Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Sense of Community dan Partisipasi Warga Kampung Wisata Jodipan Ahmad Khusairi; Yuni Nurhamida; Alifah Nabilah Masturah
Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang) Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.447 KB) | DOI: 10.24036/rapun.v8i1.7947

Abstract

Sense of community dan partisipasi warga kampung wisata Jodipan.Partisipasi warga merupakan hal penting untuk kemajuan kampung wisata. Partisipasimemiliki faktor pendukung yang salah satunya adalah Sense of Community (SOC). Tujuanpenelitian untuk mengetahui hubungan SOC dengan partisipasi warga pada kampungWisata Jodipan Malang, Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode kuantitatifkorelasional dengan jumlah subjek 186 warga. Teknik pengambilan sampel yangdigunakan adalah kuota sampling. Pengukuran menggunakan Sense of CommunityInventory versi 2 (SCI-2) yang telah diadaptasi dan Skala Partisipasi Warga. Hasilpenelitian menunjukkan tidak ada hubungan SOC dengan partisipasi warga (r = -0,035; p= 0,636).
Fanatisme dan Perilaku Agresif Verbal di Media Sosial pada Penggemar Idola K-Pop Jenni Eliani; M. Salis Yuniardi; Alifah Nabilah Masturah
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Psychology and Health - Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2886.379 KB) | DOI: 10.21580/pjpp.v3i1.2442

Abstract

Abstract: Verbal aggressive behavior that often occurs in social media is usually triggered by fanaticism on certain objects. The purpose of this research is to look at the relationship of fanaticism with verbal aggressive behavior in social media conducted by fans-idol of K-pop. This research used correlational quantitative method. The subjects of this study are fans-idol of K-pop numbered 915 people. Data collected with fanaticism scale and verbal aggression in media social scale. The data retrieval is done by using google forms application which contains the research instrument, which is disseminated through the social media forum of fans-idol of K-pop. This study showed there was a positive relationship of fanaticism with verbal aggressive behavior in social media on fans-idol of K-pop (r = 0.626 and p = 0,000). Fans-idol of K-pop who have high fanaticism will have high verbal aggressive behavior, otherwise fans-idol of K-pop who have low fanaticism will have a low verbal aggressive behavior.Abstrak: Perilaku agresif verbal yang sering terjadi di media sosial biasanya dipicu oleh fanatisme pada objek tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan fanatisme dengan perilaku agresif verbal di media sosial yang dilakukan oleh penggemar-idola K-pop. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Subjek penelitian ini adalah penggemar-idola K-pop berjumlah 915 orang. Data dikumpulkan dengan skala fanatisme dan agresi verbal dalam skala sosial media. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi formulir google (google form) yang berisi instrumen penelitian, yang disebarkan melalui forum media sosial penggemar-idola K-pop. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan positif fanatisme dengan perilaku agresif verbal di media sosial pada penggemar-idola K-pop (r = 0,626 dan p = 0,000). Fans-idola K-pop yang memiliki fanatisme tinggi akan memiliki perilaku agresif verbal yang tinggi, jika tidak penggemar-idola K-pop yang memiliki fanatisme rendah akan memiliki perilaku agresif verbal yang rendah.
Keterikatan Interpersonal pada Beberapa Etnis Besar di Indonesia H Fuad Nashori; Muh. Nurhidayat Nurdin; Netty Herawati; Raden Rachmy Diana; Alifah Nabilah Masturah
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 1 (2020): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.043 KB) | DOI: 10.7454/jps.2020.07

Abstract

Walau bangsa Indonesia dianggap memiliki kebudayaan kolektivistik, masih belum diketahui apakah tiap-tiap kelompok etnis menekankan nilai-nilai kebersamaan dan harmoni sosial dalam level yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat keterikatan interpersonal pada lima kelompok etnis besar di Indonesia. Jumlah subjek yang terlibat adalah 1.420 orang yang berasal dari etnis Jawa subkultur Negarigung, etnis Jawa subkultur Mancanegari, etnis Madura, etnis Minangkabau, dan etnis Bugis-Makassar. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis varians untuk menguji perbedaan nilai rerata dalam keterikatan interpersonal. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang berarti dalam hal keterikatan interpersonal antar etnis. Etnis Jawa Nagarigung cenderung lebih menonjolkan rasa percaya terhadap sikap dan perilaku mitra relasi dibanding etnis-etnis lainnya kecuali etnis Jawa Mancanegari. Sementara itu etnis Jawa Mancanegari cenderung lebih tinggi dalam persepsi kualitas hubungan dengan mitra relasi dibanding seluruh etnis lainnya kecuali etnis Minangkabau. Untuk dimensi kuatnya pertimbangan pihak ketiga dalam relasi, etnis Minangkabau cenderung lebih tinggi dibanding seluruh etnis lain. Dengan demikian, terdapat perbedaan antar etnis dalam menonjolkan dimensi keterikatan dalam hubungan interpersonal.
Hubungan Berfikir Terbuka Secara Aktif dengan Kebencian pada Pemilih Figur Calon Presiden Fida Amina Zahro; Yuni Nurhamida; Alifah Nabilah Masturah
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 17, No 1 (2021): Insight: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ins.v17i1.2263

