Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PERBEDAAN MCV (MEAN CORPUSCULAR VOLUME) DAN MCH (MEAN CORPUSCULAR HEMOGLOBIN) SEBELUM DAN SESUDAH HEMODIALISA PADA PASIEN CKD (CHRONIC KIDNEY DISEASE) Tanan, Jeremy; Harun, Haerani; Amus, Dzaki Ahmad Fahrezi; Sulistiana, Ria; Anggara, Ary; Hasannudin, Hasannudin; Hermanto, Darent Aditya Nasario
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.38257

Abstract

Penyakit ginjal merupakan masalah kesehatan global dengan jumlah penderita yang terus meningkat setiap tahun. Gagal ginjal kronik (GGK) pada akhirnya memerlukan terapi hemodialisa (HD) sebagai penanganan utama yang dapat memengaruhi berbagai parameter darah. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus analisis dampak akut satu sesi HD terhadap stabilitas indeks eritrosit, khususnya MCV dan MCH, yang masih menunjukkan hasil inkonsisten pada penelitian sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah terdapat perubahan signifikan pada parameter MCV dan MCH setelah satu sesi HD. Metode yang digunakan adalah desain observasional analitik komparatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 30 sampel yang diperiksa sebelum dan satu jam setelah prosedur HD melalui pemeriksaan laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P-value untuk MCV sebesar 0,642 dan MCH sebesar 0,155 (p 0,05), yang mengindikasikan tidak terdapat perbedaan signifikan pada kedua parameter tersebut setelah satu sesi HD. Kesimpulannya, prosedur hemodialisa tidak memberikan perubahan yang signifikan terhadap parameter MCV dan MCH secara akut dalam satu sesi tunggal, sehingga indeks eritrosit relatif stabil selama prosedur berlangsung.
KORELASI INDEKS TRIGLISERIDA–GLUKOSA DAN NEUTROPHIL–LYMPHOCYTE RATIO PADA PASIEN DM TIPE 2 Undayanti, Meri Gita; Harun, Haerani; Amri, Imtihanah; Tanra, Andi Alfia Muthmainah; Liwang, Muhammad Nur Ikhsan; Faaz, Muhammad Azzam
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.38059

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh resistensi insulin dan inflamasi sistemik derajat rendah, di mana indeks Triglyceride-Glucose (TyG) digunakan sebagai indikator resistensi insulin dan Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) sebagai penanda inflamasi sistemik sederhana. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menyajikan data empiris mengenai hubungan antara indeks TyG dan NLR pada pasien DMT2 di tingkat rumah sakit daerah yang masih terbatas pelaporannya dalam literatur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara indeks TyG dan NLR pada pasien DMT2. Metode yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional terhadap 108 pasien DMT2 yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling dari rekam medis di Rumah Sakit Anutapura Kota Palu. Hasil penelitian menunjukkan median indeks TyG sebesar 9,66 (8,21–10,91) dan median NLR sebesar 1,81 (0,81–9,47), dengan uji korelasi Spearman yang menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara keduanya (P-value = 0,615; r = 0,049). Kesimpulannya, indeks TyG dan NLR tidak memiliki hubungan yang signifikan pada pasien DMT2, sehingga keduanya tidak dapat digunakan sebagai indikator tunggal dalam menilai inflamasi, karena hubungan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.
Two-Hour Postprandial Blood Glucose Levels after Dates Consumption Nihayatul Khoiriyah Rachmat; Haerani Harun; Imtihanah Amri; Ayu Sekarani Damana Putri; M. Sabir; Muh Azzam Faaz; Riska Yanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.57057

