Claim Missing Document
Check
Articles

The Normative Basis of Islamic Astronomy For The Transformation of Prayer Schedules To Digital And Its Accuracy Rojak, Encep Abdul; Fawzi, Ramdan
El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga Vol 7, No 2 (2024): EL-USRAH: Jurnal Hukum Keluarga
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ujhk.v7i2.22097

Abstract

The provisions for prayer times have been determined based on the instructions contained in the Qur'an and Sunnah. The Prophet gave an example of starting a prayer time based on the shadow of an object perpendicular to the sun's position relative to the earth. For example, the midday prayer is set when the sun is at its culmination. This shows that the determination of the start of the prayer time is based on the observation of the sun which must be in a certain position for each prayer time. These provisions are transformed into a set of mathematical formulas based on ongoing astronomical observations. In subsequent developments, this prayer schedule will not only be in hard copy form but also in the form of a website and Android application. Several Android applications display the starting schedule for prayers in a place that is different from the others. Every android application that displays prayer times should refer to the initial provisions of the times stipulated in the Shari'a and Fiqh, not limited to mere calculations, nor is there an API which is a common reference for program developers. There needs to be a unified standard calculation system for the android application for prayer times. It is also necessary to make a standard API and Indonesian standards in accordance with the fiqh provisions for the start of prayer times set in Indonesia.
Faktor Penyebab Kasus Cerai Gugat di Pengadilan Agama Bekasi Kelas 1 A Fadilah Ali Romadhoni; Encep Abdul Rojak
Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam Volume 4, No, 2 Desember 2024, Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam (JRHKI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrhki.v4i2.5189

Abstract

Abstrak. Terdapat peningkatan kasus perceraian di Pengadilan Agama Bekasi Kelas IA, yang didominasi oleh perkara cerai gugat pada tahun 2018-2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab dominannya kasus cerai gugat yang diajukan di Pengadilan Agama Bekasi pada tahun 2018-2022 dan menganalisis terhadap tinjauan pasal 77 Kompilasi Hukum Islam (KHI) terhadap faktor penyebab dominan cerai gugat. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan hukum-empiris. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder, primer, dan tersier. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara, dan studi pustaka. Kemudian, data yang dapat dianalisis yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat peningkatan jumlah kasus cerai gugat dari tahun 2018-2022 di Pengadilan Agama Bekasi. Faktor ekonomi mendominasi sebab meningkatnya kasus cerai gugat di Pengadilan Agama Bekasi. Krisis ekonomi, pengangguran, dan kesulitan finansial adalah beberapa faktor utama yang memicu konflik dalam rumah tangga yang berujung pada cerai gugat. Berdasarkan analisis hukum Islam ditinjau dari pasal 77 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menunjukan bahwa kegagalan dalam memenuhi kewajiban dapat menyebabkan salah satu pihak mengajukan gugatan cerai. Abstract. There has been an increase in divorce cases at the Bekasi Class IA Religious Court, which was dominated by divorce lawsuits in 2018-2022. This study aims to find out the factors that cause the dominance of divorce lawsuits filed at the Bekasi Religious Court in 2018-2022 and analyze the review of article 77 of the Compilation of Islamic Law (KHI) on the dominant causal factors of divorce lawsuits. This type of research is qualitative using a law-empirical approach. The data sources used are secondary, primary, and tertiary data. Data collection in this study uses interview methods, and literature studies. Then, the data that can be analyzed is using a qualitative descriptive method. The results of this study found that there was an increase in the number of divorce cases from 2018-2022 at the Bekasi Religious Court. Economic factors dominate because of the increase in divorce cases in the Bekasi Religious Court. Economic crises, unemployment, and financial difficulties are some of the main factors that trigger conflicts in the household that lead to divorce. Based on the analysis of Islamic law reviewed from article 77 of the Compilation of Islamic Law (KHI), it shows that failure to fulfill obligations can cause one of the parties to file a divorce lawsuit.
The Basis for the Judge's Consideration of the Brebes Religious Court on Granting Permission for Marriage Dispensation in Decision Number 179/Pdt. P/2023/Pa. BBS After Jo Kawin Anak Program Rojak, Encep Abdul; Yulia, Marsella; Hayatudin, Amrullah
Alhurriyah Vol 8 No 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al hurriyah.v8i2.7550

