Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS POTENSI PENINGGALAN SUMBER DAYA ARKEOLOGI DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH SMA DI KABUPATEN BANYUWANGI I Kadek Yudiana; Mahfud; Anggun Kuswinda Asih
Nusantara Hasana Journal Vol. 1 No. 6 (2021): Nusantara Hasana Journal, November 2021
Publisher : Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Traces of past human life activities can be seen in cultural remains such as artifacts, features and ecofacs. The cultural remains found today are also referred to as archaeological resources. We have to explore the potential of these archaeological traces or remains so that we can bring them back as a learning resource. Banyuwangi Regency is rich in archaeological heritage that can be used as an alternative source of learning from existing books. This study tries to analyze these relics and present them into the history learning of senior high schools in Banyuwangi. The results show that the archaeological remains in Banyuwangi are very complete from prehistoric times to modern history. However, the history teacher at senior high school did not explore these relics with various obstacles, ranging from difficulties in integrating materials and financial problems which were large enough to invite students to places that had archaeological remains. This study provides an overview of the subject matter that can be integrated according to the 2013 curriculum and the findings of archaeological remains in Banyuwangi as a learning resource.
Implementasi Pembelajaran Sejarah pada Era Kebiasaan Baru pada Kelas XI MA As’adiyah Ketapang Tahun Ajaran 2021-2022 Kadek Yudiana; Mahfud Mahfud; Asmad Asmad
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.002 KB) | DOI: 10.31004/jptam.v6i2.4837

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bagaimana Implementasi Pembelajaran Sejarah Pada Era Kebiasaan Baru Kelas XI di MA As’adiyah Ketapang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangukasi data, teori, peneliti, dan metode. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proses pembelajaran sejarah di era kebiasaan baru dan mendeskripsikan kelebihan serta kelemahan proses pembelajaran di era kebiasaan baru. Hasil yang diperoleh dari penelitian yaitu proses pembelajaran sejarah di era kebiasaan baru yang sudah dilakukan secara tatap muka terbatas dan ditemukannya kelebihan serta kelemahan pembelajaran di era kebiasaan baru baik dari segi guru maupun siswa.
POTRET ETNIS OSING DARI SEGI SOSIAL, BUDAYA, DAN EKONOMI DI DESA KEMIREN, GLAGAH, KABUPATEN BANYUWANGI I Kadek Yudiana; Mahfud; Eka Prasetya Suryadani
Nusantara Hasana Journal Vol. 2 No. 11 (2023): Nusantara Hasana Journal, April 2023
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v2i11.812

Abstract

Kemiren Village has a variety of customs and culture that have special characteristics and are still maintained today. This is what made Kemiren Village a traditional village. The purpose of this study was to find out the social, cultural and economic life of the Osing people in Kemiren Village, Glagah, Banyuwangi. The research method used is descriptive qualitative. Data collection techniques using interviews, observation, and document study. Data analysis techniques use the theory of Miles and Huberman (2014), namely, data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study indicate that by making it a traditional village, Kemiren Village has positive and negative impacts in terms of social, culture and economy. Osing's Ethnic strategy in dealing with change includes the use of customary law, socialization carried out by village officials to increase community participation in developing the village, and maintaining the local wisdom of the Osing community in Kemiren Village, so that it remains in accordance with values ​​and norms.
KENDENGLEMBU NEOLITHIC SITE AS A RESOURCE OF HIGH SCHOOL HISTORY LEARNING IN BANYUWANGI REGENCY: SITUS NEOLITIK KENDENGLEMBU SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH SMA DI KABUPATEN BANYUWANGI I Kadek Yudiana; Mahfud
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 7 No 1 (2023): Santhet : Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v7i1.2787

Abstract

ABSTRAK Banyuwangi adalah salah satu Kabupaten yang terletak di ujung timur pulau jawa dan identik dengan sebutan sunrise of java. Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi sumberdaya arkeologi sangat beragam meliputi pada masa pra-sejarah, masa sejarah (kuno/ klasik), masa colonial, dan masa Islam. Adapun yang dikaji dalam penelitian ini, meliputi: 1) Peninggalan Neolitik Kendenglembu; 2) Situs Neolitik Kendenglembu sebagai sumber belajar sejarah. Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriftif kualitatif dengan tahapan sebagai berikut: 1) Penentuan Lokasi Penelitian; 2) Instrumen Penelitian; 3) Metode Pengumpulan Data; 4) Teknik Validasi Data; 5) Teknik Analisis Data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sumberdaya arkeologi yang terdapat di Desa Karangharjo/ Situs Kendenglembu memiliki potensi sebagai pariwisata sejarah. Selain itu sumberdaya arkeologi Situs Kendenglembu juga menyimpan nilai-nilai pendidikan yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah diintegrasikan ke dalam silabus kurikulum pada kelas X dan XII. Untuk penerapannya dalam pembelajaran sejarah dapat dilakukan dengan metode karyawisata/pariwisata sejarah. Pengintegrasiannya ke dalam perangkat pembelajaran, yakni silabus yang dipakai oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar SMA di Kabupaten Banyuwangi sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) dan materi pokok yang disesuaikan dengan benda-benda peninggalan sejarah yang ada pada Situs Kendenglembu.
Pucak Giri Raung Temple in Sumberarum Village, Songgon District, Banyuwangi Regency (Study of History, Structure And Temple Functions): Pura Pucak Giri Raung Di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi (Studi Tentang Sejarah, Struktur Dan Fungsi Pura) Saifur Rijal; I kadek Yudiana; I Wayan Mertha; Mahfud
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 7 No 1 (2023): Santhet : Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v7i2.2103

