Purnomo Purnomo
Jurusan Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

EFIKASI Beauveria bassiana TERHADAP HAMA KUTU DAUN (Aphis glycines Matsumura) DAN PENGARUHNYA TERHADAP ORGANISME NONTARGET DAN PERTUMBUHAN TANAMAN KEDELAI Rosma Hasibuan; Catur Yuniarsih; Indriyati Indriyati; Purnomo Purnomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.588 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i2.2032

Abstract

Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya produksi kedelai di Indonesia adalah serangan hama mulai dari awal pertumbuhan hingga panen. Aphis glycines (Homoptera: Aphididae) merupakan salah satu hama penting tanaman kedelai. Salah satu jamur entomopatogen yang potensial sebagai agen pengendali hama adalah Beauveria bassiana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jamur B. bassiana dalam menurunkan populasi hama A. glycines dan pengaruhnya terhadap organisme nontarget dan pertumbuhan tanaman kedelai. Pengujian dilakukan di Laboratorium Hama Tumbuhan, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan Kebun Percobaan Lapangan Terpadu, Fakultas Pertanian Universitas Lampung, menggunakan empat perlakuan yaitu kontrol, aplikasi B. bassiana asal isolat Tegineneng, aplikasi B. bassiana asal isolat Sumberjaya, dan aplikasi B. bassiana komersial. Percobaan ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Data yang didapatkan dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat yang diuji mampu menginfeksi dan menyebabkan kematian pada A. glycines. Mortalitas A. glycines tertinggi terdapat pada perlakuan B. bassiana komersial yang mencapai 78,33 ekor/4 rumpun tanaman.Hasil penelitian tentang organisme nontarget menunjukkan bahwa aplikasi B. bassiana tidak mempengaruhi jumlah famili dan total organisme nontarget. Selain itu hasil penelitian jugamenunjukkan bahwa aplikasi B. bassiana tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga, dan jumlahpolong tanaman kedelai.
EFIKASI EKSTRAK DAUN MENGKUDU TERHADAP MORTALITAS LARVA Crocidolomia binotalis Zell Silvia Setiawati; Rosma Hasibuan; Nuryasin Nuryasin; Purnomo Purnomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.789 KB) | DOI: 10.23960/jat.v6i2.2601

Abstract

Kubis (Brassica oleracea L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang mempunyai nilai gizi yang tinggi dan mengandung beberapa zat yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Serangan hama merupakan salah satu kendala dalam budidaya tanaman kubis. Hama penting tanaman kubis adalah Crocidolomia binotalis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun mengkudu terhadap mortalitas larva C. binotalis dan mengetahui tingkat toksisitas ekstrak daun mengkududalam membunuh larva C. binotalis. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan konsentrasi ekstrak 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%. Insektisida nabati yang digunakan adalah ekstrak daun mengkudu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun mengkudu mampu membunuh larva C. binotalis. Ekstrak daun mengkudu konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% berpengaruh nyata terhadap mortalitas Crocidolomia binotalis. Toksisitas daun mengkudu yang dinyatakan dengan LC 50 pada 36 jam setelah aplikasi adalah 0,98%, sedangkan toksisitas daun mengkudu yang dinyatakan dalam LT 50 pada konsentrasi 1% adalah 38,89 jam, 2% adalah 24,03 jam, 3% adalah 16,64 jam, 4% adalah 19,11 jam dan 5% adalah 11,84 jam setelah aplikasi.
PENGARUH APLIKASI BEBERAPA KONSENTRASI FORMULASI KERING Metarhizium anisopliae (Metsch.) Sorokin ISOLAT TEGINENENG TERHADAP MORTALITAS HAMA PENGISAP BUAH KAKAO (Helopeltis spp.) Zaka Saputra; Purnomo Purnomo; Nur Yasin; Lestari Wibowo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.248 KB) | DOI: 10.23960/jat.v1i3.2056

