Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Lentera Perawat

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hipertensi Dengan Edukasi Kesehatan: Manfaat Jus Buah Mentimun Toto Harto; Taufik Amir
Lentera Perawat Vol. 3 No. 2 (2022): Lentera Perawat
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v3i2.179

Abstract

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian/mortalitas, Tekanan darah 140/90 mmHg di dasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu fase dalam setiap denyut  jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukan fase darah yang kembali ke jantung. Metode : Rancangan studi kasus dalam penelitian ini adalah dengan melakukan proses Asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi, pada pasien hipertensi dengan penerapan edukasi kesehatan manfaat jus buah mentimun dalam menurunkan tekanan darah.Hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari diagnosa yang muncul yaitu : Defisit pengetahuan dengan penerapan edukasi kesehatan manfaat jus buah mentimun. Dalam implementasi sebagian besar telah sesuai dengan rencana tindakan yang telah diterapkan, dengan hasil pasien mengetahui dan menerapkan nya sebagai alternatif terapi non farmakologis.Kesimpulan : Dari hasil studi kasus pada kedua pasien penerapan edukasi kesehatan manfaat jus buah mentimun dan dengan kerjasama perawat dan pasien  atau keluarga sangat di perlukan untuk keberhasilan asuhan keperawatan pada pasien sehingga masalah keperawatan pasien mengenai defisit pengetahuan dengan penerapan edukasi kesehatan manfaat jus buah mentimun dapat dilaksanakan dengan baik dan sebagian masalah dapat teratasi.
Hubungan Antara Aktifitas Fisik Dan Herediter Terhadap Kejadian Hipertensi Di Puskesmas Harto, Toto
Lentera Perawat Vol. 1 No. 1 (2020): Lentera Perawat
Publisher : STIKes Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v1i1.113

Abstract

Hipertensi adalah tekanan darah meningkat yang abnormal dan diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda, tekanan darah normal bervariasi sesuai usia sehingga setiap diagnosis hipertensi harus spesifik sesuai usia (Corwin, 2009) Penelitian ini di lakukan di desa kemalaraja wilayah kerja uptd puskesmas kemalaraja kab oku timur. Penelitian ini di lakukan pada bulan juli 2019. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 responden. Dari hasil uji statistic yang di lakukan dengan penguji Chi-Square didapatkan bahwa aktifitas fisik dengan nilai  (p value = 0,574) dan herediter dengan nilai (p value = 0,548) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara aktifitas fisik dan herediter terhadap kejadian hipertensi. Kesimpulan Hasil penelitian ini adalah bahwa aktifitas fisik dan herediter tidak mempengharui penyakit hipertensi. peneliti menyarankan agar peneliti selanjutnya melakukan penelitian tentang hubungan pendidikan dengan keaktifan lansia dalam melakukan aktifitas fisik.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Pendidikan Ibu Terhadap Asupan Nutrisi Makanan Pada Anak Usia Prasekolah Di Taman Kanak-Kanak Harto, Toto
Lentera Perawat Vol. 1 No. 2 (2020): Lentera Perawat
Publisher : STIKes Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v1i2.137

Abstract

Konsumsi makanan akan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi yang digunakan secara efisien sehingga akan meningkatkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan dan pendidikan ibu terhadap asupan nutrisi makanan pada anak usia prasekolah di TK sentosa telkom baturaja tahun 2019. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia pra sekolah di TK Sentosa Telkom Baruraja. Jumlah sampel pada  penelitian sebanyak 15 resonden. Hasil penelitian univariat menunjukkan bahwa dari 15 responden yang paling  tinggi tingkat pengetahuan  yaitu sebanyak 12 responden (80.0%), dari 15  responden yang paling tinggi tingkat pendidikan ibu  yaitu sebanyak 10 responden (66.7%), dari 15  responden yang baik asupan makanan pada anak usia prasekolah  yaitu sebanyak 12 responden (66.7%). Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan asupan nutrisi pada anak usia prasekolah dengan p value =0,002. Saran bagi institusi pendidikan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan bacaan mahasiswa sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan bagi mahasiswa, bagi tenaga kesehatan diharapkan sebagai informasi agar memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat terutama bagi ibu yang memiliki ana usia prasekolah dan bagi peneliti diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan dan pengalaman tentang asupan nutrisi makanan pada anak usia pra sekolah.
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hipertensi Dengan Edukasi Kesehatan: Manfaat Jus Buah Mentimun Harto, Toto; Amir, Taufik
Lentera Perawat Vol. 3 No. 2 (2022): Lentera Perawat
Publisher : STIKes Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v3i2.179