Abstract

2019 is the following year after 5 years ago carrying out presidential elections for Indonesia. Indonesia has a routine every 5 years carrying out the General Election (General Election) to accommodate the people's aspirations for their country and choose the best head of state according to the community. With this, there must be candidates who will advance in the election and there will also be differences in the political game in it. The existence of this creates a conflict that will affect the traces of opinion among the people and cause hatred. One of the factors that influence hatred is politics. A science to achieve power as desired and gain profits. The aim of the study was to find out the relationship between active open thinking and hatred towards the supporters of selected presidential candidates. The sampling technique uses accidental sampling in Malang. The research subjects were 300 people ranging in age from 17-25 years. There are several criteria sampled in this study, namely having a KTP, already having the right to vote for the 2019 presidential election. The data collection method uses a scale and analysis test using a correlation test showing the existence of a negative relationship between active open thinking and hatred of supporters of presidential candidates.
Hubungan pengungkapan diri dengan pemaafan pada remaja Nada De Audry; Alifah Nabilah Masturah
Cognicia Vol. 11 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Fakultas Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v11i1.24972

Abstract

Forgiveness to others can be given when self-disclosure has been made. This study aims to determine the relationship between self-disclosure and forgiveness in adolescents. The research design uses a non-experimental quantitative type of correlational study. Subjects were 199 high school (SMA) youth and equivalent. The sampling technique uses accidental sampling. The measuring tool uses the Conceptualizing and Measuring Self-Disclosure scale and the Transgression-Related Interpersonal Motivation scale (TRIM-18). Results Analysis of the data using Spearman's rho showed a negative relationship between self-disclosure and forgiveness (r=-0.487; p<0.001). This means that adolescents who are more open in expressing themselves will tend to find it more difficult to forgive others. Thus, explaining oneself broadly and deeply is done by adolescents because they have not forgiven other people who are in conflict with them. Keywords: Adolescences, forgiveness, self-disclosure
ALPHA FEMALE DAN FLOURISHING PADA PEREMPUAN BEKERJA Alifah Nabilah Masturah
MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : LPPM University 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/mv.v6i1.6584

Abstract

Individu memiliki keterlibatan, makna, hubungan, dan prestasi sebagai komponen subjektif dan objektif dalam dirinya untuk mampu bertumbuh. orang yang sangat flourish yakin akan kemampuan dirinya untuk memiliki hubungan sosial yang luas dan memuaskan. Kemampuan seperti ini sangat diperlukan oleh perempuan yang bekerja. Salah satu karakter yang dapat menunjang adalah alpha female. Ini karena alpha female digambarkan sebagai perempuan alpha atau perempuan yang menjadi pemimpin sekelompok individu di lingkungan mereka. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh alpha female terhadap flourishing pada perempuan bekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif cross sectional dengan metode accidental sampling yang digunakan dalam melibatkan sejumlah subjek penelitian. Subjek penelitian adalah karyawan perempuan yang memiliki jabatan dan bertanggung jawab memimpin suatu tim. Subjek dalam penelitian ini adalah 35 karyawati yang belum menikah dan 27 karyawati yang sudah menikah. Rentang usia subjek tersebar dari 17-53 tahun. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah Alpha Female Inventory (AFI) dan Flourishing Scale (FS). Analisa data menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menemukan alpha female secara simultan mampu memprediksi flourishing (R=0.646; p<0.01) sebesar 41.7%. Namun, hanya alpha female leadership yang memiliki pengaruh terhadap flourishing (β=-0.590; p<0.01). Sementara, alpha female strength (r=-0.355; p<0.01) dan alpha female low introversion (r=0.389; p<0.01) hanya memiliki keterkaitan dengan flourishing. Hasil juga menunjukkan status pernikahan memiliki keterkaitan dengan flourishing (r=0.410; p<0.01) dan alpha female low introversion (r=0.271; p<0.05). Namun, status pernikahan tidak terkait dengan alpha female leadership (r=-0.117; p>0.05) maupun alpha female strength (r=0.106; p>0.05). Artinya, perempuan yang bekerja akan memiliki flourishing yang tinggi bila alpha female leadership mereka cenderung lemah. Ini juga dapat terkait dengan alpha female strength yang tidak dominan, dan alpha female low introversion yang kuat.
Kepuasan Hidup dan Flourishing pada Karyawan Tambang Nadya Shafa Fadhillah; Alifah Nabilah Masturah
Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi Vol 22, No 1: Juni 2023
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/psidim.v22i1.10049

