Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Geometri Sebagai Pengaruh Dalam Desain Bentuk Jalur Sepeda Ledi Yuliawati Pertiwi; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.514 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.27354

Abstract

Arsitektur muncul dari kebutuhan akan ruang dan kenyamanan visual penggunanya. Kenyamanan visual mencakup interior dan eksterior pada rancangan sebuah bangunan. Geometri sebagai salah satu bentuk yang sering diterapkan dalam arsitektur. Sejauh ini, seringkali publik menilai sebuah desain bangunan dari bentuk luarnya saja. Geometri dalam arsitektur apakah hanya sebatas itu saja? Kota Bengkulu merupakan kota yang sedang berkembang dalam segi apapun salah satunya arsitektur. Mengangkat permasalahan mengenai indeks kebahagiaan masyarakat kota kini menjadi salah satu faktor yang menjadi acuan untuk menentukan perkembangan suatu daerah. Dalam sebuah buku Happy City salah satu cara untuk meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat adalah dengan membangun sebuag ruang publik. Survey menunjukkan hasil bahwa kegiatan bersepeda merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat kota Bengkulu, namun sangat di sayangkan belum adanya tempat untuk melakukan kegiatan tersebut dengan aman dan nyaman. Dalam mendesain objek arsitektur ini, perancangan melewati proses seperti analisa survey keseharian masyarakat dan menerapkan metode geometri dalam perancangan. Tujuannya ialah menghadirkan Taman Sepeda sebagai tempat yang dapat kemampuan dalam konsentrasi, keseimbangan serta kemampuan sensorik dan motorik akan terstimulasi.
Penerapan Healing Architecture dengan Konsep Slow Living dalam Perancangan Ruang Publik Pereda Stres Adinda Aprilia Kirana Ruspandi; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2354.881 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33492

Abstract

Fast Paced Life atau biasa disebut dengan hidup-serba-cepat adalah gaya hidup dengan aktivitas padat dan terus menerus. Fast Paced Life dapat mendorong stimulasi berlebih dan overscheduling, yang menjadi stres kronis yang menyebabkan emosi dan kebiasaan yang tidak stabil. Usulan objek disain adalah ruang publik yang dapat meredakan stress masyarakat Serpong akibat fast paced life. Peranan bangunan ruang publik adalah membantu penyembuhan dari sisi psikologis atau pengobatan non medis yang menggunakan pendekatan prinsip-prinsip desain yang diterapkan pada objek. Fungsi bangunan sebagai ruang publik pereda stres akibat fast paced life maka diterapkan pendekatan healing architecture dan slow living pada obyek desain. Healing architecture merupakan sebuah pendekatan dimana tujuan utama dari penggunaanya adalah untuk membantu menyembuhkan pengguna dengan konsep pembentukkan lingkungan perawatan yang memadukan aspek fisik serta psikologis pasien di dalamnya yang bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan. Sedangkan slow living merupakan sebuah gaya hidup yang dengan tempo lambat dan lebih mengutamakan kualitas waktu. Gaya hidup tersebut bertolak belakang dengan gaya hidup fast paced life. Obyek desain menggunakan pola lingkaran sebagai acuan dalam proses mendesain. Sebuah eksperimen menunjukkan bahwa curve atau melengkung dapat memperlambat tempo kecepatan manusia saat berjalan. Oleh karena itu lingkaran dipilih menjadi pola acuan saat mendesain karena semua sisi lingkaran merupakan curve atau melengkung. Obyek desain akan menggabungkan karakteristik mall (community mall) dan ruang publik. Community mall terdiri dari beberapa massa bangunan yang dihubungkan dengan jalan setapak. Karakteristik ini lah yang akan diterapkan pada obyek desain.
Redesain Rumah Potong Hewan: Persepsi pada Batas Ruang Faliq Urfansyah; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.173 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33736

