Claim Missing Document
Check
Articles

PENETAPAN KADAR FLAVONOID PADA BATANG PEPAYA (Carica papaya L.) DENGAN METODE SPEKTROMETRI UV – VIS Annisa Primadiamanti; Robby Candra Purnama; Nikhita Anindya Salsabilla
Jurnal Farmasi Malahayati Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v5i1.6734

Abstract

Tanaman pepaya (Carica papaya L.)  merupakan salah satu jenis tanaman tropis tumbuh di Indonesia, yang banyak dimanfaatkan sebagai sumber pangan seperti  buah, daun dan bunganya. Namun, manfaat dari batang pepaya sehubungan dengan metabolit sekunder yang dimilikinya, seperti  saponin, tanin, antrakuinon, alkaloid dan flavonoid, belum banyak diketahui. Flavonoid merupakan senyawa polifenol yang dapat berperan sebagai antioksidan, antibakteri, antikolestrol, antihiperlipidemia, antidiabetes, antiradang dan antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar yang terkandung pada batang pepaya menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis. Ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak diuji secara kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif dilakukan dengan reaksi warna dengan hasil terbentuk warna merah yang menandakan ekstrak mengandung flavonoid. Penetapan kadar flavonoid total menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding kuarsetin dengan panjang gelombang  maksimum  sebesar 433 nm. Diperoleh  persamaan  regresi  linier  yaitu y = 0,0085 x + 0,0057 dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,99868. Hasil uji kuantitatif kadar rata-rata flavonoid pada ekstrak etanol batang pepaya sebesar 6,0333±0,0002 mg QE/g ekstrak atau  0,60333±0,0002  % b/b.
Sari kacang hijau sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) dalam upaya pencegahan stunting Robby Candra Purnama; Dewi Lutfianawati; Isnaini Luqi Nira; Wayan Ayu Novalia; Yolanda Anisa Kadil Putri
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i1.258

Abstract

Background: After the age of 6 months the baby is started to be given Complementary food for breast milk (MP-ASI) is food that is easy to consume and digest by babies. MP ASI given must provide additional nutrition to meet the nutritional needs of a growing baby. Although breast milk is the best food for babies, babies >6 months old need more vitamins, minerals, protein, and carbohydrates. This high nutritional need cannot only be obtained from breast milk, but also requires additional complementary foods. One type of complementary food for breastfeeding (MP-ASI) that can be given by infants and toddlers is green bean juice. Purpose: To increase respondents' knowledge about the benefits and processing of mung bean juice as complementary food for breast milk (MP-ASI) for infants and toddlers. Method: In this counseling using demonstration and lecture methods. Results: Respondents can know and understand the benefits of mung bean juice and can make their own mung bean juice as complementary food for breast milk (MP-ASI) for infants and toddlers to prevent stunting. Conclusion: Respondents can know and understand the benefits of mung bean juice and can make their own mung bean juice as complementary food for breast milk (MP-ASI) for infants and toddlers to prevent stunting. Keywords: Complementary Foods for Breastfeeding; Green Bean Extract;  Prevention of Stunting Pendahuluan: Setelah berusia 6 bulan bayi mulai di berikan Makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan yang mudah dikonsumsi dan dicerna oleh bayi. MP ASI yang diberikan harus menyediakan nutrisi tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yang sedang bertumbuh. Walaupun ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, bayi berusia >6 bulan membutuhkan lebih banyak vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat. Kebutuhan gizi yang tinggi ini tidak bisa hanya didapatkan dari ASI, tetapi juga membutuhkan tambahan dari makanan pendamping ASI. Salah satu jenis makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang bisa diberikan oleh bayi dan balita yakni sari kacang hijau. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan responden tentang manfaat dan pengolahan sari kacang hijau sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi dan balita. Metode: Dalam penyuluhan ini menggunakan metode demonstrasi dan ceramah. Hasil: Responden dapat mengetahui dan memahami manfaat sari kacang hijau serta dapat membuat sendiri sari kacang hijau sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi dan balita guna pencegahan stunting. Simpulan: Responden dapat mengetahui dan memahami manfaat sari kacang hijau serta dapat membuat sendiri sari kacang hijau sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi dan balita guna pencegahan stunting.
Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) sebagai penambahan zat besi untuk balita usia (6 – 24 bulan) dan pencegahannya terhadap stunting Robby Candra Purnama; Amelia Putri; Dhana Putri Arini; Fanjeli Intani; Renaldi Wijaya
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i2.261

