Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Workshop Creative Problem Solving untuk Mengatasi Pengaruh Pergaulan Negatif di Kalangan Remaja SMA Siti Maliha; Jero Budi Darmayasa; Enditiyas Pratiwi; Uli Agustina Gultom; Nofvia De Vega; Firima Zona Tanjung; Fitriawati Fitriawati; Neni Novitasari; Listiani Listiani; Arief Ertha Kusuma; Zulfadli Zulfadli
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 3 (2026): Agustus (In Progress)
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/7m4nsr39

Abstract

Pergaulan negatif di kalangan remaja sekolah menengah atas merupakan permasalahan sosial yang memerlukan intervensi preventif dan terstruktur. Siswa SMA Negeri 2 Tarakan menghadapi keterbatasan program preventif yang menyentuh aspek sosial-emosional, sementara layanan bimbingan dan konseling belum mampu menjangkau seluruh siswa secara merata. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa terhadap risiko pergaulan negatif sekaligus melatih kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah sosial secara kreatif dan konstruktif. Pendekatan yang digunakan adalah workshop partisipatif berbasis psikoedukatif yang menerapkan kerangka Creative Problem Solving, mencakup pemaparan materi, simulasi kasus dalam kelompok kecil, serta refleksi. Kegiatan dilaksanakan pada 11 Mei 2026 dan melibatkan 30 siswa dari kalangan pengurus OSIS dan perwakilan kelas. Hasil pengukuran menunjukkan peningkatan rerata skor dari 58,6 menjadi 75,8, melampaui ambang keberhasilan yang ditetapkan sebesar 20%. Selain itu, 90 hingga 97 persen peserta menyatakan bahwa kegiatan tersebut bermanfaat dan relevan. Kolaborasi sebelas dosen lintas program studi dari Universitas Borneo Tarakan memperkuat kualitas pendampingan dan menjadikan model ini berpotensi direplikasi di sekolah lain.
Scientific Literacy in Indonesian Secondary Education: Are We Ready to be Scientifically Literate Society? Listiani Listiani
International Journal of STEM Education for Sustainability Vol 5, No 1 (2025)
Publisher : Gemilang Maju Publikasi Ilmiah (GMPI) 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53889/ijses.v5i1.445

Abstract

The curriculum in Indonesia plays a pivotal role in equipping students with scientific literacy. It is important to undertake an exhaustive examination of curriculum documents to gauge how much scientific literacy is embedded within the curriculum and how effectively it fosters such literacy. Thus, this research aims to elucidate the presence of scientific literacy dimensions within the educational framework of Indonesia, thereby reflecting the government’s commitment to nurturing scientifically literate societies. This study uses a qualitative approach to analyze Indonesian curriculum documents while employing data triangulation to ensure the research’s validity and credibility. The findings indicate that the competencies outlined in the curriculum align with the dimensions of scientific literacy. This suggests that the Indonesian curriculum is designed to cultivate scientifically literate communities. However, further studies are required regarding implementing scientific literacy in the classroom.
PENGARUH MODEL  PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) DAN JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA Miti Miti; Listiani Listiani; Aidil Adhani
Borneo Journal of Biology Education (BJBE) Vol. 7 No. 1 (2025): April
Publisher : Department of Biology Education, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/x6q9jy70

Abstract

Learning models contribute to students' learning outcomes because the way of interaction and collaboration in the learning process can affect the understanding of the material. To determine the effect of cooperative learning models on learning outcomes, a quasi-experimental study with a pretest-posttest nonrandomized control group design was conducted. In this study, Think Pair Share (TPS) and Jigsaw learning models were chosen for learning environmental changes. This research was conducted at MAN Tarakan in November 2024. The research sample was class X.6 students as experiment 1 class and class X.4 students as experiment 2 class. The research instrument used was a test instrument in the form of multiple-choice questions. The results indicated that the posttest scores of students who learned with the Think Pair Share (TPS) learning model were higher than those of students who were taught with the Jigsaw learning model. Hypothesis testing using an independent t-sample t-test was carried out with a confidence level of 95% and obtained a sig (2-tailed) value of 0.441> 0.05, which means that H0 is accepted and H1 is rejected. Based on the hypothesis test, it can be concluded that there was no difference in biology learning outcomes between students who used the TPS learning model and the Jigsaw model. However, the N-gain test results indicated that the TPS model got a value of 61.31%, which was included in the "Quite Effective" category in improving student learning outcomes. In contrast, the Jigsaw model got a value of 54.55%, which is included in the "Less Effective" category. Therefore, it is concluded that although there was no significant difference, the TPS model was more effective than the Jigsaw model in improving learning outcomes.
Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Mata Pelajaran IPA di SMP Negeri Tarakan Maria Matius Amba; Listiani Listiani; Alfi Suciyati
Borneo Journal of Biology Education (BJBE) Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Department of Biology Education, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/hbrtcx18

Abstract

Kesulitan belajar adalah suatu keadaan dimana peserta didik tidak dapat belajar dengan baik, yang disebabkan oleh adanya ancaman, hambatan maupun gangguan dalam belajar. Dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 9 Tarakan, hal ini terlihat dari rendahnya hasil belajar, kesulitan memahami istilah ilmiah, serta anggapan bahwa IPA merupakan pelajaran yang sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) serta mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan tersebut. Metode yang digunakan adalah Mixed Method dengan pendekatan explanatory sequential mixed method, yaitu pengumpulan data kuantitatif terlebih dahulu melalui angket, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data kualitatif melalui wawancara untuk memperkuat hasil temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar pada materi IPA yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi minat, motivasi, kesiapan, dan perhatian siswa yang memiliki proporsi sebesar 21,58%, dengan minat sebagai faktor yang paling dominan. Faktor eksternal mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat, dengan kontribusi sebesar 32,68%. Faktor eksternal yang paling dominan adalah lingkungan masyarakat dengan proporsi sebesar 11,80%. Data ini menunjukkan bahwa faktor eksternal memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan faktor internal dalam menimbulkan kesulitan belajar siswa. Berdasarkan data penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh eksternal berupa lingkungan masyarakat memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap kesulitan belajar IPA. Kondisi lingkungan belajar yang kurang mendukung menjadi hambatan utama dalam pencapaian hasil belajar siswa.
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Minat Belajar IPA Siswa Kelas IX-B Di SMP Negeri 5 Tarakan Sri Gusriyanti; Listiani Listiani; Nursia
Borneo Journal of Biology Education (BJBE) Vol. 8 No. 1 (2026): April
Publisher : Department of Biology Education, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/qdc53g86

Abstract

Rendahnya minat belajar siswa pada mata pelajaran IPA salah satunya dapat disebabkan oleh penggunaan model pembelajaran konvensional yang tidak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindak lanjut untuk mengatasi rendahnya minat belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran yang melibatkan siswa yaitu Problem Based Learning. Melalui penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan MC Taggart dalam dua siklus, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran IPA pada siswa kelas IX-B di SMP Negeri 5 Tarakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas IX-B SMP Negeri 5 Tarakan dalam dua siklus pembelajaran. Setiap indikator minat belajar siswa mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus II. Hasil observasi aktivitas belajar siswa juga menunjukkan adanya peningkatan dari pra-siklus ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I siswa yang aktif sebanyak 60% sedangkan pada siklus II siswa yang aktif sebanyak 77%. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada keaktifan siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 17%. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBL efektif dalam menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan relevan, sehingga dapat diterapkan sebagai strategi alternatif dalam meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPA.