Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PENGELOLAAN USAHA MADU KELE KELE BALI DI MENANGA KARANGASEM Made Dana Saputra; Ni Luh Ayu Kartika Yuniastari Sarja; Putu Adi Suprapto
Studi Kasus Inovasi Ekonomi Vol. 7 No. 02 (2023)
Publisher : Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/skie.v7i02.28572

Abstract

Lebah kele-kele termasuk dalam kelompok lebah tanpa sengat dengan nama spesies Trigona sp yang menghasilkan madu, selain itu menghasilkan propolis dan polen. Madu Kele Kele merupakan usaha yang dimiliki oleh mitra kegiatan pengabdian ini yaitu Bapak I Ketut Ira Wirawan. Usaha ini bertempat Dinas Belatung, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Karangasem dan sudah berdiri sejak tahun 2020. Dalam menjalankan usahanya mitra dibantu dengan tiga orang karyawannya. Dari hasil wawancara terdapat beberapa kendala usaha mitra yaitu kendala segi produksi adalah kurang memadainya peralatan produksi seperti kurangnya tempat atau rumah yang digunakan untuk ternak lebah, proses pengambilan madu mitra tidak dilengkapi dengan alat pelindung yang sesuai dengan standar serta tidak adanya batas yang digunakan untuk melindungi bunga yang nantinya akan dihinggapi lebah kele. Kendala kedua dari sisi pemasaran yaitu tidak maksimal pengggunaan sosial media tidak diupdate secara berkala. Kendala ketiga adalah dari sisi keuangan yaitu mitra kurang memiliki pengetahuan perihal pengelolaan keuangan atau budgeting. Metode pelaksanaan yang dilakukan pada kegiatan pengabdian ini yaitu sosialisasi, peningkatan alat produksi, pelatihan dan pendampingan serta evaluasi kegiatan. Metode pelaksanaan ini kemudian direalisasikan menjadi beberapa kegiatan antara lain peningkatan alat produksi berupa gerinda, bor, serut kayu, besi holo, APD, kemasan botol dan label produk. Kegiatan selanjutnya pelatihan K3 agar mitra dan karyawannya paham pentingnya penggunaan APD dalam proses produksi, pelatihan pengemasan, pelatihan menggunakan pemasaran digital melalui sosial media serta pelatihan manajemen keuangan. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan dengan metode wawancara mendapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan jumlah produksi sebanyak 50% karena mitra telah berhasil membuat rumah ternak lebih banyak sehingga mempengaruhi jumlah produksi madu kele yang dihasilkan. Selain itu dalam proses pengambilan madu mitra sudah menggunakan APD yang diberikan serta semua hasil produk mitra telah 100% terpackaging menggunakan botol plastik dengan label, 1 orang mitra dapat menggunakan sosial media serta 1 orang mitra bisa melakukan manajemen keuangan dan budgeting sederhana.
Pemberdayaan UMKM Gula Bali Di Desa Les Tejakula Buleleng Putu Adi Suprapto; Made Dana Saputra; I Made Anom Adiaksa
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2023): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v8i3.1373

