Claim Missing Document
Check
Articles

UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) DALAM SEDIAAN OBAT KUMUR TERHADAP JAMUR Candida albicans PENYEBAB SARIAWAN Septiyanti, Anisa Eka; Retnaningsih, Agustina; Purnama, Robby Candra; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11874

Abstract

Kelor merupakan spesies family moringaceae yang sudah banyak ditanam. Kandungan Senyawa yang terdapat pada daun kelor memiliki aktivitas sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dalam sediaan obat kumur terhadap jamur Candida albicans. Penelitian dilakukan dengan cara daun kelor yang sudah dikeringkan kemudian digiling menjadi serbuk, kemudian dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak daun kelor dibuat sediaan obat kumur dengan 3 formulasi yaitu konsentrasi 6%, 8% dan 10%. Selanjutnya dilakukan uji fisik terhadap sediaan obat kumur yang meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji bobot jenis dan uji hedonik. Untuk uji aktivitas terhadap jamur Candida albicans dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada uji sifat fisik organoleptis, uji viskositas dan bobot jenis yaitu memenuhi syarat, sedangkan pada uji hedonik sediaan FI  dengan konsentrasi 6% paling banyak disukai. Untuk uji aktivitas antijamur ekstrak daun kelor dalam sediaan obat kumur dengan konsentrasi 6%, 8%, 10% menunjukan tidak adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa ekstrak daun kelor (Moringa oleiera L.) tidak menunjukan adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans.
PENETAPAN KADAR BESI (Fe) PADA DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) MENGGUNAKAN METODE MPAES Yanti, Evina; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i1.9912

Abstract

Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) adalah tanaman yang termasuk liar dan dapat tumbuh di tanah kosong, daerah pantai dan juga hutan. Sebagian orang ada yang menanam jarak pagar (Jatropha curcas L) sebagi pagar rumah dan biasanya juga untuk pagar pembatas, sebagian orang ada yang belum mengetahui manfaat dari tanaman liar ini sebagai tanaman obat.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar besi (Fe) pada daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) menggunakan metode MPAES. Pada penetapan kadar besi (Fe) dilakukan preparasi  sampel terlebih dahulu, Sampel yang telah dikeringkan di destruksi untuk memecahkan senyawa organik dalam sampel. Hasil penelitian ini didapatkan kurva kalibrasi besi (Fe) yang diperoleh dari hasil pengukuran panjang gelombang maksimum pada lampu katoda besi yaitu pada panjang gelombang 248,40 nm dan dari pengukuran kurva kalibrasi larutan besi diperoleh persamaan garis regresi yaitu y = 0,010483 + 0,09074x. Dengan koefesien korelasi (x) besi sebesar 0,9985. Hasil analisis zat besi pada daun jarak pagar dilakukan pengulanngan sebanyak 3 kali, pengulangan 1 didapatkan kadar 5,98, pada pengulangan 2 yaitu 5,99 dan pengulangan 3 yaitu 5,99, sehingga didapatkan kadar rata-rata 5,98 mg/100gram. Berdasarkan penelitian penetapan kadar besi (Fe) pada daun jarak pagar yang di dapatkan hasil 5,98 mg/100gram.
Pengaruh Lama Penyimpanan Kapsul Kloramfenikol Yang Diperoleh Dari Puskesmas Kabupaten Pringsewu Terhadap Kadar Menggunakan Metode Nitrimetri Octonariz, Vito Zhafran; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.17568