Abstract

This research was conducted in Sumberarum Village, Songgon, Banyuwangi which aims to find out; (1) History of Pucak Giri Raung Temple; (2) The structure of the Pucak Giri Raung Temple; (3) The function of the Pucak Giri Raung Temple. This research is historical research, so the steps taken are (1) Heuristic data collection (observation, interviews, study of documents), (2) Criticism of sources, (3) Interpretation and (4) Historiography of historical writing. Based on findings in the field, Pucak Giri Raung Temple was founded in 1972. Its founders, the Hindu community from Jembrana and Karangasem, Bali. At that time, people from Bali moved to Banyuwangi to cultivate cloves. Since then the Hindu community has grown until now. It is called Pucak Giri Raung Temple because the location of the temple is in the hills and under the foot of Mount Raung. The people believe that around the slopes of Mount Raung are the remains of Maharesi Markandeya, the spread of Hindu religious teachings from Java to Bali in the 7th century AD. Pucak Giri Raung Temple is still related to Rsi Markandeya. Because the local people have found relics and a place where Rsi Markandeya meditated. Relics found by local people in the form of sticks. Rsi Markandeya's journey was first to Mount Dieng in Central Java, then continued the journey to Kalibaru sub-district, after that at Gumuk Kancil, Sempu sub-district, continued to Pucak Giri Raung Temple, Sumberasih hamlet, Songgon sub-district, and ended the trip at Besakih Temple in Bali to teach Hinduism. The structure of Pucak Giri Raung Temple uses the Dwi Mandala concept in which this concept divides the temple into two parts, namely Nista Mandala (unholy part) and Utama Mandala (most sacred part). The function of Pucak Giri Raung Temple is divided into three namely, (1) Religious function as a place for prayer and religious ceremonies (2) Religious Education function as a place for pasraman or often called Hindu religious education; and (3) social function as a meeting place for meetings and deliberations
EKSISTENSI DAN MAKNA SIMBOLIK TRADISI LABUH PADA MASYARAKAT DUSUN KUMBO DESA GUMIRIH KECAMATAN SINGOJURUH KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN 1988 – 2023 Hairul Agustian; Mahfud; Sahru Romadloni; I Kadek Yudiana
Nusantara Hasana Journal Vol. 3 No. 3 (2023): Nusantara Hasana Journal, August 2023
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v3i3.963

Abstract

The Labuh tradition is one of the traditions that grows and develops in Banyuwangi Regency, precisely in Kumbo Hamlet, Singojuruh District. This study aims to examine the historical and symbolic meaning of the Labuh tradition, which includes: 1) What is the history of the Labuh tradition, 2) What is the symbolic meaning and procession of the Labuh tradition, 3) What is the existence of the Labuh tradition from the role of the community, reasons for preservation, to the benefits of the Labuh tradition. This study used qualitative research methods. The results of this study can be summarized as follows: 1) The Labuh tradition began to emerge and develop in Dusun Kumbo which was initially introduced by Wono Rekso with the initial aim of being a means of salvation after carrying out tripe on the base and then experiencing a shift in function to become salvation before harvest, 2) The symbolic meaning of the Labuh tradition can be seen from the form of objects, prayers, and processions which illustrate that achieving something must be accompanied by sincere intentions and a clean heart, 3) The Dusun Kumbo community plays an important role in relation to the existence of the Labuh tradition until it still exists today
PENERAPAN MODEL PASA (PICTURE AND STUDENT ACTIVE) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 2 PURWOHARJO TAHUN AJARAN 2022/2023 Kharisma Mellanio Putra; Mahfud; Sahru Romadloni; I Kadek Yudiana
Nusantara Hasana Journal Vol. 3 No. 3 (2023): Nusantara Hasana Journal, August 2023
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v3i3.964