Abstract

Penggunaan pendekatan persepsi pada batas ruang RPH merupakan konsep yang digunakan untuk memisahkan antara dua jenis ruang di dalam bangunan utama RPH. Dengan menggunakan pendekatan ini maka optimasi lahan bisa dilakukan dengan penggabungan bangunan utama dari kedua RPH sehingga dapat meminimalkan kebutuhan lahan untuk bangunan utama. Pemisah antara kedua ruang yang dibuat oleh batas menjadi kunci utama dalam desain yang memungkinkan konsep lain dapat diterapkan menjadi sebuah desain dalam kompleks RPH. Dalam penerapannya, batas yang memisahkan kedua ruang ini menghadapi permasalahan berupa aturan yang sudah ditetapkan dalam persyaratan rumah potong hewan ruminansia dan unit penanganan daging (meat cutting plant), dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 13/PERMENTAN/OT.140/1/2010 yang mensyaratkan terpisahnya secara fisik RPH babi dari lokasi kompleks RPH hewan lain atau dibatasi dengan pagar tembok dengan tinggi minimal 3 (tiga) meter untuk mencegah lalu lintas orang, alat dan produk antar rumah potong. Berdasarkan peraturan ini maka dibutuhkan desain batas yang dapat memisahkan kedua ruang dalam satu bangunan utama dengan pertimbangan aturan tersebut. Cara yang digunakan untuk membuat desain batas seperti yang diharapkan adalah dengan membuat batas yang berwujud fisik sebagai pemisah, namun dengan kedua ruang yang dibatasi ini tidak dipersepsikan sebagai dua bagian bangunan yang berbeda dalam satu bangunan tersebut. Metode yang digunakan dalam redesain RPH ini adalah revealing architectural design oleh Philip D. Plowright yang berdasar pada pendekatan ilmu arsitektur ataupun diluar itu dengan kerangka berpikir yang jelas. Jenis kerangka berpikir yang diaplikasikan pada redesain RPH adalah concept-based framework yang menggunakan ide utama sebagai pusat dari semua konsep yang dibuat pada desain. Dengan pendekatan persepsi batas sebagai kunci konsep, maka ide utama dan konsep lain dapat diaplikasikan dalam desain. Konsep-konsep ini terdiri dari tiga konsep utama, yaitu penambahan fasilitas, perubahan tata letak, dan aplikasi dari batas dengan persepsi yang dibuatnya.
Arsitektur Pasar dan Manusia sebagai Penggerak Peradaban Kota Rizky Maulana Ibrahim; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.612 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34439

Abstract

Arsitektur dan manusia sama sekali tidak dapat dipisahkan. Meskipun arsitektur dibentuk oleh manusia sedemikian rupa, tetapi secara tidak sadar arsitektur juga membentuk dimensi berfikir dan pola berperilaku manusia itu sendiri. Mereka adalah sebuah paradoksial yang akan terus berlanjut, dimana arsitektur itu ada karena manusia dan manusia itu ada karena arsitektur. Hubungan mereka sangat sinergis dalam menciptakan suatu peradaban dimasa lampau yang dapat dirasakan saat ini, bahkan hingga masa mendatang. Namun keegoisan manusia dewasa ini, tidak lagi memperdulikan keberadaan arsitektur yang mempunyai pengaruh penting dalam kehidupan manusia. Sehingga arsitektur diciptakan hanya sekedar variabel fisik (alat guna), yang kemudian akan berdampak buruk dalam tatanan kehidupan sosial yang cenderung individualis. Bercermin dari semua itu, re-design Pasar Tradisional Puri Pati dengan pendekatan synomorphy adalah untuk memicu adanya interaksi antar pengguna dan bangunan. Adapun metode riset menggunakan behavior mapping untuk menganalisa data dan fakta-fakta yang terjadi pada lapangan melalui pemetaan perilaku dan metode perancangan menggunakan teori Architectural programing untuk mempermudah alur berfikir dalam menentukan permasalahan desain yang kemudian ditarik menjadi perwujudan kriteria konsep desain. Sehingga perancangan dapat menjadi triger dalam menciptakan keberadaan arsitektur yang akan mengembalikan harmonisnya kehidupan sosial yang arif dan humanis.
Selebrasi Aspek Efemeral dalam Arsitektur pada Ekshibisi Multi Agama Rifdha Cahyadistika; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i1.62221

