Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pembelajaran Sejarah di Abad 21 (Telaah Teoritis terhadap Model dan Materi) Een Syaputra; Sariyatun Sariyatun
Yupa: Historical Studies Journal Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.199 KB) | DOI: 10.30872/yupa.v3i1.163

Abstract

Model dan materi pembelajaran merupakan dua elemen inti yang masih mengalami banyak masalah dalam praksis pembelajaran Sejarah di abad 21. Artikel ini bertujuan untuk melakukan telaah teoritis terhadap model pembelajaran dan materi ajar Sejarah dalam bingkai pendidikan abad 21. Penelitian ini dilakukan dengan matode kepustakaan. Langkah penelitian yang dilakukan adalah: 1) menyiapkan alat dan perlengkapan; 2) menyusunn bibliografi kerja; 3) mengatur waktu penelitian; 4) membaca dan membuat catatan peneltian; dan 5) menyimpulkan dan menganalisis hasil peneltian. Hasil telaah menunjukkan bahwa: 1) Untuk mengembangkan keterampilan abad 21 dalam pembelajaran Sejarah, diperlukan model pembelajaran yang dapat menghubungkan materi pembelajaran Sejarah dengan kehidupan nyata peserta didik, terutama terhadap permasalahan sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Selain itu, model pembelajaran dalam bingkai pendidikan abad 21 adalah model pembelajaran yang di dalamnya terdapat proses pengumpulan dan analsis data, pemecahan masalah, dan kolaborasi. Beberapa model yang memiliki orientasi ke arah keterampilan tersebut antara lain Problem Based Learning, Project Based Learning, Discovery Learnin, dan Inquiry Learning; 2) Untuk mendukung keterampilan abad 21, diperlukan perubahan dari materi yang bersifat text menjadi materi ajar yang berbasis website. Dari segi isi, materi ajar berbasis masalah sosial dan berbasis nilai, menjadi penting untuk dikembangkan.
Analisis dan perancangan mobile learning berbasis cagar budaya di Kabupaten Sragen sebagai media pembelajaran sejarah Atik Dwi Kurniasih; Sunardi Sunardi; Sariyatun Sariyatun
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i12023p126-139

Abstract

In welcoming Indonesia's golden generation in 2045, the world of education has a big challenge, namely realizing quality education where the teacher's role is significant, especially in becoming creative, innovative, and inspiring teachers in designing meaningful learning activities. The existence of the times makes learning history a big challenge, and teachers must be able to adapt to the nature of the times, one of which is the rapid development of technology and communication. This study analyzes the urgency of developing smart history learning media for cultural heritage-based smartphones. The method used in this research is research and development. Data were collected through observation and literature study for reference in the early stages of the investigation. They were taking samples from questionnaires to analyze the need for designing mobile learning based on cultural heritage as a medium for learning history to 264 high school students in Sragen Regency. The initial stage of product design explains the materials and media in the form of various cultural heritages in the Sragen district. This study's results are quite significant: 97.7 percent have smartphones, almost 46.1 percent of respondents use smartphones to study, and 97.7 percent answered that it is important to take advantage of cultural heritage in history learning.Dalam menyongsong generasi emas Indonesia di tahun 2045, dunia pendidikan memiliki tantangan besar yaitu mewujudkan pendidikan yang berkualitas dimana peran guru sangat besar, terutama menjadi guru yang kreatif, inovatif, dan inspiratif dalam merancang kegiatan pembelajaran yang bermakna. Adanya perkembangan zaman membuat pembelajaran sejarah menjadi tantangan besar, dan guru harus mampu beradaptasi dengan alam perkembangan zaman, salah satunya perkembangan teknologi dan komunikasi yang begitu pesat. Penelitian ini menganalisis urgensi pengembangan media pembelajaran sejarah pintar untuk smartphone berbasis cagar budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Data dikumpulkan melalui observasi dan studi literatur sebagai referensi pada tahap awal penelitian. Kemudian dilakukan penyebaran kuesioner untuk menganalisis kebutuhan perancangan mobile learning berbasis cagar budaya sebagai media pembelajaran sejarah kepada 264 siswa SMA di Kabupaten Sragen. Tahap awal perancangan produk menjelaskan materi dan media berupa berbagai cagar budaya yang ada di kabupaten Sragen. Hasil penelitian ini cukup signifikan: 97.7 persen memiliki smartphone, hampir 46.1 persen responden menggunakan smartphone untuk belajar, dan 97.7 persen menjawab penting untuk memanfaatkan cagar budaya dalam pembelajaran sejarah.
REKONRTRUKSI PEMIKIRAN KIAI IBRAHIM TUNGGUL WULUNG SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN LOGIKA BERPIKIR POSTKOLONIAL UNTUK OPTIMALISASI JATI DIRI BANGSA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH HUMANIS Reni Dikawati; Sariyatun Sariyatun; Warto Warto
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 7, No 1 (2019): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.481 KB) | DOI: 10.24127/hj.v7i1.1511

