Novita Eka Nurjanah
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Sebelas Maret

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Institutional Resource Management and Parental Satisfaction in Early Childhood Education: Perspectives from Millennial and Gen Z Parents in Indonesia Upik Elok Endang Rasmani; Siti Wahyuningsih; Bambang Winarji; Jumiatmoko Jumiatmoko; Novita Eka Nurjanah; Nurul Shofiatin Zuhro; Anjar Fitrianingtyas
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 18, No 1 (2026): MARCH 2026
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v18i1.8534

Abstract

The demographic shift toward Millennial and Generation Z parents has reshaped expectations for early childhood education (ECE), particularly regarding institutional resource management and service quality. This study examines the relationship between institutional resource management and parental satisfaction in ECE settings.A quantitative correlational design was employed with 150 parents in Surakarta, Indonesia, selected through purposive sampling. Data were collected using two Likert-scale instruments measuring institutional resource management (16 items) and parental satisfaction (12 items). Instrument validity was established through expert judgment, and reliability testing using Cronbach’s alpha indicated satisfactory internal consistency. Data were analyzed using Pearson’s correlation coefficient and coefficient of determination.The findings revealed a moderate, statistically significant positive relationship between institutional resource management and parental satisfaction (r = 0.56, p 0.01). The coefficient of determination (R² = 0.31) indicates that 31% of the variance in parental satisfaction is explained by institutional resource management. No significant differences were found between Millennial and Generation Z parents, suggesting convergent expectations regarding transparency, digital documentation, and administrative efficiency.The results highlight the importance of systematic and technology-supported resource management in enhancing parental satisfaction across generational groups. ECE institutions should prioritize managerial transparency, digital service optimization, and responsive administration to align with contemporary parental expectations. Future research should explore additional factors influencing satisfaction and extend analysis across broader educational contexts.
Parental Mediation in Parenting 4.0: A Qualitative Case Study on Early Childhood Digital Literacy in Indonesia Bambang Winarji; Upik Elok Endang Rasmani; Novita Eka Nurjanah; Jumiatmoko Jumiatmoko; Nurul Shofiatin Zuhro; Anjar Fitrianingtyas
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 18, No 1 (2026): MARCH 2026
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v18i1.8572

Abstract

Rapid digital advancement presents both opportunities and challenges for young children, necessitating effective parental mediation to support early childhood digital literacy. This study investigates the implementation of Parenting 4.0 at RA STIBA Azkiya, an Islamic early childhood education institution, in fostering children’s digital competencies. A qualitative single-case study design was employed involving 11 participants (six parents, four teachers, and one principal). Data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis, and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. Digital literacy was conceptualized as encompassing operational skills, informational awareness, digital safety, and guided critical thinking mediated by adults. The findings indicate that Parenting 4.0 practices—such as introducing basic digital tools, supervising screen time, selecting age-appropriate content, facilitating parent–child dialogue, and modeling responsible digital behavior—were associated with children’s ability to use digital devices safely and meaningfully. These practices were further supported by institutional mechanisms, including monitoring books, workshops, and parent consultations, which reinforced consistent parental engagement. This study provides a context-specific account of how Parenting 4.0 is operationalized through defined parental roles and institutional support within an Islamic early childhood setting, contributing to the literature on parental involvement in digital literacy. However, the single-site and culturally specific context limit generalizability. Future research should examine Parenting 4.0 across diverse educational settings to enhance comparative understanding of early childhood digital literacy.
Peningkatan Kompetensi Komunikasi Digital Guru PAUD untuk Memperkuat Kolaborasi dengan Orang Tua Milenial dan Gen Z Upik Elok Endang Rasmani; Bambang Winarji; Jumiatmoko Jumiatmoko; Novita Eka Nurjanah; Nurul Shofiatin Zuhro; Anjar Fitrianingtyas
Murhum : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 7 No. 1 (2026): Juli
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal (PPJ) PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/murhum.v7i1.1635