Abstract

The marriage dispensation is intended for someone who wants to get married but is hindered because the minimum age limit for marriage is 19 (nineteen) years. One of the decisions related to this marriage dispensation is in case Number 179/Pdt.P/2023/PA.Bbs, which in its application requested the Panel of Judges as state officials to grant the request for marriage dispensation to their daughter, who is still aged 18 (eighteen) years. This research is field research, using qualitative analysis techniques with an inductive mindset. The results of this study are the factors that cause the application for marriage dispensation, namely because the parents are concerned for their children, who are already very close to their future husbands, so if they do not get married immediately, it is feared that they will fall into immoral acts. As for the consideration of the Panel of Judges in granting the request for marriage dispensation in Case Number 179/Pdt.P/2023/PA.Bbs after the Jo Kawin Boy programme in Central Java, namely considering the daughter of the petitioner who has been engaged since 1 (one) a year ago and is known to have had a love affair for 3 (three) years with her future husband, it is feared that if she does not get married soon, it will cause harm.Dispensasi pernikahan ditujukan bagi seseorang yang ingin melangsungkan pernikahan akan tetapi terhalang karena batas usia minimal pernikahan yaitu 19 (Sembilan belas) Tahun. Salah satu Putusan terkait dengan dispensasi pernikahan ini yaitu pada perkara Nomor 179/Pdt.P/2023/PA.Bbs, yang dalam permohonannya tersebut memohon Majelis Hakim selaku pejabat Negara untuk mengabulkan permohonan dispensasi pernikahan pada anak perempuannya yang masih berusia 18 (delapan belas) tahun. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (Field Research), menggunakan teknik analisis kualitatif dengan pola pikir induktif. Hasil dari penelitian ini yaitu faktor yang manjadi penyebab permohonan dispensasi pernikahan yaitu karena faktor kekhawatiran orang tua terhadap anaknya yang sudah berhubungan sangat dekat dengan calon suaminya sehingga jika tidak segera melangsungkan pernikahan dikhawatirkan akan terjerumus kedalam perbuatan maksiat. Adapun yang menjadi pertimbangan Majelis Hakim dalam mengabulkan permohonan dispensasi pernikahan pada Perkara Nomor 179/Pdt.P/2023/PA.Bbs, setelah adanya program Jo Kawin Bocah di Jawa Tengah yaitu mempertimbangkan anak Perempuan dari Pemohon yang sudah bertunangan sejak 1 (satu) Tahun yang lalu dan diketahui sudah memiliki hubungan cinta selama 3 (tiga) Tahun dengan calon suaminya tersebut, sehingga dikhawatirkan jika tidak segera menikah akan menimbulkan banyak kemudharatan.
Analisis Al-Urf dalam Hukum Islam terhadap Pelaksanaan Perkawinan Adat Nokolontigi dan Mandiupasili Dalam Perkawinan Suku Adat Kaili Kelurahan Kabonena Kecematan Ulujadi Sulawesi Tengah Andiahmad Ramadhani; M. Abdurahman; Encep Abdul Rojak
Bandung Conference Series: Islamic Family Law Vol. 5 No. 1 (2025): Bandung Conference Series: Islamic Family Law
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v5i1.16914