Abstract

Pertambangan merupakan bidang pekerjaan yang terdengar menjanjikan. Namun, pada pertambangan juga terdapat risiko yang sangat besar. Risiko yang ada dapat menjadi penyebab kekhawatiran dan berdampak pada proses individu untuk flourish. Selain itu, lingkungan kerja yang penuh aturan, jam kerja yang padat akan berdampak pada kepuasan hidup individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepuasan hidup terhadap flourishing. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimen dengan pendekatan korelasional pada karyawan pertambangan berjumlah 292 orang. Skala yang digunakan adalah Satisfaction with Life Scale dan Flourishing Scale. Analisis dilakukan dengan regresi linear sederhana dan hasil menunjukkan bahwa kepuasan hidup berkorelasi positif dengan flourishing (R=0,626; p0,01) dan memberikan pengaruh sebesar 44,1%. Artinya, untuk dapat flourish individu perlu untuk puas terhadap hidupnya
ALPHA FEMALE DAN FLOURISHING PADA PEREMPUAN BEKERJA Alifah Nabilah Masturah
MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : LPPM University 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/mv.v6i1.6584

Abstract

Individu memiliki keterlibatan, makna, hubungan, dan prestasi sebagai komponen subjektif dan objektif dalam dirinya untuk mampu bertumbuh. orang yang sangat flourish yakin akan kemampuan dirinya untuk memiliki hubungan sosial yang luas dan memuaskan. Kemampuan seperti ini sangat diperlukan oleh perempuan yang bekerja. Salah satu karakter yang dapat menunjang adalah alpha female. Ini karena alpha female digambarkan sebagai perempuan alpha atau perempuan yang menjadi pemimpin sekelompok individu di lingkungan mereka. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh alpha female terhadap flourishing pada perempuan bekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif cross sectional dengan metode accidental sampling yang digunakan dalam melibatkan sejumlah subjek penelitian. Subjek penelitian adalah karyawan perempuan yang memiliki jabatan dan bertanggung jawab memimpin suatu tim. Subjek dalam penelitian ini adalah 35 karyawati yang belum menikah dan 27 karyawati yang sudah menikah. Rentang usia subjek tersebar dari 17-53 tahun. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah Alpha Female Inventory (AFI) dan Flourishing Scale (FS). Analisa data menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menemukan alpha female secara simultan mampu memprediksi flourishing (R=0.646; p<0.01) sebesar 41.7%. Namun, hanya alpha female leadership yang memiliki pengaruh terhadap flourishing (β=-0.590; p<0.01). Sementara, alpha female strength (r=-0.355; p<0.01) dan alpha female low introversion (r=0.389; p<0.01) hanya memiliki keterkaitan dengan flourishing. Hasil juga menunjukkan status pernikahan memiliki keterkaitan dengan flourishing (r=0.410; p<0.01) dan alpha female low introversion (r=0.271; p<0.05). Namun, status pernikahan tidak terkait dengan alpha female leadership (r=-0.117; p>0.05) maupun alpha female strength (r=0.106; p>0.05). Artinya, perempuan yang bekerja akan memiliki flourishing yang tinggi bila alpha female leadership mereka cenderung lemah. Ini juga dapat terkait dengan alpha female strength yang tidak dominan, dan alpha female low introversion yang kuat.
PENGUNGKAPAN DIRI ANTARA REMAJA JAWA DAN MADURA Nabilah Masturah, Alifah
Cognicia Vol. 1 No. 1 (2013): Maret
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1443

