Triandriani Mustikawati
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Vertical Garden Dan Hidroponik Sebagai Elemen Arsitektural Di Dalam Dan Di Luar Ruangan Damayanti Asikin; Rinawati P. Handayani; Triandriani Mustikawati
RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies) Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1966.08 KB) | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.01.4

Abstract

Area hijau tak hanya memberi manfaat visual saja, tetapi juga manfaat ekologis, edukatif, dan ekonomis.Perkembangan teknologi pertanian kota memunculkan berbagai teknik untuk dapat berkebun di lahan sempit, bahkan di dalam ruangan sekalipun. Dampak ekologis yang kini mulai dirasakan adalah perubahan visual lingkungan permukiman padat di perkotaan yang menjadi lebih hijau.Vertical garden dan hidroponik merupakan beberapa bentuk teknologi pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai elemen arsitektural, baik untuk kebutuhan lansekap (di luar ruangan) maupun di dalam ruangan. Makalah ini mengkaji pemanfaatan vertical garden dan hidroponik sebagai elemen arsitektural di dalam maupun di luar ruangan. Kajian yang dilakukan secara deskriptif berdasarkan contoh-contoh kasus yang menerapkan keduanya sebagai elemen arsitektural. Hal yang diamati adalah aspek fungsional berkaitan dengan perannya sebagai elemen arsitektural.  Hasil kajian menunjukkan bahwa keduanya dapat digunakan sebagai pembatas dan pembentuk ruang dengan teknik-teknik sesuai dengan fungsi arsitekturalnya.Kata kunci: vertical garden, hidroponik, elemen arsitektural
Pendekatan Barrier-Free Design pada Perpustakaan Tunanetra di Kota Bandung Nasution, Raihana Zahra; Mustikawati, Triandriani
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksesibilitas adalah hak fundamental bagi setiap individu, termasuk penyandang disabilitas. Di Indonesia, 8,5% penduduk merupakan penyandang disabilitas, dengan tunanetra menempati peringkat pertama. Merespons ratifikasi Marrakesh Treaty oleh Indonesia untuk meningkatkan aksesibilitas karya publikasi bagi penyandang tunanetra, serta sejalan dengan kebijakan Kota Bandung yang ramah disabilitas, penelitian ini bertujuan mewujudkan wadah literasi yang memungkinkan penyandang tunanetra mengakses informasi secara mandiri, aman, dan nyaman. Untuk mewujudkan desain Perpustakaan Tunanetra tersebut dilakukan dengan menggunakan pendekatan Barrier-Free Design melalui kriteria mengenai Accesibility, Distinguishability, dan Usability. Metode yang digunakan adalah observasi lapangan yang terbagi menjadi dua kategori utama yaitu observasi objek dan observasi pengguna. Observasi ini didasarkan pada prinsip Barrier-Free Design dan karakteristik pengguna tunanetra, dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman komprehensif tentang kebutuhan spesifik penyandang tunanetra dalam konteks perpustakaan. Integrasi antara kriteria desain, hasil observasi, dan program desain menghasilkan empat konsep utama: Cluster Area, Legible Circulation, Distinguishable, dan Guide and Information. Konsep-konsep ini bertujuan menciptakan wadah literasi yang inklusif, aman, dan nyaman bagi penyandang tunanetra.
Penerapan Healing Environment pada Perancangan Pusat Rehabilitasi Narkoba Terpadu di Kota Batu Robiadji, Chiara; Mustikawati, Triandriani
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada beberapa tahun terakhir terdapat kenaikan kasus penggunaan narkoba di Indonesia yang menyebabkan peningkatan kebutuhan untuk layanan rehabilitasi narkoba. Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hambatan yang ditemukan seperti kegagalan klien untuk menyelesaikan program rehabilitasi narkoba. Beberapa faktor yang menghambat penyelesaian program rehabilitasi merupakan kondisi psikis klien akibat gejala putus zat, adanya stressor pada lingkungan fasilitas rehabilitasi, tingkat privasi yang buruk serta tingkat pengawasan yang buruk terhadap klien. Untuk menjawab permasalahan tersebut pendekatan healing environment diterapkan pada perancangan pusat rehabilitasi narkoba dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan yang dapat menunjang proses pemulihan dengan tingkat stresor yang rendah, terpenuhinya kebutuhan untuk distraksi yang positif, tingkat privasi yang baik, serta tingkat pengawasan yang baik. Dengan menggunakan strategi desain analisis pola ditemukan kriteria desain yang menjadi solusi untuk permasalahan tersebut. Kriteria desain yang diterapkan pada desain pusat rehabilitasi narkoba merupakan pengaturan tingkat kebisingan, pengaturan tingkat pencahayaan, pemilihan warna, pengaturan terhadap spatial clarity, pengaturan pemandangan ke luar bangunan, pengaturan desain ruang luar, pengauran personal space, pengaturan terhadap social density, penempatan titik pengawasan, dan pengaturan terhadap visibilitas ruang.
