Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Implementasi Hukum Program Keluarga Harapan (PKH) dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat (Studi di Desa Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga) Antoni, Syarif; Hadi, Saryono; Utami, Nurani Ajeng Tri
Soedirman Law Review Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.slr.2019.1.1.15

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi hukum Program Keluarga Harapan (PKH) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga dan faktor yang cenderung berpengaruh terhadap implementasi hukum Program Keluarga Harapan (PKH) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga. Penelitian in menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan yuridis sosiologis dan spesifikasi penelitian deskriptif. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga dengan responden sebanyak 51 (lima puluh satu) orang peserta  atau penerima manfaat PKH. Pengambilan sampel penelitian menggunakan simple random sampling. Jenis sumber data meliputi data primer dan data sekunder yang diperoleh dengan menggunakan metode angket, dokumenter, dan kepustakaan. Data yang terkumpul diolah secara naratif dan tabel data. Analisis data kuantitatif menggunakan metode analisis isi dan analisis perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat implementasi hukum Program Keluarga Harapan (PKH) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga adalah efektif. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian terhadap 2 (dua) indikator meliputi efektifnya pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) dan tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat. Faktor-faktor yang cenderung memengaruhi implementasi hukum Program Keluarga Harapan (PKH) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga meliputi faktor motivasi, pekerjaan, dan pendapatan.Kata kunci : Implementasi Hukum, Program Keluarga Harapan (PKH), Motivasi, Pekerjaan, Pendapatan.
Smart Village Melalui Desa Wisata Terpadu Di Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Hartini, Sri; Naufalin, Rifda; Ratnaningtyas, Nuniek Ina; Lestari, Sri; Wulan, Tyas Retno; Santoso, Purwanto Bekti; Utami, Nurani Ajeng Tri; Hikam, Arif Rahman
Solidaritas: Jurnal Pengabdian Vol. 3 No. 2 (2023): Solidaritas: Jurnal Pengabdian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/sjp.v3i2.9785

Abstract

Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, memiliki potensi wisata alam, wisata budaya, dan wisata pendidikan yang dilengkapi dengan homestay, warung kopi, dll. Namun, dalam pengelolaannya terdapat permasalahan antara lain; pengunjungnya mengalami penurunanrata-rata 60 %, masih terbatas pada wisatawan domestik, tempat wisata jauh dari jalan utama,akses jalannya sempit dan rusak. Program pengembangan desa wisata di Desa Pandansari direncanakan 3 (tiga) tahun ke depan dengan melalui konsep makro dan mikro dengan membetukzona utama dan zona pendukung untuk membentuk jalur keterhubungan antar zona dan obyekdaya tarik wisata. Zona Utama adalah menuju wisata Desa Pandansari. Zona Pendukung adalahdimulai dari Desa Taraban, Kretek, Wanatirta, Ragatunjung Cipetung, Pandansari. Program tahunpertama antara lain: sosialisasi perencanaan zona, penyegaran kelompak bumdes dan pokdarwis, serta penguatan UMKM yang sudah ada diberikan bekal manajemen pemasaran dan penguatan modal melalui pembentukan prakoperasi syariah. Kegiatan dengan membuat rencanapengembangan usaha Bumdes, pengembangan wisata alam yang sudah ada dengan membuatkonsep yang unik dan menarik Masyarakat yaitu wisatawan bertani. Kendala program ini adalahpetani belum bisa mendukung sepenuhnya adanya konsep wisata yang akan direncanakan. Halini dikarenakan kebutuhan petani yang mendesak, biaya yang segera ada. Mereka masih berpikir,bahwa pariwisata, tidak bisa memberi kontribusi dalam waktu yang segera.
Toward Equal Access to Justice: Can Regulating Attorney Fees Ensure Fairness and Broaden Legal Access in Indonesia? Utami, Nurani Ajeng Tri; Sudrajat, Tedi; Wahyudi, Setya; Pati, Umi Khaerah
Pandecta Research Law Journal Vol. 19 No. 2 (2024): December, 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/pandecta.v19i2.8316