Abstract

Pembelajaran sejarah humanis menjadi upaya meneguhkan sisi kemanusiaan dengan pengembangan pengalaman dan kemampuan alamiah baik fisik maupun nonfisik. Penelitian ini mengembangkan pengalaman belajar dengan rekontruksi pemikiran Kiai Ibrahim Tunggul Wulung pada mahasiswa pendidikan sejarah Universitas Negeri Yogyakarta di mata kuliah sejarah kolonial. Logika berpikir postkolonial mahasiswa untuk optimalisasi jati diri bangsa menjadi corpus penelitian. Temuan penting dari penelitian adalah kontruksi logika postkolonial digunakan sebagai dasar epistemologi menarasikan wacana jati diri bangsa. Analisis menunjukkan intepretasi mahasiswa terhadap narasi jati diri bangsa mampu mengidentifikasi tingkat ketercapaian sikap mahasiswa dalam taksonomi Bloom hasil revisi Peggy Dettmer (2006) di ranah afektif. Dalam perspektif peneliti, logika berpikir postkolonial merupakan sikap yang berkontribusi membentuk mentalitas penghayatan keberagaman sebagai akumulasi karakter jati diri bangsa, memberi peluang borderline menjadi frontline (negosiasi), sehingga memperkuat kebhinekaan sebagai identitas.
Integrasi Life Skills Education dalam Pembelajaran Sejarah Muadz Assidiqi; Sariyatun Sariyatun; Hieronymus Purwanta
Diakronika Vol 23 No 1 (2023): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/diakronika/vol23-iss1/286

Abstract

Education is an effort of knowledge in human nature to have various beneficial skills for the future. One by-type of this education is life skills education. Furthermore, education requires an actualization process through activities such as history learning. History learning is a process of a causal relationship between the past, present, and future to improve students’ soft skills. Thus, the method used in this research is qualitative with an instrumental case study approach at SMA N 1 Boyolali to provide an overview of the integration of life skills education in history learning. Data sources in this article are interviews, questionnaires, observations, and documentation. The data obtained analyze through interactive data analysis with the Nvivo 12 Pro software application in data reduction and display data. The article concludes that the integration of life skills education in history learning can improve students' soft skills consisting of personal, interpersonal, and cognitive skills.
The Development of ‘CABASA’ Application as History Learning Media Based Cultural Heritage Atik Dwi Kurniasih; Sunardi Sunardi; Sariyatun Sariyatun
Asian Journal of Social and Humanities Vol. 2 No. 10 (2024): Asian Journal of Social and Humanities
Publisher : Pelopor Publikasi Akademika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59888/ajosh.v2i10.383

Abstract

Historical awareness related to Indonesia is mandatory for all Indonesians, namely awareness that we started from the same historical journey of the nation. This research aims to develop the 'CABASA' application as Sragen cultural heritage-based historical learning media is capable of displaying descriptions, as well as photos of cultural heritage. This Development uses three main steps adopted by Borg and Gall: the preliminary stage, the planning stage, and the testing stage. The trial results of the 'CABASA' product developed are suitable for use in the history learning process. The conclusion is the development method adopted in this research is simplified into three main steps. Preliminary development studies and the final stage are product trials. With the product trial results being very feasible, it can be concluded that 'CABASA' can be used as an interactive learning media based on cultural heritage in the Sragen district, which is following current developments where this learning media is straightforward to use.
The Development of ‘CABASA’ Application as History Learning Media Based Cultural Heritage Atik Dwi Kurniasih; Sunardi Sunardi; Sariyatun Sariyatun
Asian Journal of Social and Humanities Vol. 2 No. 10 (2024): Asian Journal of Social and Humanities
Publisher : Pelopor Publikasi Akademika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59888/ajosh.v2i10.383

