Claim Missing Document
Check
Articles

HARMONI DALAM KEMULTIKULTURAN DI DESA PANCASILA (POTRET KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA DI DESA SARONGAN, KECAMATAN PESANGGARAN, BANYUWANGI) I Kadek Yudiana; I Wayan Mertha
JURNAL SANGKALA Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk menganalisis latar belakang masyarakat tetap menjaga kerukunan antar umat beragama pada masyarakat multikultur di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, (2) Untuk menganalisis bentuk kerukunan antar umat beragama pada masyarakat multikultur di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, (3) Untuk menganalisis nilai-nilai karakter yang terkandung di dalam kerukunan antar umat beragama pada masyarakat multikultur di Desa Sarongan yang dapat digunakan sebagai karakter dasar untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan langkah-langkah, yakni penentuan lokasi penelitian, metode penentuan informan, metode pengumpulan data, istrumen penelitian, metode pengujian keabsahan data, dan metode analisis data. Hasil penelitian menunjukkan latar belakang kerukunan antarumat beragama di Desa Sarongan dapat dilihat dari perspektif agama Islam tentang toleransi; agama Hindu dengan ajaran Tat Twam Asi, Ahimsa, Tri Hita Karana, dan Desa Kala Patra; agama Kristen dengan ajaran cinta kasihnya. Sedangkan dalam perspektif ajaran agama Budha terdapat ajaran satu adalah semua dan semua adalah satu. Selain kemajemukan dan kemultikulturan masyarakat di Desa Sarongan dapat terjaga berkat keberadaan ideologi pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa. Adapun bentuk kerukunan antarumat beragama pada masyarakat multikultur di Desa Sarongan meliputi: dialog lintas agama maupun etnik dan kerjasama antarumat beragama; meyakini agama sendiri dan menghargai agama orang lain; dan doa bersama. Sedangkan nilai yang terkandung dalam kemultikulturan masyarakat Desa Sarongan meliputi: Nilai Social, Simpati, Toleransi dan Empati, Religious, Nasionalisme, Gotong Royong, Demokrasi, Bersahabat/komunikatif, kecintaan terhadap lingkungan, cinta damai, dan peduli sosial.
ANALISIS LATAR BELAKANG KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA Yudiana, I Kadek Yudiana; Romadloni, Sahru Romadloni
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i1.204

Abstract

Desa patoman merupakan sebuah desa yang terletak di Ujung Timur Pulau Jawa yang terdiri dari berbagai agama dan etnis. Penduduk desa Patoman sangat majemuk dari 5.246 terbagi menjadi 4.084 jiwa atau 82.3 %, beragama Hindu mencapai 860 jiwa atau 17.3 % dan sisanya beragama Kristen sebanyak 8 jiwa, beragama Buda 7 Jiwa. Ditengah ketegangan antar suku, agama, ras, dan etnik yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat ini sangat berbeda dengan Desa Patoman Mampu menjaga Harmonisasi antar suku, rusa, dan agama. Dalam penelitian ini mencoba menganalisis dengan kritis latar belakang kerukunan antar umat beragama yang ada di desa Patoman, Blimbingsari, Banyuwangi. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif analitik kritik dengan tahapan penelitian meliputi penentuan lokasi penelitian, metode penentuan informan, metode pengumpulan data, istrumen penelitian, metode pengujian keabsahan data, dan metode analisis data. Hasil dalam penelitian menunjukkan yang menjadi latar belakang kerukanan antar umat beragama di Desa Patoman, Blimbingsari, Banyuwangi antara lain: 1) Latar belakang Histori; 2) Perkawinan; 3) Ideologi Pancasila; 4) Perspektif ajaran masing-masing agama yang ada di Desa Patoman.
DAMPAK PENUTUPAN LOKALISASI DI KABUPATEN BANYUWANGI (STUDI KASUS PENUTUPAN LOKALISASI PADANGBULAN) Miskawi, Miskawi; Yudiana, I Kadek Yudiana; Mahfud, Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i1.205

