Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Penetapan Harga Swab Antigen oleh Penyedia Jasa Swab di Area Pelabuhan Gilimanuk Mutia Rahma Maulida; Dwi Fidhayanti, S.HI., M.H.
Jurnal Persaingan Usaha Vol 2 No 1 (2022): Jurnal Persaingan Usaha
Publisher : Komisi Pengawas Persaingan Usaha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55869/kppu.v3i-.49

Abstract

This study aims to examine more deeply the pricing carried out by clinic service providers in the Gilimanuk area by using the views of Law No. 5 of 1999 concerning Prohibition of Monopoly Practices and Unfair Business Competition. This research is empirical juridical research and using a sociological juridical approach, the data collected is primary and secondary data with data collection methods through observation, interviews, and documentation studies. This research in data processing and analysis goes through several stages: Editing, Classifying, Analyzing, and Verification. Pricing below the market price that is only done by a certain group of swab service providers causes losses and even the closure of competitor swab clinic businesses, although setting prices is the freedom of each company but according to Article 20 of the Law. No. 5 of 1999, the act of pricing below market prices does not need to be based on an agreement to prove legal or illegal, because the truth can be seen from the economic influence that has been compiled in a rule of reason, it is verified until the determination of prices destroys the market and seeks to eliminate its competitors at below prices in general. Keywords: Pricing, Antimonopoly Law, Antigen Swab.
RIBA AND GHARAR ON DIGITAL PAYMENT APPLICATIONS: Comparison Between Malaysia And Indonesia Mohd Shahid bin Moch Noh; Dwi Fidhayanti
Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah Vol 13, No 1 (2022): Jurisdictie
Publisher : Fakultas Syariah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/j.v13i1.16131

Abstract

Malaysia and Indonesia have muslim-majority population, encourage the financial sector to provide services that is in line with sharia, including digital payment instruments. This study aims to compare riba and gharar on digital payment applications in Malaysia and Indonesia. This research is normative juridical research with conceptual and comparative approaches. The main part of the focus, first, Securities Commission Malaysia has divided digital currencies into two categories, namely digital currencies based on technology without underlying assets and the ones based on riba goods. For the former currencies, it is categorized as urudh and is not considered a currency from sharia point of view, nor it is a riba commodity. Second, Based on Islamic law, the use of digital payment applications between Malaysia and Indonesia is permissible. Riba issues can occur if the floating funds stored at the service provider are used improperly. Floating funds should not get any additional to avoid riba. Lucky draws and lottery given after doing top-up are riba because of the uncertainty. Digital payments are developing both in Malaysia and Indonesia so this research can provide an overview of the differences between riba and gharar in digital payment instruments in both countries and it’s law.Malaysia dan Indonesia, negara dengan populasi mayoritas muslim, mendorong sektor keuangan untuk menyediakan layanan yang tidak bertentangan dengan syariah, termasuk alat pembayaran digital. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbandingan riba dan gharar pada aplikasi pembayaran digital di Malaysia dan Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan perbandingan. Bagian utama dari focus pertama, Keamanan Malaysia telah membagi mata uang digital menjadi dua kategori, yaitu mata uang digital berdasarkan teknologi tanpa aset dasar dan mata uang digital berdasarkan barang riba. Untuk mata uang tanpa aset dasar, mata uang dalam bentuk ini dikategorikan sebagai urudh dan tidak dianggap sebagai mata uang dari sudut pandang syariah, juga bukan komoditas riba. Kedua, berdasarkan hukum Islam penggunaan aplikasi pembayaran digital antara Malaysia dan Indonesia adalah sama, yaitu boleh. Isu riba dapat terjadi jika dana float yang disimpan di penyedia layanan digunakan tidak sebagaimana mestinya. Dana float tidak boleh mendapatkan tambahan apapun agar terhindar dari riba. Lucky draw dan undian yang diberikan setelah melakukan top-up merupakan gharar karena ketidakpastiannya. Pembayaran digital sedang berkembang baik di Malaysia maupun Indonesia sehingga penelitian ini dapat memberikan gambaran perbedaan riba dan gharar dalam alat pembayaran digital dikedua negara, letak riba dan ghararnya serta hukumnya.
The Principle of Mabda' Ar-Rada'iyyah in Land Purchase Agreements with Fraud Elements in State Court Judgment Number 12/Pdt.G/2017/PN.Mlg Dwi Fidhayanti; Illa Miftachul Jannah
El-Mashlahah Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/el-mashlahah.v12i2.4133

