Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Identitas yang Terbuka: Doxing dan Urgensi Keamanan Serta Etika Komunikasi di Era Media Baru Hazel Revano Akbar; Hasanatul Awaliyah; Halimah Tusaddiyah; Disty Adinda Putri; Dea Nanda Nayla Aprilia; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.197

Abstract

Saat ini, kita telah memasuki era perkembangan teknologi digital yang sangat pesat, perkembangan ini mencakup berbagai bidang. Salah satu bidang yang juga mengalami perkembangan pesat adalah bidang komunikasi, komunikasi digital adalah bentuk dari perkembangan teknologi digital yang menghasilkan media sosial. Media sosial merupakan bentuk komunikasi baru yang membuat orang bisa bebas berekspresi di dalamnya, namun banyak orang yang menyalahgunakan kebebasan ini seperti menyebarkan informasi pribadi seseorang yang disebut dengan doxing. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana bentuk kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap praktik doxing. Penelitian ini juga memperluas pembahasan pada upaya edukatif dan kesadaran digital yang harus dibangun agar dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab di media digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang melibatkan beberapa informan dengan mengumpulkan data atau jawaban informan terkait masalah doxing dengan cara wawancara. Hasil wawancara menunjukkan bahwa ternyata masih banyak orang yang belum memahami masalah doxing dan menganggap hal itu sepele. Hal ini tentu perlu diatasi salah satunya dengan membuat konten tentang doxing atau melibatkan lembaga komunikasi untuk membuat sosialisasi mengenai bahayanya doxing dan pentingnya etika dalam media sosial.
Fenomena Flexing Influencer di Media Sosial: Antara Gaya Hidup dan Pengaruh ke Audiens Aquina Zultan; Dimas Naufal Kurniawan; Hafizh Ramadhan; Alysha Ayuna Azzahra; Ervina Nisa Septiani; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.201

Abstract

Fenomena flexing di media sosial semakin marak seiring dengan berkembangnya budaya digital dan meningkatnya peran influencer sebagai pembentuk opini publik. Flexing tidak hanya dimaknai sebagai pamer harta kekayaan, tetapi juga sebagai strategi membangun citra diri dan identitas digital di ruang publik virtual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana influencer memanfaatkan konten flexing sebagai bagian dari personal branding serta bagaimana pengaruhnya terhadap audiens. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan analisis isi terhadap konten flexing yang diunggah oleh dua influencer TikTok, yaitu Reuzuki Ari dan Reza Gladys. Data dikumpulkan melalui observasi konten, dokumentasi, serta analisis komentar audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa flexing digunakan sebagai alat komunikasi simbolik untuk menunjukkan status sosial, keberhasilan finansial, dan legitimasi diri di media sosial. Konten seperti unboxing barang mewah, pamer koleksi, dan gaya hidup eksklusif mampu meningkatkan interaksi audiens sekaligus membentuk standar kesuksesan yang bersifat materialistik. Namun, fenomena ini juga berpotensi mendorong perbandingan sosial dan perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa flexing merupakan bentuk self-disclosure yang dikomodifikasi dalam budaya populer digital dan memiliki dampak signifikan terhadap persepsi audiens mengenai gaya hidup dan kesuksesan.
Mengidentifikasi Peran Platform Media Baru dalam Memfasilitasi dan Menghambat Penyebaran Revenge Porn Fitri Muliani; Azzizullah Cardova; Dirga Wira Sakti; Farelino Ernata; Habib Maulana; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.211

Abstract

Dengan kemajuan teknologi tindak pidana tidak hanya bisa dilakukan di dunia nyata tetapi juga bisa dilakukan di dunia maya salah satunya adalah revenge porn. Revenge porn atau porno balas dendam merupakan bentuk utama dari kekerasan berbasis gender online (KBGO). Tindakan ini merujuk pada penyebaran foto atau vidio intim seseorang tanpa persetujuan dari sang korban. Hal ini sering dilakukan oleh mantan pasangan yang sakit hati, sering kali dilakukan dengan motif balas dendam dengan tujuan untuk mempermalukan korban di ruang digital. Dengan kemajuan teknologi revenge porn dapat dilakukan dengan mudah melalui platform / aplikasi digital. Salah satu platform digital tersebut meliputi whatsapp, Instagram, telegram, dan tiktok. Pelaku bertujuan untuk membuat korban mengalami kerugian psikologis, sosial, dan ekonomi yang mendalam. Tujuan dari tulisan ini yaitu untuk mengidentifikasi platform digital yang memfasilitasi dan menghambat penyebaran revenge porn. Hasil penelitian ini menyimpulkan whatsapp dan Instagram memiliki system keamanan yang kurang terhadap konten foto atau video yang diupload oleh pengguna. Ini menyebabkan pelaku dapat dengan mudah menyebarkan dan mengupload materi visual korban. Baik di akun pelaku maupun di akun korban sendiri.
Fenomena AI Polaroid: Alasan di Balik Tren Visual yang Diikuti Remaja Ariiq Sean Qois; Fesra Cania; Hana Azzahra; Indah Reztu Putri; Irma Aulia; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.399

