Claim Missing Document
Check
Articles

PERKEMBANGAN HADIS DI INDONESIA PADA ABAD KE-19 M: Telaah Terhadap Pemikiran Mahfuzh at-Tirmasi dalam Kitabnya Manhaj Dzawin-Nazhar Farida, Umma
RIWAYAH Vol 6, No 1 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : ilmu hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i1.6860

Abstract

Perkembangan Hadis di Indonesia pada abad ke-19 M. Masih belum mendapat tempat dalam hati masyarakat Indonesia sebagaimana Tafsir al-Qur’an dan Fiqh. Materi pelajaran hadis dan ilmu hadis berikut kitab-kitabnya pada abad ke-19 memang belum banyak dikaji di beberapa lembaga pendidikan termasuk di pesantren-pesantren  pada saat itu, namun di sisi lain, di akhir abad ke-19 muncul ulama Nusantara yang telah mengibarkan keilmuan hadisnya di Timur Tengah, yaitu Muhammad Mahfuzh at-Tirmasi. Banyak sekali intelektual muslim, baik dari Indonesia maupun luar yang belajar kepada Kyai Mahfuzh. Di antara karya monumental Kyai Mahfuzh adalah Manhaj Dzawi an-Nazhar yang hendak dibahas dalam artikel ini. Kajian ini merupakan kajian pustaka dengan menjadikan karya-karya KH. Mahfuzh at-Tirmasi sebagai sumber datanya, terutama Kitab Manhaj dzawi an-Nadhar yang merupakan kitab yang menjelaskan (men-syarh) kitab Nazham Alfiyah karya Imam as-Suyuthi yang memfokuskan kajian pada bidang ilmu hadis. Kitab as-Suyuthi ini disajikan dalam bentuk nazham (salah satu bentuk sya’ir Arab) yang berisi penjelasan-penjelasan tentang kaidah-kaidah ilmu musthalah hadis, sehingga tidak semua kalangan dapat memahami maksud kitab tersebut secara mudah. Adapun teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik dokumentasi untuk selanjutnya dianalisis secara deskriptif kritis.
Perempuan Periwayat Hadis-Hadis Hukum dalam Kitab Bulugh Al-Maram Karya Imam Ibn Hajar Al-Asqalani Farida, Umma
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : ilmu hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.1611

Abstract

Kajian mengenai peran perempuan dalam bidang keagamaan pada umumnya tetap menemukan signifikansinya mengingat kajian tentang ketokohan perempuan dalam bidang tersebutmasih sangat langka. Artikel ini mencoba mengungkap peran perempuan dalam periwayatan hadis dengan memfokuskan pada kitabBulu>gh al-Mara>m min Adillah al-Ah}ka>m yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dan merupakan salah satu kitab koleksi hadis hukum yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren di Indonesia.Adanya partisipasi kaum perempuan dalam periwayatan hadis sebagaimana terkodifikasi dalam kitab Bulu>gh al-Mara>m menunjukkan perhatian perempuan yang besar terhadap hadis Nabi Saw. Jumlah para periwayat tersebut mencapai 19 orang dengan tema periwayatan yang beragam. Jumlah ini cukup banyak mengingat kesibukan kaum perempuan dalam ruang domestik yang melebihi kaum lelaki. Selain itu, juga dikarenakan aktifitas perlawatan ilmiah yang menjadi salah satu sarana perolehan hadis masih sulit dilakukan kaum perempuan pada saat itu.Meski demikian kaum perempuan tidak jauh ketinggalan dalam berpartisipasi dan memantapkan eksistensi dan kapabilitasnya dalam periwayatan hadis.Para muhaddis\in mengakui kualitas periwayatan hadis yang berasal dari sahabat perempuan. Hal ini terutama disebabkan kecenderungan para muhaddis\in yang tidak mempermasalahkan gender dalam periwayatan hadis. Dalam syarat-syarat ‘adalah dan dhabt}} yang harus diterapkan pada seorang periwayat hadis, misalnya, tidak terdapat ketentuan bahwa periwayat harus berjenis kelamin laki-laki.
PEMAHAMAN HADIS KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM TRADISI NU Saadah, Nailus; Farida, Umma
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : ilmu hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.5909

