Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Plankton Community Structure In Halmahera Barat Coastal Zone Tamrin; Joshian Nicolas William Schaduw; Haryani Sambali; Adnan Sjaltout Wantasen; Desy Maria Helena Mantiri; Rene Charles Kepel; Winda Mercedes Mingkid; Ockstan Jurike Kalesaran; Nurhalis Wahidin; Muhammad Aris
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.53407

Abstract

Research on plankton organisms in supporting aquatic resource management is very important to do. This study aims to see the structure of the plankton community in the coastal waters of West Halmahera Regency. There were 9 sampling sites, namely the waters of Toniku (TO), Tewe (TW), Dodinga (DG), Tuada (TU), Porniti (PR), Payo (PA), Bobo (BO), Sahu (SH), and Ibu (IB). Plankton observations used the Census-SRC method. The parameters observed were abundance, diversity index, uniformity index, and dominance index. The results showed that the highest phytoplankton abundance was found in the TO area, namely 1.7 x 107 cells/m3 and the lowest was 4.1 x 106 cells/m3 in the PR area. The highest phytoplankton diversity index was found in the PR area, namely 2.075 and the lowest was 1.429 in the IB area. The highest uniformity index of phytoplankton was found in the PR area, namely 0.901 and the lowest was 0.624 in the BO and DG areas. The highest phytoplankton dominance index was found in the IB area, namely 0.350 and the lowest was 0.138 in the PR area. The highest zooplankton abundance was found in the DG area at 2.0 x 106 cells/m3 and the lowest was 3.3 x 105 cells/m3 in the IB area. The highest zooplankton diversity index was found in the TU area, namely 1.981 and the lowest was 1.516 in the IB area. The highest uniformity index of zooplankton was found in the IB area, namely 0.942 and the lowest was 0.761 in the DG area. The highest zooplankton dominance index was found in the BO area, namely 0.266 and the lowest was 0.167 in the TU area. The conclusion of this study revealed that the most common type of plankton found was Bacillariophyceae. While the diversity value shows moderate diversity, the uniformity value shows a high level of uniformity, and the dominance value shows low-moderate dominance. Keywords: Diversity index; Uniformity index; Dominance index; Abundance; Plankton Abstrak Penelitian tentang organisme plankton dalam mendukung pengelolaan sumberdaya perairan sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan melihat struktur komunitas plankton perairan kawasan pesisir Kabupaten Halmahera Barat. Terdapat 9 lokasi sampling, yaitu perairan Toniku (TO), Tewe (TW), Dodinga (DG), Tuada (TU), Porniti (PR), Payo (PA), Bobo (BO), Sahu (SH), dan Ibu (IB). Pengamatan plankton menggunkan metode Sensus-SRC. Parameter yang diamati adalah kelimpahan, indeks keragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukan kelimpahan fitoplankton tertinggi terdapat di kawasan TO yaitu 1,7 x 107 Sel/m3 dan terendah 4,1 x 106 Sel/m3 di kawasan PR. Indeks keragaman fitoplankton tertinggi terdapat di kawasan PR yaitu 2,075 dan terendah 1,429 di kawasan IB. Indeks keseragaman tertinggi fitoplankton terdapat di kawasan PR yaitu 0,901 dan terendah 0,624 di kawasan BO dan DG. Semetara indeks dominansi fitoplankton tertinggi terdapat di kawasan IB yaitu 0,350 dan terendah 0,138 di kawasan PR. Kelimpahan zooplankton tertinggi terdapat di kawasan DG yaitu 2,0 x 106 Sel/m3 dan terendah 3,3 x 105 Sel/m3 di kawasan IB. Indeks keragaman zooplankton tertinggi terdapat di kawasan TU yaitu 1,981 dan terendah 1,516 di kawasan IB. Indeks keseragaman tertinggi zooplankton terdapat di kawasan IB yaitu 0,942 dan terendah 0,761 di kawasan DG. Semetara indeks dominansi zooplankton tertinggi terdapat di kawasan BO yaitu 0,266 dan terendah 0,167 di kawasan TU. Kesimpulan penelitian ini mengungkapkan jenis plankton yang paling banyak ditemukan adalah Bacillariophyceae. Sementara nilai keragaman menunjukkan karagaman sedang, nilai keseragaman menunjukkan tingkat kesergaman tinggi, dan nilai dominasi menunjukkan dominansi rendah – sedang. Kata kunci: Indeks keragaman; Indeks keseragaman; Indeks dominansi; Kelimpahan; Plankton.
Land Suitability Analysis For Brackishwater Aquaculture Development In In Morotai Island District Rusdi; Wahidin, Nurhalis; Muhammad Aris; Taufiq Abdulah
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.56268