Abstract

Background: Complementary food for breast milk (MP-ASI) is additional food given to infants after the age of 6 to 24 months, in order to meet nutrition other than breast milk. At this age, babies need more nutrition. Purpose: This counseling aims to provide knowledge regarding good complementary foods and the substances needed for babies. This is done because breast milk is no longer able to meet the baby's needs continuously. Method: The method used is by conducting educational outreach to the people of Pidada Village, Panjang District. This counseling is specifically for breastfeeding mothers who have toddlers aged 6-24 months. Results: From this counseling, various kinds of complementary foods and drinks were explained. Also given the ways of manufacture of the advantages of these products. Giving MP-ASI starting from the age of 6 months helps your little one to recognize foods other than breast milk. If your child is familiar with food at the right age, he also tends to be more receptive to foods other than breast milk. Conclusion: From the counseling that has been carried out, it is concluded that the community can increase their understanding of giving MP-ASI to toddlers aged 6-24 months and not giving MP-ASI too early (less than 4 months) because there will be a risk of stunting. Keywords: Complementary Feeding; Nutrition; Stunting. Pendahuluan: Makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan tambahan yang diberikan terhadap bayi setelah berusia 6 sampai berusia 24 bulan, guna memenuhi gizi selain dari ASI. Pada usia tersebut bayi lebih membutuhkan banyak gizi. Tujuan: Penyuluhan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan terkait makanan pendamping ASI yang baik serta zat-zat yang diperlukan bagi bayi. Hal ini dilakukan karena ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus-menerus. Metode: Metode yang dilakukan adalah dengan cara melakukan penyuluhan edukasi terhadap masyarakat Kelurahan Pidada Kecamatan Panjang. Penyuluhan ini dikhususkan bagi para ibu menyusui yang memiliki balita berusia 6-24 bulan. Hasil: Dari penyuluhan ini dijelaskan macam-macam makanan dan minuman pendamping ASI. Diberikan pula cara-cara pembuatannya dari kelebihan produk tersebut. Pemberian MP-ASI mulai dari usia 6 bulan membantu si kecil untuk mengenal makanan selain ASI. Jika si kecil sudah mengenal makanan di usia yang tepat, ia juga cenderung lebih mudah menerima makanan selain ASI. Simpulan: Dari penyuluhan yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa masyarakat dapat meningkatkan pemahaman mengenai pemberian MP-ASI pada balita yang berusi 6-24 bulan dan tidak memberi MP-ASI terlalu dini (kurang dari 4bulan) karena akan berisiko terjadi nya Stunting.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) DALAM SEDIAAN OBAT KUMUR TERHADAP JAMUR Candida albicans PENYEBAB SARIAWAN Septiyanti, Anisa Eka; Retnaningsih, Agustina; Purnama, Robby Candra; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11874

Abstract

Kelor merupakan spesies family moringaceae yang sudah banyak ditanam. Kandungan Senyawa yang terdapat pada daun kelor memiliki aktivitas sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dalam sediaan obat kumur terhadap jamur Candida albicans. Penelitian dilakukan dengan cara daun kelor yang sudah dikeringkan kemudian digiling menjadi serbuk, kemudian dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak daun kelor dibuat sediaan obat kumur dengan 3 formulasi yaitu konsentrasi 6%, 8% dan 10%. Selanjutnya dilakukan uji fisik terhadap sediaan obat kumur yang meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji bobot jenis dan uji hedonik. Untuk uji aktivitas terhadap jamur Candida albicans dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada uji sifat fisik organoleptis, uji viskositas dan bobot jenis yaitu memenuhi syarat, sedangkan pada uji hedonik sediaan FI  dengan konsentrasi 6% paling banyak disukai. Untuk uji aktivitas antijamur ekstrak daun kelor dalam sediaan obat kumur dengan konsentrasi 6%, 8%, 10% menunjukan tidak adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa ekstrak daun kelor (Moringa oleiera L.) tidak menunjukan adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans.
PENETAPAN KADAR BESI (Fe) PADA DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) MENGGUNAKAN METODE MPAES Yanti, Evina; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i1.9912