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman organisasi masyarakat NU terhadap hadis kepemimpinan perempuan pada hasil-hasil keputusan bahsul masail. Penelitian ini adalah library  research dengan pendekatan kualitatif. Adapun beberapa hasil keputusan bahsul masail yang terkait dengan hadis kepemimpinan perempuan adalah: Pertama, bahsul masail NU tahun 1961 di Salatiga memutuskan bahwa perempuan tidak diperbolehkan menjadi kepala desa, kecuali dalam keadaan memaksa. Kedua, bahsul masail NU pada tahun 1997 di NTB, yang memutuskan bahwa perempuan boleh  menjadi seorang pemimpin dengan syarat mempunyai kemampuan dan kapasitas untuk menjadi seorang  pemimpin,  namun tetap harus mengingat akan kodratnya.  Ketiga, bahsul masail NU dalam muktamar ke 30 tahun 1999 di Kediri, memutuskan untuk lebih operasional tentang kesetaraan gender dan lebih terbuka dalam politik. Hasil penelitian ini adalah Pada awalnya pemahaman NU terhadap hadis kepemimpinan peremuan didominasi oleh pemahaman tekstualis, dan hanya merujuk pada kitab fiqh karangan ulama zaman dahulu tanpa menggunakan metode pemahaman hadis  yang sesuai dengan metode yang telah ditawarkan oleh para ulama hadis. Setelah itu, pemahaman NU yang tekstualis terhadap hadis kepemimpinan perempuan bergeser menjadi pemahaman kontekstualis yang disebabkan karena dalam kehidupan dunia modern menuntut seluruh elemen bangsa untuk berpartisipasi baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu pertimbangan dari NU sendiri adalah demi kemaslahatan ummat dan menegakkan sikap keadilan.
STUDI PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN TENTANG SUNNAH DAN HADIS Farida, Umma
ADDIN Vol 7, No 2 (2013): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v7i2.577

Abstract

UMER CHAPRA CONTRIBUTION IN BUILDING MUSLIM CIVILIZATION Farida, Umma
ADDIN Vol 11, No 2 (2017): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v11i2.3349

Abstract

The idea of Umer Chapra in building Muslim civilization was based on his research on the position of Muslims who from time to time more and more felt strange with the civilization and Islamic values itself, even the civilization was gradually increasingly eroded and marginalized by Western culture. He tried to restore the Muslim position which should be done as the Messenger of Allah had pointed out, and their positive role in building civilization. The Islamic civilization has the power that lies in the development of morals and material strength. For Chapra, the moral development without being integrated with the economic development cannot be realized. And at the same time, this economic development must also have a worldview and strategy that is in line with religious objectives (maqashid asy-syari’ah). The development of Muslim civilization requires the transformation of human beings and their institutions, focusing in the increasing of education and personality development, and the simultaneous mobilization of material, economic and technological resources for the rearrangement of community structures over the principles of deliberation and accountability, unity, independence and justice.
MENGKRITISI MAKNA JIHAD DAN PERAG DALAM AL-QUR’AN: STUDI TAfSIR ANALITIS QS. A Farida, Umma
HERMENEUTIK Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i2.900

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk melihat konsekuensi keimanandengan perintah berjihad dalam al-Qur’an. Pada dasarnya, konsepberjihad, mendapatkan porsi yang cukup besar dalam al-Qur’an.Konsep jihad dan perang (qita>l) merunut pada peperangan yangdilangsungkan oleh Nabi Muhammad Saw. seperti Perang Badar,Perang Uhud, Perang Khondaq dan lainnya. Sedangkan al-Qur’ansendiri telah menegaskan bahwa kemenangan ataupun kekalahanyang diperoleh umat Islam melalui peperangan tersebut pastimemiliki hikmah, dan Allah sendiri menjanjikan pahala berlipatbagi setiap muslim yang gugur di medan perang. Q.S. Ali Imran:141-150 ini secara umum menyajikan prinsip-prinsip pentinguntuk meraih surga. Surga yang dijanjikan Allah dan dilimpahiberbagai kenikmatan dapat dibuka dengan dua kunci utama, yaknijihad f >sabililla>h dan kesabaran.
MENELISIK GAGASAN TAFSIR ABU AL-HAMID AL- GAZALI DALAM KITAB JAWAHIR AL-QURAN Farida, Umma
HERMENEUTIK Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.871

