Claim Missing Document
Check
Articles

DINAMIKA TARI GANDRUNG SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN KESENIAN DI ERA MILENIAL I Kadek Yudiana; Firdina Istiqomah
JURNAL SANGKALA Vol 1 No 1 (2022): SANGKALA
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gandrung merupakan salah satu seni tari tradisional kahas Kabupaten Banyuwangi. Tari Gandrung merupakan perkembangan dari tari Seblang. Terdapat beberapa instrumen unsur-unsur gamelan yang digunakan untuk iringan musik Gandrung Banyuwangi, antara lain: kendang, kethuk, kempul, gong, kluncing (triangle), angklung dan saron. Dalam perkembangannya, biola dimasukkan sebagai tambahan musik iringan dalam seni pertunjukan Gandrung bersama dengan masuknya kebudayaan Barat yang dibawa pada masa kolonial Belanda. Tari Gandrung telah berubah karena kekuatan pengetahuan yang terus menerus dihasilkan oleh Tokoh agama Islam pada tari Gandrung kemudian menyebabkan tarian ini mengalami perubahan dalam berbagai aspek: perubahan penari dari laki-laki menjadi perempuan, perubahan lagu, perubahan panggung paju dan perubahan terakhir dalam tari gandrung adalah ganti pakaian. Dampak positif dari seni ini menjadi lebih santun dan tertutup dari segi penampilan sedangkan dampak negatifnya adalah hilangnya nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal yang terkandung dalam tari tari gandrung. Seni tradisional sangat rentan terhadap modernisasi dan pengaruh perkembangan global. Berbagai upaya dilakukan sebagai bentuk pelestarian aset budaya lokal ini.
POTRET PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS BLENDED LEARNING (STUDI KASUS PADA SISWA KELAS X SMAN DARUSSHOLAH SINGOJURUH) Dewi Utami; I Kadek Yudiana; Mahfud Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran Blended Learning merupakan pola pembelajaran baru untuk memperbaiki pendidikan. Pembelajaran blended learning ini diterapkan dalam pola pembelajaran daring dan pembelajaran tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang potret pembelajaran berbasis blended learning pada siswa kelas X di SMAN Darussohlah Singojuruh dilihat dari analisis proses pembelajarannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode penelitian kualitatif deskriptif. Sumber Data dalam penelitian ini yaitu informan, dokumen, dan tempat penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan Observasi, Wawancara, dan Studi Dokumen. Teknik Uji Validitas Data penelitian ini yaitu triangulasi data, teori, metode, dan penelitian. Teknik Analisis Data penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk proses pembelajaran blended learning di SMAN Darussholah Singojuruh 2) mengetahui hambatan yang terjadi dalam proses pembelajaran blended learning di SMAN Darussholah Singojuruh. Hasil dari penelitian ini adalah 1) mengetahui proses pembelajaran blended learning di SMAN Darussholah Singojuruh 2) mengetahui hambatan dalam proses pembelajaran blended learning di SMAN Darussholah Singojuruh.
HARMONI DALAM KEMULTIKULTURAN DI DESA PANCASILA (POTRET KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA DI DESA SARONGAN, KECAMATAN PESANGGARAN, BANYUWANGI) I Kadek Yudiana; I Wayan Mertha
JURNAL SANGKALA Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk menganalisis latar belakang masyarakat tetap menjaga kerukunan antar umat beragama pada masyarakat multikultur di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, (2) Untuk menganalisis bentuk kerukunan antar umat beragama pada masyarakat multikultur di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, (3) Untuk menganalisis nilai-nilai karakter yang terkandung di dalam kerukunan antar umat beragama pada masyarakat multikultur di Desa Sarongan yang dapat digunakan sebagai karakter dasar untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan langkah-langkah, yakni penentuan lokasi penelitian, metode penentuan informan, metode pengumpulan data, istrumen penelitian, metode pengujian keabsahan data, dan metode analisis data. Hasil penelitian menunjukkan latar belakang kerukunan antarumat beragama di Desa Sarongan dapat dilihat dari perspektif agama Islam tentang toleransi; agama Hindu dengan ajaran Tat Twam Asi, Ahimsa, Tri Hita Karana, dan Desa Kala Patra; agama Kristen dengan ajaran cinta kasihnya. Sedangkan dalam perspektif ajaran agama Budha terdapat ajaran satu adalah semua dan semua adalah satu. Selain kemajemukan dan kemultikulturan masyarakat di Desa Sarongan dapat terjaga berkat keberadaan ideologi pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa. Adapun bentuk kerukunan antarumat beragama pada masyarakat multikultur di Desa Sarongan meliputi: dialog lintas agama maupun etnik dan kerjasama antarumat beragama; meyakini agama sendiri dan menghargai agama orang lain; dan doa bersama. Sedangkan nilai yang terkandung dalam kemultikulturan masyarakat Desa Sarongan meliputi: Nilai Social, Simpati, Toleransi dan Empati, Religious, Nasionalisme, Gotong Royong, Demokrasi, Bersahabat/komunikatif, kecintaan terhadap lingkungan, cinta damai, dan peduli sosial.
ANALISIS LATAR BELAKANG KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA I Kadek Yudiana Yudiana; Sahru Romadloni Romadloni
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i1.204