Abstract

Kloramfenikol merupakan antibiotik yang mempunyai spektrum luas terutama terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Kloramfenikol dipilih untuk mengobati penyakit demam tipus, paratifus, pneumonia, batuk kering, infeksi saluran kemih, infeksi berat yang disebabkan salmonella spp, Haemophilus influenza, Gram negatif yang menyebabkan bakterimia meningitis atau infeksi berat lainnya. Sampel diambil dari puskesmas yang ada di Kabupaten Pringsewu secara random sampling untuk mengetahui seberapa besar pengaruh lama penyimpanan kloramfenikol sediaan kapsul terhadap penurunan kadar. Metode penetapan kadar sampel yang digunakan adalah nitrimetri. Nitrimetri adalah reaksi diazotasi terbentuknya garam diazonium oleh reaksi senyawa amina primer aromatis atau alifatik dengan asam nitrit dalam lingkungan asam HCl, pada suhu rendah atau didinginkan. Dari hasil analisis kualitatif, semua sampel positif mengandung kloramfenikol. Sedangkan hasil analisis kuantitatif dengan lama penyimpanan 7 hari sampai 110 hari, sampel mengalami penurunan kadar, tetapi masih sesuai dengan standar Farmakope Indonesia Edisi III yaitu, tidak kurang dari 92,5% dan tidak lebih dari 107,5% dari jumlah yang tertera pada etiket. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan lama penyimpanan kapsul kloramfenikol dapat mempengaruhi kadar kloramfenikol.
Penyuluhan jus buah apel dan air dugan sebagai MP-ASI di Posyandu Garuda, Pidada Panjang Purnama, Robby Candra; Yuniar, Intan Aprelia; Zein , Meilani; Agustina, Risma Eka; Hafidz , M Luthfi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v2i3.225

Abstract

Background: Complementary food for breast milk is food or drink that contains nutrients given to children to meet their nutritional needs. Apples or in the Latin name Malus domestica are very good for toddlers as a drink (juice) to replace breast milk, this is because besides being delicious, apples have many health benefits for babies. This apple juice has several health benefits for babies, namely improving digestion, treating dysentery, relieving coughs, and nourishing the body. Coconut water or the Latin name Cocos nucifera is highly recommended as a baby's first drink after the baby has completed the journey of exclusive breastfeeding for 6 months. The various nutrients and properties contained in coconut water make it worthy to be called the second best drink after breast milk. Coconut water contains monolaurin, a substance from lauric acid that can build immunity and maintain the health of your little one. Purpose: To further improve the health of children under five and under-fives, as well as to maintain the growth and development of children during their growth period. Methods: In this community service activity the respondents are all mothers who have children under five and toddlers in the area of Posyandu Garuda, Panjang District. This activity uses poster media as a means of presenting material that can be read and taken home for respondents. Result: Counseling on complementary drinks made from apple juice and coconut water in the working area of ​​the Garuda Posyandu went well. Around 50 participants attended. This counseling is expected to increase knowledge of the quality of health to the community so that many toddlers and under-fives are guaranteed nutrition and nutrition. Conclusion: There is an increase in knowledge of breastfeeding mothers or mothers who have toddlers about the importance of consuming breast milk substitutes, who initially did not know the efficacy of apple juice and coconut water. Pendahuluan: Makanan pendamping ASI merupakan makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan kepada anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Buah Apel atau dalam nama latin Malus domestica sangat baik dikonsumsi balita sebagai  minuman (jus) pengganti asi, hal ini karena selain lezat, apel memiliki banyak manfaat kesehatan untuk bayi. Jus apel ini memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan pada bayi yaitu melancarkan pencernaan, mengobati disentri, meredakan batuk, dan menyehatkan tubuh. Air dugan atau nama latin Cocos nucifera sangat disarankan sebagai miuman pertama bayi setelah bayi menuntaskan perjalanan ASI eksklusif selama 6 bulan. Berbagai nutrisi dan khasiat yang terkandung di dalam air kelapa membuatnya layak untuk disebut sebagai minuman terbaik kedua setelah ASI. Air dugan mengandung monolaurin, zat dari asam laurat yang dapat membangun kekebalan tubuh serta menjaga kesehatan Si Kecil. Tujuan: Untuk lebih meningkatkan kesehatan anak balita dan baduta, serta menjaga tumbuh kembang anak dikala masa pertumbuhan. Metode: Dalam kegiatan pengabdian masyarkat ini respondennya adalah seluruh ibu yang memiliki  baduta dan balita yang berada diwilayah Posyandu Garuda Kecamatan Panjang, Kegiatan ini menggunakan media poster sebagai sarana mempersentasikan materi yang dapat dibaca dan dibawa pulang bagi responden. Hasil: Penyuluhan tentang minuman pendamping asi dari jus buah apel dan air kelapa diwilayah kerja posyandu Garuda berjalan dengan lancar. Peserta yang hadir sekitar 50 responden, dengan di adakan penyuluhan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mutu kesehatan kepada masyarakat agar banyak balita dan baduta yang terjamin gizi dan nutrisi nya. Simpulan: Adanya peningkatan pengetahutan ibu menyusui atau ibu yang mempunyai balita tentang pentinganya mengonsumsi minuman pengganti asi, yang awalnya tidak mengetahui khasiat dari jus buah apel dan air buah kelapa saat ini lebih memahami.
Sari kacang hijau sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) dalam upaya pencegahan stunting Purnama, Robby Candra; Lutfianawati, Dewi; Nira, Isnaini Luqi; Novalia, Wayan Ayu; Putri, Yolanda Anisa Kadil
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i1.258