Abstract

Kurma merupakan buah yang sering dikonsumsi di berbagai negara, terutama di kawasan Timur Tengah, dan dikenal memiliki kandungan gula alami yang tinggi. Namun, kurma juga mengandung serat dan senyawa bioaktif yang berpotensi memengaruhi respons glikemik tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kadar glukosa darah dua jam postprandial setelah konsumsi kurma Ajwa pada individu sehat. Penelitian ini adalah peneltian observasional analitik dengan metode sampling two-group pre–post test. Sebanyak 52 subjek dewasa sehat yang memenuhi kriteria inklusi dilibatkan dalam penelitian ini. Subjek diminta berpuasa selama 8–10 jam sebelum dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa (GDP). Selanjutnya, subjek mengonsumsi tiga buah kurma Ajwa dan kadar glukosa darah dua jam postprandial (GD2PP) diukur dua jam setelah konsumsi menggunakan metode point of care testing (POCT). Data GDP dan GD2PPP dianalisis menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar GDP adalah 92,67 ± 8,67 mg/dL dan GD2PP 89,25 ± 9,61 mg/dL dengan perubahan −3,42 ± 9,29 mg/dL yang menunjukkan penurunan bermakna (p=0,010). Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsumsi tiga buah kurma Ajwa tidak meningkatkan kadar glukosa darah dan cenderung menurun pada kelompok dewasa muda sehat
Kadar Glukosa Darah Setelah Konsumsi Madu Pada Kelompok Dewasa Muda Riska Yanti; Haerani Harun; Ressy Dwiyanti; Junjun Fitriani; Christin Rony Nayoan; Muh Azzam Faaz; Nihayatul Khoiriyah Rachmat; Darent Aditya Nasario Hermanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57832

Abstract

Konsumsi berlebihan karbohidrat terutama gula sederhana dapat menyebabkan fluktuasi glukosa darah hingga peningkatan tinggi glukosa yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan Risiko resistensi insulin. Mengonsumsi pemanis alami seperti madu semakin meningkat, namun data mengenai respons glikemik akut pada individu sehat masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah asupan madu memberikan perubahan yang signifikan terhadap respons glikemik. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pengambilan sampel pretest-posttest pada 41 subjek dewasa muda sehat. Subjek penelitian menjalani puasa selama 8-10 jam, kemudian dilakukan pengukuran glukosa darah puasa (GDP), dilanjutkan dengan konsumsi satu sendok makan madu. Pengukuran kadar glukosa darah dua jam postprandial (GD2PP) dilakukan setelah intervensi. Perbedaan GDP dan GD2PP dianalisis menggunakan uji T berpasangan dan dianggap bermakna bila nilai p<0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar GDP adalah 92.24 9.62 mg/dL sedangkan kadar GD2PP adalah 88.76 8.33 mg/dL. Terdapat penurunan kadar glukosa darah yang bermakna secara statistik (p = 0,010) setelah satu sendok konsumsi madu. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi satu sendok makan madu tidak meningkatkan kadar glukosa pada dewasa muda yang sehat, bahkan cenderung menurun.
The The Relationship Between Body Image Satisfaction and Nutritional Status in Female Students of High School Ryka M. Walanda; Lulu Natasya; Haerani Harun; Muhammad Z. Ramadhan
Jurnal Akademika Kimia Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/j24775185.2025.v14.i1.pp17-21

Abstract

In the adolescent phase, there is physical, social, and psychological development and growth. These changes will affect the way adolescents view and behave towards their body, known as body image. Appearance is important for adolescent girls, so most adolescent girls try to meet society's beauty standards by fasting, dieting, exercising, taking laxatives, and diet pills. The behavior of restricting diet and living an unhealthy lifestyle can affect adolescent nutrition, such as anemia, malnutrition, and obesity. This study aims to determine the relationship between body image satisfaction and nutritional status in SMA Negeri 5 Palu students. This study uses an observational analysis method with a cross-sectional design. The sample in this study amounted to 92 respondents. The sampling technique used was proportionate stratified random sampling. The bivariate analysis test used the Spearman test. The results of the Spearman test showed a p-value = 0.097 (p>0.05), which means that there is no relationship between body image satisfaction and nutritional status in SMA Negeri 5 Palu students. There is no relationship between body image satisfaction and nutritional status in female students of SMA Negeri 5 Palu.