Abstract

Perkembangan teknologi dan digitalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam pola komunikasi, termasuk dalam layanan pendidikan anak usia dini. Orang tua dari generasi milenial dan Generasi Z semakin aktif memanfaatkan berbagai platform digital untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi mengenai perkembangan anak. Namun, belum adanya standar baku komunikasi digital di lembaga PAUD sering menimbulkan ketidakkonsistenan dalam penyampaian informasi kepada orang tua, yang diperparah oleh keterbatasan keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi digital secara efektif. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi digital guru PAUD dalam menjalin hubungan yang efektif dengan orang tua generasi milenial dan Gen Z, serta membantu penyusunan standar operasional prosedur (SOP) komunikasi digital di sekolah. Metode pengabdian yang digunakan adalah pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dengan pola kolaboratif yang melibatkan mitra dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Pelatihan dilaksanakan melalui metode pemaparan materi oleh ahli, diskusi, tanya jawab, dan praktik langsung. Melalui kegiatan ini diharapkan guru mampu menerapkan keterampilan komunikasi digital secara konsisten dalam interaksi sehari-hari dengan orang tua, sehingga tercipta komunikasi yang lebih efektif, transparan, dan profesional dalam mendukung layanan pendidikan anak usia dini.
PHBS dalam Tinjauan Pedagogi Bermain dan Internalisasi Moral Anak Usia Dini Jumiatmoko Jumiatmoko; Upik Elok Endang Rasmani; Nurul Shofiatin Zuhro; Anjar Fitrianingtyas; Novita Eka Nurjanah
Jambura Early Childhood Education Journal Vol 8 No 2 (2026): Jambura Early Childhood Education Journal
Publisher : JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37411/jecej.v8i2.4825

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan keterampilan hidup mendasar bagi anak usia dini, namun implementasi pembelajarannya masih sering berfokus pada kepatuhan dan mengabaikan proses internalisasi moral. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis bagaimana pedagogi berbasis bermain dapat menstimulasi PHBS sekaligus menumbuhkan nilai-nilai moral pada anak usia dini. Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Data disintesis dari berbagai studi yang dipublikasikan antara tahun 2020 hingga 2025 dari berbagai laman indeksasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model pedagogi berbasis bermain yang bersifat simulatif, gamifikasi, dan konstruktif secara signifikan meningkatkan literasi kesehatan sekaligus menstimulasi perkembangan moral anak. Studi ini juga menemukan bahwa hidden curriculum dalam aktivitas bermain mampu mentransformasikan instruksi yang bersifat eksternal menjadi kesadaran moral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pedagogi berbasis bermain merupakan sarana penting bagi stimulasi perkembangan anak secara holistik. Oleh karena itu, pendidik perlu mengintegrasikan stimulasi perkembangan moral dalam berbagai aktivitas bermain guna mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan.
STUDI KASUS FATHERLESS: PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK USIA DINI Novita Eka Nurjanah; Fasli Jalal; Asep Supena
Kumara Cendekia Vol 11, No 3 (2023): Kumara Cendekia
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/kc.v11i3.77789

Abstract

Pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak bukanlah topik yang baru dalan penelitian di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kondisi yang ada di Indonesia, peran ayah dalam pengasuhan belum optimal hal ini dikarenakan masih adanya budaya patriarki bahwa peran pengasuhan menjadi tanggung jawab ibu; adanya pernikahan dini; dan adanya anak yang tidak tinggal bersama orang tua.  Hasil observasi awal ditemukan bahwa salah satu kecamatan di Boyolali menunjukkan bahwa tidak adanya kehadiran ayah atau fatherless dalam pengasuhan anak berdampak pada perkembangan anak usia dini. Di daerah ini masih menganut budaya patriarki yang kuat yaitu pengasuhan sepenuhnya merupakan peran ibu dan ayah berperan untuk mencari nafkah. Berdasarkan fenomena tersebut, penting dilakukan penelitian untuk mengkaji ketidakhadiran ayah atau fatherless dalam pengasuhan anak usia dini. Partisipan dalam penelitian ini adalah satu anak dari orang tua yang menikah dini di salah satu kecamatan Kota Boyolali. Anak ini berada dalam pengasuhan yang masih menganut budaya patriarki dan orang tua belum matang dalam memberikan pengasuhan kepada anak. Pendekatan strategi studi kasus tunggal digunakan untuk mendeskripsikan secara mendalam fatherless yang ada. Analisis tematik dari hasil wawancara mendalam terhadap orang tua digunakan dalam analisis data penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayah tidak memiliki peran dalam mengasuh anak, waktu bersama anak sangat minim, dan adanya paham budaya patriarki bahwa pengasuhan anak dilakukan sepenuhnya oleh ibu. Hal ini berdampak pada tidak adanya kelekatan antara anak dengan ayah, tidak optimalnya kemandirian anak, dan adanya gangguan kontrol perilaku anak.
EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM PERSPEKTIF MUNIF CHATIB Firza Fathia; Novita Eka Nurjanah; Vera Sholeha
Kumara Cendekia Vol 12, No 1 (2024): KUMARA CENDEKIA
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/kc.v12i1.67035

