Claim Missing Document
Check
Articles

A IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER BAGI ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI BIMBINGAN BELAJAR DI LINGKUNGAN MASYARAKAT DESA WONOMARTO irsyad Irsyad; Berta Apriza; Muhammad Irsadul Ibad; Gus Haryati; Sevti Anasari; Ria Amelia; Wanda Dwi Cahyani
Pengabdian Kepada Masyarakat Cendekia Vol. 2 No. 1 (2023): Pengabdian Kepada Masyarakat Cendekia
Publisher : Sentra Kekayaan Intelektual dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47637/pkmcendekia.v2i1.933

Abstract

Salah satu cara yang dilakukan oleh universitas Muhammadiyah untuk mempraktikkan catur dharma mereka adalah melalui pengabdian kepada masyarakat. Dengan cara ini, motivasi dan minat anak-anak terhadap tugas sekolah mereka ditingkatkan untuk membantu mereka mengembangkan kebiasaan belajar yang baik saat mereka dewasa. Metode bimbingan belajar yang digunakan adalah dengan memberikan bimbingan belajar secara langsung dengan diterapkan pula pemahaman akan nilai-nilai agama. Upaya penanaman nilai religius penting ditanamkan pada anak-anak SD dalam proses pendidikan guna meningkatkan pendidikan karakter agar mencerminkan sikap dan perilaku yang baik. Proses pendidikan dilakukan secara personal dan tatap muka. Karena jumlah peserta yang banyak, bimbingan belajar dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 10-12 orang. Di Desa Wonomarto, Kecamatan Kotabumi Utara, Kabupaten Lampung Utara, bimbingan belajar dilakukan di masjid. Banyak langkah yang dilakukan sebelum pelaksanaan bimbingan belajar, seperti observasi lapangan untuk mengidentifikasi masalah yang ada, diikuti dengan perancangan awal kegiatan bimbingan belajar. Kebutuhan setiap siswa diperhitungkan saat memilih materi pelajaran untuk bimbingan belajar ini. Siswa kelas 1, 2, dan 3 diajarkan cara menulis dan membaca, sedangkan kelas 4, 5, dan 6 diajarkan penjumlahan. Metode bimbingan belajar ini efisien dan efektif. Hasil dari bimbingan belajar di Desa Wonomarto cukup mengesankan. Anak-anak sangat antusias selama proses bimbingan belajar dan merasa terbantu dalam menyelesaikan tugas di sekolah. Desa Wonomarto mayoritas penduduknya adalah Petani. Pendidikan merupakan proses yang sistematis dan juga melibatkan faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internalnya ialah terdiri dari anak-anak contohnya : minat belajar anak, motivasi dalam menumbuhkan minat belajar pada anak, dalam memotivasi belajar, dan menumbuhkan bakat dan persepsi, anak-anak terhadap mata pelajaran maupun terhadap guru pengajar. Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri siswa dan mencakup hal-hal seperti lingkungan belajar, lingkungan keluarga, status sosial ekonomi keluarga, dan keterlibatan orang tua dalam membantu anak-anak mereka dalam mengatasi kesulitan belajar. Langkah selanjutnya adalah membuat program bimbingan belajar dengan meninjau kembali hasil observasi mahasiswa dan merencanakan kegiatan yang akan dilakukan. Mahasiswa berupaya mengembangkan anak dengan berbagai cara ketika membimbing mereka, termasuk yang berikut ini: Memberikan pujian; memberikan penilaian. b) Memberikan hadiah.
Memerdekakan Belajar Mahasiswa Melalui Kemampuan Berpikir Kreatif Berbasis Pendekatan Heutagogy Berta Apriza; Yasinta Mahendra; Rohmani Rohmani
Journal of Psychology and Instruction Vol. 8 No. 3 (2024): October
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpai.v8i3.83589

Abstract

The Kampus Merdeka program presents challenges and opportunities for students to develop creativity, capacity, personality, and independence in seeking and discovering knowledge through real-world dynamics. This program allows students to engage more actively in a self-directed and flexible learning process tailored to their needs and interests. This study aims to describe how to liberate PGSD students' learning through creative thinking skills using a heutagogical approach. This approach emphasizes student-centered learning, where students are encouraged to take full responsibility for their own learning process. The research employed a descriptive quantitative approach with the subjects being fourth-semester PGSD students from class B at Universitas Muhammadiyah Kotabumi. Data was collected through questionnaires to measure creative thinking indicators such as curiosity, imagination, originality, the ability to ask questions, unique ideas, freedom of expression, and alternative solutions. The results showed that 14% of students demonstrated curiosity and imagination, 16% originality and the ability to ask questions, 13% unique ideas, 17% freedom of expression, and 10% alternative solutions. The conclusion of this study is that students tend to demonstrate freedom of expression as the primary indicator of creative thinking. The implications of this research highlight the need to apply a heutagogical approach in learning to further promote the development of students' creative thinking abilities.
Effectiveness of Using Animation Videos in Science Learning in Elementary Schools: A Systematic Literature Reviews Putri, Siti Anisa; Rohmani; Apriza, Berta; Elizar
Indonesian Journal of Educational Research and Review Vol. 7 No. 3 (2024): October
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijerr.v7i3.82242

