Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Physicochemical Characteristics of Carrot Chips (Dried Slices) with Differences in Temperature and Drying Time Laily, Misbhatul; Asben, Alfi; Fahmy, Khandra
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 7 No. 3 (2023)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v7i3.331

Abstract

Carrots are one of the vegetable commodities that are rich in nutrients. This research is about drying carrots to extend the shelf life of vegetable products and maintain the nutritional content contained in carrots. Carrots are dried to produce a product like nutritious carrot chips. This research uses vacuum oven drying with different temperatures and drying times to determine the correct temperature and drying time to maintain carrot chips' nutritional content and physical appearance. The research design was a Completely Randomized Design (CRD) with two factors, namely drying temperature (50°C, 60°C, 70°C) and drying time (6 hours, 8 hours, 10 hours). Carrot chips with different temperatures and drying times significantly affected water content, total carotene, color index, and texture. Carrot chip products with vacuum oven drying at 60°C for 10 hours gave results with a water content of 4.24%, the highest total carotene value of 57.15 mg/100g, color appearance with an L* index of 35.68, a * of 20.91, b* of 17.63, texture value of 281.65 N/m2. As well as having organoleptic test results that were liked by the panelists regarding the color and texture of the carrot chips.
Physical Treatments for Alleviating Chilling Injury in Fresh produce Zainal, Putri Wulandari; Syukri, Daimon; Suliansyah, Irfan; Fahmy, Khandra
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 13 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i2.493-505

Abstract

Fresh produce has a short shelf-life because the metabolic activity continues after harvest. Low temperature is one of the postharvest technology methods that suppress this activity along storage. Its effects prolong the shelf-life of fruits and vegetables. This method has long been recommended to reduce deterioration during storage so that it can maintain the quality of fruits and vegetables. However, it still has drawbacks such as chilling injury, especially in tropical and subtropical origins that are chilling sensitive. Therefore, another storage method is needed to alleviate chilling injury such as low-temperature conditioning, high-temperature conditioning, and intermittent warming which only use environmental conditioning during storage. The other one has modified atmosphere packaging and controlled atmosphere packaging. They utilize the ideal atmosphere for each fresh product during storage. The treatment proved that it could alleviate chilling injuries such as reduced pitting, flesh injury, failure of mature, scald, peel browning, weight losses, electrolyte leakage, malondialdehyde, respiration rates, production of superoxide radical anion (O₂-) & hydrogen peroxide (H₂O₂), lipoxygenase activity, phospholipase D, phenylalanine ammonia-lyase (PAL), and polyphenol oxidase (PPO). Keywords: Chilling injury, Fresh produce, Intermittent warming, Low temperature, Physical treatment.
PENGARUH PENGGUNAAN LILIN CARNAUBA TERHADAP MUTU BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill) VARIETAS MEGA PANINGGAHAN Yanti, Nika Rahma; Fahmy, Khandra; Ifmalinda, Ifmalinda; Arlius, Feri; Fresmiyanti, Mia
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 27 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jtpa.27.2.239-248.2023

Abstract

Alpukat merupakan salah satu buah yang memiliki umur simpan yang singkat, sehingga buah ini akan cepat rusak jika tidak diberikan perlakuan pascapanen seperti layu, terkelupas, lecet hingga busuk. Pemberian lilin carnauba merupakan salah satu usaha untuk mempertahankan mutu buah alpukat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan menentukan konsentrasi terbaik dari pelapisan dengan lilin carnauba terhadap mutu buah alpukat varietas Mega Paninggahan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan beberapa konsentrasi pelapisan lilin yaitu 0%, 3%, 6%, dan 9% yang disimpan pada suhu ruang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelapisan lilin dengan konsentrasi 6% dengan umur simpan 11 hari adalah perlakuan konsentrasi terbaik dengan nilai kadar air sebesar 80,161%; susut bobot sebesar 4,406%; kekerasan sebesar 76,1 N/cm2; dan TPT sebesar 9,10 Brix; Ph 6,8; dan Vitamin C 38,3.
Pengaruh Ketinggian Jatuh Terhadap Kerusakan Mekanis Buah Sawo (Achras zapota L.) Berdasarkan Parameter Mutu nas, syafiyata asrarin; Andasuryani, Andasuryani; Fahmy, Khandra
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 27 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jtpa.27.2.267-278.2023