Abstract

Meski kematian merupakan sesuatu yang alamiah dan pasti terjadi dalam kehidupan, hal tersebut tidak menghalangi hasrat dan obsesi manusia untuk menaklukkannya (Denial of Death). Sepanjang perjalanan hidupnya manusia selalu mencari cara untuk meninggalkan sebuah jejak/legacy agar selalu diingat, dan arsitektur hadir sebagai salah satu cara bagi manusia untuk memanifestasikan keinginannya menjadi abadi. Hal ini menjadikan arsitektur memiliki sebuah formalitas yang identik dengan kepermanenan dan kekokohan, dan menjadi penanda bahwa yang baik dan mempunyai arti, juga berdampak lebih besar adalah bangunan yang kekal. Namun hal tersebut merupakan sesuatu yang cukup utopis dan susah diwujudkan, sehingga timbul pertanyaan apakah konsep keabadian masih relevan di masa kini? Bagaimana jika manusia mulai menerima ke-mortal-an dirinya, bahkan merayakannya? Melalui pertanyaan tersebut, rancangan ini berusaha mengkonstruksi sebuah produk arsitektur, dimana konsep – konsep efemeral disuntikkan dalam elemen rancang bangunan, mulai dari program ruang hingga eksplorasi material. Untuk mencapai tujuan diatas, rancangan akan difokuskan pada beberapa aspek rancang, yaitu konsep sebagian bangunan berupa instalasi yang bisa runtuh (deteorisasi dan deformasi) dan peleburan fungsi museum dan tempat ibadah. Hasil dari aspek rancang tersebut kemudian akan menghasilkan skenario dialog aktivitas dan ruang yang menarik, sehingga diharapkan ketika pengunjung selesai mengunjungi bangunan akan terbentuk persepsi penerimaaan akan mortalitas dalam dirinya.
Pemanfaatan Google-Street-View untuk Observasi Kota di Tengah Pandemi Covid-19 Setyo Nugroho; Fardilla Rizqiyah; Kirami Bararatin; Angger Sukma Mahendra; Rabbani Kharismawan; Bambang Soemardiono
ATRIUM: Jurnal Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2021): ATRIUM: Jurnal Arsitektur
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/atrium.v7i1.111

Abstract

Title: Making Use of Google-Street-View for Urban Observation During Covid-19 Pandemic   Data collection in the field of architecture and urban design has been conducted mostly onsite through field survey. Yet, covid-19 pandemic made this activity impossible due to the avoiding physical activities in public area. Field survey in the covid-19 pandemic can be conducted through the make use of Google-Street-View (GSV). However, previous articles did not explain sisytematically the topic in the scope of architecture and urban design which were possible to discuss by using GSV. The article aims to review the implementation of observation technique using GSV to support data collection in the field of architecture and urban design. The research method employs the literature review, and case studies from Indonesian cities and abroad by the narrative method. The result showed that 3 topics of discussions were possible to use the GSV as a tool: streetscape evaluation; reading visual characteristics of the city and town; and architectural conservation. Even though some weaknesses were noticed, this technique of data collection give a flexibility for the user especially the lecturers, researchers, as well as students to complete their data collection. 
Analisis Skala Ruang Dalam Perencanaan Arsitektur Exhibition Plants Prisqilia Aurista Juwita; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.92748

Abstract

Kota Utopia adalah konsep kota ideal yang didambakan oleh banyak orang di perkotaan. Namun perencanaan sebuah Kota Utopia seringkali gagal, hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak mendukung kehidupan yang layak dan bebas di perkotaan. Salah satu faktor kegagalan konsep Kota Utopia adalah karena tidak menerapkan human scale planning. Human scale planning sendiri merupakan sebuah konsep dalam arsitektur dalam mewujudkan bangunan yang ramah dan dapat diterima oleh manusia. Skala manusia adalah sebuah teori yang berkaitan dengan indera manusia secara visual dan jarak pandang manusia terhadap suatu obyek. Berkaitan dengan jarak pandang manusia, hal ini dapat diintegrasikan dalam bidang arsitektur dan dikaitkan dengan skala ruang. Skala manusia dapat menjadi tolak ukur rancangan arsitektur dalam menghadirkan sebuah ruang dan suasana. Dalam proses perancangana arsitktur pada ranah kota, harus dilakukan analisis dengan metode comparative study-case untuk melihat strength, weakness, opportunity, threat dari konteks yang diangkat. Dengan melihat SWOT dapat menentukan respon yang harus dilakukan. Dari analisis yang telah dilakukan pada konteks, respon yang harus dilakukan adalah melakukan perancangan arsitektur ranah kota dengan menggunakan konsep skala ruang dalam menciptakan perspektif ruang, dan membangkitkan suasana yang dapat dirasakan pengguna. Pendekatan dilakukan dengan cara menganalisis titik-titik tertentu pada kawasan Tunjungan dengan indikator skala manusia terhadap tipologi sebuah Pasar Tanaman Hias. Kriteria rancang dan konsep desain juga akan berjalan beriringan dengan tujuan yang sama yaitu penerpan skala manusia dalam desain arsitektural.
Rancangan Museum Bawah Tanah Sebagai Pengalaman Fantasi Manusia Fachrizal Sabilineo Fanaya; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.100154