Abstract

This study aims to analyze the land suitability in the coastal area of Pulau Morotai Regency for whiteleg shrimp. The research was conducted in Raja Village. The observed parameters include infrastructure data such as distance to the market, distance to the highway, and distance to the hatchery. Water quality parameters are water temperature, salinity, dissolved oxygen (DO), water pH, total ammonia nitrogen (TAN), nitrite, nitrate, phosphate, and plankton abundance. Meanwhile, the observed soil quality parameter is soil pH. Land suitability analysis was conducted using geographic information systems and drones. The results show that the distances to the market, highway, and hatchery are >12 km, >5 km, and >12 km, respectively. Water temperature ranges from 15.40-27.10 ℃, salinity is 0 ppt, DO ranges from 1.00-2.20 mg L-1, water pH ranges from 6.00-7.00, TAN ranges from 0.001-0.043 mg L-1, nitrite ranges from 0.017-0.070 mg L-1, nitrate ranges from 0.005-0.045 mg L-1, phosphate ranges from 0.006-0.048 mg L-1, and plankton abundance is 2.3×109 cells L-1. Meanwhile, soil pH ranges from 4.00-7.00. The analysis indicates that the coastal area of Raja has 1000 Ha of marginally suitable land (S3) and 1000 Ha of unsuitable land (N) for brackishwater aquaculture development. Keywords: Brackishwater aquaculture; Coastal area; Pulau Morotai Regency; Whiteleg shrimp. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian lahan di pesisir Kabupaten Pulau Morotai untuk budidaya udang vaname. Penelitian dilakukan di Desa Raja, Kabupaten Pulau Morotai. Parameter yang diamati meliputi data infrastruktur yang diamati adalah jarak ke pasar, jarak ke jalan raya dan jarak ke hatchery. Data parameter kualitas air yang diamati adalah suhu perairan, salinitas, oksigen terlarut (DO), pH air, total ammonia nitrogen (TAN), nitrit, nitrat, fosfat dan kelimpahan plankton. Sementara data parameter kualitas tanah yang diamati adalah pH tanah. Analisis kesesuaian lahan dilakukan menggunakan sistem informasi geografis (GIS) dan drone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak ke pasar, jalan raya, dan hatchery masing-masing >12 km, >5 km, dan >12 km. Suhu air 15,40 – 27,10 ℃, salinitas 0 ppt, DO 1,00 – 2,20 mg L-1, pH air 6,00 – 7,00, TAN 0,001 – 0,043 mg L-1, nitrit 0,017 – 0,070 mg L-1, nitrat 0,005 – 0,045 mg L-1, fosfat 0,006 – 0,048 mg L-1, dan kelimpahan plankton 2,3 × 109 Sel L-1. Sementara pH tanah 4,00 – 7,00. Analisis menunjukkan kawasan pesisir Raja memiliki 1000 Ha lahan yang cukup sesuai (S3) dan 1000 Ha yang tidak sesuai (N) untuk pengembangan budidaya air payau. Kata kunci: Budidaya air payau; Kabupaten Pulau Morotai; Kawasan pesisir; Udang vaname.
Implementasi Kebijakan Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Pada Tingkat Sekolah Menengah Pertama di Kota Makassar Muhammad Aris; Haerul; Rifdan
SEMINAR NASIONAL DIES NATALIS 62 Vol. 2 (2024): Prosiding Seminar Nasional UNM ke-63 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Makassar. Kebijakan zonasi, yang diadopsi melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2018, bertujuan untuk menciptakan pemerataan kualitas pendidikan dan mengurangi kesenjangan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian literatur yang melibatkan analisis mendalam dari berbagai sumber akademis, laporan pemerintah, dan studi empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan zonasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan partisipasi pendidikan dan keterlibatan orang tua, serta mengurangi migrasi siswa antar daerah. Namun, masih terdapat tantangan seperti resistensi orang tua terhadap sekolah non-favorit, ketidakmerataan fasilitas dan tenaga pengajar, serta kesiapan infrastruktur. Implementasi kebijakan ini memerlukan komunikasi yang efektif, alokasi sumber daya yang adil, komitmen kuat dari pelaksana kebijakan, dan struktur birokrasi yang adaptif. Kesimpulannya, meskipun kebijakan zonasi memiliki potensi besar untuk mencapai pemerataan kualitas pendidikan, keberhasilan implementasinya bergantung pada kolaborasi yang baik antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat serta dukungan berkelanjutan dan penyesuaian kebijakan berdasarkan hasil evaluasi lapangan.
Dialog Interaktif Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Maluku Utara 2025-2029 Tamrin; Muhammad Aris; Riyadi Subur; Taufiq Abdullah
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 2 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/11w8ym78

Abstract

Dialog Interaktif sebagai wadah komunikasi antara pemerintah Maluku Utara dengan masyarakat dalam rangka penyusunan RPJMD 2025-2029 berfungsi sebagai sarana efektif untuk menyerap aspirasi publik serta menyampaikan arah kebijakan pembangunan daerah. Proses dialog berlangsung secara langsung dan interaktif, memungkinkan masyarakat berpartisipasi aktif menyampaikan kebutuhan, harapan, dan kritik secara terbuka kepada pemangku kebijakan. Fokus utama pembahasan tertuju pada isu strategis seperti pengembangan infrastruktur, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi lokal, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Interaksi dua arah yang berlangsung membantu mengurangi kesenjangan informasi antara pemerintah dan masyarakat sekaligus memperkuat transparansi serta akuntabilitas penyusunan RPJMD. Narasumber dari berbagai kalangan, termasuk pejabat pemerintah, akademisi, dan tokoh masyarakat, menyampaikan perspektif berbasis pengalaman dan data relevan, sehingga dialog menjadi lebih kaya dan aplikatif. Partisipasi luas dari berbagai lapisan masyarakat menandakan tingginya minat untuk terlibat dalam proses pembangunan daerah secara langsung. Hasil dialog ini memberikan masukan yang konkret dan konstruktif bagi pemerintah daerah guna merumuskan kebijakan pembangunan yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dialog Interaktif ini tidak hanya meningkatkan pemahaman publik tentang prioritas pembangunan, tetapi juga mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antara pemerintah dan warga. Model komunikasi ini layak dijadikan contoh bagi daerah lain yang ingin memperkuat mekanisme partisipasi publik serta memastikan pembangunan yang berkelanjutan dan berbasis aspirasi nyata masyarakat.