Abstract

Gula aren di Desa Les, Banjar Dinas Selonding, Tejakula, Buleleng, berpotensi jika dikelola dan dipasarkan dengan baik. Usaha Gula Bali milik I Made Karmawan telah berdiri selama 26 tahun sejak 1996. Mereka menggunakan metode tradisional dalam pembuatan gula, dimana tuak atau nira dimasak dengan kayu bakar selama 3-4 jam. Tantangan yang dihadapi adalah ketergantungan pada tenaga fisik, penggunaan alat tradisional, absennya label usaha, pemasaran offline, dan kurangnya pencatatan keuangan.Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah mendampingi mitra dalam proses peningkatan produksi serta manajemen agar usahanya lebih berkembang. Metode pelaksaan kegiatan terdiri dari empat tahapan yaitu persiapan, pengadaan teknologi tepat guna, pelatihan dan evaluasi. Pemberian teknologi tepat guna berupa mesin pengaduk gula serta kompor gas merupakan solusi terhadap masalah produksi. Beberapa pelatihan diberikan untuk menjadi solusi permasalahan manajemen seperti pelatihan pengemasan dan labelling, media online untuk pemasaran serta manajemen keuangan. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan adanya percepatan waktu produksi sebanyak 50% dan peningkatan kuantitas produksi sebanyak 50% pula, 100% produk mitra dikemas dengan label, serta 1 orang mitra dapat melakukan pencatatan keuangan. Rekomendasi yang dapat diberikan untuk mitra adalah penggunaan media online sebagai media pemasaran harus terus diimplementasikan karena dapat memperluas pasar. Empowerment of Bali Sugar UMKM in Les Village, Tejakula, Buleleng  Palm sugar in Les Village, Banjar Dinas Selonding, Tejakula, Buleleng, has potential if managed and marketed well. I Made Karmawan's Bali Sugar Business has been established for 26 years since 1996. They use traditional methods in making sugar, where palm wine is cooked over firewood for 3-4 hours. The challenges faced are dependence on physical labor, use of traditional tools, absence of business labels, offline marketing, and lack of financial records. The aim of this service activity is to accompany partners in the process of increasing production and management so that their businesses can develop further. The activity implementation method consists of four stages, namely preparation, procurement of appropriate technology, training and evaluation. Providing appropriate technology in the form of sugar kneading machines and gas stoves is a solution to production problems. Several trainings are provided to provide solutions to management problems such as packaging and labeling training, online media for marketing and financial management. Based on the results of the evaluation carried out, there was an acceleration of production time by 50% and an increase in production quantity by 50%, 100% of partner products were packaged with labels, and 1 partner was able to carry out financial records. The recommendation that can be given to partners is that the use of online media as a marketing medium must continue to be implemented because it can expand the market.
Pemberdayaan Perekonomian Desa Adat Melalui Pendampingan Rancangan Sistem Akuntansi BUPDA Ni Luh Putri Setyastrini; I Nyoman Darmayasa; Putu Adi Suprapto; I Made Adhi Wirayana; Ni Nyoman Harini Puspita
Madaniya Vol. 4 No. 4 (2023)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.604

Abstract

Masyarakat di Bali terdiri dari masyarakat adat dan masyarakat dinas. Mengacu pada publikasi data Badan Pusat Statistik dan Dinas Pemajuan Masyarakat Adat kondisi per Maret 2023 terdapat 636 Desa Dinas dan 1.493 Desa Adat. Desa Adat di Bali memiliki potensi dan peluang di bidang perekonomian yang perlu ditata pemanfaatannya dan pengelolaannya secara sistematis melalui suatu sistem perekonomian Adat yang merupakan bagian dari sistem perekonomian nasional guna mewujudkan kehidupan Krama Desa Adat yang sejahtera dan bahagia, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Wadah pengelolaan potensi desa Adat untuk meningkatkan perekonomian Adat berupa Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA). Diperlukan pengembangan sistem informasi akuntansi yang sesuai dengan karakteristik Desa Adat. Pengabdian ini bertujuan untuk merancang dan melakukan pendampingan sistem akuntansi BUPDA. Pengabdian ini melibatkan lima anggota dengan berbagai disiplin ilmu yaitu akuntansi, hukum, dan sistem informasi. Pengabdian ini menggunakan pendekatan kombinasi tiga pendekatan yaitu Participatory Action Research (PAR), technical assistance, dan transfer knowledge. Pada tahapan PAR menghasilkan usulan rancangan sistem akuntansi berbasis Standar Akuntansi Entitas Mikro kecil Menengah. Pada tahapan technical assistance menghasilkan konsep dan rancangan sistem akuntansi yang sesuai dengan karakteristik dan ketentuan pengelolaan BUPDA. Pada tahap transfer knowledge bersifat reciprocal, dalam artian tim pengabdian memperoleh banyak pengetahuan dari pengelola BUPDA terkait potensi lokal dan nilai lokal sedangkan pengelola BUPDA memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan keuangan yang terstandarisasi sebagai wujud tata kelola yang profesional.
Peningkatan Produktivitas dan Pemasaran Kerajinan Dulang Fiber melalui Pelatihan K3 dan Digitalisasi di Desa Lodtunduh, Gianyar Pramitari, I Gusti Ayu Astri; Dewi, Kadek Cahya; Suprapto, Putu Adi
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 3 (2024): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i3.2156