Abstract

Background: After the age of 6 months the baby is started to be given Complementary food for breast milk (MP-ASI) is food that is easy to consume and digest by babies. MP ASI given must provide additional nutrition to meet the nutritional needs of a growing baby. Although breast milk is the best food for babies, babies >6 months old need more vitamins, minerals, protein, and carbohydrates. This high nutritional need cannot only be obtained from breast milk, but also requires additional complementary foods. One type of complementary food for breastfeeding (MP-ASI) that can be given by infants and toddlers is green bean juice. Purpose: To increase respondents' knowledge about the benefits and processing of mung bean juice as complementary food for breast milk (MP-ASI) for infants and toddlers. Method: In this counseling using demonstration and lecture methods. Results: Respondents can know and understand the benefits of mung bean juice and can make their own mung bean juice as complementary food for breast milk (MP-ASI) for infants and toddlers to prevent stunting. Conclusion: Respondents can know and understand the benefits of mung bean juice and can make their own mung bean juice as complementary food for breast milk (MP-ASI) for infants and toddlers to prevent stunting. Keywords: Complementary Foods for Breastfeeding; Green Bean Extract;  Prevention of Stunting Pendahuluan: Setelah berusia 6 bulan bayi mulai di berikan Makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan yang mudah dikonsumsi dan dicerna oleh bayi. MP ASI yang diberikan harus menyediakan nutrisi tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yang sedang bertumbuh. Walaupun ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, bayi berusia >6 bulan membutuhkan lebih banyak vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat. Kebutuhan gizi yang tinggi ini tidak bisa hanya didapatkan dari ASI, tetapi juga membutuhkan tambahan dari makanan pendamping ASI. Salah satu jenis makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang bisa diberikan oleh bayi dan balita yakni sari kacang hijau. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan responden tentang manfaat dan pengolahan sari kacang hijau sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi dan balita. Metode: Dalam penyuluhan ini menggunakan metode demonstrasi dan ceramah. Hasil: Responden dapat mengetahui dan memahami manfaat sari kacang hijau serta dapat membuat sendiri sari kacang hijau sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi dan balita guna pencegahan stunting. Simpulan: Responden dapat mengetahui dan memahami manfaat sari kacang hijau serta dapat membuat sendiri sari kacang hijau sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi dan balita guna pencegahan stunting.
Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) sebagai penambahan zat besi untuk balita usia (6 – 24 bulan) dan pencegahannya terhadap stunting Purnama, Robby Candra; Putri, Amelia; Arini, Dhana Putri; Intani, Fanjeli; Wijaya, Renaldi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i2.261

