Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PSIKOEDUKASI KESEHATAN MENTAL DAN PSYCHOLOGICAL FIRST AID (PFA) PADA ANGGOTA KELOMPOK DUKUNGAN SEBAYA ORANG DENGAN HIV/AIDS Dyah, Rokhmah Kusumaning; Sosialita, Tiara Diah
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 3 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i3.2333

Abstract

HIV/AIDS masih menjadi permasalahan kesehatan yang signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jawa Timur termasuk dalam lima provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi berdasarkan data pelaporan dari tahun 2010 - 2022 bersama dengan DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Papua (Kemenkes,2022). Orang dengan HIV (ODHIV) sendiri menghadapi berbagai tantangan dan masalah tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan fisik saja, namun juga masalah psikologis dan sosial. Hal ini berkaitan dengan kondisinya sehingga rentan mengalami pikiran-pikiran negatif misalnya mengenai  kehidupan di masa depan, ketakutan akan kematian, efek samping obat antiretroviral (ARV) yang dikonsumsi, atau perubahan gaya hidup. Secara sosial, ODHIV juga dan rentan mengalami permasalahan sosial seperti mendapatkan stigma dan diskriminasi yang dapat mengarah pada ketidaksejahteraan hidup dan munculnya masalah psikologis atau gangguan kesehatan mental. Untuk itu, kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas hidup ODHIV melalui program psikoedukasi mengenai kesehatan mental, bantuan psikologis awal atau psychological first aid (PFA), dan dasar-dasar konseling sederhana pada anggota kelompok dukungan sebaya ODHIV di Surabaya. Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah dan diskusi secara luring pada 12 orang anggota kelompok dukungan sebaya ODHIV. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa program kegiatan psikoedukasi yang dilakukan bermanfaat pada terjadi peningkatan pengetahuan peserta berdasarkan evaluasi kognitif skor pretest post-test.
PSIKOEDUKASI KONSELING SEBAYA DAN PERTOLONGAN PERTAMA PSIKOLOGIS UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DI SMP NEGERI 16 GRESIK Nisa, Valina Khiarin; Tak, Khairudin Che; Izdihar, Hana; Setiawan, Muhammad Aldo; Damayanti, Andini; Sosialita, Tiara Diah
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 3 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i3.2456

Abstract

Salah satu permasalahan yang muncul pada remaja di Kecamatan Kedamean Gresik adalah meningkatnya kasus perundungan dan kekerasan seksual. Berdasarkan wawancara dengan Kepala SMP N 16 Gresik, terjadi peningkatan kasus perundungan sebesar 20 persen di tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Penulis berinisiatif untuk mengadapakan pelatihan konselor sebaya dan pertolongan pertama psikologis untuk mencegah kasus perundungan dan kekerasan di SMP N 16 Gresik. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya kesehatan mental di kalangan remaja, melatih kemampuan dasar menjadi pendengar yang baik dan kemampuan memberikan pertolongan pertama psikologis, serta mencegah terjadinya kasus perundungan di kalangan sekolah. Penulis menggunakan metode penelitian mix-method (kualitatif berupa wawancara semi terstruktur dan kuantitatif berupa analisis t-test untuk mengetahui efektivitas pelatihan). Wawancara semi terstruktur dilakukan untuk mendapatkan informasi narasi pengalaman peserta pasca mengikuti pelatihan. Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan, wawancara dan analisis data uji data t-test, pelatihan konselor sebaya dan pertolongan psikologis pertama terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran kesehatan mental remaja, meningkatkan pemahaman pencegahan perundungan dan peningkatan kemampuan siswa untuk menjadi pendengar yang baik. Selama 4 sesi pelatihan, peserta berpartisipasi secara aktif dalam menerapkan tiga prinsip pertolongan pertama psikologis, yaitu melihat, mendengar dan menghubungkan ke profesional. Pelatihan ini juga direncanakan menjadi program tahunan OSIS SMP N 16 Gresik, sehingga dapat memberikan dampak jangka panjang untuk kesehatan mental remaja dan pencegahan perundungan di kawasan SMP N 16 Gresik. Dapat disimpulkan bahwa pelatihan psikoedukasi konselor sebaya dan pertolongan pertama psikologis terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran remaja terhadap pentingnya menjadi pendengar yang baik dan kepedulian kesehatan mental remaja.
Mindfulness untuk Menurunkun Stres pada Dewasa Awal dengan Hipertensi Putri, Anggi Dwi; Sosialita, Tiara Diah
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 6, No 3 (2025): J-P3K
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v6i3.799

Abstract

Hipertensi pada dewasa awal menjadi tantangan kesehatan yang semakin sering ditemukan, terutama dikaitkan dengan faktor stres akibat beban kerja, akademik, maupun tekanan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) dalam menurunkan stres pada dewasa awal dengan hipertensi. Penelitian menggunakan desain studi kasus kualitatif dengan tiga partisipan berusia 25–36 tahun. Intervensi dilakukan dalam lima sesi: psikoedukasi stres dan mindfulness, mindful check-in, body scan meditation, serta evaluasi. Instrumen yang digunakan mencakup DASS, PSS, SPM, dan tes proyektif (DAP, BAUM, HTP, WZT). Hasil menunjukkan adanya penurunan signifikan pada skor DASS Stres (AP: 27 ke lebih rendah, NAM: sangat parah ke menurun, DS: 32 ke menurun) dan skor PSS, serta peningkatan kualitas tidur, fokus, dan kontrol emosi. MBSR terbukti mendukung regulasi emosi dan kesadaran tubuh. Program ini layak dipertimbangkan sebagai intervensi komplementer dalam penanganan hipertensi pada dewasa awal.
Early Sex Education and the Importance of Parents to Get Involved Rasyidayanti, Arifah; Faradisa, Luthfah Naily; Sosialita, Tiara Diah
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 2 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i2.10143