Abstract

Kebudayaan yang merupakan produk dari budaya memiliki pengaruh dalam pengungkapan diri seseorang. Tiap-tiap masyarakat dengan corak budaya masing-masing memberikan aturan tertentu atas individu pantas atau tidak pantas mengungkapkan diri. Suku Jawa dan Madura memiliki nilai-nilai budaya yang digunakan sebagai pedoman menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan pengungkapan diri antara remaja Jawa dan Madura. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sampel adalah mahasiswa yang berusia antara 17-22 tahun berjumlah 50 orang suku Jawa dan 50 orang suku Madura. Pengambilan sampel dengan tehnik accidental sampling (non probability sampling). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala Thurstone, yaitu skala pengungkapan diri. Adapun metode analisa data yang digunakan adalah t-test. Hasil penelitiaan menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (t= -10.966; p= 0.000) pengungkapan diri antara remaja Jawa dan Madura. Remaja Madura memiliki tingkat pengungkapan diri yang lebih tinggi (3.1394) dibandingkan dengan remaja Jawa (2.7466). Kata kunci: Pengungkapan diri, Remaja Jawa dan Madura. Culture is a product have an influence in the disclosure of a person. Each community with cultural patterns each providing specific rules for individual worth or not worth expressing themselves. The Javanese and Madura who have cultural values ​​that are used as a guide through daily life. The purpose of this study was to determine the differences between adolescent self-disclosure of Java and Madura. The study is a quantitative research. Sample of this study were students Muhammadiyah University of Malang, aged between 17-22 account 50 Javanese and Madura people. Accidental sampling using sampling techniques (non-probability sampling). Data collection methods used are the Thurstone scale, the scale of self-disclosure. The data analysis method used is the t-test. Based on theoretical studies and research conducted by the researchers that the hypothesis which states there is a difference between adolescent self-disclosure of Java and Madura received. From the results of the study, data showed that there are significant differences (t = -10 966, p = 0.000) between adolescent self-disclosure of Java and Madura.Madura adolescents have high levels of self-disclosure is higher (3.1394) compared with adolescents Java (2.7466). Keyword : Self disclosure, Adolescence Java and Madura
Efikasi Diri dan Dukungan Sosial sebagai Prediktor Flourishing pada Dewasa Awal Masturah, Alifah Nabilah; Hudaniah, Hudaniah
Jurnal Ilmiah Psikomuda (JIPM) Connectedness Vol 2 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Psikomuda (JIPM) Connectedness
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kesehatan mental akan lebih berkembang dalam membantu manusia untuk hidup lebih produktif dan bermakna. Sehingga, tujuan kesehatan mental adalah flourishing. Orang yang flourish yakin akan kemampuan dirinya untuk memiliki hubungan sosial yang luas dan memuaskan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh efikasi diri dan dukungan sosial terhadap flourishing pada dewasa awal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif cross sectional dengan menggunakan teknik accidental sampling. Ada 201 perempuan dan 66 laki-laki. Pengukuran dilakukan menggunakan General Self-Efficacy Scale (GSE), Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), dan Flourishing Scale (FS). Analisa data menggunakan regresi linear berganda. Penelitian ini menunjukkan bahwa efikasi diri serta ketiga dimensi dukungan sosial secara bersama-sama mampu memprediksi flourishing (R=0,665; p<0,01). Selain itu, secara terpisah efikasi diri (B=0,434; p<0,01) serta dukungan keluarga (B=0,406; p<0,01) mampu memprediksi flourishing. Sedangkan, dukungan dari teman (B=0,063; p>0,05) dan significant other (B=0,110; p>0,05) tidak mampu memprediksi flourishing. Hasil lainnya menunjukkan bahwa flourishing memiliki korelasi dengan seluruh variabel terukur, yaitu: jenis kelamin (r=-0,161; p<0,01), profesi (r=0,183; p<0,01), usia (r=0,222; p<0,01), efikasi diri (r=0,552; p<0,01), dukungan keluarga (r=0,489; p<0,01), dukungan teman (r=0,346; p<0,01), serta dukungan dari significant other (r=0,382; p<0,01). Artinya, hanya efikasi diri dan dukungan keluarga yang mampu memprediksi flourishing. Akan tetapi, jenis kelamin, profesi, usia, efikasi diri, serta seluruh dukungan sosial memiliki hubungan dengan flourishing.