Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

MENYELAMI IDENTITAS LOKAL DAN TANGGUNG JAWAB SPIRITUAL PADA MASJID SYEKH YUSUF DI KABUPATEN GOWA Jusmiati; Syamzan Syukur; Umar Sulaiman
ISTIQRA: Jurnal Hasil Penelitian Vol. 12 No. 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research explores how to explore the local identity and spiritual responsibility of the people in Gowa Regency at the Syekh Yusuf Mosque. This research uses field research with historical, religious, and sociological approaches. The data collection methods used were observation, interviews, documentation, and literature. Data processing and analysis techniques are data reduction, data presentation, and conclusions. The results of this research show that the existence of the Sheikh Yusuf Grand Mosque is an embodiment of culture and the center of Muslim activities in the Gowa Regency. This realization can be explored using stages that are structured and sustainable. One of the stages in question is the public's understanding of the architectural morphology of buildings. The architectural morphology of the Syekh Yusuf Grand Mosque building has a very unique design while still combining Islamic concepts, history, and local cultures such as the sulapa' eppa' motif which is the philosophy of life of the Bugis-Makassar tribe which depicts the human character and nature, namely, wind, fire, water, and land. Humans who can balance these four characteristics are called humans who have Siri' and Pesse' which are strongly held by the Bugis-Makassar tribal people. From this combination, the Sheikh Yusuf Mosque does not abandon its function as a building of worship for the people to improve spirituality in the context of a relationship with Allah SWT. and relationships with fellow humans in presenting the breath of Islam in every aspect of people's lives as a filter for the flow of globalization.
Implementasi Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Balia pada Masyarakat Etnik Kaili di Kelurahan Taipa Melinea Putri, Ilma; Syamzan Syukur; Rahmawati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 12 No 02 (2024): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v12i02.47602

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Implementasi Nilai-Nilai Islam Dalam Tradisi Balia Pada Masyarakat Etnik Kaili Kelurahan Taipa Kecamatan Palu Utara. Tujuan penelitian ini untuk 1). Menganalisis dan mendeskripsikan eksistensi tradisi balia di Kelurahan Taipa Kecamatan Palu Utara 2). Menganalisis dan mendeskripsikan tradisi balia dalam perspektif budaya Islam. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Research) yang bersifat deskriptif kualitatif. Dengan menggunakan beberapa pendekatan yaitu, pendekatan sejarah, pendekatan sosiologis, pendekatan agama, dan antropologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi balia merupakan ritual pengobatan tradisional masyarakat Kelurahan Taipa Kecamatan Palu Utara yang merupakan warisan nenek moyang jauh sebelum Islam hadir di Palu. Kehadiran Islam di Palu, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap eksistensi balia menjadi suatu kebudayaan yang bernilai Islam, seperti adanya kegiatan musyawarah, bersuci dan menjalin ukhuwah Islamiyah. Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah tentang budaya lokal dan salah satu aset bangsa yang perlu dilestarikan. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama dengan pemerintah setempat agar tetap mempertahankan eksistensi balia.
Peran Ulama Dalam Pelestarian Budaya Lokal Di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan Abad 20 : Mira, Sumirah; Asnawi Hidayatullah; Sumirah; Syamzan Syukur
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 4 No. 1 (2025): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/batuthah.v4i1.2307

Abstract

Ulama have an important role in preserving local culture in South Sulawesi, one of which is the Jeneponto area, both in religious, social and customary aspects. As spiritual leaders, ulama play a role in maintaining Islamic values ​​that have been acculturated with local culture, such as in mapaccing, barzanji, and songkabala. The aim of this research is to describe and explain the role of ulama in preserving local culture in Jeneponto, South Sulawesi by paying attention and considering the Islamic values ​​contained in the local culture. This research uses library research by collecting various literature that is relevant to the study of this title. The method in this research is qualitative research which is used to understand the role of ulama in preserving local culture in Jeneponto, South Sulawesi. The research findings show that, Ulama are people who have a deep understanding of religion, besides that they also understand the science of jurisprudence, memorize the Al-Qur'an and hadith and are able to speak Arabic. Ulama are considered noble figures and ulama have various roles in life. In preserving local culture specifically in Jeneponto, South Sulawesi, there are several explanations regarding the role of ulama in preserving existing local culture by paying attention to Islamic values ​​contained in the arts of mapaccing, barzanji and songkabala.
Epistemologi Reformisme Islam Abad ke-19 di Mesir: Transformasi Historis Pemikiran Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh Abd. Bashir Fatmal; Jurrahmah AB. Yasin; Rahmawati; Syamzan Syukur
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 4 No. 2 (2025): Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/batuthah.v4i2.2818