Abstract

Children who are supposed to get protection and feel safe during their developmental period are still at risk of becoming victims of sexual violence. Sex education in early childhood has an important role in reducing the risk of sexual violence. The main providers of sex education for children are parents. The subjects in this study were 60 parents of "X" Surabaya Kindergarten students. This study used a quasi-experimental method with a one-group pretest-posttest design. This study will conduct a Wilcoxon test to measure the difference between pre and posttest. The effect size of this study will be conducted to measure the effectiveness of psychoeducation. These tests will be performed with Jamovi 2.3.18. The effectiveness of this psychoeducation was measured by a knowledge questionnaire on issues of sexual violence and early childhood sex education. Based on the results of the analysis, it was found that there was an increase in the participants' knowledge and there was a significant difference between the pretest and posttest results of 0.011 (sig. <0.05). Psychoeducation of early childhood sex education has a major impact on increasing parental understanding as indicated by an effect size value of 0.791. It can be concluded that parents' understanding of early childhood sex education can increase with psychoeducation.Anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan merasa aman selama masa perkembangannya masih berisiko untuk menjadi korban kekerasan seksual. Edukasi seks pada anak usia dini memiliki peranan penting untuk mengurangi risiko kekerasan seksual. Pemberi edukasi seks utama pada anak adalah orangtua. Subjek dalam penelitian ini adalah 60 orangtua TK “X” Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental dengan one-group pretest-postest design. Penelitian ini akan melakukan uji beda Wilcoxon untuk mengukur perbedaan pemahaman orangtua sebelum dan sesudah diberikannya psikoedukasi. Uji efektivitas juga dilakukan untuk mengukur efektivitas psikoedukasi yang dilakukan. Uji-uji ini akan dilakukan dengan Jamovi 2.3.18. Efektivitas psikoedukasi ini diukur dengan kuesioner pengetahuan mengenai isu kekerasan seksual dan edukasi seks usia dini. Berdasarkan hasil analisis, diketahui terdapat peningkatan pada pengetahuan peserta dan terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest sebesar 0,011 (sig. <0,05). Psikoedukasi pendidikan seks usia dini memiliki dampak yang besar kepada peningkatan pemahaman orangtua yang ditunjukkan dengan nilai effect size sebesar 0,791. Dapat disimpulkan bahwa pemahaman orangtua terkait pendidikan seks usia dini dapat meningkat dengan adanya psikoedukasi.
PENINGKATAN KAPASITAS KADER PALANG MERAH REMAJA (PMR) SEBAGAI KONSELOR SEBAYA PADA AGEN PEDULI KESEHATAN MENTAL SEBAYA Sosialita, Tiara Diah; Nisa, Valina Khiarin; Surjaningrum, Endang Retno
Jurnal Abdi Insani Vol 11 No 1 (2024): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v11i1.1436

Abstract

This community service activity was carried out based on the results of a needs analysis of the incidence of psychological problems at SMK 4 Pancasila Ambulu, Jember Regency. Guidance and Counseling (BK) revealed a total of 84 cases found during the first trimester in 2023, including conflicts with families, bullying among teenagers, academic stress, and interpersonal conflicts that led to psychological problems in students. This is faced with limited resources so that the range of handling of students' psychological problems is ineffective. Therefore, this community service aims to form agents of change who care about mental health to help deal with adolescent psychological problems through increasing the capacity of PMR cadres as peer counselors. The activities were carried out in several forms, including Instagram Live for a total of 2 (two) sessions with the topics of Variety of Adolescent Mental Disorders and Detection of Adolescent Mental Disorders, peer counselor training, as well as discussion forums and peer counselor role-play to equip cadres with the knowledge and skills to carry out their role as counselors. The results showed that the capacity of the cadres had significantly increased in knowledge and skills as peer counselors (ES = 1.54). Along with increased capacity as peer counselors, cadres are able to effectively carry out their role as agents of peer mental health care. The cadres have handled the psychological problems of students at SMK 4 Pancasila Ambulu under the supervision of a psychologist. The empowerment of PMR cadres as peer mental health agents also received support and commitment from the school by formally establishing peer mental health care agents. The activities carried out by peer mental health care agents are expected to continue consistently so as to fully support student well-being.
Metode Social Story dan Positive Reinforcement untuk Mengurangi Perilaku Tantrum pada Anak dengan Autisme Frida Rufina Apriresti; Tiara Diah Sosialita
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.40979

Abstract

Tantrum behavior is one of the observable impacts in children with autism spectrum disorders. Previous studies have shown various benefits of implementing the social story method in children with autism spectrum disorders. The purpose of this study was to determine the benefits of the social story method when combined with positive reinforcement to reduce tantrum behavior in children with autism spectrum disorders. This study was a single case study with an A-B-A-B research design. The subject in this study was one kindergarten student and had been diagnosed with autism spectrum disorder from the results of the CARS Test or Childhood Autism Rating Scale. The results of this study indicate that the social story method combined with positive reinforcement is effective in reducing the frequency of tantrum behavior in the subject.