Abstract

Desa patoman merupakan sebuah desa yang terletak di Ujung Timur Pulau Jawa yang terdiri dari berbagai agama dan etnis. Penduduk desa Patoman sangat majemuk dari 5.246 terbagi menjadi 4.084 jiwa atau 82.3 %, beragama Hindu mencapai 860 jiwa atau 17.3 % dan sisanya beragama Kristen sebanyak 8 jiwa, beragama Buda 7 Jiwa. Ditengah ketegangan antar suku, agama, ras, dan etnik yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat ini sangat berbeda dengan Desa Patoman Mampu menjaga Harmonisasi antar suku, rusa, dan agama. Dalam penelitian ini mencoba menganalisis dengan kritis latar belakang kerukunan antar umat beragama yang ada di desa Patoman, Blimbingsari, Banyuwangi. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif analitik kritik dengan tahapan penelitian meliputi penentuan lokasi penelitian, metode penentuan informan, metode pengumpulan data, istrumen penelitian, metode pengujian keabsahan data, dan metode analisis data. Hasil dalam penelitian menunjukkan yang menjadi latar belakang kerukanan antar umat beragama di Desa Patoman, Blimbingsari, Banyuwangi antara lain: 1) Latar belakang Histori; 2) Perkawinan; 3) Ideologi Pancasila; 4) Perspektif ajaran masing-masing agama yang ada di Desa Patoman.
DAMPAK PENUTUPAN LOKALISASI DI KABUPATEN BANYUWANGI (STUDI KASUS PENUTUPAN LOKALISASI PADANGBULAN) Miskawi Miskawi; I Kadek Yudiana Yudiana; Mahfud Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i1.205

Abstract

Setelah penutupan Lokalisasi di Padangbulan, masyarakat sekitar eks-lokalisasi tersebut diperkirakan terkena dampaknya. Dampak yang terjadi pada masyarakat sekitar bisa positif atau pun negatif. Namun, tentu dalam kondisi di mana dampak itu terjadi, masyarakat sekitar akan melakukan adaptasi agar dapat tetap bertahan hidup. tujuan penelitian ini adalah menggambarkan atau mendeskripsikan gambaran umum keadaan masyarakat setempat, mengetahui pandangan masyarakat setempat, menganalisis bentuk-bentuk adaptasi yang terjadi baik pada masyarakat setempat maupun pada eks- WTS, dan memberikan masukan tentang upaya apa yang perlu dilakukan pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi dampak negatif. Penelitian ini menggunakan survei. Survei dipakai sebagai alat untuk mengetahui pandangan sebanyak- banyak masyarakat setempat terhadap penutupan lokaliasi tersebut. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah survei, observasi, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya berkaitan dengan penutupan lokalisasi/resosialisasi Padabulan, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendukung dan kelompok yang tidak mendukung. Sebagian besar anggota kelompok yang tidak mendukung beralasan bahwa penutupan tersebut tidak dibarengi dengan upaya penanggulangan dampak yang akan muncul.
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH Devi Dian Anggaretha Anggaretha; Riztika Widyasari Widyasari; I Kadek Yudiana Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.260