Abstract

In the 19 century, the Islamic world faced a great upheaval due to the expansion of Western colonialism and the epistemological crisis that struck its intellectual tradition. This condition gave rise to an urgent need for the reconstruction of Islamic thought that was able to respond to the challenges of modernity while at the same time maintaining Islamic identity. This article discusses the dynamics of Islamic reform in Egypt with its main focus on the epistemological synthesis formed from the teacher-student relationship between al-Afghani and Abduh, which aims to understand their ideas as a reference in creating Islamic thought in all aspects. The results of the research show that al-Afghani emphasized pan-Islamism and political resistance against Western hegemony, while Abduh focused on institutional reform, the rationalization of theology, and the modernization of Islamic education, particularly through Al-Azhar. Their collaboration through the publication of the journal Al-Urwah al-Wuthqa reflected the spirit of transnational reform that was able to reach various regions of the Islamic world. This article also highlights their contribution in shaping a reformist Islamic epistemology that integrates reason and revelation contextually. Their intellectual legacy not only dismantled the narrative of Islamic intellectual stagnation constructed by Orientalists, but also provided the foundation for the emergence of reform movements in South Asia and Southeast Asia. Thus, their ideas remain relevant in formulating Islam as a value system that is rational, ethical, and solution-oriented toward the modern problems of the Muslim community.
Sejarah Pergerakan Nasional: Melacak Jejak Sarekat Islam (SI) dari Perdagangan Hingga Kemerdekaan Nurwahidah, Nurwahidah; Rahmi Damis; Syamzan Syukur
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 6: Oktober 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i6.10785

Abstract

Penelitian ini membahas perjalanan Sarekat Islam (SI) sebagai salah satu organisasi perintis pergerakan nasional Indonesia. Berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan Samanhudi pada 1905 untuk melindungi pedagang batik Muslim dari dominasi pedagang Tionghoa, organisasi ini berkembang pesat hingga menjadi SI pada 1912. Dalam perjalanannya, SI bertransformasi menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) pada 1923 dan kemudian menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada 1929. SI menjadi pelopor organisasi politik yang secara terbuka menyuarakan aspirasi kemerdekaan, melahirkan banyak tokoh yang kelak aktif di partai besar seperti PNI, PKI, Masyumi, dan kelompok nasionalis lain. Metode penelitian yang digunakan adalah library research dengan data utama berupa buku, literatur klasik, jurnal ilmiah, dan dokumen relevan. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran SI meluas dari isu ekonomi dan agama ke ranah sosial, budaya, dan politik. Islam menjadi unsur pemersatu masyarakat pribumi di tengah minimnya kesadaran nasional pada masa itu. Pada masa Orde Baru, PSII diintegrasikan ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sehingga perannya menurun. Upaya menghidupkan kembali PSII pada era Reformasi tidak berhasil menembus ambang batas pemilu. Meski demikian, SI tetap aktif sebagai kelompok sosial yang berkontribusi bagi kemajuan masyarakat dan negara
Sejarah Pergerakan Nasional: Peran Nahdlatul Ulama dalam Dinamika Sosial-Politik dan Pembentukan Identitas Kolektif Bangsa Indonesia Nana Aprilia; Rahmi Damis; Syamzan Syukur
Jurnal Nirta : Inovasi Multidisiplin Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Nirta : Studi Inovasi
Publisher : Nirta Learning Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61412/jnsi.v5i1.253