TRANSFORMASI KONSEP PAWON PADA DAPUR MODERN (STUDI KASUS: KAMPUNG PANGGUNG, MALANG) Putri, Debri Haryndia; Handajani, Rinawati Puji; Mustikawati, Triandriani
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 11, No 1 (2024): April
Publisher : Architecture Program Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v11i1.72975

Abstract

Dapur memainkan peran sentral dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Indonesia merupakan negara dengan kelompok etnis dan suku yang beragam, masing-masing etnis dan suku memiliki adat istiadat, praktik, serta gaya arsitektur yang unik, yang berkaitan dengan dapur dan aktivitas memasak. Pada masyarakat Jawa, dapur lebih dikenal dengan istilah Pawon. Bagi masyarakat Jawa, memasak merupakan aktivitas olahraga dan ibadah. Esensi fisik pawon terfokus pada kehadiran tungku (perapian kayu), amben serta dingklik. Modernitas hadir dan memasuki berbagai aktivitas hidup masyarakat Jawa. Dapur modern dirancang serba ada dengan desain yang compact yang memunculkan budaya konsumtif dan cepat, tanpa memperhatikan kebiasaan masyarakat yang telah ada. Pawon ber-transformasi menyesuaikan aktivitas memasak serta aspek spasialitas dapur bagi masyarakat Jawa modern. Transformasi dalam arsitektur, mengacu pada perubahan lingkungan binaan untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, estetika serta responsif terhadap perubahan kebutuhan penggunanya. Penelitian ini bertujuan menelusuri penyesuaian konsep Pawon pada dapur masyarakat Jawa modern, dengan mengambil 3 studi kasus dapur pada area Kampung Penanggungan, Kota Malang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara di lapangan untuk mendapatkan informasi tentang transformasi konsep pawon pada dapur. Penelitian menggunakan metode analisa kualitatif deskriptif yang berfokus pada aspek pembentuk interior dapur seperti jenis aktivitas serta kualitas spasial seperti layout, posisi dan sikap kerja, ergonomi furniture, layout, serta kondisi sistem lingkungan (pencahayaan dan penghawaan). Dari hasil analisa didapatkan, bahwa aktivitas racik "nguleg" menjadi sebuah keunikkan pada dapur modern masyarakat Jawa yang merupakan hasil penyesuaian konsep Pawon. Area racik melengkapi konsep segitiga ergonomi dapur modern yang awalnya hanya 3 (tiga) area menjadi 4 (empat) area yaitu area penyimpanan, area cuci, area racik serta area masak.