Abstract

The PASA learning model (picture and student active) is active learning using pictures. This study aims to determine: (1) Learning Model; (2) Learning outcomes; (3) IPS Learning. This research uses classroom action research methods, so the data used are (1) Qualitative Data, (2) Quantitative Data. Based on the results of observations at school, it is known that the delivery of material during learning by social studies teachers still uses conventional models. Students just sit and listen to the teacher explaining the material, after that work on the LKS. The class atmosphere becomes inactive, students tend to get bored quickly and are lazy to learn so that student scores are low. After implementing the PASA model, there was an increase in learning outcomes based on the results of the students' test scores increasing. Delivering material using the PASA learning model with power point slide media and providing motivation makes students more enthusiastic about learning. The results of this study can be summarized as follows: 1) The results of the pre-cycle reached 69.35% of students who completed the KKM and 30.65% of students who did not complete the KKM, 2) The results of the first cycle of student learning outcomes who completed the KKM reached 70.74 % and the learning outcomes of students who did not complete the KKM reached 29.26%, 3) The results of the second cycle increased and reached the classical completeness target of 87.13% of students who completed the KKM and the learning outcomes of students who did not complete the KKM reached 12.87%.
PERAN NU DALAM MENANGGULANGI KONFLIK SANTET DI KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN 1998 I Kadek Yudiana; Mahfud Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan Untuk: 1) menganalisis menjadi latar belakang terjdinya tragedi dukun santet di Banyuwangi tahun 1998; 2) Peran NU dalam menanggulangi tragedy dukun santet di Kabupaten Banyuwangi tahun 1998. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tahapan, yaitu: 1) penentuan lokasi penelitian, metode penentuan informan, metode pengumpulan data, istrumen penelitian, metode pengujian keabsahan data, dan metode analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Santet tidak dapat dilepaskan dari sejarah terbentuknya komunitas masyarakat suku Osing. Jumlah korban dalam peritiwa ini belum pasti, berasarkan data yang ditemukan terdapat perbedaan, yaitu Data dari KOMPAK atau Komunitas Pencari Keadilan, sebuah tim pencari fakta dari LSM dan tokoh masyarakat Banyuwangi menyebut, korbannya mencapai 174 orang. Sementara, Tim Pencari Fakta Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mencatat ada 147 orang. Sedangkan Pemkab Banyuwangi, 103 orang. Peran NU dalam peristiwa ini ada beberapa analisis yaitu terkait dengan politik Gusdur yang selalu mengkritisi pemerintahan Orba sehingga dalam hal ini NU lebih tepat hanya sebagai korban dari konspirasi tersebut. dalam hal ini NU juga berperan dalam mengumpulkan fakta terkait dengan jumlah korban.
POTRET PEMBELAJARAN SEJARAH PADA ERA NEW NORMAL DI KELAS X IPS MA.AL-QODIRI VIII KELIR Dewi Nurul Rizky; I Kadek Yudiana; I Wayan Mertha
JURNAL SANGKALA Vol 1 No 1 (2022): SANGKALA
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program pendidikan pada dasarnya tidak terlepas dari permasalahan-permasalahan pendidikan yang terjadi selama ini. Permasalahan tersebut dapat menghambat berjalannya proses pembelajaran yang di harapkan dalam pendidikan. Permasalahan pendidikan yang dialami saat ini sedang mengalami masa transisi yang diakibatkan oleh pandemi virus covid-19. Hal tersebut kemudian memberikan dampak terhadap perubahan tatanan pendidikan yang selama ini sudah tersusun. Pendidikan memasuki era new normal setelah pandemi covid-19 berangsur membaik. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan potret pembelajaran sejarah pada era new normal di kelas X IPS MA.Al-Qodiri VIII, pembelajaran era new normal dilakukan tatap muka secara terbatas dengan menyesuaikan kurikulum darurat dengan memperhatikan materi esensial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara, observasi dan studi dokumen. Analisis data dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, reduksi data penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi data, teori, metode, dan peneliti. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) untuk mengetahui proses pembelajaran pada era new normal 2) untuk mengetahui perangkat pembelajaran yang digunakan ada era new normal 3) mendiskrisikan kelebihan dan kelemahan proses pembelajaran pada era new normal. Hasil dari penelitian adalah : 1) proses pembelajaran pada era new normal sudah dilakukan secara tata muka 2) perangkat pembelajaran menggunakan kurikulum darurat dengan materi esensial 3) kelebihan dari proses pembelajaran pada era new normal siswa dapat dipantau secara langsung dan kelemahan proses pembelajaran pada era new normal adanya learning loss pada siswa. Kegiatan pembelajaran tatap muka tetap berlangsung normal meski ketersediaan alokasi waktu terbatas sesuai dengan aturan pemerintah agar pembelajaran tetap berjalan dengan baik.
POTRET PEMBELAJARAN SEJARAH PADA ERA NEW NORMAL KELAS X AKUNTANSI DI SMKN 1 TEGALSARI Septiana Mega Saputri; I Kadek Yudiana; Mahfud Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 1 No 1 (2022): SANGKALA
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan memasuki era new normal setelah adanya pandemi covid-19. Penerapan pembelajaran new normal dilakukan secara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Potret Pembelajaran Sejarah Pada Era New Normal Kelas X Akuntansi di SMKN 1 Tegalsari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangukasi data, teori, peneliti, dan metode. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proses pembelajaran sejarah di era new normal dan mendeskripsikan kelebihan serta kelemahan proses pembelajaran di era new normal. Hasil yang diperoleh dari penelitian yaitu proses pembelajaran sejarah di era new normal yang sudah dilakukan secara tatap muka terbatas dan ditemukannya kelebihan serta kelemahan pembelajaran di era new normal baik dari segi guru maupun siswa.