Abstract

Salah satu musuh alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama adalah jamur patogen serangga Metarhizium anisopliae. Pemanfaatan jamur entomopatogen sebagai bioinsektisida semakin berkembang.Teknologi produksi bioinsektisida dari jenis jamur entomopatogen dalam bentuk formulasi kering berkembang terus dan merupakan objek penelitian yang sangat menarik.  Banyak keuntungan dari jamur entomopatogen yang dibuat dalam bentuk formulasi kering, diantaranya adalah dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama, praktis, dan mudah diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi beberapa konsentrasi formulasi kering M. anisopliae isolat Tegineneng terhadap mortalitas hama pengisap buah kakao (Helopeltis spp.).  Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas 5 perlakuan. Pengelompokkan berdasarkan 3 kelompok waktu aplikasi yang berbeda.  Perlakuan terdiri atas kontrol (tanpa aplikasi M. anisopliae), aplikasi formulasi kering M. anisopliae konsentrasi 5 g l-1 air, aplikasi formulasi kering M. anisopliae konsentrasi 10 g l-1 air, aplikasi formulasi keringM. anisopliaekonsentrasi 15 g l-1 air, dan aplikasi formulasi keringM. anisopliaekonsentrasi 20 g l-1 air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi formulasi kering jamurM. anisopliaekonsentrasi 20 g l-1 air menyebabkan mortalitas Helopeltis spp. sebesar 83,82%  berbeda nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan 5 g l-1 dan 10 g l-1, namun tidak berbeda nyata dibandingkan perlakuan 15 g l-1.
KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA PADA PERTANAMAN TOMAT DENGAN SISTEM PERTANAMAN BERBEDA DI KABUPATEN TANGGAMUS, LAMPUNG Herlinda Rama Danti; Yuyun Fitriana; Agus Muhammad Hariri; Purnomo Purnomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1550.13 KB) | DOI: 10.23960/jat.v6i3.2921

Abstract

Keberagaman organisme yang saling berinteraksi dalam suatu ekosistem menentukan stabilitas ekosistem tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemelimpahan dan keanekaragaman Arthropoda pada sistem pertanaman tomat monokultur dan polikultur di Pekon Gisting Permai, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Penelitian menggunakan metode purposive sampling atau ditentukan secara sengaja pada tiga blok monokultur serta tiga blok polikultur. Pertanaman polikultur terdiri dari tanaman tomat dan cabai. Setiap blok berukuran 20 m x 20 m. Pengambilan sampel Arthropoda dengan menggunakan tiga perangkap sumuran yang diletakkan secara diagonal serta menggunakan lima tanaman sampel untuk pengamatan tajuk pada setiap blok pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan seluruh Arthropoda yang ditemukan adalah2.559 individu terdiri dari 1.371 individu pada pertanaman monokultur dan 1.188 individu pada pertanaman polikultur. Pada pertanaman monokultur ditemukan sembilan ordo dan 16 famili, sedangkan pada pertanaman polikultur ditemukan sembilan ordo dan 22 famili. Rata-rata nilai Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener, Kemerataan dan Kekayaan Jenis pada pertanaman polikultur lebih tinggi dari pada pertanaman monokultur.
EFIKASI Metarhizium anisopliae TERHADAP HAMA KUTU DAUN (Aphis glycines Matsumura) DAN PENGARUHNYA TERHADAP ORGANISME NONTARGET DAN PERTUMBUHAN TANAMAN KEDELAI Rosma Hasibuan; Erliana Haska; Purnomo Purnomo; Lestari Wibowo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.495 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i2.2031

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jamur Metarhizium anisopliae terhadap mortalitas dan penurunan populasi hama kutu daun (Aphis glycines Matsumura), serta populasi dan jenis organisme nontarget, pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Penelitian ini terdiri atas empat perlakuan yaitu : tanpa penyemprotan M. anisopliae (kontrol), penyemprotan M. anisopliae yang berasal dari Gading Rejo (komersil), penyemprotan M. anisopliae yang berasal dari Tegineneng, dan penyemprotan M. anisopliae yang berasal dari UGM. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat jamur M. anisopliae yang diuji (Gading Rejo, Tegineneng dan UGM) mampu menginfeksi dan menyebabkan kematian pada kutu daun dan dapat menurunkan populasi kutu daun di pertanaman kedelai. Aplikasi jamur M. anisopliae tidak berpengaruh terhadap jumlah famili dan total organisme nontarget. Selain itu, aplikasi jamur M. anisopliae tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman(tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga, dan jumlah polong) serta hasil tanaman kedelai (berat brangkasan basah, berat brangkasan tanpa polong, jumlah polong isi, jumlah polong tidak isi, berat brangkasan kering, brangkasan kering tanpa polong, berat polong kering, dan berat biji kering tanaman kedelai). Jenis organisme nontarget yang diamati sebanyak 18 famili arthropoda yaitu Acrididae, Blatidae, Braconidae, Cerambycidae, Chloropidae, Chrysomelidae, Cicindelidae, Formicidae, Gryllidae, Ichneuminidae, Lycosidae, Micropezidae, Passalidae, Reduviidae, Rhagionidae, Tipulidae, Coccinelidae dan Syrpidae, dan famili yang dominan merupakan musuh alami yaitu famili Lycosidae, Formicidae, dan Gryllidae.
PENGARUH BEBERAPA TEKNIK PENGENDALIAN TERHADAP POPULASI WERENG JAGUNG DI KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Rosma Hasibuan; Dewi Retnosari; Nur Yasin; Purnomo Purnomo; Lestari Wibowo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 9, No 1 (2021): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 9, JANUARI 2021
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v9i1.4799

