Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Eksplorasi jenis bambu penghasil bigar dan karakteristik bigar bambu dari Desa Suruh Tembawang Kabupaten Sanggau Sisillia, Lolyta; Eny, Julia; Yanti, Hikma
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v8i2.15514

Abstract

Bigar merupakan zat silika berbentuk kristal yang terdapat pada rongga ruas bambu dari jenis bambu tertentu. Tujuan penelitian yaitu untuk mengidentifikasi jenis-jenis bambu penghasil bigar dan menjelaskan karakteristik fisik bigar bambu dari Desa Suruh Tembawang Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau. Penelitian menggunakan metode survei eksplorasi, dengan mendatangi lokasi tempat tumbuh bambu dan mendata bambu-bambu yang menghasilkan bigar melalui bantuan informasi masyarakat pencari bigar. Identitas bambu penghasil bigar diperoleh melalui identifikasi dengan mengamati ciri-ciri morfologi bambu. Karakteristik fisik bigar dengan cara pengamatan langsung di rongga batang bambu dan di tempat pengumpulan bigar. Teridentifikasi bambu penghasil bigar adalah Schizostachyum brachycladum Kurz. dan Gigantochloa apus (Schult.f) Kurz. Ciri-ciri khusus batang bambu sebagai tanda bahwa terdapat keberadaan bigar dalam rongga ruas bambu yaitu dengan adanya perubahan pada kondisi batang bambu dan warna kulit pada ruas batang bambu. Karakteristik bigar bambu di Desa Suruh Tembawang memiliki tekstur yang padat dan berwarna putih kusam. Karakteristik fisik bigar asal Desa Suruh Tembawang sudah sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh Badan Karantina Pertanian, yaitu kualitas bigar kelas A, B, dan C.
ANALISIS PENGENDALIAN MUTU PRODUK STIK DUPA MENGGUNAKAN STATISTICAL QUALITY CONTROL (SQC) DI PT XY KABUPATEN MEMPAWAH: Analysis of Product Quality Control of Incense Sticks Using Statistical Quality Control (SQC) at PT XY Mempawah Regency Kusuma, Ahmad Ary; Yanti, Hikma; Mariani, Yeni; Dirhamsyah, M; Yusro, Fathul
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 41 No. 3 (2023): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jphh.2023.2521

Abstract

PT XY Kabupaten Mempawah merupakan industri pengolahan hasil hutan kayu yang bergerak pada bidang industri penggergajian (sawmill) yang produk lanjutannya dimanfaatkan sebagai produk moulding berupa stik dupa. Permasalahan yang sering terjadi pada proses produksi stik dupa yaitu masih sering ditemukan produk stik dupa yang mengalami kecacatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pengendalian kualitas produk serta penyebab kecacatan pada proses produksi stik dupa. Pada penelitian ini metode analisis yang digunakan yaitu Statistical Quality Control (SQC) berupa check sheet, diagram pareto, diagram kendali, diagram alir, dan fishbone chart. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas produk stik dupa masih belum terkendali. Ditemukan 4 jenis cacat produk yang sering terjadi seperti cacat bengkok, cacat bentuk tidak sesuai, cacat berlubang dan cacat patah. Cacat yang paling dominan terjadi yaitu cacat bengkok yang berjumlah 37.919 batang dengan presentase 58,19% dari total produk cacat yang diproduksi di bulan Mei 2023. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara serta analisis fishbone chart menunjukkan bahwa unsur-unsur penyebab terjadinya produk stik dupa cacat yaitu bahan baku, mesin, manusia, lingkungan kerja, dan cara kerja.
PKM DISEMINASI IPTEK PASCAPANEN BUAH PINANG PADA GAPOKTAN SUMBER BERSAMA DI DESA KUALA DUA Rahmahwati, Ratih; Oktoriana, Shenny; Yanti, Hikma
GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025): GERVASI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/gervasi.v9i1.7944

Abstract

Kabupaten Kubu Raya merupakan penghasil buah pinang terbesar di Kalimantan Barat. Buah Pinang dijual dalam bentuk biji pinang kering. Namun, pengolahan dan pengupasan pinang masih dilakukan secara manual. Tujuan kegiatan ini adalah melakukan pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kapasitas teknologi dan manajemen penanganan pascapanen pinang. Metode yang digunakan adalah transfer teknologi berupa hibah dan pelatihan penggunaan mesin pengering pinang dan pengupas serabut kulit pinang serta pelatihan manajemen standar ekspor pinang. Mitra pada program Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah masyarakat Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Bersama yang berada di Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya. Melalui kegiatan PKM ini dihasilkan beberapa peningkatan kemampuan kelompok Gapoktan Sumber Bersama yang dibuktikan dengan peningkatan kemampuan petani dalam penggunaan mesin pengering dan pengupas pinang (60%), pemahaman terhadap standar ekspor pinang (30%) dan perawatan mesin dan alat produksi (55%) sehingga sesuai dengan target luaran yakni mitra dapat meningkatkan kapasitas produksi penanganan pinang pascapanen.
TRANSFER TEKNOLOGI DEHUMIDIFIER BOX UNTUK MENGATASI PERMASALAHAN KUALITAS MADU PADA MADU ARWANA Rahmahwati, Ratih; Yanti, Hikma; Uslianti, Silvia
Jurnal Abdi Insani Vol 11 No 4 (2024): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v11i4.1895

Abstract

The partner in this PKM program is the Arwana Forest Honey  business group  engaged in  marketing of Kapuas Hulu forest honey. The  observations on Arwana Honey partners revealed several problems, including high water content in forest honey originating from Danau Sentarum, Kapuas Hulu District. Based on these problems, partners need help in the form of a device that reduces the water content of honey in the form of a dehumidifier box that can reduce the water content of forest honey. Besides that, based on the results of observations and discussions, problems were also encountered in the field of marketing management for Arwana Honey. The solution offered by the PKM team is through marketing management training including marketing training, packaging, labeling and logo visual design improvements. The results of PKM activities are (1) Increased knowledge of partner groups, especially in terms of improving the quality of honey and marketing management; and (2) there is an improvement in the quality of honey by reducing the water content in honey.
Edukasi Sumberdaya alam yang Lestari Melalui Pengenalan Tumbuhan Obat Keluarga (TOGA) Pada Generasi Muda di Kecamatan Mandor, Kalimantan Barat: Indonesia Mariani, Yeni; Yusro, Fathul; Yanti, Hikma
Jurnal Abdimas Madani dan Lestari (JAMALI) Volume 06, Issue 02, September 2024
Publisher : UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jamali.vol6.iss2.art11

Abstract

Nature provides many benefits for humans, including the existence of plants that have medicinal properties. Currently, many people cultivate medicinal plants around the house and make them into family medicinal plants (TOGA). Providing education to the younger generation regarding the use of plants as family traditional medicine (TOGA) is important to increase the awareness of the younger generation in preserving natural resources. This Community Service activity was carried out in two stages, namely (1) preparation and collection of educational material followed by (2) delivery to educational participants, the young generation in Mandor District, Landak Regency, West Kalimantan. Educational activities are carried out through brochures/leaflets, stand banner and PPTs which are delivered at PKM activities. The younger generation, namely high school students, are enthusiastic about taking part in activities. There has been an increase in the knowledge and understanding of the younger generation regarding types of family medicinal plants, their benefits, processing methods and utilization by an average of 24.67%.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna SMA Negeri 3 Pontianak Menuju Adiwiyata Nasional Berkelanjutan Yanti, Hikma; Rahmahwati, Ratih; Kadaria, Ulli; Wahyudi, Tri
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3753

Abstract

Mitra pada kegiatan Pemberdayaan Masyarakat ini adalah Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Pontianak yang merupakan sekolah Adiwiyata. Berdasarkan wawancara dan observasi dengan mitra, SMAN 3 Pontianak telah ditetapkan sebagai sekolah berbasis lingkungan hijau atau Adiwiyata pada jenjang Provinsi tahun 2016. Saat ini SMA Negeri 3 Pontianak memiliki target untuk menjadi sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri. Namun ada beberapa permasalahan yang dihadapi salah satunya adalah rendahnya inovasi kegiatan Adiwiyata. Maka pada kegiatan PKM ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah mitra melalui pengelolaan Bank Sampah dan pelatihan pengolahan limbah sampah menjadi produk jadi yang memiliki nilai tambah dilihat dari segi ekonomi. Pada kegiatan Pemberdayaan Masyarakat ini dilakukan transfer IPTEK pada pengelolaan sampah baik organik maupun anorganik yakni pelatihan komposting, ecoprinting dan daur ulang kertas. Selain itu juga dilakukan hibah dan pendampingan teknologi tepat guna (TTG) berupa mesin pencacah sampah organik dan alat press kaleng. Diharapkan dengan kegiatan PKM Adiwiyata ini dapat membantu akselerasi SMAN 3 Pontianak menjadi sekolah Adiwiyata Nasional yang berkelanjutan.
PEMANFAATAN BAMBU OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR BUKIT KINAI DESA SETANDUK KECAMATAN CAPKALA KABUPATEN BENGKAYANG Bagaskara, Arul; Dirhamsyah, M; Yanti, Hikma
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.87795

