Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

FORMULASI DAN UJI STABILITAS SEDIAAN TONER WAJAH EKSTRAK BUAH PARE (Momordica charantia L) SEBAGAI ANTI JERAWAT DENGAN VARIASI SURFAKTAN Muhammad Noor; Siti Malahayati; Kunti Nastiti
Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33759/jrki.v5i1.330

Abstract

Bitter gourd extract (Momordica charantia L) contains secondary metabolites such as flavonoids, alkaloids, and saponins that can be antibacterial against acne-causing bacteria (Propionibacterium acnes). Momordica charantia L., could make into facial toner preparations to prevent the emergence and worsen acne. It is formulated with various concentrations of polysorbate 20 and performs stability testing. This study aimed at the optimal formula and analyzed the variations in the concentration effect of polysorbate 20 on the bitter gourd extract facial toner preparation. Bitter gourd extract would make into facial toner preparation with variations in the concentration of polysorbate 20. The accelerated stability test with the cycling test method includes before and after organoleptic, homogeneity, viscosity, and pH tests. The organoleptic stability result shows both stable formulas had the same liquid form, clear brown color, and characteristic rose odor. All formulations are stable on homogeneity, in which the particles are evenly mixed. The Formula I viscosity value is constantly stabilized and meets the parameters, while formula II is not but meets the parameters. The pH stability values of both formulas are stable and meet the parameters. Formula I is more optimal than formula II and the difference in surfactant concentration of polysorbate 20 has no effect on organoleptic, homogeneity, and pH but will affect viscosity.
Karamunting screening as an antifungal using the In Silico method targeting N-myristoyltransferase Samsul Hadi; Kunti Nastiti
Science Midwifery Vol 10 No 6 (2023): February: Midwifery and Health Sciences
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v10i6.1134

Abstract

Karamunting has been empirically used by the community in overcoming itching disorders due to fungi. Therefore the purpose of this study was to screen in silico the content of Karamunting against N-myristoyltranseferase protein. The method used in this study was In Silico screening using PLANTS docking and the materials used were thirteen compounds contained in Karamunting. The results of this study are docking scores from -123.628 to -77.3801 and residues that have similarities with native ligands when interacting with N-myristoyltransferase, namely one to three amino acids, the predicted value using PASSonline ranges from 0.101 to 0.583. The conclusion of this study was obtained three compounds that have the potential as antifungals with the N-myristoyltransferase inhibitor mechanism, these compounds are α-tocopherol-quinone; α-tocopherol A; blumeatin.
POTENSI ANTISEPTIK POLIHERBAL DAUN SIRIH (Piper betle), KULIT JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) DAN TANAMAN BUNDUNG (Actinuscirpus grossus) PADA TINDAKAN KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN Darini Kurniawati; Noval Noval; Kunti Nastiti
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 11, No 1 (2020): Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v11i1.552