Abstract

Background: Complementary food for breast milk (MP-ASI) is additional food given to infants after the age of 6 to 24 months, in order to meet nutrition other than breast milk. At this age, babies need more nutrition. Purpose: This counseling aims to provide knowledge regarding good complementary foods and the substances needed for babies. This is done because breast milk is no longer able to meet the baby's needs continuously. Method: The method used is by conducting educational outreach to the people of Pidada Village, Panjang District. This counseling is specifically for breastfeeding mothers who have toddlers aged 6-24 months. Results: From this counseling, various kinds of complementary foods and drinks were explained. Also given the ways of manufacture of the advantages of these products. Giving MP-ASI starting from the age of 6 months helps your little one to recognize foods other than breast milk. If your child is familiar with food at the right age, he also tends to be more receptive to foods other than breast milk. Conclusion: From the counseling that has been carried out, it is concluded that the community can increase their understanding of giving MP-ASI to toddlers aged 6-24 months and not giving MP-ASI too early (less than 4 months) because there will be a risk of stunting. Keywords: Complementary Feeding; Nutrition; Stunting. Pendahuluan: Makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan tambahan yang diberikan terhadap bayi setelah berusia 6 sampai berusia 24 bulan, guna memenuhi gizi selain dari ASI. Pada usia tersebut bayi lebih membutuhkan banyak gizi. Tujuan: Penyuluhan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan terkait makanan pendamping ASI yang baik serta zat-zat yang diperlukan bagi bayi. Hal ini dilakukan karena ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus-menerus. Metode: Metode yang dilakukan adalah dengan cara melakukan penyuluhan edukasi terhadap masyarakat Kelurahan Pidada Kecamatan Panjang. Penyuluhan ini dikhususkan bagi para ibu menyusui yang memiliki balita berusia 6-24 bulan. Hasil: Dari penyuluhan ini dijelaskan macam-macam makanan dan minuman pendamping ASI. Diberikan pula cara-cara pembuatannya dari kelebihan produk tersebut. Pemberian MP-ASI mulai dari usia 6 bulan membantu si kecil untuk mengenal makanan selain ASI. Jika si kecil sudah mengenal makanan di usia yang tepat, ia juga cenderung lebih mudah menerima makanan selain ASI. Simpulan: Dari penyuluhan yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa masyarakat dapat meningkatkan pemahaman mengenai pemberian MP-ASI pada balita yang berusi 6-24 bulan dan tidak memberi MP-ASI terlalu dini (kurang dari 4bulan) karena akan berisiko terjadi nya Stunting.
Program Pemenuhan Kebutuhan Kalsium dengan Susu Kedelai Pengganti Susu Formula pada Anak-Anak TPA Masjid Baitussalam Purnama, Robby Candra; Octonariz, Vito Zhafran; Fajar, Muhammad Surya
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i2.18622

Abstract

ABSTRAK Pemenuhan kalsium anak-anak adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam menciptakan generasi yang sehat, kuat, dan cerdas. Untuk itu pilihan konsumsi minuman juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi yang tepat mengenai pemilihan minuman yang lebih sehat sejak usia dini. Salah satu alternatif minuman sehat yang dapat diperkenalkan kepada anak-anak adalah susu kedelai. Susu kedelai merupakan minuman nabati yang kaya akan protein, kalsium, serat, serta berbagai vitamin dan mineral yang sangat baik untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan anak. Kegiatan ini dilakukan dengan 2 metode. Pertama dengan melakukan sosialisasi yaitu penyampaian materi secara interaktif mengenai cara membedakan minuman kemasan yang baik dan tidak baik. Materi ini akan menjelaskan tentang bahayanya minuman kemasan apabila di konsumsi secara berlebihan, manfaat minuman yang baik bagi tubuh dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan tubuh. Kedua, Demonstrasi yaitu dilakukan praktik langsung dengan membagikan minuman susu kedelai. Hasil dari kegiatan adalah beberapa materi utama yang disampaikan mencakup penting nya dalam menjaga kesehatan dan dampak dari minuman kemasan  Selain itu, disampaikan edukasi tentang minuman sehat dan aman dikonsumsi bagi anak – anak. Kesimpulan dari kegiatan tersebut adalah pentingnya pengenalan sumber kalsium yang terjangkau sebagai pengganti susu formula, dan salah satunya adalah susu kedelai. Kata Kunci: Kalsium, Susu Kedelai, Sosialisasi, Demonstrasi  ABSTRACT Fulfilling children's calcium intake was a very important aspect in creating a healthy, strong and intelligent generation. For this reason, the choice of drink consumption also needs to be considered. Therefore, it was important to provide appropriate education regarding choosing healthier drinks from an early age. One alternative healthy drink that can be introduced to children is soy milk. Soy milk is a vegetable drink that is rich in protein, calcium, fiber, and various vitamins and minerals which are very good for supporting children's growth and health. This activity was carried out using 2 methods. First, by conducting outreach, namely delivering interactive material on how to differentiate between good and bad packaged drinks. This material will be explained the dangers of packaged drinks if consumed excessively, the benefits of good drinks for the body and how they affect body health. Second, demonstrations, namely direct practice by distributing soy milk drinks. The results of the activity were some of the main material presented included the importance of maintaining health and the impact of packaged drinks. Apart from that, education was provided about healthy and safe drinks for children to consume. The conclusion from this activity was the importance of introducing affordable sources of calcium as a substitute for formula milk, and one of them is soy milk. Keywords: Calcium, Soy Milk, Socialization, Demonstration
Upaya Peningkatan Kesehatan Mata Akibat Penggunaan Gawai dengan Asupan Makanan Olahan Mengandung Vitamin A (Retinol) pada Anak-Anak Tpa Masjid Baitussalam Octonariz, Vito Zhafran; Purnama, Robby Candra; Putri, Rahma Febrilia
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i2.18623