Abstract

Court Judgment Number 12/Pdt.G/2017/PN.Mlg became a decision on Kartono's request to cancel the land sale and purchase agreement because it contained elements of fraud. The purpose of this study is to analyze the principle of mabda' ar-rada'iyyah in the land sale and purchase agreement with an element of fraud in Court Judgment Number 12/Pdt.G/2017/PN.Mlg. Types of normative juridical research with a statutory approach and a case approach. Primary, secondary and tertiary legal materials are analyzed using descriptive qualitative methods. The results of this study indicate that based on the request for annulment of the agreement submitted by Kartono which was granted by the Panel of Judges, it resulted in the cancellation of the land sale and purchase agreement and returned to the original owner, namely Kartono. The agreement violated subjective requirements because the sale and purchase contained elements of persuading, influencing, and deceiving or using false prestige towards Kartono during the land purchase process. This agreement does not fulfill the principle of mabda' ar-rada'iyyah, because the agreement/will to enter into the agreement was given on the basis of an element of fraud committed by the buyer, causing the agreement to be void/invalid.Court Judgment Number 12/Pdt.G/2017/PN.Mlg became a decision on Kartono's request to cancel the land sale and purchase agreement because it contained elements of fraud. The purpose of this study is to analyze the principle of mabda' ar-rada'iyyah in the land sale and purchase agreement with an element of fraud in Court Judgment Number 12/Pdt.G/2017/PN.Mlg. Types of normative juridical research with a statutory approach and a case approach. Primary, secondary and tertiary legal materials are analyzed using descriptive qualitative methods. The results of this study indicate that based on the request for annulment of the agreement submitted by Kartono which was granted by the Panel of Judges, it resulted in the cancellation of the land sale and purchase agreement and returned to the original owner, namely Kartono. The agreement violated subjective requirements because the sale and purchase contained elements of persuading, influencing, and deceiving or using false prestige towards Kartono during the land purchase process. This agreement does not fulfill the principle of mabda' ar-rada'iyyah, because the agreement/will to enter into the agreement was given on the basis of an element of fraud committed by the buyer, causing the agreement to be void/invalid.
PERTAMBANGAN MINYAK BUMI MENURUT UU NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG HUKUM LINGKUNGAN HIDUP DAN FIQH LINGKUNGAN (Studi Di Desa Kedung Banteng, Kec. Tanggulangin, Kab. Sidoarjo) MUHAMMAD FAKHRUL AULIYAK; dwi fidhayanti
Journal of Islamic Business Law Vol 6 No 1 (2022): Journal of Islamic Business Law
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme pengeboran minyak bumi di Desa Kedung Banteng menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Hukum Lingkungan Hidup dan Fiqh Lingkungan. Jenis penelitian yang digunakan yakni penelitian empiris dengan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis data dengan melakukan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah penambangan minyak dan gas bumi yang berada di Desa Kedung Banteng, Kec. Tanggulangin, Kab. Sidoarjo Tinjauan UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Hukum Lingkungan Hidup yaitu melihat dari aspek perizinan dari tahun 2011 sampai dengan 2015 pertambangan yang dilakukan PT. Minarak Lapindo Brantas sudah berlagalitas secara hukum. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 188 Pada Tanggal 23 Oktober 2015 yang bertanda tangan oleh Bupati Saiful Ilah. Berdasarkan tinjauan Fiqh Lingkungan baik dilihat dari hukum syariah dan ghairu syar’iyah maka, Pertambangan Minyak dan Gas Bumi menimbulkan banyak kerusakan terhadap lingkungan seperti jalan rusak dan berdebu, banjir, pencemaran air (berbau gas), serta penurunan tanah. Berdasarkan fakta di lapangan perlunya peninjauan kembali oleh Pemerintah Daerah Sidoarjo atas dampak yang ditimbukan dari pengeboran minyak dan gas bumi baik menurut UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Hukum Lingkungan Hidup dan Fiqh Lingkungan.
Ratio Decidendi Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Terkait Onrechmatige Daad Penyalahgunaan Hak Atas Tanah dengan Akta Nominee (Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 321 K/Pdt/2017) Ulfa Ryan Rahmawati; Dwi Fidhayanti; Kurniasih Bahagiati
Journal of Islamic Business Law Vol 6 No 1 (2022): Journal of Islamic Business Law
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memfokuskan pada ratio decidendi dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 321 K/Pdt/2017. Dalam pertimbangannya, hakim memiliki beberapa alasan atau argumentasi untuk dijadikan dasar dalam memutus perkara. Alasan atau argumentasi hakim merupakan syarat ratio decidendi sebagaimana tercantum dalam Pasal 50 Undang-Undang No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam penelitian ini, sengketa yang terjadi dalam Putusan Mahakamah Agung No. 321 K/Pdt/2017 akan ditinjau dari hukum Islam terkait hak kepemilikan tanah dan perjanjian. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi kepustakaan yang kemudian dianalisis dengan peraturan perundang-undangan terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 321 K/Pdt/2017 menguatkan putusan pada tngkat Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi dalam menetapkan Perbuatan Melawan Hukum, serta akibat hukum yang timbul telah sesuai dengan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam tinjauan hukum Islam, perjanjian yang dilaksanakan juga tidak memenuhi beberapa asas perjanjian dalam hukum Islam.