Abstract

Latar Belakang: Antiseptik adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup seperti permukaan kulit dan membran mukosa. Daun sirih, jeruk nipis, bundung sudah banyak digunakan masyarakat untuk obat. Antiseptik dari poliherbal diyakini lebih aman dari pada zat kimia sintetis.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan antiseptik terhadap bakteri Staphylococcus aureus dari campuran ekstrak daun sirih, jeruk nipis dan bundung sebagai pengganti antiseptic dari bahan zat kimia sintetis pada tindakan keperawatan dan kebidanan.Metode: Metode penelitian adalah eksperimental dengan membuat formulasi uji konsentrasi F1 20%, F2 30%, F3 F4 40% dan F5 50% dan diujikan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi disk.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya antiseptik Daun Sirih, Jeruk Nipis dan  Bundung efektif sebagai antiseptic pada konsentrasi 40%  dengan efektifitas yang sama dari bahan antiseptic zat kimia sintetis. Konsentrasi  F1 20% tidak ada daya hambat dengan nilai yang sama pada kontrol negatif, pada F2 30% terdapat daya hambat lemah sebesar 7 mm, pada F3 40% terdapat daya hambat kuat sebesar 23 mm sama dengan kontrol positif, dan pada F4 50% terdapat daya hambat sangat kuat lebih besar dari kontrol positif yaitu 40 mm.Simpulan: Antiseptik dari bahan alam kombinasi Daun Sirih, Jeruk Nipis dan Bundung pada konsentrasi 40% mempunyai efektifitas antiseptic yang sama dari antiseptic dengan bahan zat kimia sintetis. Antiseptik poliherbal ini bisa digunakan untuk keperluan tindakan keperawatan dan kebidanan. Kata Kunci: Daun sirih-kulit jeruk nipis-tanaman bundung, antiseptik, tindakan keperawatan dan kebidananAbstractBackground: Antiseptic is a chemical compound used to kill or inhibit the growth of microorganisms in living tissues such as the surface of the skin and mucous membranes. Betel leaf, lime, bundung have been widely used by the community for medicine. Antiseptics from polyherbal are believed to be safer than synthetic chemicals.Purpose: The purpose of this study was to determine the antiseptic ability of Staphylococcus aureus bacteria from a mixture of betel, lime, and bundung extracts as an antiseptic substitute for synthetic chemicals in nursing and obstetrics.Methods: The research method was experimental by making test formulations with concentrations of F1 20%, F2 30%, F3 F4 40%, and F5 50% and tested against Staphylococcus aureus bacteria using the disk diffusion method.Results: The results showed that the antiseptic power of Betel, Lime and Bundung leaves was effective as an antiseptic at a concentration of 40% with the same effectiveness of synthetic chemical antiseptic substances. The concentration of F1 20% has no inhibitory power with the same value in the negative control, at F2 30% there is a weak inhibitory power of 7 mm, at F3 40% there is a strong inhibitory power of 23 mm, the same as the positive control, and at F4 50% there is Very strong inhibition power is greater than the positive control, which is 40 mm.Conclusion: Antiseptic made from natural ingredients a combination of Betel, Lime, and Bundung Leave at a concentration of 40% has the same antiseptic effectiveness as antiseptic with synthetic chemical substances. This polyherbal antiseptic can be used for the purposes of nursing and midwifery action.Keywords: Betel leaf-lime peel-bundung plant, antiseptic, nursing and obstetrics measures
Penetapan Kadar Flavonoid Total Pada Tingkatan Fraksi Ekstrak Kulit Pohon Jambu Mete (Anacardium occidentale Linn) Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis Nur Syifa; Kunti Nastiti; Putri Vidiasari Darsono
Sains Medisina Vol 1 No 2 (2022): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.639 KB)

Abstract

Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah, yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk masyarakat. Kulit pohon jambu mete (Anacardium occidentale L.) memiliki aktivitas antiradikal bebas. Flavonoid adalah salah satu jenis antioksidan yang bekerja menangkal radikal bebas dalam tubuh. Fraksinasi merupakan proses pemisahan senyawa yang didasarkan pada kelarutan senyawa pada tiga macam pelarut yang tidak saling bercampur. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kadar flavonoid total pada tingkatan fraksi ekstrak kulit pohon jambu mete (Anacardium occidentale L.) dengan metode spektrofotometri Uv-Vis. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi kandungan flavonoid yaitu dengan tingkatan fraksi yaitu N-heksan, etil asetat dan aquadest dan menggunakan metode spektrofotometri UV – Vis untuk menetapkan jumlah kadar flavonoid yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian dari identifikasi uji warna pada ekstrak kulit pohon jambu mete (Anacardium occidentale L.) menunjukkan adanya kandungan positif flavonoid yang berwarna jingga dengan menggunakan spektrofotometri Uv-Vis dengan pelarut aquadest 0,19794%, etil asetat 0,10970%, dan N-heksan 0,0970%. Simpulan yang diperoleh adalah kulit pohon jambu mete (Anacardium occidentale L) positif mengandung flavonoid yang berwarna jingga, penetapan kadar menggunakan spektrofotometri Uv-Vis dengan pelarut sebesar aquadest 0,19794%, etil asetat 0,10970%, dan N-heksan 0,0970%.
Uji Efektivitas Antimikroba Kulit Batang Jambu Mete (Anacardium occidentale) Terhadap Bakteri Escherichia coli Ihda Syifa El Rahma; Kunti Nastiti; Siti Malahayati
Sains Medisina Vol 1 No 4 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.579 KB)