Abstract

Desa Lodtunduh terletak di Kecamatan Ubud, Gianyar – Bali dimana usaha terkenal dengan kerajinan dulang. Dulang merupakan alat kelengkapan upacara agama Hindu di Bali, yang berfungsi sebagai alas banten atau gebogan. Salah satu usaha kerajinan dulang di Desa Lodtunduh adalah Usaha Kerajinan yang diberi nama “ASTA DALA” yang didirikan oleh Ibu Made Sriasih yang beralamat di Jalan Raya Lodtunduh, Ubud, Gianyar. Usaha kerajinan dulang ini didirikan pada tahun 2015 yang memproduksi Dulang, Bokor, wakul daksina yang terbuat dari fiber serta keben dan sokasi untuk keperluan upacara yadnya. Permasalahan yang dihadapi oleh Mitra kerajinan dulang fiber “ASTA DALA” meliputi pemasaran yang dirasa belum optimal, kurangnya pemahaman terhadap aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), alat penunjang proses produksi yang masih terbatas dan kurangnya pengetahuan dalam pencatatan keuangan usaha. Mengacu pada permasalahan tersebut tim pengabdian membuat kegiatan berupa memberikan pelatihan K3, pelatihan pemasaran di media social dan marketplace, pelatihan pembukuan usaha dan memberikan bantuan alat-alat penunjang proses produksi serta pelatihan penggunaanya. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan jumlah produksi barang sebanyak 50% dengan bantuan alat produksi serta jangkauan pemsaran yang lebih luas karena menggunakan media sosial. Berdasarkan hasil evaluasi dengan wawancara secara langsung 100% produk sudah ditata dengan baik pada rak display produk, 2 orang mitra sudah dapat menggunakan bantuan alat yang diberikan serta adanya peningkatan jumlah produksi sebanyak 50%, peningkatan pengetahuan mitra terhadap kesehatan dan keselamatan kerja pada saat proses produksi, adanya penambahan media pemasaran online instagram dan marketplace dan 1 orang mitra bisa menggunakan media pemasaran online dan pembukuan usaha. Improving Productivity and Marketing of Fiber Dulang Handicrafts through OHS Training and Digitalization in Lodtunduh Village, Gianyar Abstract Lodtunduh Village is located in the Ubud District, Gianyar – Bali, known for its famous dulang handicrafts. A dulang is a traditional piece used in Hindu religious ceremonies in Bali, functioning as a base for offerings (banten) or fruit arrangements (gebogan). One of the dulang handicraft businesses in Lodtunduh Village is a business named "ASTA DALA," founded by Mrs. Made Sriasih, located on Jalan Raya Lodtunduh, Ubud, Gianyar. This dulang handicraft business was established in 2015 and produces dulang, bokor, wakul daksina made from fiber, as well as keben and sokasi for yadnya ceremonies. The challenges faced by the fiber dulang handicraft partner, "ASTA DALA," include suboptimal marketing, limited understanding of occupational health and safety (OHS), limited production process support tools, and lack of knowledge in business financial record-keeping. To address these issues, the service team conducted activities such as providing OHS training, social media and marketplace marketing training, business bookkeeping training, and supplying tools to support the production process along with training on their usage.The purpose of this service activity was to increase the production output by 50% with the help of production tools and to expand the marketing reach through the use of social media. Based on the evaluation results from direct interviews, 100% of the products were well-arranged on the product display racks, two partners were able to use the provided tools, and there was a 50% increase in production volume. Additionally, the partners' knowledge of health and safety during the production process improved, there was an expansion in online marketing platforms with Instagram and marketplace presence, and one partner could use online marketing platforms and manage business bookkeeping.
Pemanfaatan Solar Panel Sebagai Sumber Energi Pada Green House di Dusun Lepang Klungkung I Made Anom Adiaksa; Ni Nyoman Sri Astuti; I Made Agus Putrayasa; I Made Satrya Ardikosa Wibawa; Dewa Ayu Indah Cahya Dewi; Putu Adi Suprapto
Madaniya Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.1257