Optimalisasi Tata Ruang pada Revitalisasi Pasar Rakyat Bululawang Wijayanti, Shinta; Mustikawati, Triandriani
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar Rakyat Bululawang merupakan pasar tradisional yang berfungsi sebagai pusat perdagangan skala kecamatan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejak revitalisasi pada bagian timur pasar pada tahun 2018, terjadi kesenjangan kondisi antara area timur yang lebih modern dan area barat yang belum diperbaharui, sehingga menyebabkan penurunan jumlah pengunjung di area barat. Kajian ini bertujuan merancang menghasilkan desain revitalisasi area barat Pasar Bululawang dengan mengacu pada SNI 8152 Tahun 2021 Tentang Pasar Rakyat. Hasil observasi awal mengungkap permasalahan desain yang utama, yaitu ketidakteraturan zonasi dagang dan sirkulasi pasar serta dan ketidak lengkapan fasilitas pasar. Hasil desain mencakup penataan zonasi dagang yang lebih teratur, sirkulasi yang terpadu dan memenuhi standar, serta penambahan fasilitas modern seperti gedung parkir, utilitas air bersih, dan sistem keamanan. Revitalisasi ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Pasar Bululawang sebagai pasar tradisional yang modern dan fungsional, sekaligus menjawab kebutuhan arsitektural dan sosial penggunanya. Kata kunci: revitalisasi, pasar rakyat, zonasi, sirkulasi
Eksplorasi Spasial sebagai Konsep Desain Pereduksi Stres Mahasiswa pada Ruang Terbuka Publik Khen, Jeremy; Mustikawati, Triandriani
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres menjadi salah satu penghambat mahasiswa untuk berkembang secara akademik maupun non-akademik, karena hal ini memberi tekanan yang berpengaruh terhadap ketidakteraturan pola hidup dan aktivitas. Maka dari itu, mahasiswa memerlukan ruang untuk melakukan aktivitas yang mereduksi stres sesuai pada tiga teori, yaitu Stress Reduction Theory, Self-determination Theory, dan Attention Restoration Theory. Aktivitas yang diwadahi di antaranya adalah merenung dan menenangkan diri secara individu, berinteraksi dengan sesama mahasiswa, atau bahkan mengembangkan minat bakat pada dirinya sehingga mahasiswa dapat mencapai kondisi well-being. Hal ini dapat diwujudkan dengan adanya sebuah konsep yang mampu menaungi beragam fungsi dan sifat ruang yang mewadahi berbagai aktivitas pereduksi stres dengan cara unik dan menyenangkan, yaitu melalui konsep desain spatial explorative. Konsep desain ini dirancang untuk memberi pengalaman perjalanan ragam ruang bagi mahasiswa, dan diimplementasikan di Kota Malang sebagai kota padat mahasiswa. Konsep ini diperoleh melalui observasi empirik yang dilakukan terhadap objek-objek padat mahasiswa di Kota Malang. Dari observasi tersebut, ditemukan bahwa diperlukannya lingkungan bebas stres yang memiliki variabilitas ruang dan aktivitas, fleksibilitas ruang dalam, wadah aktivitas produktif, dan familiaritas lingkungan.  Konsep desain ini dikembangkan sebagai ruang terbuka publik berupa student odyssey park di kawasan Tlogomas dengan variasi leveling kontur dan kedekatan dengan elemen alami, melalui tujuh zona eksplorasi: welcome, interact, gather, eat, play, create, dan happy. Kata kunci: mahasiswa, well-being, ruang terbuka publik, eksplorasi spasial   Stress is one of the main factor hindering students from developing both academically and non-academically, as it imposes pressure that disrupts their daily routines and activities. Therefore, students need a space that supports stress-reducing activities based on three theories: Stress Reduction Theory, Self-determination Theory, and Attention Restoration Theory. These activities include individual reflection and calming, social interaction with fellow students, and the development of personal interests and talents to achieve a state of well-being. This necessity can be addressed through a concept that accommodates diverse spatial functions and characteristics designed to facilitate stress-reducing activities in unique and enjoyable ways, which later called “spatial explorative” design concept. This design approach is intended to provide students with an experiential journey through various spaces and is implemented in Malang City, known for its high student population. The concept was derived through empirical observation of student-dense areas in Malang. The findings highlight the need for a stress-free environment that features spatial and activity variability, interior space flexibility, productive activity zones, and environmental familiarity. The design concept is further developed into a public open space called the “student odyssey park” located in the Tlogomas area. It integrates contour level variations and proximity to natural elements and consists of seven exploration zones: welcome, interact, gather, eat, play, create, and happy. Keywords: college students, well-being, public open space, spatial exploration
Sensory-Based Wayfinding sebagai Desain Barrier-free pada Pusat Pemberdayaan Komunitas Tunanetra di Kota Surabaya Tobing, Christabel Yemima Natalinda; Mustikawati, Triandriani
