Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Peran Abu Al-Arab At-Tamimi Al-Qayrawani dalam Pengembangan Hadis di Tunisia Farida, Umma
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1803

Abstract

Kuatnya dominasi madzhab Maliki di Tunisia menjadikan perhatian masyarakatnya terhadap hadis sangatlah besar, sehingga tidak mengherankan jika banyak ulama yang muncul dari negeri ini, salah satunya Abu al-Arab at-Tamimi. Tokoh yang dikaji ini memiliki kompetensi di bidang hadis dan sejarah. Ia banyak meriwayatkan dan mengajarkan hadis Nabi saw., di antaranya adalah hadis-hadis fadha’il Ifriqiyyah yang kontroversial dan menuai kritik dari beberapa ulama dan para pengkaji hadis berikutnya. Meskipun jika dikaji lebih jauh, periwayatan hadis tersebut menjadi sesuatu yang biasa bagi para muhaddits sekaligus muarrikh yang cenderung memberikan kelonggaran dalam hadis-hadis mengenai keutamaan suatu negeri, bangsa, bahkan bahasa. Selama hidupnya, Abu al-Arab tidak hanya berperan dalam meriwayatkan hadis Nabi saw. saja, tetapi ia juga mendokumentasikan pemikiran-pemikirannya yang terkait dengan rijal-hadits dan al-jarh wa at-ta’dil. Periwayatan dan gagasan-gagasan hadis Abu al-Arab selanjutnya dikembangkan oleh para ulama hadis berikutnya seperti Abu al-Hasan al-Qabisi, Atiq at-Tujibi, Abu Bakr Abdullah al-Maliki, Abd ar-Rahman ibn ad-Dabbagh, dan Abu al-Qasim ibn Naji, juga dinukil oleh beberapa pakar hadis terkemuka seperti Imam adz-Dzahabi dan Ibn Hajar al-Asqalani.
Perempuan Periwayat Hadis-Hadis Hukum dalam Kitab Bulugh Al-Maram Karya Imam Ibn Hajar Al-Asqalani Farida, Umma
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.1611

Abstract

Kajian mengenai peran perempuan dalam bidang keagamaan pada umumnya tetap menemukan signifikansinya mengingat kajian tentang ketokohan perempuan dalam bidang tersebutmasih sangat langka. Artikel ini mencoba mengungkap peran perempuan dalam periwayatan hadis dengan memfokuskan pada kitabBulu>gh al-Mara>m min Adillah al-Ah}ka>m yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dan merupakan salah satu kitab koleksi hadis hukum yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren di Indonesia.Adanya partisipasi kaum perempuan dalam periwayatan hadis sebagaimana terkodifikasi dalam kitab Bulu>gh al-Mara>m menunjukkan perhatian perempuan yang besar terhadap hadis Nabi Saw. Jumlah para periwayat tersebut mencapai 19 orang dengan tema periwayatan yang beragam. Jumlah ini cukup banyak mengingat kesibukan kaum perempuan dalam ruang domestik yang melebihi kaum lelaki. Selain itu, juga dikarenakan aktifitas perlawatan ilmiah yang menjadi salah satu sarana perolehan hadis masih sulit dilakukan kaum perempuan pada saat itu.Meski demikian kaum perempuan tidak jauh ketinggalan dalam berpartisipasi dan memantapkan eksistensi dan kapabilitasnya dalam periwayatan hadis.Para muhaddis\in mengakui kualitas periwayatan hadis yang berasal dari sahabat perempuan. Hal ini terutama disebabkan kecenderungan para muhaddis\in yang tidak mempermasalahkan gender dalam periwayatan hadis. Dalam syarat-syarat ‘adalah dan dhabt}} yang harus diterapkan pada seorang periwayat hadis, misalnya, tidak terdapat ketentuan bahwa periwayat harus berjenis kelamin laki-laki.
Kontribusi Nur Ad-Din Ar-Raniri dan Abd Ar-Rauf As-Sinkili dalam Pengembangan Kajian Hadis di Indonesia Farida, Umma
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3433