Abstract

Setelah penutupan Lokalisasi di Padangbulan, masyarakat sekitar eks-lokalisasi tersebut diperkirakan terkena dampaknya. Dampak yang terjadi pada masyarakat sekitar bisa positif atau pun negatif. Namun, tentu dalam kondisi di mana dampak itu terjadi, masyarakat sekitar akan melakukan adaptasi agar dapat tetap bertahan hidup. tujuan penelitian ini adalah menggambarkan atau mendeskripsikan gambaran umum keadaan masyarakat setempat, mengetahui pandangan masyarakat setempat, menganalisis bentuk-bentuk adaptasi yang terjadi baik pada masyarakat setempat maupun pada eks- WTS, dan memberikan masukan tentang upaya apa yang perlu dilakukan pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi dampak negatif. Penelitian ini menggunakan survei. Survei dipakai sebagai alat untuk mengetahui pandangan sebanyak- banyak masyarakat setempat terhadap penutupan lokaliasi tersebut. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah survei, observasi, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya berkaitan dengan penutupan lokalisasi/resosialisasi Padabulan, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendukung dan kelompok yang tidak mendukung. Sebagian besar anggota kelompok yang tidak mendukung beralasan bahwa penutupan tersebut tidak dibarengi dengan upaya penanggulangan dampak yang akan muncul.
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH Anggaretha, Devi Dian Anggaretha; Widyasari, Riztika Widyasari; Yudiana, I Kadek Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.260

Abstract

Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah kelas X B masih rendah, disebabkan guru monoton menggunakan metode ceramah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Sejarah. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan memberikan tindakan dalam dua siklus pembelajaran yang terdiri dari dua kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2023 . Subyek penelitianya adalah 29 siswa kelas X B MAN 3 Banyuwangi. Hasil belajar kognitif diperoleh dari hasil Test sedangkan hasil belajar afektif diperoleh dari lembar observasi. Hasil penelitian menunjukan hasil belajar kognitif dimana pada siklus I mencapai 40% dengan nilai rata-rata 76.34 yang masih belum mencapai ketuntasan. Persentase tersebut dikategorikan nilai cukup rendah. Karena pada siklus I dinilai cukup rendah, dilakukan penelitian lanjutan di siklus II dimana hasil nilai belajar kognitif dan afektif dinilai meningkat. Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar kognitif pada siklus II meningkat sebanyak 30% menjadi 70% dengan rata-rata nilai 93.10%, dan afektif meningkat 17.25% menjadi 82.75%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam penilaian kognitif maupun afektif pada pembelajaran Sejarah kelas X-B MAN 3 Banyuwangi.
ANALISIS IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI MAN 3 BANYUWANGI Tasya, Agnes Tasya; Widyasari, Riztika Widyasari; Yudiana, I Kadek Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.261

Abstract

Kurikulum merdeka adalah inisiatif pendidikan Indonesia yang bertujuan untuk memberikan lebih banyak kebebasan kepada sekolah dalam merancang pembelajaran sesuai dengan karakter dan kebutuhan peserta didik. Dengan kurikulum  merdeka diharapkan dapat meningkatkan  hasil  motivasi  belajar  siswa  dan  prestasi  akademik.  Tujuan  penelitian  ini untuk  mengetahui  bagai mana  pemahaman  guru  tentang  kurikulum  merdeka,  bagai mana implementasi kurikulum merdeka pada mata pelajaran sejarah di MAN 3 Banyuwangi dan hambatannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yaitu kualitataif deskriptif. dan teknik  pengumpulan  data yang  digunakan  yaitu  observasi,wawancara,  serta  dokumentasi. Data dianalisis dengan cara mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesi mpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan pemahaman guru serta i mplementasi kurikulum merdeka sudah sesuai dengan ketentuan pada kurikulum merdeka dan untuk penerapan kurikulum merdeka pada mata pelajaran sejarah hanya diterapkan pada kelas X dan pada kelas XI yang sudah diterapkan dari awal tahun 2022 dengan baik dan sesuai dengan kurikulum merdeka. Kurikulum dalam pembelajaran sejarah dibagi menjadi dua fase yaitu fase E untuk kelas X dan fase F untuk kelas XI dan pembelajaran sejarah tidak dibagi menjadi sejarah peminatan dan sejarah wajib. Pada kurikulum merdeka pembelajaran ini dirubah menjadi pembelajaran sejarah  saja  dan  dalam  penerapannya  kurikulum  merdeka  pada  MAN  3  Banyuwangi ini menggunakan program projek penguatan profil pelajar pancasila (P5) dan profil pelajar rahmatan lil’alamin (P2RA) yang di mana projek ini sudah dii mplementasikan dengan baik dan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh kementrian agama. Hambatan yang dialami oleh  pihak  sekolah  maupun  peserta  didik  penyesuaian  pembelajaran  berbasis projek  dan pengembangan keterampilan peserta didik.
DINAMIKA SOSIAL DAN BUDAYA DALAM TRADISI METIK PARI Putri, Lidya Putri; Mahfud, Mahfud; Yudiana, I Kadek Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.262