Abstract

Jambu mete (Anacardium occidentale) merupakan salah satu tanaman dapat digunakan sebagai obat tradisional. Masyarakat Suku Dayak Dusun Deyah yang bermukim di Kecamatan Muara Uya Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan lebih sering mengatasi diare dengan menggunakan kulit batangnya. Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan penyakit diare salah satunya adalah Escherichia coli. Untuk mengetahui efektivitas antibakteri kulit batang jambu mete terhadap bakteri gram negatif yakni salah satunya Escherichia coli. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan variasi konsentrasi 1000 ppm,500 ppm,250 ppm,125 ppm dan 62,5 ppm. Metode yang digunakan yaitu difusi cakram untuk menentukan zona hambat dan dilusi untuk menentukan KHM (Konsentrasi Hambat Minimum) dan KBM (Konsentrasi Bunuh Minimum). Ekstrak kulit batang jambu mete (Anacardium occidentale) memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli dengan zona hambat kategori sedang dan KHM (Konsentrasi Hambat Minimum) pada konsentrasi 250 ppm namun belum memiliki KBM (Konsentrasi Bunuh Minimum). Kulit batang jambu mete memiliki aktivitas antibakteri dengan KHM (Konsentrasi Hambat Minimum) pada konsentrasi 250 ppm namun belum memiliki daya bunuh terhadap bakteri E.coli.
Identifikasi Senyawa Kimia Dan Penetapan Kadar Flavonoid Total Pada Tingkatan Fraksi Daun Hapa-Hapa (Flemingia macrophylla) Citra Agustiani Kusuma; Kunti Nastiti; Setia Budi
Sains Medisina Vol 1 No 2 (2022): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.062 KB)

Abstract

Daun hapa-hapa (Flemingia macrophylla) secara empiris digunakan masyarakat dalam mengatasi permasalahan kulit seperti flek dengan cara mencampurnya bersama bedak dingin. Hasil skrining menunjukkan adanya Flavonoid yang berperan sebagai antioksidan. Aktivitas antioksidan akan meningkat dengan tingginya kadar flavonoid. Adanya korelasi antara antioksidan dan flavonoid, maka perlu dilakukan penetapan kadar flavonoid. Diketahui kadar pada ekstrak sebesar 64,4 mg QE/g, sedangkan penelitian pada tingkatan fraksi belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mengidentifikasi senyawa kimia dan mengetahui kadar flavonoid total pada tingkatan fraksi daun Hapa-Hapa (Flemingia macrophylla). Penelitian ini menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Metode fraksinasi adalah ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air. Penapisan fitokimia menggunakan uji fitokimia, dan kadar flavonoid total ditentukan dengan spektrofotometri UV-Vis. Hasil uji kualitatif, fraksi n-heksan mengandung fenolik, flavonoid, steroid, dan antrakuinon. Pada fraksi etil asetat mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, tanin, terpenoid, antrakuinon, dan saponin. Pada fraksi aquadest mengandung flavonoid, fenolik, terpenoid, antrakuinon dan saponin. Sedangkan uji kuantitatif menunjukkan kadar flavonoid total fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi aquadest masing-masing adalah 23,3 mg QE/g; 28,5 mg QE/g; dan 13,9 mg QE/g. kesimpulan dari penelitian ini, fraksi etil asetat mengandung lebih banyak senyawa kimia serta memiliki kadar flavonoid tertinggi dibanding fraksi lainnya.
Skrining Fitokimia Dan Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Daun Tunjuk Langit (Helminthostachys zeylanica) Pada Tingkat Fraksi Umi Kalsum; Kunti Nastiti; Melviani Melviani
Sains Medisina Vol 1 No 3 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.688 KB)

Abstract

Tunjuk Langit (Helminthostachys zeylanica) merupakan tumbuhan yang tumbuh liar di daerah yang lembab. Secara empiris tanaman tunjuk langit digunakan untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti wajah berjerawat dan mengatasi gangguan tidur. Senyawa flavonoid memiliki efek farmakologi sebagai antihipertensi, antibakteri, antioksidan dan antidiabetes. Senyawa flavonoid dapat ditarik dengan kepolaran yang berbeda-beda karena sifat kepolaran flavonoid bergantung dengan kepolaran pelarut. Tujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun tunjuk langit (Helminthostacys zeylanica) dan mengetahui kadar flavonoid total pada tingkat fraksi dari ekstrak daun tunjuk langit (Helminthostacys zeylanica). Metode Penelitian ini bersifat deksriptif analitik dimana metode ini merupakan suatu penelitian yang mempunyai tujuan untuk menganalisis  Penetapan Kadar Flavonoid total pada tingkatan fraksi ekstrak daun tunjuk langit (Helminthostachys zeylanica) dengan menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Hasil Berdasarkan hasil skrining fitokimia pada daun tunjuk langit positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan terpenoid. Data fraksi daun tunjuk langit didapat kadar flavonoid total dari etil asetat; n-heksan; aquades sebesar 174,286 mg QE/g; 102,286 mg QE/g; 69,4 mg QE/g. Simplan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui hasil penentuan kadar flavonoid total tertinggi terdapat pada fraksi etil asetat.
Inovasi Produk dan Pendampingan Ijin Produk pada Kelompok Masyarakat Guna Meningkatkan Perekonomian Kunti Nastiti; Setia Budi; Melviani Melviani; Samsul Hadi
Indonesia Berdaya Vol 4, No 3 (2023)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.2023502