Abstract

In Indonesia, the role of attorneys in resolving legal issues is indispensable, yet the absence of standardized attorney fee regulations has led to significant barriers in accessing legal services. Despite attorneys' rights to receive fees for their services, the lack of clear guidelines has resulted in public perception that hiring legal representation is a luxury, with many unable to afford it. This study explores the urgent need for state regulation of attorney fees to ensure fairness and broaden access to justice for all segments of society. The findings indicate that the lack of fee standardization contributes to inequities in the legal system, creating barriers for lower-income individuals to access legal assistance. Furthermore, it reveals that establishing a clear regulatory framework would provide legal certainty, protect consumers, and promote a more equitable system for all citizens. The novelty of this research lies in its exploration of attorney fees as a critical element in improving access to justice in Indonesia, framing the issue beyond economics and highlighting its social justice implications. By addressing the urgency of regulating attorney fees, the study contributes to the ongoing legal reform discourse, providing policy recommendations for creating a fee structure that balances fairness with professional responsibility. The research emphasizes that deliberative processes, considering factors such as case complexity, impact, and operational costs, should guide the determination of fees. Ultimately, the study presents a compelling argument for rethinking how attorney fees are regulated to ensure that justice is accessible to all, not just the wealthy.
Hospital Dispute Settlement Through the Provincial Hospital Supervisory Board in Indonesian Health Law (A Study in Yogyakarta Province) Alawiya, Nayla; Utami, Nurani Ajeng Tri; Afwa, Ulil
Jurnal Dinamika Hukum Vol 23, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdh.2023.23.1.2351

Abstract

Hospitals as health service institutions with legal entities are places that are prone to disputes. Article 60 Law no. 44 of 2009 assigned the Provincial Hospital Supervisory Board to receive complaints and make efforts to resolve disputes employing mediation. An analysis of the forms of hospital disputes and their settlement model through the Provincial Hospital Supervisory Board is very important to be done to avoid misinterpretation and provide legal certainty about who is the authorized party to handle them. The research method used was normative juridical and empirical juridical. The results of this study are to obtain an analysis of the forms of complaints that can be submitted to the Provincial Hospital Supervisory Board including disputes over hospitals as health service facilities where medical personnel and health workers provide health services that are detrimental to patients; disputes between the hospital as a health service facility and the patient as the recipient of health services related to the implementation of the obligations of both parties; disputes between the hospital as a legal entity and the hospital workforce related to internal management; the disputes between hospital as a legal entity and the third parties related to non-medical cooperation; the disputes between hospital as a legal entity and the environment. The hospital dispute resolution model implemented by the Provincial Hospital Supervisory Board of Yogyakarta includes the hospital dispute resolution model by the Provincial Hospital Supervisory Board in collaboration with hospitals, the Hospital Supervisory Board, Provincial Health Office, Provincial Legal Representatives (Ombudsman), YLKI, and PERSI.Keywords: Provincial Hospital Supervisory Board, Disputes Form, Dispute Settlement Model.
The Legal Policy of Criminal Justice Bureaucracy Cybercrime Raharjo, Agus; Bintoro, Rahadi Wasi; Tri Utami, Nurani Ajeng
BESTUUR Vol 10, No 2 (2022): Bestuur
Publisher : Administrative Law Departement Faculty of Law Universitas Sebelas Mare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/bestuur.v10i2.64498