Abstract

Teknologi kecerdasan buatan (AI) belakangan ini berkembang sangat pesat sehingga membawa pengaruh besar bagi kehidupan remaja. Salah satu yang sedang ramai di media sosial terutama Tiktok dan Instagram adalah tren penggunaan aplikasi "AI Polaroid". Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana tren AI Polaroid tersebut berpengaruh terhadap perilaku, cara pandang diri (persepsi diri), dan proses pembentukan identitas di kalangan remaja bahkan pembentukan makna setiap individu. Untuk mengetahuinya, kami menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan melakukan wawancara mendalam dengan tiga remaja yang aktif menggunakan AI Polaroid serta mengamati media sosial untuk menganalisis bagaimana kalangan remaja mengikuti tren tersebut, serta membaca penelitian lain yang berkaitan dengan dampak visual AI terhadap pembentukan diri remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa adanya latarbelakang yang mempengaruhi remaja untuk mengikuti tren AI Polaroid dimana mereka menggunakan AI Polaroid karena visual yang dihasilkan menarik bahkan adanya hasil penggabungan foto dengan pasangan, idol bahkan orang yang telah meninggal serta alternatif dalam pembentukan diri serta pemaknaan dalam bentuk cinta dikalangan remaja. Tren ini ternyata juga memunculkan tekanan sosial agar remaja menampilkan versi diri mereka yang lebih ideal di dunia maya. Lebih jauh, fenomena ini menimbulkan beberapa masalah etika, seperti manipulasi gambar, pandangan yang keliru terhadap identitas diri, serta bahaya ketergantungan pada pengakuan atau validasi sosial (misalnya, jumlah like atau pujian). Kesimpulannya, tren AI Polaroid ini mencerminkan cara baru berkomunikasi menggunakan gambar (visual) di era digital. Hal ini perlu diimbangi dengan literasi media dan kesadaran di kalangan remaja akan manipulasi data. Tujuannya agar remaja dapat menggunakan AI bijak dan sesuai kebutuhan untuk meminimalisir resiko yang tidak diinginkan.
Pola Komunikasi dalam Interaksi Daring pada Aplikasi Bumble Andika Rivansa; Atha Vayra; Athifah Farraz Zenika; Chelsi Anggraini Purwita; Devina Miranda Aulia; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.401

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara individu membangun dan mempertahankan hubungan, termasuk dalam proses mencari pasangan melalui aplikasi kencan online. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis bagaimana komunikasi digital memiliki peranan yang penting untuk membangun kedekatan emosional antar individu yang terlibat dalam hubungan daring. metode Penelitian yang digunakan pada paper ini menerapkan metode kualitatif melalui hasil observasi yang disertakan dengan dokumentasi serta analisis konten yang diperkuat dengan literatur pendukung untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai pola komunikasi dalam aplikasi Bumble. Hasil penelitian terhadap pengalaman pengguna Bumble menunjukkan bahwa interaksi yang terbentuk di dalam aplikasi mencerminkan karakteristik utama komunikasi digital dan media baru. Namun, komunikasi dalam bumbble juga rentan tidak berlanjut. Banyak percakapan berhenti tiba-tiba, baik karena tidak adanya kecocokan, rasa bosan, ataupun ketidaknyamanan dalam berinteraksi. Pemanfaatan Bumble menunjukkan bahwa komunikasi digital dapat membangun hubungan sosial yang bermakna, meskipun efektivitasnya juga dipengaruhi oleh kualitas interaksi, etika berkomunikasi, serta kesadaran pengguna dalam menggunakan platform tersebut.
Dinamika Tantangan dalam Praktik Street Photography di Era Digital Ramadhani Yussania; Fitri Khairani Daulay; Hafizhah Zulfha; Azalia Evandriani; Anggara Okta Syahputra; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.402