Abstract

Science learning in elementary schools plays a crucial role in fostering students' curiosity and interest in science, developing critical and logical thinking skills, and equipping students with scientific knowledge and practical skills applicable in daily life. This study aims to analyze the effectiveness of animated videos in enhancing science learning in elementary schools through a systematic literature review. Employing the Systematic Literature Review (SLR) method, data were sourced from Google Scholar, focusing on articles published between 2019 and 2023. The review was conducted in five stages. In the initial search using the keyword "use of animated videos," 1,280 documents were identified. Refining the search by limiting the publication years yielded 227 documents, while adding the keyword "science learning" identified 246 documents. Further narrowing with the keyword "primary school" produced 197 documents. Finally, the dataset was filtered based on alignment with the research theme. The findings reveal that animated videos are highly effective in enhancing science learning outcomes in elementary schools. These results emphasize the importance of integrating engaging instructional media, such as animated videos, to facilitate effective communication of science concepts. Educators are encouraged to incorporate such tools to create more interactive and impactful learning experiences in science education.
Evaluating K13 and Merdeka Curriculum Implementation in Primary Education: A Comprehensive Literature Review Pratiwi, Agustin Adelia Sisca; Elizar; Apriza, Berta; Sumarno
Indonesian Journal of Educational Research and Review Vol. 7 No. 3 (2024): October
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijerr.v7i3.83226

Abstract

Elementary education in Indonesia has undergone significant reforms with the introduction of the K13 Curriculum and the Merdeka Curriculum. These changes aim to enhance the quality of education and equip students with 21st-century skills. This study seeks to analyze the differences in the implementation of the Merdeka Curriculum and the K13 Curriculum through a systematic literature review. The research employed the SLR (Systematic Literature Review) method using Google Scholar as the primary database. The literature reviewed was limited to the period from 2019 to 2023, using a three-stage keyword search process. The first stage resulted in 3,340 documents with the keyword "K13 Curriculum." The second stage yielded 492 documents with the keywords "Merdeka Curriculum" and the addition of "AND" between these terms. In the third stage, adding the keyword "in elementary school" and the term "AND" between the earlier keywords narrowed the results to 225 documents. These documents were further filtered based on inclusion criteria, resulting in 7 articles for detailed analysis. The analysis revealed significant differences in focus and approach between the two curricula. The K13 Curriculum emphasizes the development of affective, cognitive, and psychomotor competencies through a scientific approach, while the Merdeka Curriculum prioritizes the Pancasila Student Profile through P5 (Project-Based Learning) and differentiated instruction. These changes pose challenges for educators, particularly regarding understanding and skill acquisition in implementing the curriculum.
PERAN SKEPTIS MAHASISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI DITINJAU BERDASARKAN GENDER Purna Bayu Nugroho; Venty Meilasari; Berta Apriza; Hasan Basri
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i2.8389