Abstract

The Covid-19 pandemic has caused small businesses throughout Indonesia to experience an economic decline. People are psychologically afraid of contracting the virus, so they limit going out of the house. Indirectly causing a decrease in income because people limit spending and consumption patterns. This community service aims to help community small businesses located in Banjarbaru, South Kalimantan in managing their business. The survey results stated that there was a decline in sales, especially in the food, salon, cosmetic product, stalls and other clothing sales. The obstacle faced by this business unit is the absence of product innovation that adapts to pandemic conditions. Another thing in marketing products is that many people do not know about strategies regarding promotion, branding, product advertising, product legalization and other strategies. The forms and methods that are the solution to this activity are product innovation related to herbal products and providing knowledge about the legality of products, both herbal products and food products that have been produced so that they are expected to be widely marketed. Apart from that, providing knowledge about product marketing strategies through online promotion and branding as well as providing knowledge on how to have a good managerial system. Herbal product innovation has increased during the Covid-19 pandemic because several herbs are believed to help the body's resistance to disease.
Screening of Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Wight (Karamunting) Compounds that Have the Potential for Breast Cancer Samsul Hadi; Kunti Nastiti
Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia Vol 11, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/hjkk.v11i2.7189

Abstract

Breast cancer is the highest disease in the world beating lung cancer, so various alternatives are needed to find a treatment. Screening drug discovery against breast cancer by targeting BCL-2 occupies the main position and is the goal of this study. The method used is insilico. the material used is 10 compounds from R. tomentose, 2w3l protein from RCSB, PLANT docking software, the docking coordinate used is X: 39.8057 Y: 26.9355 Z: -12.4145 with a radius of 11.1871, then to find out the type of bond and residue involved using discovery studio. The results of this study were docking scores from -91.3871(5'-Desgalloylstachyurin) to -65.4754 (Afrormosin), activity predictions from PASS online from 0.174 (Rhodomyrtosone C) to 0.799 (Lupeol). Based on the docking score, three compounds that have the potential to inhibit the work of BCL-2 were obtained namely 5'-Desgalloylstachyurin, Rhodomyrtosone B and Rhodomyrtosone D.
AUTENTIKASI KULIT BUAH G. FORBESII KING DARI RISIKO ADULTERASI G. MANGOSTANA L MENGGUNAKAN KOMBINASI KEMOMETRIK-SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Samsul Hadi; Kunti Nastiti
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v8i1.171

Abstract

Garcinia forbesii King adalah anggota genus Garcinia. Tanaman ini adalah tanaman endemik pulau Sumatera dan Kalimantan di Indonesia. Uji aktivitas dan isolasi senyawa aktif sudah dilakukan oleh para peneliti diantaranya bagian pericarp dari G. forbesii sudah terbukti memiliki kemampuan antioksidan, antiplasmodial dan antidiabetes secara invitro. Oleh karena itu untuk menjaga kualiatas bahan mentah dari G. forbesii diperlukan uji autentikasi. Metode yang dipergunakan dalam uji autentikasi ini menggunakan kemometrik dikombinasi oleh spektrofotometri UV-vis, komposisi bahan yang dipergunakan adalah G.forbesii: G.mangostana; 0;15;45;55;80 dan 100%.. Analisis data yang digunaka menggunakan PLSR. Hasil yang diperoleh dalam uji ini adalah pada daerah lamda 248.92-224.66 nm model derivatisasi kedua RMSEC 4.79; R2 0,9901; RMSEP 5,01; R2;0,9909; RMSECV 12,6; R2 0,9308. Pada lamda 292.37- 256.16 nm model derivatisasi pertama RMSEC 6,1; R2 0,9839; RMSEP 6,19; R2 6,19; RMSECV 18,6; R2 0,8642. Kesimpulannya adalah Lamda berkisar 248.92-224.66 nm model derivatisasi kedua merupakan model yang terbaik untuk autentikasi Garcinia forbesii.