Akad Sewa Menyewa Kamar Kos Melalui Aplikasi Mamikos Jeffry Aditya; Dwi Fidhayanti
Journal of Islamic Business Law Vol 6 No 2 (2022): Journal of Islamic Business Law
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola transaksi yang merespon perkembangan teknologi dapat berimbas pada perjanjian sewa menyewa kamar kos melalui pihak ketiga disebut perantara. Namun saat terjadinya transaksi terdapat kejanggalan terkait perbedaan harga di aplikasi Mamikos dengan kenyataan langsung sehingga menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak. Metode penelitian ini menggunakan penelitian empiris yaitu penelitian lapangan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sewa menyewa melalui Mamikos terdapat ketidaksesuaian harga sehingga mengandung unsur gharar yang dapat merugikan calon penyewa kamar kos dan menyimpang dalam Fatwa DSN MUI Nomor 93/DSN-MUI/2014 tentang Keperantaraan (Wasathah) dalam bisnis properti. Maka dari iu transaksi yang memberikan informasi tidak benar dapat menjadi tidak sah akibat unsur dharar yang bertentangan dengan hukum Islam. Di sisi lain, hubungan hukum diantara calon penyewa kos dengan pemilik kos diwujudkan dengan akad Ju’alah sebagai perjanjian mengikat sebagaimana diatur dalam Fatwa DSN MUI Nomor 62/DSN-MUI/XII/2017 tentang akad Ju’alah.
Musyawarah Ahli Waris Dalam Pelimpahan Nomor Porsi Calon Jamaah Haji Yang Meninggal Dunia Perspektif Maqashid Syariah Ratna Indah Febriyaningsih; Dwi Fidhayanti
Journal of Islamic Business Law Vol 6 No 2 (2022): Journal of Islamic Business Law
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelimpahan nomor porsi calon jamaah haji yang meninggal dunia sebagai harta warisan dilakukan musyawarah untuk menghindari konflik keluarga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan musyawarah dalam pelimpahan nomor porsi calon jamaah haji yang meninggal dunia perspektif Maqashid Syariah. Penelitian ini merupakan penelitian empiris dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh diolah menggunakan metode editing, klasifikasi, analisis data, dan konklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musyawarah dalam pelimpahan nomor porsi di Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah Makkah Madinah Kota Pasuruan dilakukan untuk menentukan penerima porsi haji. Pelaksanaan musyawarah mampu menciptakan kemaslahatan bagi seluruh ahli waris sesuai prinsip musyawarah dalam Al-Qur’an. Pada tinjauan Maqashid Syariah, musyawarah dalam pelimpahan nomor porsi menjadi alternatif menjaga jiwa untuk tidak saling melukai. Musyawarah tersebut juga menjaga harta agar tidak dikuasai oleh salah satu ahli waris saja. Hal ini sesuai dengan unsur hifdz al-nafs dan hifdz al-mal.
Pelanggaran Terhadap Karya Sinematografi Pada Aplikasi Telegram Perspektif Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Dan Fatwa MUI Nomor 1/Munas VII/MUI/5/2005 Mardiatul Hayati; Dwi Fidhayanti
Journal of Islamic Business Law Vol 6 No 2 (2022): Journal of Islamic Business Law
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelanggaran terhadap karya sinematografi pada aplikasi telegram berdasarkan UUHC dan Fatwa MUI serta upaya apa saja yang telah dilakukan pemerintah dan pihak telegram untuk mencegah terjadinya pelanggaran terhadap karya sinematografi pada aplikasi telegram. Penelitian ini merupakan penelitian empiris (yuridis empiris), metode pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara. Data penelitian lapangan kemudian dianalisis menggunakan UUHC dan Fatwa MUI. Hasil dari penelitian adalah (1)Beberapa channel pada aplikasi Telegram melakukan sharing film/series. Pihak dari Telegram sudah melakukan berbagai upaya yakni dengan melakukan take down terhadap film/series yang mengandung Hak Cipta. Akan tetapi sampai sekarang belum ada efek jera dari setiap pengguna aplikasi telegram. Sehingga apabila ditinjau dalam perspektif UUHC praktik sharing film/series merupakan suatu pelanggaran. (2) Hak Cipta merupakan salah satu cabang HKI. Dimana dalam fatwa MUI, HKI termasuk dalam kategori huquq maaliyah yang sudah seharusnya mendapat perlindungan hukum dan mendapat perlakuan yang sama seperti harta kekayaan pada umumnya.
Implementasi Penanganan Perkara Perdata Secara E-Litigasi Pada Pengadilan Negeri Bangil Tinjauan Teori Kebijakan Publik George C Edward III Muyasaroh Farhaniyah Huda; Dwi Fidhayanti
Journal of Islamic Business Law Vol 5 No 3 (2021): Journal of Islamic Bussiness Law
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 2019 Mahkamah Agung menambah fitur baru dalam aplikasi e-Court yakni e-Litigasi atau persidangan secara elektronik. Salah satu Pengadilan yang telah menerapkan adalah Pengadilan Negeri Bangil. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji implementasi e-Litigasi di Pengadilan Negeri Bangil ditinjau dari teori implementasi kebijakan George C Edward III dan perbandingan e-Litgasi dengan persidangan secara konvensional menurut asas sederhana, cepat dan biaya ringan. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan yuridis sosiologis. Perolehan data dilakukan dengan wawancara dan studi literature. Adapun implementasi e-Litigasi di Pengadilan Negeri Bangil dikaitkan dengan teori Edward III telah memenuhi 4 faktor keberhasilan implementasi kebijakan yakni faktor komunikasi, sumberdaya serta faktor disposisi dan faktor struktur birokrasi yang jelas dan juga tidak berbelit. Perbandingan antara sidang e-Litigasi dengan konvensional jika dikaitkan dengan asas sederhana, cepat dan biaya ringan, maka sidang e-Litigasi lebih sesuai dengan asas tersebut.
Keabsahan Kontrak yang dibuat oleh Artificial Intelligence Menurut Hukum Positif di Indonesia Jajang Nurzaman; Dwi Fidhayanti
Al-Adl : Jurnal Hukum Vol 16, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/al-adl.v16i1.12710

