Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Naditira Widya

HUBUNGAN GENEALOGIS MASYARAKAT DAYAK BAWO DENGAN LAWANGAN DAN BENUAQ BERDASARKAN KONSEP RELIGI DAN BAHASA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i2.33

Abstract

Abstrak. Masing-masing komunitas Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan merasa berdiri sebagai komunitaseksklusif. Namun, ada beberapa komunitas yang mengaku bahwa dia merupakan keturunan atau bagian darikomunitas yang lain, misalnya Dayak Bawo dan Benuaq yang mengakui bahwa dirinya merupakan keturunan dariDayak Lawangan yang tinggal di Tiwei. Tulisan ini membahas kemungkinan adanya hubungan genealogis antarakomunitas Bawo, Benuaq, dan Lawangan. Kajian ini dilakukan berdasarkan pendekatan deskriptif-komparatif ataskonsep religi dalam bentuk artefak penguburan dan bahasa. Berdasarkan pembahasan tersebut diharapkanadanya pemahaman tentang hubungan genealogis antarkomunitas yang ada di pedalaman Kalimantan. Hasil dariperbandingan tersebut ternyata menunjukkan bahwa ketiga komunitas tersebut memang mempunyai hubungangenealogis.
KUBUR TAJAU SANGA SANGA DAN VARIASI TRADISI BUDAYA AUSTRONESIA DI ASIA TENGGARA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.100

Abstract

Kubur tajau merupakan bentuk penguburan yang menggunakan wadah berupa tajaubahan batuan atau guci keramik sebagai wadah kubur. Lima puluh dua kubur tajau telah ditemukanpada ekskavasi 2010 di Sanga Sanga. Ada beberapa aspek yang dapat diungkapkan daripengkajian kubur tajau tersebut, yaitu aspek religi, sejarah pendukung budaya kubur tajau, danaspek sosial ekonomi. Sampai saat ini, Balai Arkeologi Banjarmasin telah dapat mengungkapkankarakter Situs Sanga Sanga sebagai situs tunggal dengan pertanggalan situs awal abad ke-18Masehi. Tulisan ini mengulas beberapa hal yang belum dikaji dalam penelitian tahun 2010, yaitumengapa bekal kubur tidak ditemukan dalam himpunan kubur tajau ini? Dan, apakah hubungannyadengan tradisi kubur Austronesia? Kajian ini akan dilakukan dengan menggunakan perbandingandata penguburan di wilayah lain di Kalimantan dan analogi etnografis. Jawaban pertanyaan tersebutmemberikan pemahaman tentang sejarah kebudayaan Sanga Sanga, terutama tentang masyarakatpendukung budaya kubur tajau dan konsep kepercayaannya.
PENGARUH PEMBANGUNAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DAYAK BAWO TERHADAP PERUBAHAN KEBUDAYAANNNYA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 4 No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i1.133

Abstract

The Bawo people reside in the northern part of Meratus Mountain and survive by living a continuous nomadic life roaming from one hill to other until today. The Bawo people preferred to live solitary life instead and practically have no contact with the outside world. Material data on the existence of the Bawo people comprise of ‘keriring’ and ‘raung’ found stored in rock shelters. Through a long process, the Social Departement of the Republic of Indonesia with its population resettlement program had succeeded to provide ideal kampong for them to live in named PMT Malungai. This article discusses how the Bawo people respond to such program and the impact on the Bawo culture in respect with its survival.
RUMAH PANJANG DAN PERUBAHAN FUNGSINYA KAJIAN SOSIAL PADA MASYARAKAT DAYAK DI KABUPATEN KUTAI BARAT Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.149

Abstract

A long house is a traditional communal house, which is occupied by a number of Dayak families. Such house usually accomodates traditional ceremonies sush as marriage, mortuary and other traditional gatherings. Today, most of the long houses are abandoned and deteriorate, and what is left is mere symbol of old custom which is also gradually dimishing. This article discusses the archaeological and sociological perspective on factors causing of the degrading existence and function of long houses of the Dayak in Kutai Barat.
UNSUR SIMBOLIS DAN ESTETIS DALAM SENI PAHAT SUKU DAYAK BENUAQ DAN TUJUNG DI KALIMANTAN TIMUR Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v2i1.162

Abstract

The Benuaq and Tunjung inhabit the high hinterland of Kutai Barat in the Province of East Kalimantan. Both communities have the sustainable potency to uphold their skill in wood carving; the existence of balontang, tugu ngugu tautn, templaq, klerekng and ornaments on old lamin, which abundantly found in their village signify their centuries-old competence in wood carving. Nevertheless, there are some style and type differences on carved wooden object between the Benuaq-Tunjung and that of the Ngaju, Lawangan and Maanyan. For instance, physically, the Ngaju, Lawangan and Maanyan tends to carve plain and massive wooden figures, whereas those of the Benuaq-Tunjung are more dynamic and enriched with attractive scrolls. This article discusses the aesthetic and symbolic representation of balontang, tugu ngugu tautn, templaq, klerekng, ornaments on old lamin.