Abstract

Kedudukan hadis sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur’an menjadikan perhatian dan kajian terhadapnya amatlah penting. Peran Nur ad-Din ar-Raniri dan Abd ar-Rauf as-Sinkili dalam mengembangkan kajian hadis di Indonesia pada abad ke-17 H. yang pada saat itu belum populer dan belum menjadi kajian keilmuan secara mandiri tidaklah dapat dipandang sebelah mata. Artikel ini hendak melihat kontribusi yang diberikan dua ulama tersebut, dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Ar-Raniri berhasil mendekatkan umat Islam Indonesia dengan hadis melalui karyanya, Hidâyat al-Hâbiîb at-Targîb wa at-Tarhîb. Demikian pula dengan as-Sinkili melalui dua karyanya, Syarh Latîf 'ala Arba'în Hadiîst al-Imam an-Nawawi dan al-Mawa'iz al-Badî'ah.The position of hadith as the second source after the Qur'an makes the study of it very important. The role of Nur ad-Din ar-Raniri and Abd ar-Rauf as-Sinkili in developing the study of hadith in Indonesia in the 17th century H. which was not popular and had not become a scientific study independently at that time can not be underestimated. This article looks at the contributions of these two scholars, using a descriptive-qualitative approach. Ar-Raniri was successfull in making Indonesian Muslims closer to the hadith through his work, Hidâyat al-Hâbiîb at-Targîb wa at-Tarhîb. Similarly, as-Sinkili through his two works, Syarh Latîf 'ala Arba'în Hadiîst an li al-Imam an-Nawawi and al-Mawa'iz al-Badî' ah.
Polemik Penulisan Hadis: Perspektif Michael A. Cook dalam The Opponents of the Writing of Tradition in Early Islam Farida, Umma
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1226

Abstract

AbstractCook’s work entitled The Opponents  of the Writing  of Tradition in Early Islam focuses more on opposition to writing traditions (hadith) that occurred in the early days of Islam in the process of shifting the oral tradition in Hadith narration into a written tradition, and did not expose the chronology for writing  tradition itself. Cook classified the opposition in writing hadith in the early days of Islam into two phases, namely Basra phase and common phase which includes Kufa, Medina, Mecca, Yemen, and Syria, and their arguments which are built by each phase, as well as patterns of compromise adopted to connect the two opposite opinions
Human Trafficking In The Perspective Of Islam And Feminism And Its Prevention Efforts In Indonesia Farida, Umma; Istianah, Istianah; Kasdi, Abdurrohman
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 17, No 2 (2024): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v17i2.28325

Abstract

This paper describes human trafficking according to the Islamic and feminist approaches and efforts to prevent it in Indonesia. Human trafficking is an organized crime, latent and hidden, so it is difficult to overcome. Based on data from the United Nations (UN), cases of trafficking in Indonesia continue to increase. The victims are women and minors. This article aims to explain human trafficking by examining Islamic texts and feminism and its prevention efforts in Indonesia using descriptive-analytical research methods. The collected data is then analyzed using Islamic and feminist approaches. The findings show that both approaches emphasize that human trafficking is a crime against humanity. It destroys and robs freedom and humanity. So, the act of trafficking is tyranny and unlawful because it is contrary to the mission of Quranic and prophetic teachings. Besides, the feminist approach argues that prostitution, human trafficking, and sex trafficking must be stopped and assumes that the elimination of prostitution will end the need for sex trafficking and that the promotion of gender equality can more generally take place. Crucial to prevention is not only protecting and empowering people who are victims of trafficking but also considering the implications of how the trafficking victims are forced to become productive subjects. Considering that this trafficking crime has been organized across countries, the prevention efforts need to be carried out comprehensively by involving various government, private, and NGO sectors, international agencies, community organizations, and the mass media. Equally important is the role of religion in involving non-governmental organizations (NGOs) and community organizations.
PERAN ORGANISASI MASSA PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN PERDAMAIAN (Studi Kasus Muslimat NU Jawa Tengah) Farida, Umma
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2018): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i1.3092