Abstract

Ledakan populasi hama wereng jagungmerupakan fenomena baru di Indonesia khususnya di Provinsi Lampung.  Serangan hama ini telah menyebabkan tanaman jagung menjadi puso (hopperburn) dan menyebabkan gagal panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh beberapa teknik pengendalian terhadap populasi hama wereng jagung,(2) teknik pengendalian yang efektif dalam menurunkan populasi hama wereng jagung, dan (3) jumlah daun teroviposisi.Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan di Desa Muara Putih, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan, yaitu aplikasi insektisida kimia sintetik klorpirifos + sipermetrin 2 ml/l, aplikasi insektisida kimia sintetik sipermetrin 2 ml/l, aplikasi n insektisida nabati Tithonia diversifolia 3 ml/l, aplikasi cendawan entomopatogen Metarhizium anisopliae 20 g/l, aplikasi pengendalian mekanik perangkap plastik mika bening berperekat ukuran 2,5 m x 0,5 m, dan control dan setiap perlakuan  diulang tiga kali.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi hama wereng jagung yang telah diaplikasikan satu kali dengan kelima jenis teknik pengendalian nyata lebih rendah dibandingkan dengan kontrol pada pengamatan 2, 3, dan 14 HSA (hari setelah aplikasi).Sedangkan pada aplikasi dua kali,  kelima aplikasi teknik pengendalian yang diterapkan berpengaruh nyata terhadap populasi hama wereng jagung pada setiap hari pengamatan.  Dari seluruh teknik pengendalian, aplikasi insektisida kimia sintetik klorpirifos + sipermetrin dan insektisida kimia sintetik bahan aktif lambda sihalotrin efektif menurunkan populasi hama wereng jagung. Jumlah daun teroviposisi oleh hama wereng sangat berfluktuasi tergantung pada jenisteknik aplikasi dan waktu pengamatan.
PENGARUH FREKUENSI APLIKASI ISOLAT JAMUR ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana TERHADAP KUTUDAUN (Aphis glycines Matsumura) DAN ORGANISME NON-TARGET PADA PERTANAMAN KEDELAI Leni Fitri Mandasari; Rosma Hasibuan; Agus M. Hariri; Purnomo Purnomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.021 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i3.1967

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh frekuensi aplikasi jamur Beauveria bassiana terhadap populasi dan mortalitas hama kutudaun (Aphis glycines Matsumura), dan populasi musuh alami dan organisme non-target lainnya pada pertanaman kedelai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Penelitian ini terdiri atas enam perlakuan yaitu tanpa aplikasi (kontrol), 1 kali, 2 kali, 3 kali, 4 kali, dan 5 kali aplikasi B. bassiana. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi isolat jamur B. bassiana mampu menginfeksi dan menyebabkan kematian hama kutudaun Aphis glycines di pertanaman kedelai pada 3 hari setelah aplikasi di setiap minggu pengamatan, aplikasi B. bassiana dengan berbagai frekuensi menunjukkan bahwa jumlah famili non-target dan total organisme non-target lebih rendah dibandingkan tanpa aplikasi. Jenis organisme nontarget yang diamati sebanyak 13 famili arthropoda, namunterdapat 3 famili dominan yang berupa musuh alami yaitu famili Lycosidae, Formicidae, dan Gryllidae. Selain itu, frekuensi aplikasi B. bassiana tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga dan jumlah polong) serta hasil tanaman kedelai (berat brangkasan basah, berat brangkasan tanpa polong, jumlah polong isi, jumlah polong tidak isi, berat brangkasan kering, brangkasan kering tanpa polong, berat polong kering, dan berat biji kering tanaman kedelai).
VIRULENSI BEBERAPA ISOLAT METARHIZIUM ANISOPLIAE TERHADAP ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.) di LABORATORIUM Ketut Aryo; Purnomo Purnomo; Lestari Wibowo; Titik Nur Aeny
Jurnal Agrotek Tropika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.016 KB) | DOI: 10.23960/jat.v5i2.1833