Abstract

Bamboo is one of the non-timber forest products that is widely used by the community around Bukit Kinai, Setanduk Village, Capkala District, Bengkayang Regency for various daily needs. Therefore, this study aims to obtain data on the types of bamboo utilized and the form of bamboo utilization by the Setanduk Village community. This research uses a survey method with direct interview techniques. Sampling at the research site was carried out using purposive sampling, namely respondents who utilize and use bamboo, the community that was used as a respondent was 213 people. Based on the results of the study, 7 types of bamboo were obtained which were utilized by the community around Bukit Kinai, Setanduk Village, Capkala District, Bengkayang Regency, namely aur (Bambusa vulgaris), tarekng (Gigantochloa hasskarliana), purasak (Schizostachyum lima), buuh poe (Schizostachyum brachyladum), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), and munti (Schizostachyum sp.). There are 4 forms of bamboo utilization by the community around Bukit Kinai, Setanduk Village, Capkala District, Bengkayang Regency, namely as construction materials, woven materials, consumption materials, and cultural / traditional ritual materials. The Use Value (UV) value on the utilization of bamboo species, namely aur (Bambusa vulgaris), buuh poe (Schizostachyum brachyladum) and munti (Schizostachyum sp.) has the highest UV value with a value of 1. Then for the percentage of Fidelity Level (FL) the highest value (100%) is found in 4 types of bamboo namely tarekng (Gigantochloa hasskarliana), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), and munti (Schizostachyum sp.). Keywords: Bamboo, Bukit Kinai, Community, Setanduk Village, Utilization Abstrak Bambu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di Sekitar Bukit Kinai Desa Setanduk Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data jenis-jenis bambu yang dimanfaatkan dan bentuk pemanfaatan bambu oleh masyarakat Desa Setanduk. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik wawancara secara langsung. Pengambilan sampel di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu responden yang memanfaatkan dan menggunakan bambu, masyarakat yang dijadikan responden sebanyak 213 orang. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 7 jenis bambu yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Sekitar Bukit Kinai Desa Setanduk Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang, yaitu aur (Bambusa vulgaris), tarekng (Gigantochloa hasskarliana), purasak (Schizostachyum lima), buuh poe (Schizostachyum brachyladum), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), dan munti (Schizostachyum sp.). Pemanfaatan bambu oleh masyarakat di Sekitar Bukit Kinai Desa Setanduk Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang ada 4 bentuk pemanfaatan yaitu sebagai bahan kontruksi, bahan anyaman, bahan konsumsi, dan bahan budaya/ritual adat. Nilai Use Value (UV) pada pemanfaatan jenis bambu yaitu aur (Bambusa vulgaris), buuh poe (Schizostachyum brachyladum), dan munti (Schizostachyum sp.) memiliki niai UV tertinggi dengan nilai 1. Kemudian untuk persentase Fidelity Level (FL) nilai tertinggi (100 %) terdapat 4 jenis bambu yaitu tarekng (Gigantochloa hasskarliana), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), dan munti (Schizostachyum sp.). Kata kunci: Bambu, Bukit Kinai, Masyarakat, Desa Setanduk, Pemanfaatan
Identifikasi Senyawa Kimia Penyusun Minyak Atsiri Syzygium (Identification Of Chemical Compound From Syzygium Essential Oil) Mariani, Yeni; Yusro, Fathul; Yanti, Hikma
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 43 No. 2 (2025): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jphh.2025.10553