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kontrak yang dibuat oleh AI memenuhi syarat keabsahan sesuai dengan ketentuan pasal 1320 KUH Perdata. Serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang implikasi hukum dan regulasi yang berkaitan dengan penggunaan AI dalam pembuatan kontrak. Jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan undang-undang (Statute Approach) dan konseptual (Conceptual Approach). Sumber bahan hukum yang digunakan berupa bahan hukum premier yang terdiri dari undang-undang yang mengatur tentang keperdataan dan undang-undang yang mengatur tentang regulasi AI. Adapun bahan hukum sekunder berupa jurnal yang membahas tentang kedudukan hukum AI dan legal tech beserta artikel ilmiah. Teknik pengumpulan bahan hukum dalam penelitian hukum normatif dilakukan dengan cara studi pustaka (Library Research) berupa data sekunder sebagai bahan dasar untuk diteliti dengan cara mengadakan penelusuran terhadap peraturan-peraturan dan literatur-literatur lain berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa AI memiliki potensi besar dalam pembuatan kontrak, tetapi perlu diperhatikan kedudukan hukumnya. Dengan memandang AI sebagai subjek hukum dengan pemilik atau pengguna yang bertanggung jawab, kontrak yang dibuat oleh AI dapat dianggap sah sesuai dengan hukum positif Indonesia.