Abstract

Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) adalah tanaman yang termasuk liar dan dapat tumbuh di tanah kosong, daerah pantai dan juga hutan. Sebagian orang ada yang menanam jarak pagar (Jatropha curcas L) sebagi pagar rumah dan biasanya juga untuk pagar pembatas, sebagian orang ada yang belum mengetahui manfaat dari tanaman liar ini sebagai tanaman obat.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar besi (Fe) pada daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) menggunakan metode MPAES. Pada penetapan kadar besi (Fe) dilakukan preparasi  sampel terlebih dahulu, Sampel yang telah dikeringkan di destruksi untuk memecahkan senyawa organik dalam sampel. Hasil penelitian ini didapatkan kurva kalibrasi besi (Fe) yang diperoleh dari hasil pengukuran panjang gelombang maksimum pada lampu katoda besi yaitu pada panjang gelombang 248,40 nm dan dari pengukuran kurva kalibrasi larutan besi diperoleh persamaan garis regresi yaitu y = 0,010483 + 0,09074x. Dengan koefesien korelasi (x) besi sebesar 0,9985. Hasil analisis zat besi pada daun jarak pagar dilakukan pengulanngan sebanyak 3 kali, pengulangan 1 didapatkan kadar 5,98, pada pengulangan 2 yaitu 5,99 dan pengulangan 3 yaitu 5,99, sehingga didapatkan kadar rata-rata 5,98 mg/100gram. Berdasarkan penelitian penetapan kadar besi (Fe) pada daun jarak pagar yang di dapatkan hasil 5,98 mg/100gram.
Pengaruh Lama Penyimpanan Kapsul Kloramfenikol Yang Diperoleh Dari Puskesmas Kabupaten Pringsewu Terhadap Kadar Menggunakan Metode Nitrimetri Octonariz, Vito Zhafran; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.17568

Abstract

Kloramfenikol merupakan antibiotik yang mempunyai spektrum luas terutama terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Kloramfenikol dipilih untuk mengobati penyakit demam tipus, paratifus, pneumonia, batuk kering, infeksi saluran kemih, infeksi berat yang disebabkan salmonella spp, Haemophilus influenza, Gram negatif yang menyebabkan bakterimia meningitis atau infeksi berat lainnya. Sampel diambil dari puskesmas yang ada di Kabupaten Pringsewu secara random sampling untuk mengetahui seberapa besar pengaruh lama penyimpanan kloramfenikol sediaan kapsul terhadap penurunan kadar. Metode penetapan kadar sampel yang digunakan adalah nitrimetri. Nitrimetri adalah reaksi diazotasi terbentuknya garam diazonium oleh reaksi senyawa amina primer aromatis atau alifatik dengan asam nitrit dalam lingkungan asam HCl, pada suhu rendah atau didinginkan. Dari hasil analisis kualitatif, semua sampel positif mengandung kloramfenikol. Sedangkan hasil analisis kuantitatif dengan lama penyimpanan 7 hari sampai 110 hari, sampel mengalami penurunan kadar, tetapi masih sesuai dengan standar Farmakope Indonesia Edisi III yaitu, tidak kurang dari 92,5% dan tidak lebih dari 107,5% dari jumlah yang tertera pada etiket. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan lama penyimpanan kapsul kloramfenikol dapat mempengaruhi kadar kloramfenikol.
Identifikasi Pewarna Metanil Yellow Pada Makanan Jelly Bermerk Yang Dijual Di Pasar Way Kandis Bandar Lampung Dengan Metode Kromatografi Kertas Purnama, Robby Candra; Octonariz, Vito Zhafran
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.17531

Abstract

Jelly adalah salah satu jenis produk makanan yang pada umumnya berbentuk semi padat dengan rasa manis. Jelly terbuat dari sari buah dan dimasak dengan gula yang berwarna jernih, transparan dan cukup kukuh mempertahankan bentuknya apabila dikeluarkan dari wadah. Dalam pembuatan jelly seringkali ditambahkan bahan tambahan makanan yang salah satunya adalah pewarna. Pewarna ditambahkan dengan tujuan untuk memberikan kesan yang menarik bagi konsumen. Tetapi, tidak semua jenis pewarna yang ditambahkan pada makanan diizinkan oleh pemerintah. Berdasarkan PERMENKES RI NO : 239/Menkes/Per/V/1985, pewarna Metanil Yellow (Kuning) dinyatakan sebagai bahan berbahaya bila digunakan untuk makanan dan minuman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pewarna Metanil Yellow pada jelly bermerk khususnya jelly yang berwarna kuning dengan menggunakan metode kromatografi kertas. Sampel yang diperiksa diambil dari Pasar Way Kandis Bandar lampung dengan tiga merk yang berbeda. Dari hasil penelitian pada ketiga sampel yang diperiksa menunjukan hasil yang negatif, hal ini dilihat dari tidak timbulnya bercak pada totolan sampel. Sehingga ketiga sampel yang diperiksa A, B, dan C tidak menggunakan atau 0% menggunakan pewarna Metanil Yellow.
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK SEDIAAN SABUN MANDI CAIR EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) Safitri, Laila; Retnaningsih, Agustina; Winahyu, Diah Astika; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 1 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i1.14987