Abstract

Historical awareness related to Indonesia is mandatory for all Indonesians, namely awareness that we started from the same historical journey of the nation. This research aims to develop the 'CABASA' application as Sragen cultural heritage-based historical learning media is capable of displaying descriptions, as well as photos of cultural heritage. This Development uses three main steps adopted by Borg and Gall: the preliminary stage, the planning stage, and the testing stage. The trial results of the 'CABASA' product developed are suitable for use in the history learning process. The conclusion is the development method adopted in this research is simplified into three main steps. Preliminary development studies and the final stage are product trials. With the product trial results being very feasible, it can be concluded that 'CABASA' can be used as an interactive learning media based on cultural heritage in the Sragen district, which is following current developments where this learning media is straightforward to use.
The Need for Augmented Reality Batik Media to Increase Cultural Love for Learning, Drawing, Design, and Craft Production in Vocational High Schools Wildan Deni Fahrezi; Sariyatun Sariyatun; Sudiyanto Sudiyanto
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 1 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i1.99114

Abstract

Cinta budaya di sekolah sangat penting, karena selain melestarikan warisan budaya, juga memperkuat identitas, meningkatkan toleransi, dan membangun karakter siswa di tengah masyarakat multikultural. Salah satu cara efektif untuk menumbuhkan rasa cinta budaya adalah melalui inovasi pembelajaran yang menarik dan interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan Media Batik Augmented Reality sebagai solusi untuk meningkatkan cinta budaya di kalangan siswa SMK dalam pembelajaran Gambar Desain dan Produksi Kriya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi kebutuhan media batik augmented reality dalam meningkatkan cinta budaya pada pembelajaran gambar desain dan produksi kriya di sekolah menengah kejuruan. Hasil data mengenai ketertarikan siswa terhadap batik menunjukkan bahwa 65% siswa merasa sangat tertarik jika materi batik disampaikan melalui AR, mengindikasikan bahwa teknologi ini berpotensi menarik perhatian siswa dengan cara yang lebih interaktif dan visual. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat  peluang besar dalam pengembangan media pembelajaran batik augmented reality di era digital dalam proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran gambar desain dan produksi kriya di  SMK.
Maritime Paradiplomacy of the 15th-Century Malay Sultanate: An Inspirational Model for Contemporary Archipelagic Regional Autonomy in Indonesia Bagus Subagja; Sariyatun Sariyatun; Deny Tri Ardianto
Journal of Maritime Policy Science Vol. 2 No. 1 (2025): April, 2025
Publisher : Center for Maritime Policy and Governance Studies. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jmps.v2i1.7358

Abstract

ndonesia, the world’s largest archipelagic state, faces complex maritime governance challenges stemming from a disconnect between its decentralized legal framework and its centralist administrative practices. Despite constitutional provisions allowing regional entities to engage in international cooperation, bureaucratic hurdles undermine the effectiveness of maritime paradiplomacy, particularly in regions such as the Riau Islands and North Maluku. This study aims to address this gap by examining the 15th-century Melaka Sultanate as a historical model of decentralized maritime diplomacy that can inspire modern policy innovations. Utilizing a qualitative historical-comparative method, the research juxtaposes Melaka’s port-based paradiplomatic mechanisms such as the empowered role of syahbandars and strategic diaspora networks with Indonesia’s current regulatory constraints. Primary data were sourced from historical manuscripts including Suma Oriental and Yingya Shenglan, while contemporary policies were analyzed through legal documents and regulatory simulations. The findings reveal that Melaka's distributed sovereignty, pragmatic neutrality, and cultural diplomacy through maritime networks facilitated effective transregional cooperation, in stark contrast to Indonesia's modern procedural stagnation. As a conclusion, the study proposes the revival of localized diplomatic authorities through "Maritime Autonomy Zones," the establishment of port curator councils, and the integration of cultural heritage in international engagement strategies. By recovering indigenous governance models, Indonesia can transform its peripheral maritime regions into vibrant centers of diplomatic and economic agency. This research not only bridges historiographical, legal, and policy domains but also offers a feasible pathway for strengthening Indonesia’s maritime sovereignty through culturally resonant decentralization.