Abstract

Street photography merupakan jenis fotografi yang merekam aktivitas kehidupan sehari-hari di ruang publik secara spontan dan apa adanya. Dalam praktiknya, street photography menghadapi berbagai tantangan yang semakin berkembang, terutama seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan norma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membahas tantangan yang dihadapi fotografer jalanan dalam praktik street photography masa kini. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah berbagai literatur akademik, seperti artikel jurnal dan buku yang membahas street photography. Hasil kajian menunjukkan bahwa fotografer jalanan menghadapi berbagai persoalan yang saling berkaitan, meliputi aspek etika, moral subjek, hukum, dan dampak teknologi. Tantangan etika muncul dari pertentangan antara kebebasan berekspresi fotografer dan penghormatan terhadap privasi serta martabat subjek foto. Dari sisi hukum, aturan mengenai fotografi di ruang publik berbeda-beda di setiap wilayah hukum, sehingga memengaruhi praktik fotografi yang dilakukan. Selain itu, perbedaan budaya menuntut fotografer untuk memahami norma dan aturan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Penyebaran foto melalui media digital juga menimbulkan pertanyaan mengenai tanggung jawab fotografer terhadap subjek dan komunitas yang difoto. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik street photography masa kini membutuhkan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial, serta kesadaran fotografer terhadap dampak dari foto yang mereka ambil dan bagikan.
Strategi Sekolah Dalam Mempertahankan Kualitas Lulusan Siswa Pada Masa Pandemi Covid-19 di SMA Negeri 1 Padang Muhammad Rafli Riyadi; Reno Fernandes; Ayu Adriyani
Naradidik: Journal of Education and Pedagogy Vol. 1 No. 3 (2022): Naradidik: Journal of Education & Pedagogy (September 2022)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.581 KB) | DOI: 10.24036/nara.v1i3.42

Abstract

The pandemic began to occur in early 2020. Due to the pandemic, education was conducted online. This raises several problems ranging from the difficulty of schools in adapting to even causing students to experience difficulties in learning and resulting in learning loss which makes the quality of school graduates experience a decline in quality. Therefore, this study looks at the strategy of SMA Negeri 1 Padang in maintaining the quality of graduates during the Covid-19 pandemic. This research was analyzed using a qualitative approach with the type of case study research. The informant selection technique in this study used a purposive sampling technique with a total of 7 informants consisting of school officials such as school principals, curriculum representatives, student representatives, counseling teachers, teaching teachers, and several students. Data collection techniques were carried out by direct observation to the research location, namely SMAN 1 Padang, interviewing informants in the field by asking several questions about the problems the authors faced and doing documentation. Data analysis techniques used in this study are data reduction, data presentation, data verification from Miles and Huberman. The validity of the data is done by data triangulation. The theory used in this research is the structural-functional theory from Talkott Parsons with the A.G.I.L (Adaptation, Goal, Integrity, and Latency) scheme. This theory views society as a unified system that functions with each other. If one system in society does not function properly, then the other system will experience problems. The results of this study are SMA Negeri 1 Padang is able to maintain the quality of graduates during online learning by using several strategies in implementing the online learning process so that learning can run with school quality standards so that school graduates are able to graduate to the most favorite PTN in Indonesia.
Digital Activism Practices of Pelita Padang Community in Voicing Diversity Issues Through Instagram @pelita.padang AB Sarca Putera; Ayu Adriyani; Amin Akbar; Muhammad Al Fikrah Firlian
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 8 No. 2. December (2024): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v8i2.40079

Abstract

The Setara Institute for Democracy and Peace places Padang City on the list of 10 cities with the lowest tolerance levels from 2017 to 2023. This reflects that the city government's efforts to maintain diversity have not been optimal. Therefore, reflection is needed, one of which is through information technology to encourage the birth of digital activism. This study examines the social situation that triggers activism, especially in the digital space, and the optimization of digital platforms in supporting the movement. The study used a qualitative descriptive method through semi-structured interviews and document analysis. Data were analyzed from content uploaded by the Pelita Padang Community on Instagram @pelita.padang. The study results show that Indonesia's political and social dynamics mainly drive Pelita Padang's activism. This community effectively combines offline and online activities to expand the reach of its movement. Social media is used as a means of education, campaigning, and collaboration, strengthening their activism's impact. In conclusion, the combination of offline and digital activism by the Pelita Padang Community has responded to the challenges of intolerance in Padang City. This approach proves that optimizing social media can be a strategic tool to strengthen solidarity and diversity in society.