Abstract

Desa Sidodadi merupakan salah satu Desa yang masih melakukan tradisi hingga saat ini salah satunya adalah Metik Pari. Masyarakat Sidodadi juga masih menghargai kebudayaan yang diwariskan oleh leluhur dari jaman dulu hingga saat ini, sehingga tidak dapat dipungkiri juga terdapat masyarakat yang kurang begitu peduli dengan adat istiadat budaya yang sudah ada dari dulu, tradisi ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas kelimpahan hasil panen, dihindarkan dari penyakit dan hama serta menghormati Dewi Sri yang telah menjaga padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejarah, dinamika sosial dan budaya serta nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Metik Pari di Desa Sidodadi Kecamatan Wongsorejo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif berupa studi kasus. Pengumpulan data melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian pertama, dapat diperkirakan sejarah Metik Pari pertama kali dilakukan sejak berdirinya Desa Sidodadi. Kedua, terdapat perubahan yang terjadi dalam pelaksanaan maupun sesajian dalam tradisi Metik Pari. Ketiga, nilai yang terkandung dalam tradisi Metik Pari yaitu nilai ibadah, nilai aqidah, nilai akhlak, nilai sosial, dan nilai budaya. Berdasarkan penelitian, tradisi tersebut memiliki makna sebagai penghubung manusia antara leluhur dan Tuhannya.
ANALISIS PEMBENTUKAN NILAI-NILAI NASIONALISME ANAK USIA DINI DI HOME SCHOLLING PAUD MUTIARA ROGOJAMPI Yudiana, I Kadek; Prabintari, Agista Ajeng; Lausia, Varinia Ainur; Amanda, Yunita; Wulandari, Ratna Wahyu Tri
JURNAL SANGKALA Vol 4 No 1 (2025): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v4i1.581

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembentukan nilai-nilai nasionalisme pada anak usia dini, terutama di tengah tantangan pengaruh sisa-sisa kolonialisme yang masih ada. Anak usia dini merupakan periode emas dalam pembentukan karakter dan identitas, sehingga penanaman nilai-nilai nasionalisme sejak dini menjadi krusial. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana para guru Taman Kanak-kanak (TK) berupaya menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada anak didik mereka dan kendala apa saja yang mereka hadapi, terutama terkait dengan pengaruh sisa-sisa kolonialisme. Metode penelitian ini menggunakan survei dengan kuesioner (Google Form) yang disebarkan kepada guru-guru TK. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru TK/PAUD berupaya secara aktif menanamkan nilai-nilai nasionalisme melalui berbagai metode, seperti bercerita tentang pahlawan nasional, menyanyikan lagu-lagu nasional, dan kegiatan seni budaya. Metode-metode ini dinilai cukup efektif dalam membentuk nilai-nilai nasionalisme pada anak usia dini. Namun, para guru juga menghadapi beberapa kendala. Salah satu kendala utama adalah pengaruh negatif dari media sosial dan kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar. Beberapa guru juga mengamati adanya pengaruh sisa-sisa kolonialisme yang menghambat pembentukan nilai-nilai nasionalisme pada anak didik. Pengaruh ini terlihat dalam kurangnya pemahaman anak-anak tentang nilai-nilai nasionalisme dan penerimaan mereka terhadap nilai-nilai tersebut. Kesimpulannya, penelitian ini menyimpulkan bahwa pembentukan nilai-nilai nasionalisme pada anak usia dini merupakan tugas yang kompleks dan membutuhkan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk guru, orang tua, dan masyarakat. Diperlukan strategi yang lebih efektif untuk menangkal pengaruh sisa-sisa kolonialisme dan memperkuat pembentukan nilai-nilai nasionalisme pada anak usia dini, seperti meningkatkan kolaborasi antara guru dan orang tua, serta memberikan pendidikan yang lebih komprehensif tentang sejarah dan budaya Indonesia kepada anak-anak.
RECONSTRUCTION OF THE IDENTITY OF FEMALE FEMALE DANCERS IN 1975-2022: REKONSTRUKSI IDENTITAS PEREMPUAN PENARI GANDRUNG PADA TAHUN 1975-2022 R. Prana Puri Arisandi; Mahfud; I kadek Yudiana
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 7 No 2 (2023): Santhet : Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v7i2.3006