Abstract

Manusia pastinya memiliki daya imajinasi atau fantasi yang dimiliki sejak kecil. Manusia melakukan hal ini setiap saat membayangkan sesuatu dan memikirkan sesuatu yang abstrak dan tidak menentu sesuai kondisinya saat itu. Ada faktor diluar pikiran manusia yang menstimulasi akan hadirnya suatu memori fantasi yang sedang dipikirkan sesorang, namun tidak semua usia bisa menangkap fantasi mereka secara cepat dan tepat. Disinilah keterkaitan antara arsitektur dan fantasi manusia hadir untuk membangun sebuah karakter dari sebuah ruang dan mengajak para pengguna untuk dapat merasakan dan membayangkan lebih dalam dengan bantuan ruang arsitektural. Ruang arsitektural hadir menjadi sebuah gagasan untuk menstimulasi daya fantasi manusia dengan atmosfer tertentu pada ruang dan sensori pada indera manusia. Muncul lah ide gagasan museum bawah tanah sebagai objek rancangan. Gagasan museum bawah tanah dinilai tepat untuk menanggapi isu, konteks, dan kriteria. Peran arsitektur akan hadir lebih dalam untuk dirasakan dan membantu manusia dalam mengati hal yang ada didalamnya, dengan prinsip dasar museum yang dapat menjadi ruang kolaborasi antara arsitektur dan fantasi manusia. Dengan gagasan museum bawah tanah maka semakin memperkuat peran arsitektur untuk menstimulasi daya fantasi dan imajinasi manusia untuk menikmati atau mendalami apa yang ada di dalamnya.
Peningkatan Kenyamanan Termal dan Pencahayaan Alam Gedung Sekolah Dasar di Kawasan Padat Hunian di Surabaya Sri Nastiti N. Ekasiwi; I Gusti Ngurah Antaryama; Erwin Sudarma; Ima Defiana; Asri Dinapradipta; FX Teddy Badai Samodra; Bambang Soemardiono; I Irvansjah; Angger Sukma Mahendra; Collinthia Erwindi
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 18, No 1 (2020): ARSITEKTURA : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.141 KB) | DOI: 10.20961/arst.v18i1.36146

Abstract

A humid tropical climate characterized by high temperatures, relative humidity and solar radiation results in uncomfortable environmental conditions. Discomfort will be worse if the building is in a dense urban area. Densely building masses often weaken the local wind speed which is necessary for evaporative cooling process in tropical climate. In addition, the narrow distance between buildings can reduce access to daylight. Both of these environmental problems were experienced by SDIT Al Uswah Surabaya, which building is located in a densely populated neighbourhood. Along with the development program of educational facilities and infrastructure at the school, improving environmental conditions with passive concept is maintained and prioritized. Embodiment of the environment with the Selective Environment approach is used in this activity. The results of this activity will be in the form of design proposals for improving ventilation and lighting in classrooms. The limitation of expanding openings becomes an obstacle in fulfilling the natural ventilation and lighting requirements. In addition, the design of a three-storey building with a single loaded corridor requires special consideration for the design of sun shading that is safe for elementary school-age children, but still supports passive lighting and ventilation.
Pendampingan Perancangan Eksterior Menara Masjid Baiturrohiem di Perum Wisma Kedung Asem Indah Kharismawan, Rabbani; Soemardiono, Bambang; Mahendra, Angger Sukma; Nugroho, Setyo; Septanti, Dewi; Sumartinah, Happy Ratna; Sudarma, Erwin; Krisdianto, Johanes; Muchlis, Nurfahmi; Defiana, Ima
Sewagati Vol 8 No 2 (2024)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v8i2.818

Abstract

Menara masjid telah lama digunakan sebagai tanda dan alat untuk menunjukkan keberadaan masjid dalam suatu lingkungan. Selain membantu menyuarakan adzan, menara juga berfungsi sebagai elemen yang meningkatkan keindahan visual sebuah masjid. Walaupun Masjid Baiturrohiem telah mengalami pengembangan besar sejak tahun 2010, namun masih belum memiliki menara yang mencerminkan dengan baik keagungan masjid saat ini. Oleh karena itu, pada tahun 2020, dimulai upaya untuk memulai pembangunan menara yang lebih representatif. Sayangnya, hingga saat ini, tim Takmir dan panitia pembangunan masih belum memiliki dokumen arsitektural yang diperlukan untuk mendukung penyelesaian proyek pembangunan menara ini. Proses ini dimulai dengan melakukan survei lokasi, kemudian dilanjutkan dengan perencanaan dan akhirnya disusul dengan pembuatan gambar kerja yang dibutuhkan. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan pendampingan perancangan dalam eksterior Menara Masjid Baiturrohiem hingga menghasilkan dokumen rancang yang akan diserahkan ke panitia Pembangunan Menara masjid untuk dijadikan acuan dalam desain eksterior Menara. Dengan demikian, perancangan eksterior menara masjid ini diharapkan akan memberikan kebanggaan warga Perum Wisma Kedung Asem Indah di masa depan.