Abstract

Abstract. Indonesia is an archipelago country because it consists of thousands of islands and has various tribes and different customs. Differences in place of residence also distinguish variations in the livelihoods of customs and habits of the community. Customs or traditions are often defined as regulations that apply in a particular society, and include various norms that govern life together. The concept of "Ada" in "Ada ri Tana Kaili" refers to customs or rules that are firmly held by the community. These rules are not only social norms, but also have binding power and must be respected by members of society. "Ada" reflects the cultural heritage and values that have been passed down from generation to generation, and is the basis for social interaction and life together in the Kaili Tribe community. This study uses qualitative research because this research is based on basic human observations. The existence of this empirical legal approach is carried out in order to find out how the procedures for implementing the Kaili tribe's traditional traditions regarding the "Nokolontigi and Mandiupasili" traditional marriage and Al-Urf's analysis of the Kalili tribe's traditional marriage traditions "Nokolontigi and MandiuPasili" in Kabonenan Village, Ulujadi District, Central Sulawesi. Applying good and in-depth communication between the author and the phenomenon being discussed to provide good information about the procedures for carrying out the "Nokolontigi and Mandiupasili" traditional marriage traditions of the Kaili tribe, as well as Al-Urf's analysis of the "Nokolontigi and Mandiu Pasili" traditional tradition in Kabonena Village. In the Kaili tribe, Nokolontigi and Mandiupasili have values, namely historical, cultural and social values. In the implementation of the Nokolontigi and Mandipasili customs, there is a lot of mixing between Islamic law and customary law. Several offerings in the form of natural plant materials symbolize the relationship between humans and the surrounding environment. The traditional traditions of Nokolontigi and Mandiupasili in weddings of the Kaili tribe in Kabonena Village, Central Sulawesi, are in line with Islamic law and contain positive values. This tradition functions to strengthen family ties, ask Allah SWT for safety, and reflects tolerance towards existing culture. The implementation of these two traditions includes al-'urf shahih, which does not change what is haram into halal. Abstrak. adat istiadat yang berbeda-beda. Perbedaan tempat tingal juga membedakan variasi dalam mata pencaharian adat istiadat dan kebiasaan masyarakat. Adat atau tradisi sering didefinisikan sebagai peraturan yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu, dan mencakup berbagai norma yang mengatur kehidupan bersama. Konsep "Ada" dalam "Ada ri Tana Kaili" merujuk pada adat atau aturan yang dipegang teguh oleh masyarakat. Aturan-aturan ini bukan hanya sekadar norma sosial, tetapi juga memiliki kekuatan yang mengikat dan harus dihormati oleh anggota masyarakat. "Ada" mencerminkan warisan budaya dan nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, dan menjadi landasan bagi interaksi sosial dan kehidupan bersama dalam masyarakat Suku KailiPenelitian ini penulis mengunakan penelitian kualitatif karena peneliti ini di dasarkan pada pengamatan dasar manusia. Adanya pendekatan yuridis empiris ini dilakukan agar mengetahui bagaimana tata cara pelaksanaan tradisi adat suku kaili tentang perkawinan adat “Nokolontigi dan Mandiupasili” serta analisis Al-Urf terhadap tradisi adat perkawinan suku kalili “Nokolontigi dan MandiuPasili” di Kelurahan Kabonenan Kecamatan Ulujadi Sulawesi Tengah. Menerapkan kemunikasi yang baik dan mendalam antara penulis dengan fenomena yang dibahas untuk memberikan informasi yang baik tentang tatacara melangsungkan perkawinan tradisi “Nokolontigi dan Mandiupasili” tradisi adat suku kaili, serta analisis Al-Urf tentang tradisi adat “Nokolontigi dan Mandiu Pasili” Kelurahan KabonenaPada masyarakat suku adat kaili Nokolontigi dan Mandiupasili mempunyai nilai-nilai yaitu nilai sejarah, budaya dan sosial. Dalam pelaksanaan adat Nokolontigi dan Mandipasili, terdapat banyak percampuran antara syariat Islam dan hukum adat. Beberapa sesajen yang berupa bahan-bahan tumbuhan alam melambangkan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.Tradisi adat Nokolontigi dan Mandiupasili dalam perkawinan suku Kaili di Kelurahan Kabonena, Sulawesi Tengah, sejalan dengan hukum Islam dan mengandung nilai-nilai positif. Tradisi ini berfungsi memperkuat ikatan kekeluargaan, memohon keselamatan kepada Allah Swt, serta mencerminkan toleransi terhadap budaya yang telah ada. Pelaksanaan kedua tradisi ini termasuk al-‘urf shahih, yang tidak mengubah yang haram menjadi halal.
Pelaksanaan Program Kementerian Agama Nomor 758 Tahun 2021 Tentang Revitalisasi KUA Terhadap Peningkatan Kinerja Kua di Kabupaten Kuningan Fauzi Alfiyasin; Ramdan Fawzi; Encep Abdul Rojak
Bandung Conference Series: Islamic Family Law Vol. 5 No. 1 (2025): Bandung Conference Series: Islamic Family Law
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v5i1.17438