Abstract

Pentingnya geometri berdampak pada suatu keharusan bagi mahasiswa matematika untuk menguasainya. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, diketahui bahwa mahasiswa matematika masih mengalami beberapa kesulitan dalam menyelesaikan masalah geometri. Dari Kesulitan yang terjadi tersebut mengindikasikan bahwa skeptis dapat mengubah jawaban yang sudah benar menjadi salah dan dapat memperkuat keyakinan terhadap jawaban yang sudah benar. Hal itu menunjukkan bahwa perlu adanya kajian mendalam tentang peran skeptis dalam menyelesaikan masalah geometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran skeptis mahasiswa dalam menyelesaikan masalah geometri ditinjau berdasarkan gender. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena digunakan untuk memahami isu-isu rumit suatu  proses yang selalu berkembang dinamis. Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Kasus yang dibahas dalam penelitian ini yaitu kasus yang berdampak fundamental terhadap belajar geometri mahasiswa. Subjek penelitian ini ialah delapan yang terdiri dari 4 perempuan dan 4 laki-laki yang mengalami skeptis terhadap jawabannya. Data penelitian ini berupa jawaban tertulis subjek, hasil rekaman wawancara, hasil rekaman think outloud, dan catatan Peneliti. Data-data tersebut dihasilkan oleh sumber data penelitian ini, ialah subjek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Peran skeptis mahasiswa laki-laki dalam memecahkan masalah geometri yaitu meneguhkan jawaban yang telah dituliskan dan menghentikan proses menjawab mahasiswa sehingga tidak diperoleh jawaban yang lengkap dan benar, (2) Peran skeptis mahasiswa perempuan dalam memecahkan masalah geometri yaitu meneguhkan, menyesatkan dan membenarkan jawaban yang telah dituliskan.The importance of geometry makes it mandatory for mathematics students to master it. Based on field observations, it is known that mathematics students still experience several difficulties in solving geometry problems. The difficulties that occur indicate that skepticism can change correct answers to wrong ones and can strengthen belief in correct answers. This shows that there is a need for an in-depth study of the role of skepticism in solving geometric problems. This research aims to determine the role of skeptical students in solving geometry problems, examined from gender perspective. This research uses a qualitative approach because it is used to understand complex issues in a process that is always developing dynamically. This type of research is a case study. The cases studied in this study are cases that have a fundamental impact on student geometry learning. The subjects of this study were eight consisting of 4 women and 4 men who were skeptical about their answers. The data for this study were in the form of the subject's written answers, recorded interviews, recorded think outloud, and researcher's notes. These data are generated by this research data source, namely the research subject. The results of this study indicate that: (1) The role of male student's skeptical role in solving geometry problems is to confirm the answers that have been written and stop the student's answering process so that a complete and correct answer is not obtained, (2) The role of female student's skeptical in solving geometry problems namely confirming, misleading and justifying the answers that have been written.
Dampak Jangka Panjang Program Kampus Mengajar Terhadap Pengembangan Soft Skills dan Hard Skills Mahasiswa Aprilita, Selvia; Apriza, Berta; Ningrum, Arsi Widia
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains dan Humaniora Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jppsh.v9i1.90076

Abstract

Program Kampus Mengajar bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dasar melalui keterlibatan mahasiswa sebagai pendamping guru di sekolah. Selain berdampak pada sekolah, program ini juga berkontribusi terhadap pengembangan soft skills dan hard skills mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dampak jangka panjang program terhadap kesiapan kerja mahasiswa setelah lulus. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan meninjau 10 artikel dari jurnal terakreditasi, seperti Jurnal Pendidikan Al-Ishlah, Jurnal Riset Tindakan Indonesia (JRTI), Journal of Education Research, dan Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan. Data primer diperoleh melalui metode wawancara atau survey. Kemudian dianalisis secara analisis tematik (thematic analysis). Hasil kajian menunjukkan bahwa program ini meningkatkan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, dan pemecahan masalah. Selain itu, mahasiswa memperoleh keterampilan teknis seperti perencanaan pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta strategi pengajaran yang efektif. Program ini membantu mahasiswa menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, meningkatkan daya saing lulusan di dunia kerja. Studi ini memberikan wawasan tentang efektivitas pembelajaran berbasis pengalaman dan implikasinya bagi kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia untuk mempersiapkan lulusan yang lebih kompetitif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja.
Interactive PowerPoint in Indonesian Language Learning In Elementary Schools: A Systematic Literature Review Mirda Delita; Yasinta Mahendra; Rohmani; Berta Apriza
Journal for Lesson and Learning Studies Vol. 8 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jlls.v8i1.89463

Abstract

The rapid development of information and communication technology has significantly transformed the field of education, including the approach to teaching Indonesian language in elementary schools. A key challenge in Indonesian language learning is the low level of student interest and motivation, often caused by conventional and less engaging instructional methods. This study aims to critically analyze the effectiveness of using interactive PowerPoint media in enhancing the quality of Indonesian language learning processes and outcomes. The research employed a systematic literature review method, analyzing a selection of relevant scholarly articles published within the last five years. Data analysis was conducted qualitatively using thematic synthesis to identify recurring patterns and the impact of PowerPoint media on various learning aspects. The findings reveal that interactive PowerPoint media positively influence students’ learning motivation, conceptual understanding, and overall academic performance. Visual elements such as images, animations, and interactive transitions were found to effectively capture students’ attention and encourage active participation in the learning process. The study concludes that interactive PowerPoint is an effective instructional tool to support more meaningful and student-centered Indonesian language learning. These findings imply the importance of technological innovation in instructional design to enhance student engagement and optimize learning outcomes.
The Effectiveness of STEAM Learning Model Implementation in Primary School Students' IPAS Learning: A Systematic Literature Review Muntazah, Adinda; Elizar; Berta Apriza; Irawan Suprapto
Journal for Lesson and Learning Studies Vol. 8 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jlls.v8i1.89722