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK                                     Tunanetra karena keterbatasan penglihatan, cenderung mengalami kesulitan untuk menavigasikan diri dan mengorientasikan diri secara spasial. Persoalan ini menjadi dasar perancangan pusat pemberdayaan tunanetra di Kota Surabaya yang menggunakan pendekatan barrier-free yang berfokus pada wayfinding pengguna. Metode yang digunakan adalah desain berbasis pengguna, melalui observasi perilaku dan analisis kebutuhan sensorik pengguna yang menghasilkan penggunaan indera non-visual (taktil, auditori, dan olfaktori). Hasil ini ditanggapi dengan menggagas desain kawasan multimasa yang terdiri dari berbagai zona yang dapat dibedakan dengan elemen-elemen sensori yang melengkapi pada berbagai skala (tapak, bangunan, dan ruang). Secara taktil, elemen berupa pengarah jalur yaitu guiding block dengan disertai handrailing di beberapa jalur. Secara auditori dan olfaktori  berupa isyarat suara dan elemen lanskap beraroma untuk meningkatkan orientasi multisensori. Dengan wayfinding berbasis sensori pada desain ini, diharapkan pengguna tunanetra dapat berorientasi, bermobilitas, dan bernavigasi dengan mudah dan mandiri sehingga  tercipta lingkungan yang aman, inklusif dan mendukung pemberdayaan serta pengembangan kapasitas berkelanjutan bagi tunanetra.   Kata kunci: tunanetra, sensori, desain tanpa hambatan, pemberdayaan   ABSTRACT                                    Visually impaired people, due to limited vision, tend to have difficulty navigating and orienting themselves spatially. This problem is the basis for designing a visually impaired empowerment center in Surabaya that uses a barrier-free approach focused on user’s wayfinding. This approach emphasizes the use of non-visual senses as a guide for spatial orientation. The method used is user-based design, through observation and analysis of sensory needs of user that result in the use of non-visual senses (tactile, auditory, and olfactory). This result is responded to by initiating a multi-mass area design consisting of various zones that can be distinguished by complementary sensory elements at various scales (site, buildings, and spaces). Tactilely, the elements are path guides, namely guiding blocks accompanied by handrails on several paths. Auditory and olfactory elements are sound cues and scented landscape elements to enhance multisensory orientation. With sensory-based wayfinding in this design, it is hoped that visually impaired users can orientate, mobilize, and navigate easily and independently, thereby creating a safe, inclusive environment that supports empowerment and sustainable capacity development for the visually impaired.   Keywords: visually impaired, sensory, barrier-free design, empowerment
MODULARITAS DAN PARTISIPASI: DESAIN ADAPTIF UNTUK KLASTER TALUN, KAMPUNG HERITAGE KAYUTANGAN Sheira, Monica; Giriwati, Novi Sunu Sri; Santosa, Herry; Mustikawati, Triandriani
Jurnal Desain Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 2 No. 2 (2025): JDLBI- in Progress
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/JDLBI.v2i2.540

Abstract

Artikel ini membahas mengenai keterbatasan keterlibatan generasi muda dalam pelestarian kawasan heritage Kayutangan, Kota Malang, khususnya pada klaster Talun. Fokus kajian ini adalah merumuskan rekomendasi desain ruang publik temporer yang dapat menjadi wadah ekspresi dan kolaborasi generasi muda kampung dalam rangka menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan historis mereka. Pendekatan yang digunakan bersifat reflektif-konseptual, dengan merujuk pada temuan studi terdahulu, observasi kawasan, serta analisis teoritis dari Lefebvre, Yi-Fu Tuan, dan Gehl. Rekomendasi desain yang diajukan berupa struktur modular panggung dan kursi lipat yang dipasang secara fleksibel pada fasad dan halaman Rumah STMJ, memungkinkan terjadinya aktivitas sosial berskala kecil yang bersifat adaptif dan partisipatif. Kebaruan dari studi ini terletak pada pemanfaatan strategi desain temporer sebagai instrumen penyambung antara generasi muda dan pelestarian kawasan heritage tanpa bergantung pada pembukaan lahan baru atau keterlibatan formal.
The Visual Mechanisms of Seeing in Experiencing the Interior Sengke, Maria M. C.; Mustikawati, Triandriani
Interiority Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper discusses the visual mechanisms of seeing and their significance in experiencing an interior space. The discussion investigates what the observers can obtain from seeing activities. The aim is to emphasise on the role of seeing as a way of constructing the relation between human and the interior environment. The paper explores the mechanisms of seeing by focusing on two different ways, which are seeing in a static position from a point of observation, and seeing while moving through a path of observation. The exploration in a hospital setting finds out that seeing from a point of observation gave a visual range determined by the body's shaft motion, head motion, and eye movement. This way of seeing produces visual information on interior space, which consists of vertical and horizontal fields. Seeing while moving will create a path of observation that gave an optical flow containing dynamic and continuous visual information. The understanding of seeing mechanisms in interior environment can generate a design with better human-interior relation.