Abstract

Dusun Lepang merupakan salah satu wilayah yang berada di Kabupaten Klungkung Provinsi Bali. Tempekan Abian Kapas merupakan salah satu kelompok subak yang ada dengan jumlah anggota 12 orang. Dampak pembangun yang ada mengakibatkan perubahan saluran irigasi konvensional yang menyebabkan berkurangnya pasokan air ke kawasan pertanian. Ditetapkannya wilayah ini menjadi zona pink, di mana subsidi pupuk dan pestisida mulai ditiadakan. Model pertanian modern dengan penerapan energi hijau dari panel surya sebagai sumber daya listrik bagi green house menjadi alternatif dalam penanggulangan masalah irigasi dan serangan hama. Pelaksanaan dilakukan dengan melibatkan mitra secara langsung dalam pembangunan maupun instalasi solar panel untuk memberikan pengetahuan agar nantinya mampu melakukan perawatan maupun perbaikan secara mandiri sehingga program dapat berkelanjutan. Solar panel yang dipasang mampu menghasilkan daya listrik sebesar 1000 watt sebagai sumber energi untuk pompa dan exhaust fan. Hasil yang dapat dicapai melalui pengujian bulan pertama menghasilkan panel surya berfungsi dengan optimal sesuai perencanaan dapat menyuplai energi yang dibutuhkan oleh green house, bahkan masih kelebihan daya sebesar 321,9 watt. Pengujian pada bulan kedua panel surya berfungsi dengan optimal sesuai perencanaan dapat menyuplai energi yang dibutuhkan oleh green hosue, bahkan masih kelebihan daya sebesar 421,9 watt, sistem irigasi dan exhoust fan dapat berfungsi sesuai perencanaan pada saat pengamatan maupun pengujian serta tanaman dapat tumbuh subur tanpa adanya serangan hama.
Green Accounting Integrating the Tri Hita Karana Philosophy into Village Economic Development: Akuntansi Hijau Mengintegrasikan Filsafat Tri Hita Karana ke dalam Pengembangan Ekonomi Desa Suprapto, Putu Adi; Abdi, I Nyoman; Padmawati, Ida Ayu Putu Sri Astiti
Academia Open Vol. 10 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.10.2025.12100

Abstract

General background: Tourism plays a significant role in Indonesia’s economic growth, particularly through village-based tourism that integrates cultural sustainability and community welfare. Specific background: Tampaksiring Village, designated as a tourism village under Bali Governor Regulation No. 52 of 2021 and Regent Decree No. 762/E-02/HK/2020, possesses rich natural, cultural, and historical assets. However, its development remains suboptimal, revealing a gap between regulatory mandates and actual implementation. Knowledge gap: Existing studies have rarely examined the legal authority and governance challenges of village administrations in optimizing tourism potential within a sustainable development framework. Aims: This study investigates Tampaksiring Village’s authority in managing local tourism and identifies strategies to enhance its tourism potential. Results: Findings show that the village government exercises attribution and delegation authority but struggles to implement integrative and strategic programs. The study highlights five development efforts: branding a unique tourism identity, expanding partnerships, utilizing social media, empowering community participation, and ensuring cultural-environmental sustainability. Novelty: Unlike prior research focusing mainly on promotion, this study underscores the interplay between legal authority, governance, and community-based management as key drivers of sustainable tourism branding. Implications: Strengthening institutional capacity and collaborative governance can transform Tampaksiring into a model of culturally rooted and environmentally responsible tourism development Highlight: Legal authority and governance are crucial for optimizing village tourism. Branding, partnerships, and social media drive tourism visibility. Cultural and environmental sustainability ensure long-term impact. Keywords: Tourism Village, Tampaksiring, Sustainable Development, Governance, Community Empowerment
DAMPAK PEMBANGUNAN BYPASS IDA BAGUS MANTRA TERHADAP ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DI PROVINSI BALI Adi Suprapto, Putu
Jurnal Komunikasi Hukum Vol 1 No 1 (2015): Jurnal Komunikasi Hukum
Publisher : Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jkh.v1i1.5005