Abstract

Teori multiple intelligences meyakini bahwa manusia memiliki satu dari beberapa kecerdasan majemuk. Kecerdasan pada diri manusia tidak hanya terdiri dari kemampuan IQ (intelligence quotient) dan logika (matematika) saja. Multiple intelligences menyatakan adanya sembilan macam kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang. Perbedaan kecerdasan antara yang satu dengan yang lainnya terletak pada komposisi atau dominasi dari kecerdasan tersebut. Penerapan pembelajaran berbasis multiple intelligences digunakan sebagai strategi pembelajaran. Namun, dalam penerapannya di lapangan masih menuai banyak kesalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan pembelajaran berbasis multiple intelligences dalam perspektif salah satu tokoh pendidikan, Munif Chatib, di TK Lazuardi Kamila GIS Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode evaluasi program dengan pendekatan CIPP (Context, Input, Process, Product). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak tidak dapat menemukan kecenderungan gaya belajar dan kecenderungan kecerdasan majemuk mereka. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada perbedaan penerapan pembelajaran berbasis multiple intelligences menurut teori Munif Chatib dengan penerapan pembelajaran di TK Lazuardi Kamila GIS Surakarta. Adanya perbedaan tersebut dikarenakan sekolah menyesuaikan dengan prinsip, visi, misi, dan tujuan sekolah
PENGARUH GADGET TERHADAP PERKEMBANGAN MORAL ANAK USIA DINI Aulia Fadhilah Indarwan; Elia Hestiningrum; Isfahani Fadia Nur Afifah; Ruli Hafidah; Novita Eka Nurjanah; Jumiatmoko Jumiatmoko
Early Childhood Education and Development Journal Vol 4, No 1 (2022): Early Childhood Education and Development Journal
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.096 KB) | DOI: 10.20961/ecedj.v4i1.52387

Abstract

Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan basis pembentukan karakter moral manusia, sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya. Untuk itu ddiperlukan penanaman nilai nilai moral untuk anak usia dini. Tetapi dalam masa sekarang ini banyak anak usia dini yang sudah memainkan gadget, entah itu gadgetnya sendiri ataupun milik dari orang terdekatnya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar dampak dalam penggunaan gadget terhadap perkembangan moral anak usia dini, dimana pada usia itu usia dimana sel sel otak anak berkembang secara luar biasa. Yang menjadi garis besar permasalahannya yaitu penggunaan gadget lebih banyak menimbulkan dampak negative daripada dampak positive jika digunakan oleh anak usia dini apalagi tanpa pengawasan dari orang dewasa. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yaitu studi pustaka atau literature review. Peneliti sudah menjabarkan bebrapa pengaruh yang dihasilkan dari penggunaan gadged yang dilakukan anak usia dini terutama pada perkembangan moral atau karakter anak itu sendiri. Sehingga dalam hal ini orang dewasa dalam artian orang terdekat anak harus selalu mendampingi anak anaknya agar bisa mencapai perkembangan sesuai tahapnya.