradisi dan nilai-nilai tersebut semakin meningkat. Kurangnya pemahaman dan dokumentasi mengenai hubungan antara nilai-nilai ini dengan keharmonisan alam dapat menyebabkan hilangnya identitas budaya serta merusak keseimbangan ekosistem lokal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis literatur yang ada guna memahami bagaimana nilai-nilai Islam dan abadi tercermin dalam tradisi komunitas Cikondang dan bagaimana nilai-nilai ini dapat berkontribusi pada upaya menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Metode penelitian yang digunakan adalah tinjauan literatur. Literatur yang dipilih mencakup artikel jurnal, buku, dan sumber akademis yang relevan dengan tema kearifan lokal, nilai-nilai keagamaan, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan, dengan fokus pada publikasi dua dekade terakhir. Hasil penelitian menunjukkan adanya integrasi nilai-nilai Islam dan abadi dalam komunitas adat Cikondang. Nilai-nilai ini menciptakan sistem sosial yang mendorong kolaborasi antara manusia dan alam, di mana masyarakat Cikondang melihat diri mereka sebagai bagian dari ekosistem, bukan penguasanya. Nilai-nilai Islam berbicara tentang pengelolaan lingkungan, seperti konsep khalifah (pemimpin) di bumi, yang mendorong orang untuk melestarikan sumber daya alam. Demikian pula, nilai-nilai abadi menghormati alam dan mendorong pemeliharaan serta penguatan hubungan antara manusia dan alam.
Sufistic Meditation as a Form of Happiness Transformation Naan, Naan; Aisyah, Siti
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.18767

Abstract

This study focuses on the discussion of Sufistic meditation as a form of happiness transformation. A discussion that has long been the subject of study. Happiness itself is the hope of everyone, but in reality, the happiness obtained is only false happiness, not eternal happiness. In Buddhist rituals, meditation is a practice that must be done in any school of Buddhism, and this has been a tradition since time immemorial. In this study, meditation from the Sufism perspective is presented as a method to enhance the transformation of true happiness. Meditation according to Buddhism has the same essence as the ritual practices in Islam, only the terms used vary. In Sufism, meditation has a word equivalent to the terms mentioned in Islam, namely Dhikr, tafakkur, mujahadah, muraqobah, riyadhah, and uzlah. In addition, the concept of happiness from several perspectives is also discussed, such as happiness from the perspective of Western psychology, happiness from the Sufistic perspective, and happiness according to experts. The author uses this topic as a study to further explore that Islam also has meditation methods with its perspective, and this Sufistic-based meditation is very supportive to improve the transformation of our spirituality in general and happiness in particular. Kajian ini memfokuskan pada pembahasan tentang meditasi sufistik sebagai bentuk transformasi kebahagiaan. Suatu pembahasan yang sudah lama menjadi bahan kajian. Sebagaimana kebahagiaan itu sendiri menjadi harapan setiap orang, tetapi pada kenyataannya kebahagiaan yang diperoleh hanyalah kebahagiaan yang bersifat semu, bukan kebahagiaan yang abadi. Dalam ritual agama Buddha, meditasi adalah satu praktik yang harus dilakukan dalam aliran Buddhaisme mana pun, dan ini sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala. Dalam kajian ini meditasi perspektif tasawuf hadir sebagai metode untuk meningkatkan transformasi kebahagiaan yang sejati. Meditasi menurut agama Buddha memiliki esensi yang sama dengan ritual praktik yang ada dalam agama Islam, hanya saja istilah yang digunakan beragam. Dalam tasawuf, meditasi mempunyai padanan kata dengan istilah yang disebut dalam agama Islam, yaitu Dzikir, tafakkur, mujahadah, muraqobah, riyadhah, dan uzlah. Selain itu, juga dibahas konsep kebahagiaan dari beberapa perspektif, seperti kebahagiaan perspektif psikologi barat, kebahagiaan perspektif sufistik, dan kebahagiaan menurut para ahli. Topik ini penulis jadikan sebagai kajian pembahasan guna mengeksplorasi lebih jauh bahwa Islam juga mempunyai metode meditasi dengan perspektifnya sendiri, dan meditasi berbasis sufistik ini sangat mendukung untuk meningkatkan transformasi spititualitas kita umumnya dan kebahagiaan khususnya.
Haul, Kyai, and Barakah: Integrating Ritual Theory and Sufi Psychology in Pesantren Studies Naan, Naan; Muliadi, Muliadi; Muhlas, Muhlas; Jais, Ahmad
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ycf24k10

Abstract

This article addresses a core concern of Living Islam: how lived rituals cultivate ethical selves and communal resilience. Focusing on the annual haul (memorial rite) for a Pesantren kyai, it asks why this practice endures and what it accomplishes for participants’ inner life and social ties. The study combines non-participant observation, semi-structured interviews with alumni and organizers, and document analysis conducted in Bogor between March and September 2024. The data were analyzed using ritual theory and Sufi psychology, conceptualized through the inner faculties of qalb (heart), nafs (self), and ruh (spirit), as well as the formative sequence of takhalli–tahalli–tajalli. This approach highlights four interrelated dynamics: sustained affective ties between alumni and the kyai; a “psychospiritual technology” embedded in the tahlil–pengajian–sedekah sequence that structures attention, reinforces shared meanings, and directs prosocial engagement; processes of identity renewal that strengthen alumni social capital; and moral–spiritual transformation reflected in long-term practices of prayer, charity, and teaching. Conceptually, the paper reframes the haul from commemorative rite to mechanism of ethical formation by linking patterned repetition and symbol to attentional calm, value infusion, and embodied generosity. Practically, it suggests mosque- and school-based modules that synchronize annual rituals with weekly micro-structures (mentoring, halaqah, small service projects) and proposes simple indicators regular congregational prayer, volunteer teaching hours, infaq frequency to track sustained impact. By bridging philosophical analysis with empirical description, the study clarifies how a ritual ecology translates memory into obligation, love into service, and community into a durable infrastructure for lived Islamic ethics.