Abstract

ABSTRAK Penggunaan gawai di kalangan anak-anak telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dalam era digital ini, gawai seperti ponsel pintar, tablet, dan komputer, digunakan oleh anak-anak untuk berbagai keperluan, seperti belajar, bermain, dan hiburan. Anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gawai berisiko mengalami berbagai gangguan penglihatan. Gangguan yang paling umum adalah kelelahan mata, yang ditandai dengan gejala seperti mata kering, penglihatan kabur, dan sakit kepala. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi yang tepat mengenai penggunaan gawai dan kesehatan mata sejak usia dini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengkonsumsi makanan mengandung vitamin A (Retinol). Vitamin A dalam pangan salah satunya terkandung dalam sayuran seperti wortel. Kegiatan ini dilakukan dengan 2 metode. Pertama dengan melakukan sosialisasi yaitu penyampaian pembelajaran secara interaktif mengenai cara menjaga kesehatan mata. Pembelajaran interaktif ini akan menjelaskan tentang bahaya penggunaan gawai yang berlebihan, bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan mata, dan langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah gangguan penglihatan. Kedua, Dilakukan praktik langsung dengan membagikan makanan olahan mengandung vitamin A. Dilanjutkan dengan permainan edukasi terkait materi. Hasil dari kegiatan adalah materi pembelajaran interaktif yang disampaikan mencakup penting nya dalam menjaga kesehatan mata dan dampak dari penggunaan gawai yang berlebihan. Selain itu, disampaikan edukasi tentang asupan gizi yang baik untuk kesehatan mata. Kesimpulan dari kegiatan tersebut adalah pentingnya edukasi terkait penggunaan gawai dan kesehatan mata sejak usia dini dan diharapkan kegiatan ini akan melibatkan orang tua dan pendidik untuk memantau penggunaan gawai oleh anak-anak mereka dan mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari gangguan penglihatan. Kata Kunci: Gawai, Vitamin A, Sosialisasi, Demonstrasi  ABSTRACT Gadget usage among children has become an inseparable part of everyday life. In this digital era, gadgets such as smartphones, tablets, and computers, are used by children for various purposes, such as studying, playing, and entertainment. Children who spend hours using gadgets are at risk of experiencing various vision disorders. The most common disorder is eye fatigue, which is characterized by symptoms such as dry eyes, blurred vision, and headaches. Therefore, it is important to provide proper education about gadget usage and eye health from an early age. One effort can be made to consume foods containing vitamin A (Retinol). Vitamin A in food is contained in vegetables such as carrots. This activity was carried out using 2 methods, First, by conducting socialization, namely delivering interactive learning on how to maintain eye health. This interactive learning will explain the dangers of excessive gadget usage, how it affects eye health, and steps that can be taken to prevent vision disorders. Second, direct practice was carried out by distributing processed foods containing vitamin A. Continued with educational games related to the material. The results of the activity are some of the interactive learning materials delivered including the importance of maintaining eye health and the impact of excessive gadget usage. In addition, education was delivered about good nutritional intake for eye health. The conclusion of the activity is the importance of education related to gadget usage and eye health from an early age and it is hoped that this activity will engage parents and educators to monitor their children's usage of gadgets and take precautions to avoid vision disorders. Keywords: Gadgets, Vitamin A, Socialization, Demonstration
Uji Cemaran Bakteri Coliform Pada Minuman Teh Seduhan Yang Dijual Di Simpur Center Bandar Lampung Dengan Metode Most Probable Number (MPN) Purnama, Robby Candra; Octonariz, Vito Zhafran
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20474