Abstract

Buah sawo termasuk salah satu buah klimaterik dengan laju respirasi yang cepat sehingga rentan terhadap kerusakan mekanis terutama ketika proses grading, dimana buah sawo akan dijatuhkan dari ketinggian tertentu secara manual tanpa memperkirakan ketinggian yang tepat. Hal ini tentu akan menyebabkan kerugian dari segi ekonomis. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kerusakan mekanis pada buah sawo akibat penjatuhan saat grading berdasarkan perubahan parameter mutu (energi tumbukan, susut bobot, total padatan terlarut persentase luas memar dan kadar vitamin C) sehingga dapat ditentukan ketinggian yang sesuai untuk buah sawo ketika proses grading nantinya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen untuk pembuktian hipotesis melalui rangkaian data hasil pengamatan perubahan parameter mutu (energi tumbukan, susut bobot, total padatan terlarut persentase luas memar dan kadar vitamin C) akibat pengaruh ketinggian penjatuhan. Ketinggian jatuh yang dipakai saat penelitian yaitu 0 cm (kontrol), 20 cm dan 40 cm yang dipilih dari hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan. Berdasarkan hasil analisis ANOVA diperoleh hasil penelitian bahwa perlakuan ketinggian jatuh mempengaruhi perubahan parameter mutu buah sawo yang ditunjukkan dengan nilai sig < 1% dan nilai R square > 0,7 untuk masing-masing parameter mutu dengan kesimpulan akhir bahwa ketinggian saat grading yang sesuai untuk buah sawo yaitu maksimal 20 cm.Kata kunci— Buah sawo, grading, kerusakan mekanis, parameter mutu.
RANCANG BANGUN ALAT PENDETEKSI ETILEN MENGGUNAKAN SENSOR WINSEN ZE11 - C2H4 BERBASIS MIKROKONTROLER ARDUINO UNO Fitri, Khairunnisa; Fahmy, Khandra; Andasuryani, Andasuryani
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 28 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jtpa.28.2.129-137.2024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat rancang bangun alat deteksi etilen menggunakan sensor etilen Winsen ZE11 - C2H4 yang berbasis mikrokontroler arduino uno. Komponen alat yang dirancang terdiri dari chamber, sensor etilen, mikrokontroler arduino uno dan perangkat komputer. Rangkaian sensor ini dirancang agar mampu menampilkan nilai etilen secara realtime pada aplikasi PLX-DAQ di Microsoft Excel. Uji performa alat dilakukan menggunakan alpukat Tongar pada umur panen 150 hari, 180 hari, 210 hari dan 240 hari setelah bunga mekar. Alpukat Tongar termasuk buah klimaterik yang mengeluarkan etilen selama tahap pematangan. Etilen yang dihasilkan berupa senyawa berbentuk gas yang sulit dideteksi secara langsung oleh indera manusia karena tidak memiliki warna dan bau. Uji peforma alat menggunakan alpukat Tongar dilakukan selama 5 menit untuk setiap sampel yang digunakan. Berdasarkan hasil uji performa, rangkaian sensor ini terbukti mampu mendeteksi etilen pada alpukat Tongar. Konsentrasi etilen yang terdeteksi oleh rangkaian sensor menunjukkan variasi yang berbeda pada setiap umur panen. Pada umur panen yang lebih tinggi, konsentrasi etilen yang terdeteksi meningkat. Peningkatan konsentrasi etilen seiring bertambahnya umur panen menunjukkan efektivitas sensor ini dalam memonitoring etilen pada buah alpukat Tongar. Berdasarkan penelitian, alat yang dirancang ini berhasil mendeteksi etilen dan berpotensi diterapkan pada produk pertanian lainnya
PENILAIAN KESEGARAN BUAH MANGGA BERDASARKAN PERUBAHAN DINAMIS KANDUNGAN ASAM SITRAT DAN GULA TERLARUT MENGGUNAKAN ANALISIS HPLC Zainal, Putri Wulandari; Daimon Syukri; khandra Fahmy; Irfan Suliansyah
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesegaran merupakan parameter kualitas utama yang menentukan penerimaan konsumen serta derajat kehilangan pasca-panen pada buah mangga (Mangifera indica L.). Penentuan kesegaran mangga (Mangifera indica L.) yang ada saat ini sebagian besar didasarkan pada sifat fisik dan kimia umum, yang seringkali tidak dapat mendeteksi dengan baik pembusukan biokimia selama periode penyimpanan. Tujuan artikel ini adalah untuk mengeksplorasi kesegaran mangga berdasarkan perubahan dinamis kadar asam sitrat dan kandungan gula terlarut menggunakan high-performance liquid chromatography (HPLC). Buah yang sudah matang disimpan pada dua suhu berbeda, yaitu 25°C dan 10°C, di mana pengamatan kadar asam sitrat, sukrosa, glukosa, dan fruktosa dilakukan setiap hari dari hari ke-1 hingga hari ke-5. Data yang didapatkan dengan jelas memperlihatkan perbedaan pola pada kadar asam sitrat dan gula terlarut buah mangga yang disimpan disuhu 25°C dan 10°C. Pada suhu 25 °C, kadar asam sitrat turun tajam, sedangkan pada suhu 10 °C kadarnya relatif stabil. Peningkatan sukrosa dan penurunan glukosa lebih nyata pada suhu 25 °C dan 10 °C. Kadar fruktosa hanya sedikit lebih tinggi pada suhu 25 °C dibandingkan pada suhu 10 °C. Analisis statistik mengkonfirmasi bahwa suhu penyimpanan berpengaruh pada kadar asam sitrat dan komposisi gula. Perilaku terkoordinasi asam sitrat dan berbagai gula inilah yang menjadi ciri khas 'sidik jari kimia' mangga, yang berarti kita dapat menggunakan kadar zat-zat ini sebagai ukuran kesegaran buah. Semakin tinggi suhu, semakin cepat perubahan metabolisme dan semakin kurang segar buahnya. Penyimpanan suhu rendah menjaga laju metabolisme tetap stabil dan menunda penurunan kualitas, namun tetap saja, kita dapat menggunakan kadar asam sitrat dan gula sebagai cara yang andal untuk mengukur kesegaran mangga.