Abstract

Pembangunan fasilitas umum berupa jalan arteri yang menghubungkan Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Klungkung mempunyai tujuan untuk mempermudah mobilitas penduduk sekitar kawasan tersebut. Jalan arteri sepanjang Tohpati-Kusamba yang lebih dikenal dengan nama Bypass Ida Bagus Mantra sejauh ini memang mampu memenuhi kepentingan masyarakat Bali, khususnya sebagai akses perekonomian dari pusat kota menuju Bali Timur. Namun demikian, saat ini dampak negatif dari pembangunan jalan tersebut tidak dapat dihindarkan lagi, buktinya jumlah alih fungsi (konversi) lahan pertanian menjadi non pertanian semakin meningkat. Letak strategis dan ekonomis dapat dikatakan sebagai faktor utama yang menyebabkan menjamurnya alih fungsi lahan di sepanjang bypass tersebut. Fakta ini didukung karena pada kenyataannya Bypass Ida Bagus Mantra selama ini tidak hanya menghubungkan kota dengan kabupaten yang ada di Provinsi Bali, akan tetapi juga merupakan akses yang menghubungkan Provinsi Bali dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat, untuk itulah maka tidak berlebihan jika letak Bypass Ida Bagus Mantra dikatakan semakin strategis. Dari segi instrumen hukum, pengaturan daerah pada sebelah utara dan selatan di sepanjang jalan tersebut melalui Keputusan Gubernur Bali Nomor 16 Tahun 2002 ternyata tidak mampu mencegah dan menanggulangi terjadinya alih fungsi tersebut. Kata Kunci: Pembangunan, Alih Fungsi, Lahan Pertanian
Aplikasi Insinerator Hemat Energi Solusi Timbunan Sampah Residu Ru-mah Tangga: Studi Kasus di Desa Adat Galiukir, Kabupten Tabanan Santosa, I Dewa Made Cipta; Suprapto, Putu Adi; Sudirman, Sudirman
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol. 8 No. 2 (2022): Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/bp.v8i2.117-124

Abstract

Pada saat ini penanganan timbunan sampah rumah tangga sampai di tingkat pedesaan, belum bisa diuraikan dengan baik karena sebagian besar merupakan sampah residu baik sampah organik maupun sampah anorganik. Tujuan dari studi ini adalah untuk mendapatkan solusi yang efektif untuk mengurangi timbunan sampah yang dibuang ke sungai atau tempat-tempat sembarangan lainnya. Metode yang dilakukan dalam studi ini  adalah dengan penerapan mesin  incinerator hemat energi dan bersih lingkungan dengan kapasitas 0,5 ton/ jam, tahapan berikutnya adalah pengujian efektifitas kinerja peralatan yang dilanjutkan dengan pengambi-lan data dan evaluasi keberlanjutan.  Hasil yang didapatkan dari pengujian adalah pencapaian  rerata yang masih dibawah 400oC hal ini disebabkan karena kondisi sampah yang masih mengandung kadar air dan kelembaban yang cukup tinggi, tetapi laju pembakaran sudah tercapai pada 0,5 ton/jam.  Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dengan peralatan ini  penanganan sampah dapat dilakukan secara terpadu dan dengan mudah untuk ditangani secara berkesinambungan dengan manajemen yang profesional.
Produk inovasi COLAB untuk mendukung Pelatihan Barista dan Tourismpreneurship berbasis Green tourism Dananjaya , Ida Bagus Gede; Saputra , Upayana Wiguna Eka; Sanjaya, Ida Bagus; Suprapto, Putu Adi; Andari, Meliani; Marhaenisme, Galang
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2025): November 2025 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v5i6.955

Abstract

Sebagai lembaga pendidikan vokasi di bidang perhotelan dan kuliner, SMK Widiatmika memiliki potensi besar mendukung industri pariwisata, namun terkendala keterbatasan fasilitas pelatihan barista dan integrasi konsep tourismpreneurship berbasis green tourism. Menanggapi kebutuhan dunia usaha akan tenaga kerja terampil, tim pengabdian masyarakat menawarkan solusi melalui pengembangan Coffee Laboratory (COLAB) sebuah inovasi sarana pembelajaran barista yang terintegrasi dengan kewirausahaan hijau. Kegiatan melibatkan 70 peserta (guru dan siswa), dimulai dengan pengenalan green tourism dan penyusunan Business Model Canvas (BMC), dilanjutkan pelatihan teknik barista, proses kopi dari hulu ke hilir, serta praktik daur ulang limbah kopi menjadi coffee briquette. Sebagai dukungan berkelanjutan, diserahkan satu set peralatan barista lengkap untuk mendukung Barista Teaching Factory (TEFA). Hasilnya, terjadi peningkatan kompetensi barista, pemahaman green tourism, dan kemampuan merancang model bisnis berkelanjutan. Program ini diharapkan memperkuat daya saing lulusan di dunia kerja dan wirausaha, sekaligus menjadi model pembelajaran vokasi yang memadukan keterampilan praktis, kewirausahaan, dan kelestarian lingkungan.