Abstract

Cybercrime has resulted in astronomical losses for the business community. However, the reactive policy model must be more effective at preventing cybercrime, and the due process model is also inappropriate for combating cybercrime with a high level of speed and mobility. This study is normative legal research employing a conceptual strategy and case studies. The results indicate that the reactive model must be improved in order to prevent cybercrime. The model of due process is not appropriate for deterring cybercrime with a high degree of speed and mobility. The preventative law enforcement strategy is effective, but it requires a high level of law enforcement capability to detect and disable cybercrime, which is something that few Indonesian law enforcement officials possess. Prevention based on the user, which places responsibility on internet users, is fine for individuals but not for businesses. Based on collaboration between corporations, universities, civic society, and non-governmental groups, the collaborative model synthesizes the aforementioned paradigms. Because they are based on plans or roadmaps created by internet stakeholders, regulations, technical aspects, and law enforcement may be effectively implemented and developed.
Anak Sebagai Pengedar Dalam Pusaran Peredaran Gelap Narkotika (Studi Putusan Nomor 2/Pid.Sus-Anak/2024/PN Rkb) Nadia Radhwa; Nurani Ajeng Tri Utami; Weda Kupita
Soedirman Law Review Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.slr.2026.8.1.16139

Abstract

Penjatuhan pidana penjara terhadap anak dalam perkara narkotika seringkali memicu dilema hukum antara pendekatan punitif Undang-Undang Narkotika dan pendekatan restoratif Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA). Hal ini terefleksi pada kasus anak yang berperan sebagai perantara/kurir atas perintah orang lain namun tetap dijatuhi vonis penjara dengan alasan kebutuhan akan pembinaan yang lebih baik di lembaga negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana penjara terhadap anak sebagai perantara jual beli narkotika pada Putusan Nomor 2/Pid.Sus-Anak/2024/PN Rkb serta menguji kesesuaiannya dengan asas kepentingan terbaik bagi anak. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konsep, dengan teknik pengumpulan bahan hukum melalui studi kepustakaan. Bahan hukum yang terkumpul dianalisis secara normatif-kualitatif dengan menafsirkan serta mengonstruksikan pernyataan dari bahan hukum primer dan sekunder, yang kemudian disajikan secara naratif-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim menjatuhkan pidana penjara selama 1 tahun 10 bulan berdasarkan pertimbangan holistik yang mencakup aspek yuridis (terbuktinya unsur permufakatan jahat perantara narkotika Golongan I >5 gram), aspek sosiologis (adanya disfungsi pengawasan keluarga dan krisis identitas anak), serta aspek filosofis (penerapan teori tujuan/rehabilitatif). Penjatuhan pidana penjara dalam putusan ini telah sesuai dengan asas kepentingan terbaik bagi anak karena diposisikan sebagai ultimum remedium guna memberikan perlindungan substantif dan pembinaan terstruktur bagi anak yang berada dalam lingkungan kriminogenik.Kata Kunci: Anak yang Berkonflik dengan Hukum; Kepentingan Terbaik bagi Anak; Narkotika; Perantara Narkotika; Pidana Penjara.
Penguatan Upaya Hukum Preventif Dan Represif Terhadap Perundungan di Lingkungan Pendidikan: Kajian Hukum Normatif M. Ofans Hasz; Nurani Ajeng Tri Utami; Abdul Aziz Nasihuddin
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2026): Juli
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i3.2111

Abstract

Bullying atau perundungan masih menjadi permasalahan serius dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sehingga memerlukan strategi penanggulangan yang komprehensif melalui pendekatan preventif dan represif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi hukum preventif dan represif dalam penanggulangan bullying di lingkungan pendidikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Bahan hukum terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif melalui teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi preventif diwujudkan melalui edukasi, peningkatan kesadaran hukum, serta penerapan kebijakan anti-perundungan di satuan pendidikan, sedangkan strategi represif dilakukan melalui penegakan hukum, pemberian sanksi disiplin, mediasi, dan penerapan hukum pidana sebagai ultimum remedium apabila mekanisme lain tidak memberikan penyelesaian yang efektif. Penelitian juga menemukan bahwa pembentukan Satuan Tugas (Satgas) dan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) berperan penting dalam pencegahan, penanganan, dan pemulihan korban. Namun, implementasi kebijakan masih menghadapi kendala berupa rendahnya pemahaman terhadap Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi yang berkelanjutan dan penguatan kapasitas seluruh pemangku kepentingan untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.