Abstract

Artikel ini mengelaborasikan gagasan tafsir Abu> H} ami>d Al-Gaza>li>yang selama ini lebih terkenal sebagai fiosof dan sufi denganmemfokuskan pada karyanya Jawa>hir Al-Qur’a>n. Al-Qur’an yangmerupakan kitab suci umat Islam memiliki posisi tersendiri di hatidan pikiran Al-Gaza>li>. Kecintaan Al-Gaza>li> terhadap fisafat dantasawuf juga didasari oleh kecintaannya terhadap al-Qur’an. Inidikarenakan menurutnya, hanya al-Qur’an sajalah yang menjadipenuntun dan pengingat tujuan hidup manusia. Temuan kajian iniadalah bahwa corak penafsiran yang dibangun oleh Al-Gaza>li> tidakdapat dilepaskan dari pemikiran tasawufnya. Baginya, al-Qur’anmemiliki dimensi zhahir dan dimensi batin. Oleh karenanya, iamenekankan untukmembaca dan menyelami makna al-Qur’an,bukan hanya makna zhahirnya, melainkan juga makna batinnya.Ia sekaligus menyarankan untuk berusaha meraih amalan batindari setiap ayat yang dibacanya, bahkan diupayakan bahwa setiappemahaman, melahirkan kekayaan batin dan kesadaran dirimenuju ma’rifatulla>h. Surah al-Fa>tih} ah memiliki keistimewaantersendiri bagi Al-Gaza>li> bahwa surah ini merupakan surahyang paling utama dalam al-Qur’an. Menurutnya, al-Fatihah mengandung delapan substansi esensial yang menjadi kunci surga yaitu: z\ a>t, sifat, af’a>l, penyebutan hari akhirat, s} irat} almustaqi>mdengan dimensi-dimensinya, yakni pembersihan dan  periasan jiwa, penyebutan nikmat terhadap para kekasih Allah,amarah terhadap musuh-musuh Allah, dan penyebutan tempatkembalinya umat manusia.
Pemaknaan Jihad Dalam Al-Qur'an dan Hadis Dengan Pendekatan Historis-Sosiologis Farida, Umma
HERMENEUTIK Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i1.6857

Abstract

This article intends to decipher the meaning of jihad in the Koran and the Hadith by using a historical-sociological approach, with the consideration that the growth and development of Islam both during the Mecca and Medina periods cannot be separated from the command of jihad which is explicitly stated explicitly in the verses of the Qur'an and the traditions of the Prophet. Jihad in both sources of Islamic teachings means to be serious in upholding the truth and preventing munkar. However, the meaning of jihad is often misunderstood by both Muslims and non-Muslims internally by giving narrow meanings to jihad which only means physical struggle and even vulnerable to acts of violence. Data collection techniques using documentation techniques to be analyzed descriptively-critically
Relevansi Pemaparan Kisah Peperangan Dalam Al-Qur’an Dan Misi Perdamaian Islam Farida, Umma
HERMENEUTIK Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.3910

Abstract

AMAR MA’RUF NAHY MUNKA MENURUT AL - QUR’AN: Kajian Semantik Kasdi, Abdurrahman; Farida, Umma
HERMENEUTIK Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.926

Abstract

Kajian semantik dalam pembacaan al-Qur’an sejatinya telahdikenal sejak masa sahabat, dengan Ibn Abbas sebagai tokohnya.Pada fase selanjutnya, banyak mufassir muslim yang turutmengaplikasikan kajian semantik ini, seperti az-Zamakhsyari,ataupun dari kalangan outsider seperti Toshihiko Izutsu. Melaluipengkajian semantik diperoleh bahwa kata ma’ru>fdan khairmemiliki makna yang berbeda, meski secara leksikal keduanyasama-sama menunjukkan arti kebaikan. Ma’ru>fsecara formalberada pada posisi yang bertentangan dengan munkar. Amarma’ru>f nahy munkarini seharusnya diaplikasikan secara persuasifdalam bentuk yang baik, karena seruan menuju nilai-nilai Ilahitidak boleh dipaksakan.