Abstract

Essential oils are one of the important non-timber forest products (NTFPs), produced by plants as secondary metabolites. Plants of the Myrtaceae family are well known for producing essential oils, and Syzygium is one of its prominent genera. Species from this genus, namely Syzygium polyanthum (Salam), S. myrtifolium (Pucuk Merah), and S. aqueum (Jambu Air) are common plants that are widely cultivated as ornamentals, spices, and fruit-bearing species, and they possess significant potential as sources of essential oils. This study aimed to determine (1) the yield of essential oils from the leaves of three Syzygium species, and (2) to identify the chemical components of the obtained essential oils. The leaves of the three species were distilled using steam and water distillation to extract essential oils. The oil yield was calculated, and its chemical constituents were analyzed with GC-MS. The results showed that the highest essential oil yield was obtained from S. aqueum (0.167%), followed by S. polyanthum (0.080%) and S. myrtifolium (0.061%). The essential oil of S. myrtifolium contained the greatest number of compounds (65), followed by S. aqueum (46 compounds) and S. polyanthum (18 compounds). The main constituents of S. polyanthum essential oil were caryophyllene (40.79% rel.) and humulene (17.61% rel.); S. myrtifolium oil was dominated by 3- carene (20.05% rel.) and caryophyllene (16.45% rel.); while S. aqueum oil was mainly composed of 3- carene (23.58% rel.) and caryophyllene (18.96% rel.). Caryophyllene was identified as one of the principal compounds common to all three Syzygium species.
Sosialisasi Tentang Kelestarian Hutan dan Diversifikasi Produk Kayu untuk Peningkatan Kesadaran dan Pengetahuan Masyarakat Desa Mandor Setyawati, Dina; Yusro, Fathul; Yanti, Hikma; Maryani, Yeni; Indrayani, Yuliati
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 2 (2026): JAMSI - Maret 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2713

Abstract

Kerusakan hutan berkontribusi besar terhadap menurunnya fungsi lingkungan, seperti banjir dan tanah longsor. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kerusakan hutan adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang arti penting hutan bagi kehidupan manusia. Kegiatan PKM ini bertujuan memberikan informasi dan meningkatkan pengetahuan masyarakat sekitar kawasan hutan tentang pentingnya hutan dan produk papan partikel dikaitkan dengan kelestarian hutan. Kegiatan PKM ini dilaksanakan di Desa Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Desa Mandor dipilih karena sebagian wilayahnya termasuk dalam Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK), yang dikelola Fakultas Kehutanan UNTAN. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan dengan cara mengedukasi masyarakat baik melalui ceramah, pemutaran video, serta menyediakan contoh produk papan partikel. Hasil evaluasi menunjukkan kegiatan PKM ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya hutan sebesar 10-15%, serta meningkatkan pengetahuan mengenai produk papan partikel dan peranannya dalam kelestarian hutan hingga 90 hingga 95%. Kegiatan PKM ini diharapkan menjadi langkah awal peningkatan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat Desa Mandor dalam menjaga kelestarian hutan, serta mendorong pengurangan penggunaan kayu solid melalui pemanfaatan material alternatif yang lebih berkelanjutan.
Analisis kualitas gula merah tebu hasil olahan tradisional dari Desa Pakak Kecamatan Kayan Hilir Kabupaten Sintang Farah Diba; Ricky Chandra; Dina Setyawati; Hikma Yanti; Yeni Mariani
AGROINTEK Vol 20, No 2 (2026)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v20i2.26355

Abstract

Sugar cane is a fairly abundant agricultural product, often used as a raw  material for making granulated sugar, brown sugarcane, and liquid sugar. This research aims to describe the process of making brown sugar cane which is made traditionally by the people of Pakak Village, Kayan Hilir District, Sintang Regency, and analyze the quality of brown sugar cane. Making brown sugar cane was conducted by in-depth interviews with the people in Pakak village. The quality of brown sugar cane was carried out at the Chemistry Forest Product Laboratory, Faculty of Forestry, Tanjungpura University and Baristan Laboratory. The quality analysis included color, taste, texture, borax content, water content, ash content, water insoluble materials, sucrose and reducing sugar content. The testing procedure based on SNI 01-6237-2000. The result of in-depth interview found the process of making brown sugar cane sugar using traditional tools, and cooking it in a pan on a stove for 3-4 hours then put in the brown sugar cane font. The results of color brown sugar cane used pentone color resulted two types of color, namely Solid and CMYK colors, in categorized brown colour. The texture was a slightly soft  and hard texture, the brown sugar cane has no borax content. The water content of brown sugar cane ranges from 13,6%-16%, the ash content ranges from 2,5%-9%, the water insoluble material ranges 1,62%-3,04% , the sugar reduction ranges from 14.83%-19.92 %, and sucrose ranges from 57% - 70.9%. The quality of brown sugar cane from Pakak Village Kayan Hilir District Sintang Regency fulfill the standard of SNI 01-6237-2000 and safety foods because no borax content was found in the brown sugar cane.