Abstract

Dalam perkembangannya penari gandrung perempuan terus menerus mendapat berbagai stereotype. Penilaian individu mengenai karakteristik dalam suatu kelompok yang bisa bersifat positif atau negatif. Namun kebanyakan stereotip atau stigma kepada para penari gandrung perempuan justru bersifat negatif. Hal ini dapat diketahui dari seringnya terdapat sindiran dan dianggap melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Serta sering kali menerima perlakuan tidak baik secara verbal maupun non verbal. Sehingga berdampak buruk bagi para penari gandrung perempuan itu sendiri. Berdasarkan masalah yang diangkat dalam penelitian ini, maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Dengan jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sejarah dan etnografi. Penelitian ini juga menggunakan teknik purposive sampling karena peneliti yakin bahwa sampel yang diambil lebih mengetahui masalah sedang diteliti. Diketahui para penari Gandrung mendapatkan perspektif negatif dari sebagian masyarakat yang sering dikaitkan dengan seorang penghibur. Hal tersebut lambat laun sudah berubah seiring berkembangnya Pariwisata di Banyuwangi yang membuat tari Gandrung menjadi sebuah kesenian dan bukan sekedar hiburan. Dapat diketahui Rekontruksi Identitas dari penari Gandrung berubah semenjak Tari Gandrung sering ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan ataupun sebagai sebuah kesenian yang harus terus dilestarikan
Meras Gandrung Tradition as a Cultural Strategy for the Regeneration of Gandrung Dancers in Banyuwangi: Tradisi Meras Gandrung Sebagai Strategi Budaya Untuk Regenerasi Penari Gandrung Di Banyuwangi Mahfud; Mutiara Cahya Ayuning Tyas; I Kadek Yudiana
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 8 No 1 (2024): Santhet : Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v8i1.3678

Abstract

Gandrung is one of the works of art that became a means to express the inner state of Banyuwangi people during the Dutch era, Gandrung became an important icon. This is why the regeneration of Gandrung dancers is very important, requiring a strategy to attract the sympathy of the younger generation regarding the Meras Gandrung tradition. The purpose of this research is to be an important contribution to the development of effective cultural strategies, bridging the gap between tradition and the times, and ensuring the continuity of a cultural heritage that is very valuable to the people of Banyuwangi. The form of this research is descriptive qualitative. The theory used is the theory of cultural inheritance by Edward T. Hall. Data collection techniques using interviews, observations, and document studies. The results of the research show that the existing strategy is an important movement so that students or even the general public know that to become a Gandrung must go through the Meras Gandrung Tradition, the infrastructure created by the government is an important forum for Gandrung maestros and fairies to convey the meaning of Gandrung, besides that the Meras Gandrung Performance is an important strategy because it involves young Banyuwangi dancer students to know the process and meaning of Gandrung. This can be studied using the theory of cultural inheritance according to Edward T. Hall, in his theory of cultural inheritance, emphasizes the importance of the cultural level dimension. He understands that the values, norms and communication patterns of a culture can be passed on and maintained through generations. His concept of cultural level dimensions includes differences in such things as perceptions of time, interpersonal space, and ways of communicating, all of which contribute to how culture is passed on and continues in a society.
HISTORY OF BANYUWANGI KALIKLATAK PLANTATION AND ITS IMPACT ON SURROUNDING COMMUNITIES Mahfud, Mahfud; Yudiana, I Kadek; Sariyanto, Sariyanto
International Journal of Educational Review, Law And Social Sciences (IJERLAS) Vol. 3 No. 1 (2023): January
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/ijerlas.v3i1.492

Abstract

The purpose and object of this paper is a relationship between the existence of the Kaliklatak plantation, as a European plantation, and its impact on the people of Onderafdeeling Kaliklatak during the colonial period 1900-1942. The method used in this study is a historical method to reconstruct the history of plantations and their impact on community development in Onderafdeeling Kaliklatak. The data collection technique used refers to the first stage in the historical method, namely the heuristic process, searching for and collecting historical sources. Data analysis techniques relate to the second, third and fourth stages in the historical method which include source criticism, interpretation and historiography. Based on research results and conclusions, then the opening of coffee and rubber plantations during the colonial era in Onderafdeeling Kaliklatak is very much related to the natural condition of this area and also to changes in colonial politics, open the door. The first company to expand was NV Maatschappij owned by van E. Moormann&Co, producing the main crop of Robusta coffee which is in high demand worldwide. The relevance of opening large plantations to the people of Onderafdeeling Kaliklatak can be seen in several ways. First, there is a change in the position of local elites as landlords close to the colonial. Second, helping to create "improvement" of community infrastructure facilities and infrastructure around the Kaliklatak plantation. Third, encourage the development of economic activities and have an extraordinary impact on the surrounding community. Fourth, the large number of connecting road builders for the purpose of transporting coffee and rubber products has a broad and profound impact on traditional community patterns, not only for the people around the plantations but also for aspects of life in Banyuwangi. The creation of assimilation was due to a change in the orientation of their thoughts because their areas began to open up from the influence of the outside world.