Abstract

Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah kelas X B masih rendah, disebabkan guru monoton menggunakan metode ceramah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Sejarah. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan memberikan tindakan dalam dua siklus pembelajaran yang terdiri dari dua kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2023 . Subyek penelitianya adalah 29 siswa kelas X B MAN 3 Banyuwangi. Hasil belajar kognitif diperoleh dari hasil Test sedangkan hasil belajar afektif diperoleh dari lembar observasi. Hasil penelitian menunjukan hasil belajar kognitif dimana pada siklus I mencapai 40% dengan nilai rata-rata 76.34 yang masih belum mencapai ketuntasan. Persentase tersebut dikategorikan nilai cukup rendah. Karena pada siklus I dinilai cukup rendah, dilakukan penelitian lanjutan di siklus II dimana hasil nilai belajar kognitif dan afektif dinilai meningkat. Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar kognitif pada siklus II meningkat sebanyak 30% menjadi 70% dengan rata-rata nilai 93.10%, dan afektif meningkat 17.25% menjadi 82.75%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam penilaian kognitif maupun afektif pada pembelajaran Sejarah kelas X-B MAN 3 Banyuwangi.
ANALISIS IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI MAN 3 BANYUWANGI Agnes Tasya Tasya; Riztika Widyasari Widyasari; I Kadek Yudiana Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.261

Abstract

Kurikulum merdeka adalah inisiatif pendidikan Indonesia yang bertujuan untuk memberikan lebih banyak kebebasan kepada sekolah dalam merancang pembelajaran sesuai dengan karakter dan kebutuhan peserta didik. Dengan kurikulum  merdeka diharapkan dapat meningkatkan  hasil  motivasi  belajar  siswa  dan  prestasi  akademik.  Tujuan  penelitian  ini untuk  mengetahui  bagai mana  pemahaman  guru  tentang  kurikulum  merdeka,  bagai mana implementasi kurikulum merdeka pada mata pelajaran sejarah di MAN 3 Banyuwangi dan hambatannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yaitu kualitataif deskriptif. dan teknik  pengumpulan  data yang  digunakan  yaitu  observasi,wawancara,  serta  dokumentasi. Data dianalisis dengan cara mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesi mpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan pemahaman guru serta i mplementasi kurikulum merdeka sudah sesuai dengan ketentuan pada kurikulum merdeka dan untuk penerapan kurikulum merdeka pada mata pelajaran sejarah hanya diterapkan pada kelas X dan pada kelas XI yang sudah diterapkan dari awal tahun 2022 dengan baik dan sesuai dengan kurikulum merdeka. Kurikulum dalam pembelajaran sejarah dibagi menjadi dua fase yaitu fase E untuk kelas X dan fase F untuk kelas XI dan pembelajaran sejarah tidak dibagi menjadi sejarah peminatan dan sejarah wajib. Pada kurikulum merdeka pembelajaran ini dirubah menjadi pembelajaran sejarah  saja  dan  dalam  penerapannya  kurikulum  merdeka  pada  MAN  3  Banyuwangi ini menggunakan program projek penguatan profil pelajar pancasila (P5) dan profil pelajar rahmatan lil’alamin (P2RA) yang di mana projek ini sudah dii mplementasikan dengan baik dan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh kementrian agama. Hambatan yang dialami oleh  pihak  sekolah  maupun  peserta  didik  penyesuaian  pembelajaran  berbasis projek  dan pengembangan keterampilan peserta didik.
DINAMIKA SOSIAL DAN BUDAYA DALAM TRADISI METIK PARI Lidya Putri Putri; Mahfud Mahfud; I Kadek Yudiana Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.262

Abstract

Desa Sidodadi merupakan salah satu Desa yang masih melakukan tradisi hingga saat ini salah satunya adalah Metik Pari. Masyarakat Sidodadi juga masih menghargai kebudayaan yang diwariskan oleh leluhur dari jaman dulu hingga saat ini, sehingga tidak dapat dipungkiri juga terdapat masyarakat yang kurang begitu peduli dengan adat istiadat budaya yang sudah ada dari dulu, tradisi ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas kelimpahan hasil panen, dihindarkan dari penyakit dan hama serta menghormati Dewi Sri yang telah menjaga padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejarah, dinamika sosial dan budaya serta nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Metik Pari di Desa Sidodadi Kecamatan Wongsorejo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif berupa studi kasus. Pengumpulan data melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian pertama, dapat diperkirakan sejarah Metik Pari pertama kali dilakukan sejak berdirinya Desa Sidodadi. Kedua, terdapat perubahan yang terjadi dalam pelaksanaan maupun sesajian dalam tradisi Metik Pari. Ketiga, nilai yang terkandung dalam tradisi Metik Pari yaitu nilai ibadah, nilai aqidah, nilai akhlak, nilai sosial, dan nilai budaya. Berdasarkan penelitian, tradisi tersebut memiliki makna sebagai penghubung manusia antara leluhur dan Tuhannya.
Pura Dharma Yanti di Desa Sumberbulu, Songgon, Banyuwangi (Studi tentang Sejarah, Struktur dan Fungsi Pura) Bachtiar, Adzam; Yudiana, I kadek; Mertha, I Wayan; Mahfud, Mahfud
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v5i2.4416