Abstract

Learning in elementary schools still lacks innovative approaches that integrate various disciplines contextually. The STEAM model has the potential to be a solution, and this study aims to analyze its effectiveness in IPAS learning through a Systematic Literature Review (SLR) approach. Literature searches were conducted through the Google Scholar database with a phased approach. The first stage using the keyword “Learning Model” resulted in 314,000 documents. The addition of the keyword “STEAM” in the second stage narrowed the results to 6,640 documents. The third stage adding the keyword “IPAS” yielded 270 documents, while the fourth stage adding the keyword “Elementary School” filtered the results to 246 documents. After strict selection based on the inclusion criteria, 7 relevant articles were obtained for further analysis. The results showed that the STEAM model significantly improved students' critical thinking skills, higher order thinking skills and learning outcomes. In addition, this approach provides in-depth, relevant and contextualized learning experiences, supporting students' holistic development. The implication of this research is the importance of developing a curriculum that supports the systematic and consistent implementation of the STEAM model in primary schools. In addition, teacher training is needed to improve competence in implementing this approach in order to maximize its impact on learning quality. The STEAM model can also be the basis for developing educational policies that are oriented towards the demands of 21st century learning.
Analysis of the Effectiveness of Implementing Project-Based Learning Models on Students' Critical Thinking Skills in Elementary Schools: A Systematic Literature Review Dinda Antika Putri; Sumarno; Berta Apriza; Asri widianingrum
Journal for Lesson and Learning Studies Vol. 8 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jlls.v8i1.90392

Abstract

The low level of critical thinking skills among elementary school students has become a major challenge in meeting the demands of 21st-century competencies. This issue is exacerbated by the lack of learning models that actively engage students in solving real-world problems and making decisions based on analytical reasoning. This study aims to analyze the effectiveness of implementing the Project-Based Learning (PjBL) model in enhancing students’ critical thinking skills at the elementary level. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted by collecting data from Google Scholar using specific keywords. The search yielded 12,900 documents, which were narrowed down to 249 articles, with 10 articles ultimately meeting the inclusion criteria for further analysis. The data were analyzed descriptively and qualitatively to identify the main findings related to the application of PjBL in improving critical thinking. The results indicate that PjBL is effective in developing students’ abilities to analyze, evaluate, and solve problems logically and creatively. Additionally, this model enhances students’ social skills, collaboration, and communication. The findings suggest that PjBL should be more widely implemented in elementary education as an innovative learning strategy capable of fostering 21st-century skills in a sustainable manner.
Peningkatan Kompetensi Guru dalam Pembuatan Media Pembelajaran Digital Berbasis Humanis untuk Menumbuhkan Minat Membaca Siswa Mahendra, Yasinta; Rohmani, Rohmani; Apriza, Berta
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/bajpm.v5i1.1366

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam membuat media pembelajaran digital berbasis humanis guna menumbuhkan minat membaca siswa di SD Muhammadiyah Soekarno Hatta Kotabumi. Di era digital, penting bagi guru untuk memanfaatkan teknologi dalam menciptakan pembelajaran yang interaktif dan menarik, khususnya untuk meningkatkan minat membaca siswa sekolah dasar. Pendekatan humanis diterapkan agar media pembelajaran yang dikembangkan tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga memperhatikan aspek emosional dan kebutuhan individual siswa. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi pelatihan intensif terkait penggunaan perangkat lunak pengembangan media pembelajaran, pendampingan dalam penerapan konsep humanis dalam pembelajaran digital, serta evaluasi untuk mengukur peningkatan kompetensi guru dan dampaknya terhadap minat membaca siswa. Hasil dari kegiatan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan guru mengembangkan media pembelajaran digital yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu, minat membaca siswa juga mengalami peningkatan, ditandai dengan lebih aktifnya siswa dalam berinteraksi dengan bahan bacaan yang disajikan secara digital. Melalui pelatihan, pendampingan, dan evaluasi, didapat hasil sebanyak 80% guru mampu membuat media digital menarik, dengan 70% media tersebut mendapat respons positif dari siswa, serta peningkatan skor keterampilan guru dari 65 ke 85 (pre-post-test). Fasilitas berupa perpustakaan mini dan akses bahan bacaan digital juga disediakan, sehingga siswa rata-rata membaca 3-5 bahan bacaan per minggu. Selain itu, 75% orang tua terlibat aktif dalam mendukung literasi, yang berdampak pada peningkatan minat baca siswa sebesar 30%, ditandai dengan bertambahnya waktu membaca harian dari 15 menit menjadi 25 menit. Kegiatan ini berhasil meningkatkan keterampilan guru, memotivasi siswa dalam membaca, dan melibatkan orang tua untuk mendukung literasi berbasis humanis.