Abstract

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian/mortalitas, Tekanan darah 140/90 mmHg di dasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu fase dalam setiap denyut  jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukan fase darah yang kembali ke jantung. Metode : Rancangan studi kasus dalam penelitian ini adalah dengan melakukan proses Asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi, pada pasien hipertensi dengan penerapan edukasi kesehatan manfaat jus buah mentimun dalam menurunkan tekanan darah.Hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari diagnosa yang muncul yaitu : Defisit pengetahuan dengan penerapan edukasi kesehatan manfaat jus buah mentimun. Dalam implementasi sebagian besar telah sesuai dengan rencana tindakan yang telah diterapkan, dengan hasil pasien mengetahui dan menerapkan nya sebagai alternatif terapi non farmakologis.Kesimpulan : Dari hasil studi kasus pada kedua pasien penerapan edukasi kesehatan manfaat jus buah mentimun dan dengan kerjasama perawat dan pasien  atau keluarga sangat di perlukan untuk keberhasilan asuhan keperawatan pada pasien sehingga masalah keperawatan pasien mengenai defisit pengetahuan dengan penerapan edukasi kesehatan manfaat jus buah mentimun dapat dilaksanakan dengan baik dan sebagian masalah dapat teratasi.
Hubungan Konsumsi Makanan Tinggi Purin dengan Penyakit Asam Urat Harto, Toto; Riandika, Wahyu; Septiani, Eichi
Lentera Perawat Vol. 4 No. 1 (2023): Lentera Perawat
Publisher : STIKes Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v4i1.206

Abstract

Secara alamiah, asam urat merupakan senyawa yang diproduksi oleh tubuh untuk mengurai purin. Namun, terkadang tubuh dapat menghasilkan terlalu banyak asam urat atau ginjal mengalami gangguan. Tujuan penelitian adalah diketahuinya hubungan konsumsi mengandung tinggi purin dengan penyakit asam urat di Desa Air Paoh Kabupaten OKU.  Penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional dan jumlah sampel 50 orang. Hasil analisis di ketahui bahwa dari 50 responden didapatkan bahwa responden yang sering mengkonsumsi tinggi purin dengan kadar asam urat tinggi sebanyak 22 (64,7%) responden dan responden yang jarang konsumsi tinggi purin dengan kadar asam urat terkontrol sebanyak 16 (100,0%) resonden. Hasil uji Chi Square di dapatkan p-Value 0,000 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi mengandung tinggi purin dengan penyakit asam urat di Desa Air Paoh Kabupaten OKU. Kesimpulan: Pengaturan konsumsi rendah purin dapat dilakukan dengan membatasi makanan tinggi purin, mengurangi makanan tinggi lemak, mempertahankan berat badan ideal, olah raga secara teratur, minum air putih yang cukup setiap hari, dan tidur yang cukup.
Relationship Between Physical Activity and Body Mass Index with Uric Acid Levels in The Community Harto, Toto; Roni Ferdi; Yudi Budianto; Keken Ariyanto; Ruch, Orokwowy; Alre, Lenchi
Lentera Perawat Vol. 5 No. 2 (2024): Lentera Perawat
Publisher : STIKes Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v5i2.392