Abstract

Artikel ini bertujuan mengungkap peran organisasi massa (ormas) perempuan dalam mewujudkan dan membangun perdamaian yang sering kali terabaikan dari perhatian publik. Ini dikarenakan pada umumnya ormas perempuan hanyalah sebagai badan otonom dari organisasi induknya. Padahal gerakan, kiprah, dan perjuangan mereka sangatlah signifikan, termasuk dalam upaya mewujudkan kerukunan intern dan antar umat beragama. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, wawancara, dan observasi, lalu dianalisis secara deskriptif-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengurus Wilayah Muslimat NU Jawa Tengah merupakan salah satu ormas perempuan yang menaruh atensi terhadap pembangunan perdamaian di Jawa Tengah. Selama 2 tahun pertama masa khidmahnya (2016-2018), PW Muslimat NU Jawa Tengah telah melakukan upaye pembangunan perdamaian tersebut melalui model dialogue in communitydan dialogue of life yang dapat diklasifikasikan ke dalam dua bentuk, yaitu: melakukan capacity building di internal pengurus dan anggota PW Muslimat NU Jawa Tengah dengan mengedepankan sikap moderat dalam beragama, dan membangun harmonisasi intern dan antar umat beragama dengan bersinergi melakukan kesepakatan bersama lembaga pemerintah dan organisasi keagamaan lainnya dalam rangka menghindarkan klaim kebenaran dan mengembangkan toleransi.Kata Kunci: Organisasi Massa Perempuan, Muslimat NU, Pembangunan PerdamaianABSTRACTThis article aims to reveal the role of women’s mass organizations in realizing and building peace that are often overlooked since in general they are only autonomous boards of their main organization. Data was collected by the method of documentation, interviews, and observations, and then analyzed descriptively-critically. The results of the study indicate that PW Muslimat NU Central Java is one of the women’s organizations that put attention on peace building in Central Java in the range of 2016-2018. PW Muslimat NU Central Java has made peace building efforts through a dialogue in community and dialogue of life model that can be classified into two forms, namely: capacity building in the internal management and members of the PW Muslimat NU Central Java by promoting moderate attitude in religion, and building internal and inter-religious harmonization by synergizing in agreement with government institutions and other religious organizations in order to avoid truth claims and develop tolerance.Keywords: Women’s Mass Organization, Muslimat NU, Peace Building
PERAN IKHWANUL MUSLIMIN DALAM PERUBAHAN SOSIAL POLITIK DI MESIR Farida, Umma
Jurnal Penelitian Vol 8, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v8i1.1340

Abstract

THE IKHWANUL MUSLIMIN’S ROLE IN SOCIOPOLITICAL CHANGE IN EGYPT. This research aims to know the position of the Ikhwanul Muslimin movement which grow and develop in Egypt. Trace the genealogy and the history of the Ikhwanul Muslimin, the concept and movement as well as the Ikhwanul Muslimin figures who influence on socio-political movement in Egypt. In addition to the position description of the Ikhwanul Muslimin, the study also tried to reveal the influence of the Ikhwanul Muslimin against the socio-political changes in the country of Kinanah. Since the founding of the Ikhwanul Muslimin, the political map in Egypt is entering a new chapter. The policy of leaders in power in Egypt is experiencing changes and ups and downs, related to its interaction with the Ikhwanul Muslimin. The interaction between Ikhwanul Muslimin and the Government of Egypt was mapped in two periods: pre-revolution and post-revolution. The Ikhwanul Muslimin and the Government of Egypt often tinged the existence of a conspiracy, suppression, which are then greeted with demonstration and competition power grab.
STUDI PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN TENTANG SUNNAH DAN HADIS Farida, Umma
ADDIN Vol 7, No 2 (2013): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v7i2.577

Abstract

UMER CHAPRA CONTRIBUTION IN BUILDING MUSLIM CIVILIZATION Farida, Umma
ADDIN Vol 11, No 2 (2017): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v11i2.3349

Abstract

The idea of Umer Chapra in building Muslim civilization was based on his research on the position of Muslims who from time to time more and more felt strange with the civilization and Islamic values itself, even the civilization was gradually increasingly eroded and marginalized by Western culture. He tried to restore the Muslim position which should be done as the Messenger of Allah had pointed out, and their positive role in building civilization. The Islamic civilization has the power that lies in the development of morals and material strength. For Chapra, the moral development without being integrated with the economic development cannot be realized. And at the same time, this economic development must also have a worldview and strategy that is in line with religious objectives (maqashid asy-syari’ah). The development of Muslim civilization requires the transformation of human beings and their institutions, focusing in the increasing of education and personality development, and the simultaneous mobilization of material, economic and technological resources for the rearrangement of community structures over the principles of deliberation and accountability, unity, independence and justice.
AMAR MA’RUF NAHY MUNKA MENURUT AL - QUR’AN: Kajian Semantik Kasdi, Abdurrahman; Farida, Umma
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.926

Abstract

Kajian semantik dalam pembacaan al-Qur’an sejatinya telahdikenal sejak masa sahabat, dengan Ibn Abbas sebagai tokohnya.Pada fase selanjutnya, banyak mufassir muslim yang turutmengaplikasikan kajian semantik ini, seperti az-Zamakhsyari,ataupun dari kalangan outsider seperti Toshihiko Izutsu. Melaluipengkajian semantik diperoleh bahwa kata ma’ru>fdan khairmemiliki makna yang berbeda, meski secara leksikal keduanyasama-sama menunjukkan arti kebaikan. Ma’ru>fsecara formalberada pada posisi yang bertentangan dengan munkar. Amarma’ru>f nahy munkarini seharusnya diaplikasikan secara persuasifdalam bentuk yang baik, karena seruan menuju nilai-nilai Ilahitidak boleh dipaksakan.