Abstract

Daun kelor memiliki kandungan metabolit sekunder salah satunya adalah senyawa alkaloid. Alkaloid memiliki salah satu aktivitas  antibakteri yang dapat diformulasikan menjadi sediaan sabun cair. Penelitian ini bertujuan untuk untuk membuat formulasi dalam bentuk sediaaan sabun cair ekstrak daun kelor dan mengetahui sifat fisik sabun cair dari ekstrak daun kelor. Proses pembuatan sabun mandi cair dilakukan dengan tahap awal preparasi daun kelor yang diolah menjadi serbuk lalu dilanjutkan dengan tahap maserasi menggunakan pelarut etanol 96% yang dilakukan selama 24 jam. Hasil dari proses maserasi kemudian dievaporasi untuk diambil ekstrak kental sehingga dapat digunakan untuk pembuatan sabun cair. Metode yang digunakan untuk pembuatan sabun dengan memanaskan fase minyak dan fase air dengan penambahan pengemulsi. Sabun mandi cair diformulasikan menjadi sediaan dengan empat formulasi yang berbeda, formulasi 0 (0%), formulasi 1 (5%), formulasi 2 (10%), dan formulasi 3 (15%). Sediaan sabun mandi cair dari ekstrak daun kelor yang diuji dengan menggunakan uji sifat fisik dalam penelitian ini meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, dan uji tinggi busa. Hasil pengujian ekstrak daun kelor positif mengandung alkaloid, pada uji sifat fisik sediaan sabun mandi cair ekstrak daun kelor semua formulasi dinyatakan memenuhi persyaratan pengujian organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, dan uji tinggi busa.
Identifikasi Pewarna Metanil Yellow Pada Makanan Jelly Bermerk Yang Dijual Di Pasar Way Kandis Bandar Lampung Dengan Metode Kromatografi Kertas Purnama, Robby Candra; Octonariz, Vito Zhafran
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.17531

Abstract

Jelly adalah salah satu jenis produk makanan yang pada umumnya berbentuk semi padat dengan rasa manis. Jelly terbuat dari sari buah dan dimasak dengan gula yang berwarna jernih, transparan dan cukup kukuh mempertahankan bentuknya apabila dikeluarkan dari wadah. Dalam pembuatan jelly seringkali ditambahkan bahan tambahan makanan yang salah satunya adalah pewarna. Pewarna ditambahkan dengan tujuan untuk memberikan kesan yang menarik bagi konsumen. Tetapi, tidak semua jenis pewarna yang ditambahkan pada makanan diizinkan oleh pemerintah. Berdasarkan PERMENKES RI NO : 239/Menkes/Per/V/1985, pewarna Metanil Yellow (Kuning) dinyatakan sebagai bahan berbahaya bila digunakan untuk makanan dan minuman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pewarna Metanil Yellow pada jelly bermerk khususnya jelly yang berwarna kuning dengan menggunakan metode kromatografi kertas. Sampel yang diperiksa diambil dari Pasar Way Kandis Bandar lampung dengan tiga merk yang berbeda. Dari hasil penelitian pada ketiga sampel yang diperiksa menunjukan hasil yang negatif, hal ini dilihat dari tidak timbulnya bercak pada totolan sampel. Sehingga ketiga sampel yang diperiksa A, B, dan C tidak menggunakan atau 0% menggunakan pewarna Metanil Yellow.
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK SEDIAAN SABUN MANDI CAIR EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) Safitri, Laila; Retnaningsih, Agustina; Winahyu, Diah Astika; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 1 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i1.14987

Abstract

Daun kelor memiliki kandungan metabolit sekunder salah satunya adalah senyawa alkaloid. Alkaloid memiliki salah satu aktivitas  antibakteri yang dapat diformulasikan menjadi sediaan sabun cair. Penelitian ini bertujuan untuk untuk membuat formulasi dalam bentuk sediaaan sabun cair ekstrak daun kelor dan mengetahui sifat fisik sabun cair dari ekstrak daun kelor. Proses pembuatan sabun mandi cair dilakukan dengan tahap awal preparasi daun kelor yang diolah menjadi serbuk lalu dilanjutkan dengan tahap maserasi menggunakan pelarut etanol 96% yang dilakukan selama 24 jam. Hasil dari proses maserasi kemudian dievaporasi untuk diambil ekstrak kental sehingga dapat digunakan untuk pembuatan sabun cair. Metode yang digunakan untuk pembuatan sabun dengan memanaskan fase minyak dan fase air dengan penambahan pengemulsi. Sabun mandi cair diformulasikan menjadi sediaan dengan empat formulasi yang berbeda, formulasi 0 (0%), formulasi 1 (5%), formulasi 2 (10%), dan formulasi 3 (15%). Sediaan sabun mandi cair dari ekstrak daun kelor yang diuji dengan menggunakan uji sifat fisik dalam penelitian ini meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, dan uji tinggi busa. Hasil pengujian ekstrak daun kelor positif mengandung alkaloid, pada uji sifat fisik sediaan sabun mandi cair ekstrak daun kelor semua formulasi dinyatakan memenuhi persyaratan pengujian organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, dan uji tinggi busa.