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Sumberbulu, Songgon, Banyuwangi yang bertujuan untuk mengetahui :(1) Sejarah Pura Dharma Yanti; (2) Struktur Pura Dharma Yanti; (3) Fungsi Pura Dharma Yanti. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah yang dilakukan (1) Heuristik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen), (2) Kritik sumber, (3) Interpretasi dan (4) Historiografi penulisan sejarah. Berdasarkan temuan di lapangan Pura Dharma Yanti merupakan Pura pecahan dari Pura Dewata agung. Sebelum Pura Dharma Yanti di bangun, umat Hindhu yang bersembahyang di Pura Dharma Yanti masih ikut bersembahyang di Pura Dewata Agung. Pada tahun 2011 umat Hindhu yang berdomisili Sumberbulu sepakat untuk membangun Pura sendiri, hingga akhirnya pada tahun 2012 Pura Dharma Yanti di resmikan dan di pangku oleh bapak Sukaji anak kandung dari pemangku pertama Pura Dewata Agung. Struktur Pura Dewata Agung menggunakan konsep Dwi Mandala yang mana konsep ini membagi bagian Pura menjadi dua bagian yaitu Nista Mandala dan Utama Mandala. Fungsi Pura Dewata Agung dibagi menjadi tiga yakni, (1) Fungsi Religius; Pura merupakan tempat suci untuk memuja tuhan dengan berbagai manifestasinya sehingga pura merupakan tempat paling utama untuk melangsungkan aktifitas keagamaan (2) Fungsi Pendidikan; belajar membuat banten, penjor dan perlengkapan upacara lainnya yang dibuat oleh kaum laki-laki maupun perempuan. Pura Dharma Yanti juga digunakan sebagai tempat pendidikan persantian dan juga pendidikan agama pasraman (3) Fungsi Sosial; Pura Dharma Yanti digunakan sebagai tempat musyawarah masyarakat yang ada disekitar pura, selain itu juga digunakan sebagai tempat untuk menjadikan perekat solidaritas sosial dengan berinteraksi sosial melalui rapat ataupun musyawarah yang dilakukan di Pura Dharma Yanti (4) Fungsi Ekonomi; ketika ada acara penting masyarakat memanfaatkannya untuk berjualan (5) Fungsi Budaya; Pura Dharma Yanti, setiap adanya upacara keagamaan di dalam pura masyarakat mengadakan atau memainkan alat musik tradisional yaitu ble ganjur.
PORTRAIT OF POST PANDEMI HISTORY LEARNING AT SMAN 1 BANYUPUTIH IN THE 2021/2022 ACADEMIC YEAR: POTRET PEMBELAJARAN SEJARAH PASCA PANDEMI DI SMAN 1 BANYUPUTIH PADA TAHUN PEMBELAJARAN 2021/2022 Putri Fiska Fiyanti; I Kadek Yudiana; Mahfud
SOSIOEDUKASI Vol 12 No 2 (2023): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v12i2.3007

Abstract

This research was carried out with the aim of knowing learning during the pandemic and post-pandemic, especially to find out what strategies were applied in learning methods, using learning media and using learning resources. This research method uses qualitative methods and the type of research is a case study. The data collection methods used were observation, interviews and document studies. The results of this study are that history teachers at SMA Negeri 1 Banyuputih have implemented innovative learning as a strategy for dealing with teaching and learning activities during a pandemic and post-pandemic. By using various models and learning methods. The learning methods used are the Discovery Learning and Problem Blased Learning methods. The learning media used are media images, photos, PowerPoint and short video films. The learning resources used include sources from other books, the internet and discussions that are appropriate to the learning material.