Abstract

Minuman teh seduhan merupakan salah satu terobosan baru dalam penjualan teh berbagai rasa untuk semakin menarik minat para konsumen. Minuman teh seduhan dapat mengalami kerusakan secara mikrobiologi seperti layaknya pada makanan dan minuman lainnya melalui berbagai faktor. Faktor tersebut salah satunya adalah air. Indikator adanya pencemaran air oleh bakteri patogen penyebab penyakit ialah Coliform. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 bahwa untuk syarat bakteriologis air yang melalui atau tanpa melalui proses pengolahan batas kandungan E. coli atau faecal coli didalam 100 ml sampel air sebanyak 0 (tidak ada) dan batas kandungan total bakteri Coliform didalam 100 ml air adalah sebanyak 0 (tidak ada). Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian uji cemaran bakteri Coliform pada minuman teh seduhan yang dijual di Simpur Center Bandar Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya jumlah bakteri Coliform pada minuman teh seduhan yang dijual di Simpur Center Bandar Lampung sesuai dengan Persyaratan BPOM 2012 tidak lebih dari 2 APM/100 ml. Pengujian dilakukan dengan metode Most Probable Number (MPN). Metode ini merupakan uji deret tabung yang menyuburkan pertumbuhan Coliform sehingga diperoleh nilai untuk menduga jumlah Coliform dalam sampel uji. Sampel yang diuji adalah minuman teh seduhan yang diambil dari 4 pedagang minuman teh seduhan. Dari keempat sampel yang diambil positif 100 % tercemar Coliform dan cemaran Coliform melebihi batas Cemaran yang ditetapkan oleh Kepala Badan POM RI Nomor HK.00.06.1.52.4011 yaitu dibawah 2APM/ 100 ml.
ANALISIS KADAR VITAMIN C PADA PETAI (Parkia speciosa Hassk) YANG DIBUDIDAYAKAN DI DESA GAYAM KECAMATAN KALIANDA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN SECARA IODIMETRI Octonariz, Vito Zhafran; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20482

Abstract

Vitamin C merupakan salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan tubuh. Sumber vitamin C umumnya terdapat pada pangan yaitu sayuran dan buah-buahan segar. Beberapa pustaka mengatakan bahwa petai segar mengandung vitamin C dan dapat dijadikan pangan untuk memenuhi asupan vitamin C tubuh. Analisis Kadar Vitamin C pada petai (Parkia speciosa Hassk) yang dibudidayakan di Desa Gayam Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan secara Iodimetri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C pada sampel petai gajah dan petai kacang. Metode yang digunakan yaitu metode Iodimetri yang disebut juga titrasi langsung dimana zat uji langsung dititrasi dengan larutan iodium standar dan larutan amilum sebagai indikatornya. Hasil analisis kadar vitamin C pada sampel petai gajah dan petai kacang secara berturut-turut yaitu sebesar 40,05 dan 37,25 mg/100 g. Dari hasil analisis kadar tersebut diperoleh nilai uji presisi yang sudah memenuhi syarat keberterimaan dengan nilai koefisien variasi (KV) untuk sampel petai gajah dan petai kacang secara berturut-turut yaitu sebesar 1,76% dan 1,80%. Berdasarkan analisis tersebut petai mengandung vitamin C yang cukup tinggi dan petai dapat dijadikan salah satu pangan untuk memenuhi asupan vitamin C pada tubuh.