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami kontribusi Nahdlatul Ulama (NU) dalam menjaga tradisi keagamaan dan memperkuat identitas bangsa di tengah dinamika sosial-politik sejak masa penjajahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan peran strategis NU dalam perjuangan nasional, pembentukan solidaritas sosial, dan konstruksi identitas kolektif bangsa Indonesia. Metode yang digunakan adalah library research dengan pengumpulan data melalui buku, literatur klasik, jurnal ilmiah, dan dokumen relevan. Analisis data dilakukan melalui langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NU, yang lahir pada 31 Januari 1926 di Surabaya atas inisiatif para ulama pesantren seperti KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah, merupakan respon terhadap ancaman praktik keagamaan tradisional akibat pengaruh Wahabi serta kondisi kolonial Belanda. Melalui pembentukan Komite Hijaz dan pendirian NU, para ulama berupaya mempertahankan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) dan menjaga keberagaman Islam di Indonesia dengan organisasi yang terstruktur. Dalam perjalanannya, NU berperan signifikan dalam pergerakan nasional melalui penolakan Volksraad, keterlibatan di MIAI dan Masyumi pada masa Jepang, serta Resolusi Jihad 1945 yang memotivasi perjuangan kemerdekaan. NU juga berkontribusi pada pembentukan solidaritas sosial, penanaman nasionalisme, penyusunan UUD 1945, dan penguatan Pancasila. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa NU tidak hanya berjasa di bidang keagamaan, tetapi juga menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun identitas nasional dan kesejahteraan sosial-politik Indonesia.
Kerajaan Turungeng di Sinjai: Sejarah, Politik, dan Intervensi Kolonial Musdalifah, Musdalifah; M. Dahlan M; Syamzan Syukur
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i1.11955

Abstract

Penelitian ini menelaah Kerajaan Turungeng sebagai pusat kekuasaan lokal di Sinjai dengan tujuan mengungkap perannya dalam konfigurasi politik, sosial, dan budaya Sulawesi Selatan. Fokus diarahkan pada rekonstruksi sejarah, struktur pemerintahan, dinamika hubungan dengan kerajaan besar, serta dampak kolonialisme terhadap eksistensi Turungeng. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian sejarah, berbasis data primer dan sekunder berupa naskah lontara, arsip kolonial, literatur ilmiah, serta wawancara. Analisis dilakukan melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan pendekatan historis, antropologis, sosiologi agama, dan politik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Turungeng merupakan kerajaan pertama di federasi Pitulimpoe, terbentuk melalui legitimasi To Manurung dan didominasi oleh kepemimpinan perempuan. Struktur pemerintahannya melibatkan Arung, Sullewatang, dan Gellarang, yang memperlihatkan sistem kekuasaan berbasis adat. Hubungan politik Turungeng dengan Gowa dan Bone mencerminkan posisi strategis Sinjai sebagai wilayah perbatasan. Intervensi kolonial Belanda pada abad ke-19 menandai fase krusial yang menghapus Turungeng dari peta politik lokal, namun resistensi masyarakat memperlihatkan pola solidaritas antarkerajaan. Kesimpulan penelitian menegaskan pentingnya Turungeng sebagai representasi kearifan lokal dan basis identitas budaya Sinjai. Implikasi studi menekankan urgensi revitalisasi sejarah lokal dalam rangka memperkuat kesadaran historis dan memperkaya diskursus historiografi Nusantara.
Transformasi Sosial-Politik Dakwah Nabi Muhammad: Analisis Sosio-Historis Mekah-Madinah Andi Alif Afwan; Amrudin; Susmihara; Syamzan Syukur
ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Vol. 4 No. 2 (2026): ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora (In Press)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/aladalah.v4i2.1818

Abstract

Studies on the Prophet Muhammad’s da‘wah commonly approach the Meccan–Medinan period through normative-theological perspectives or descriptive historical narratives, leaving the socio-political dimension of transformation and its relevance to contemporary leadership insufficiently explored. This article aims to analyze the transformation of the Prophet Muhammad’s da‘wah from Mecca to Medina as a process of socio-political change using a socio-historical approach. This study employs qualitative library research, drawing on primary sources such as the Qur’an, hadith, and classical sirah literature, as well as secondary sources from contemporary scholarly works. Data are analyzed descriptively and analytically by reconstructing historical contexts and examining shifts in social structures, power relations, and prevailing values in Meccan and Medinan society.The findings reveal that the Meccan da‘wah functioned as a moral and social transformation movement that challenged tribalism, social inequality, and the legitimacy of the Quraysh elite, while simultaneously laying the ideological foundation of the early Muslim community. This transformation reached its institutional form in Medina through the formation of a plural and organized political community, as reflected in the Charter of Medina. The study argues that the success of the Prophet’s da‘wah was not solely religious but also socio-political, embodied in a model of prophetic leadership grounded in moral exemplarity, consultation (shura), justice, and social compassion. This article contributes to socio-political Islamic studies by offering a socio-historical interpretation of prophetic da‘wah and highlighting its relevance for contemporary leadership and governance.