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan koloni, viabilitas spora serta kerapatan spora dari lima isolatMetarhizium anisopliae dan mempelajari pengaruh aplikasi Metarhizium anisopliae terhadap mortalitas Spodoptera litura F. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan dan Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Bidang Proteksi Tanaman Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada akhir tahun 2013 (Tahap I) dan dilanjutkan pada awal tahun 2016 (Tahap II). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa : Tidak terdapat perbedaan viabilitas spora M. anisopliae yang nyata antar 5 isolat asal Tegineneng, Trimurjo, Gadingrejo, Bantul dan UGM; Kerapatan isolat asal UGM adalah 2,25 x 10 9 spora/ml, lebih tinggi dibandingkan dengan isolat asal Gadingrejo, Bantul, Tegineneng dan Trimurjo; Isolat M. anisopliae asal UGM mampu membunuh ulat grayak (S. litura) hingga86,67%, isolat lain memiliki kemampuan lebih rendah dibandingkan isolat asal UGM.
UJI POTENSI DAUN BABADOTAN (Ageratum conyzoides L.) SEBAGAI INSEKTISIDA BOTANI TERHADAP HAMA (Plutella xylostella L.) DI LABORATORIUM Nurhudiman Nurhudiman; Rosma Hasibuan; Agus M. Hariri; Purnomo Purnomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.878 KB) | DOI: 10.23960/jat.v6i2.2600

Abstract

Diamond back moth (Plutella xylostella) [Lepidoptera: Plutellalidae] is the most important pest of Brasisca vegetable in many part of area in Indonesia. Pest control of this pest has been relied on the use of synthetic insecticide. However prolog use of insecticide cause ecological and economical problems. There is a need for pest control that are sustainable and eviromentally sound. The use of natural (botanical insecticide) such as Ageratum conyzoides is expected to solve that problem. The objective of this research was to test the capability of goatweed suspension to cause mortality P. xylostella larvae and to measure toxicity level (LC50 and LT50) of Ageratum extract. This research was conduched during Juli 2016- February 2017 in green house and laboratory. The results indicated that all of concentration of goatweed (1-5%) was able to cause mortality onP. xylostella larvae. The lethal concentration for 50% mortality (LC50) value was 2,0254%. While the time need to kill 50% of P. xylostella larva were: 33.31 h, 20.68 h, 21.09 h, 12.65 h, 10.86 h treated by concentration of: 1%, 2%, 3%, 4% and 5% respectively. This study indicated the potential use of Ageratum extract to contol P. xylostella.
Parasitoid lalat pengorok daun pada pertanaman kentang dan tumbuhan Liar di wilayah pangalengan Purnomo Purnomo; Aunu Rauf; Soemartono Sosromarsono; Teguh Santoso
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 2 No 1 (2005): April
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1088.861 KB) | DOI: 10.5994/jei.2.1.43

Abstract

Parasitoids of Leafminer Fly on Potato Fields and Non-Crop Vegetation in Pangalengan Area. The damage leaves of potato and non-crop vegetation caused by leafminer fly Liriomyza huidobrensis (Blanchard) (Diptera: Agromzidae) were collected during August-October 2000 in Pangalengan area to evaluate the role of non-crop vegetation on the abundance of leafminer fly and its parasitoids. The leaves were placed into the bowls. The fly and parasitoid that emerged from the leaves were noted afterwards. The result of this survey showed that six families of plant were the host of L. huidobrensis on non-crop vegetation around the potato plantation. Those families are, Amaranthaceae, Asteraceae, Chenopodiaceae, Convolvulaceae, Malvaceae, and Solanaceae. The most abundant of non-crop vegetation found in the field was galinggang (Galinsoga Parviflora). The parasitoids that emerge from non-crop vegetation were Hemiptarsenus varicornis (Girault) (Hymenoptera: Eulophidae) and Opius sp. (Hymenoptera: Braconidae). The proportion of emerged fly were 68.5% from non-crop vegetation and 58.8% from potato, while those of parasitoids were 31.5% from non-crop vegetation and 41.2% from potato. Generally, non-crop vegetation in Pangalengan more potent as reservoar of pest than parasitoids.