Abstract

Physical activity is related to uric acid levels in the blood, and an increase in body mass index (BMI) is associated with an increase in uric acid levels due to increased triglyceride synthesis in the liver associated with increased purine synthesis by new routes, thereby accelerating uric acid production. The results of Riskesdas in 2018 showed the number of joint diseases from the weighted average results in Ogan Komering Ulu Regency was 1,040. This study aims to determine whether there is a relationship between BMI, physical activity, and uric acid levels in the community in Sukaraya Village, East Baturaja District, Ogan Komering Ulu Regency in 2023. This study used an accidental sampling method with a cross-sectional approach and involved 67 respondents with criteria aged between 26 and 45 years, living in Sukaraya Village, being able to read and communicate well, and being willing to be respondents, while the exclusion criteria in this study were not willing to be respondents and could not communicate, and willing to be a respondent, while the exclusion criteria in this study are not willing to be a respondent and cannot be communicated with.  The instruments used were the International Physical Activity Quitioner (IPAQ) questionnaire to measure physical activity, scales to measure body weight and height, and uric acid sticks and digital devices (easytouch) to measure uric acid levels. Data were processed using SPSS and chi-square analysis to determine the relationship between the independent variable and the dependent variable. The results of chi-square data analysis showed a relationship between physical activity and uric acid levels (p-value 0.005) and a relationship between BMI and uric acid levels (p-value 0.000). Physical activity and BMI index correlate with uric acid levels in residents in Sukaraya Village, East Baturaja District, Ogan Komering Ulu Regency. It is necessary to increase knowledge about joint health for the community by providing counseling on joint health and also holding activities such as gymnastics so that physical activity and body mass index can be controlled so as to reduce the risk of high uric acid levels.
Student behavior toward the implementation of smoke-free area policy in health higher education institutions: A descriptive study Oktavia, Lina; Harto, Toto
Lentera Perawat Vol. 6 No. 3 (2025): July - September
Publisher : STIKes Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v6i3.523

Abstract

Background Smoke-Free Area (SFA) policies are an essential public health intervention aimed at reducing tobacco exposure and promoting a healthy environment, particularly in higher education institutions. However, compliance remains a challenge, even in health-focused universities where students are expected to model healthy behavior. Objective This study aims to analyze student behavior toward the implementation of the Smoke-Free Area (SFA) policy in a health higher education institution. Methods A descriptive quantitative study was conducted among 32 male students at STIKes Al-Maarif Baturaja using a total sampling technique. A structured questionnaire was used to assess students’ knowledge, attitude, and practice regarding the SFA policy. Data were analyzed using univariate descriptive statistics. Results The findings revealed that while most students demonstrated a positive attitude toward the SFA policy (62.5%), only 28.1% had good knowledge and 18.8% showed favorable practices. The majority exhibited moderate levels of knowledge (37.5%) and practice (50%), with 34.4% showing poor knowledge and 31.2% demonstrating poor adherence in practice. Students were aware of the health risks of smoking and supported policy enforcement, but lacked sufficient knowledge of policy implementation and institutional mechanisms. Conclusion There is a notable gap between students' positive attitudes and their actual practices and knowledge regarding the SFA policy. This misalignment indicates that students are not yet fully engaged as active change agents in promoting a smoke-free campus. It is crucial for institutions to strengthen educational efforts, provide clear policy communication, and engage students in policy enforcement mechanisms. Integrating SFA values into academic and extracurricular activities may foster better awareness and behavioral alignment among health students.
The correlation of knowledge and attitude on clean and healthy living practices in junior high school adolescents: A cross-sectional study Wiwiet Susan Amelia; Harto, Toto
Lentera Perawat Vol. 6 No. 4 (2025): October - Desember
Publisher : STIKes Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v6i4.626

Abstract

Background: Clean and Healthy Living Practices (PHBS) are essential for preventing communicable diseases among adolescents, yet many junior high school students continue to demonstrate inconsistent hygiene behaviors despite exposure to school-based health programs. Objective: This study aimed to examine the correlation between knowledge and attitude with PHBS behaviors among adolescents in a junior high school setting. Methods: A cross-sectional design was employed, involving 39 students selected through total sampling. Data were collected using structured questionnaires measuring knowledge, attitude, and PHBS behaviors. Descriptive statistics were used to present frequency distributions, while Chi-Square tests examined the relationship between variables. Results: Most adolescents demonstrated poor knowledge (48.7%) and moderate attitudes toward PHBS. PHBS behaviors were mostly in the fair (46.2%) and poor (48.7%) categories. Cross-tabulation showed that adolescents with good or very good knowledge did not necessarily demonstrate better PHBS behaviors. Statistical analysis indicated no significant correlation between knowledge and PHBS (p = 0.74). Attitude also showed no significant association with PHBS. Conclusion: Knowledge and attitude were not significantly related to PHBS behavior among adolescents, suggesting that cognitive and affective factors alone are insufficient to shape consistent hygiene practices. Multi-level interventions involving schools, families, and communities are needed to strengthen adolescent PHBS behaviors.