Abstract

Abstract. Revitalization of KUA is an effort to strengthen the role of KUA not only through improving physical facilities but also improving the quality of human resources and services. This step is an important strategy that must be carried out together so that every service provided to the community is the best. Based on these problems, the purpose of this study is to determine the implementation of KUA revitalization at KUA Ciawigebang District, Kuningan Regency and to determine the impact of the implementation of KUA revitalization on the performance and services of employees at KUA Ciawigebang, Kuningan Regency. The research method used is descriptive analytical with a normative legal approach and data collection techniques are carried out through documentation studies and interviews with the Head of KUA and Employees at KUA Ciawigebang. The results of the study indicate that the Implementation of KUA Revitalization carried out at KUA Ciawigebang requires strengthening in terms of Legal Substance, Legal Structure and Legal Culture so that reform at KUA Ciawigebang can be achieved effectively, improve service quality, and strengthen the role of KUA Ciawigebang as an institution that is relevant and responsive to community needs, and the KUA Revitalization carried out aims to make KUA Ciawigebang more modern, responsive, and professional in serving the community and is able to provide an impact on high-quality services that support welfare and religious life in the community. Abstrak. Revitalisasi KUA merupakan upaya untuk memperkuat peran KUA yang tidak hanya melalui perbaikan fasilitas fisik tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia dan layanan. Langkah ini merupakan strategi penting yang harus dijalankan bersama agar setiap layanan yang diberikan kepada masyarakat menjadi yang terbaik. Berdasarkan permasalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan revitalisasi KUA di KUA Kecamatan Ciawigebang Kabupaten Kuningan dan untuk mengetahui dampak pelaksanaan revitalisasi KUA terhadap kinerja dan pelayanan para pegawai di KUA Ciawigebang Kabupaten Kuningan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis dengan pendekatan yuridis noormatif dan teknik pengambilan data dilakukaan melalui studi dokumentasi dan wawancara dengan Kepala KUA dan Jajaran Pegawai di KUA Ciawigebang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelaksanaan Revitaslisasi KUA yang yang dilaksanakan di KUA Ciawigebang membutuhkan penguatan dari aspek Substansi Hukum, Struktur Hukum dan Budaya Hukum agar reformasi di KUA Ciawigebang dapat tercapai dengan efektif, meningkatkan kualitas layanan, dan memperkuat peran KUA Ciawigebang sebagai lembaga yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, dan Revitalisasi KUA yang dilaksanakan tersebut bertujuan untuk menjadikan KUA Ciawigebang lebih modern, responsif, dan profesional dalam melayani masyarakat serta mampu memberikan dampak terhadap layanan berkualitas tinggi yang mendukung kesejahteraan dan kehidupan beragama di masyarakat.
Analisis Putusan Hakim Pengadilan Agama Sungguminasa Gowa Tentang Nafkah Mut'ah dan Iddah Agum Muchamad Sidiq; Encep Abdul Rojak
Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam Volume 5, No, 1 Juli 2025, Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam (JRHKI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrhki.v5i1.6424

Abstract

Abstrak. Putusan Pengadilan Agama (PA) Sungguminasa Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan memberikan gambaran majelis hakim memberikan putusan hukum dengan verstek dan memberikan beban biaya sebesar Rp. 361.000,00 kepada pihak penggugat. Akan tetapi alasan penggugat melakukan gugatan karena pihak tergugat telah pergi meninggalkan rumah bersama dan melakukan perkawinan dengan wanita lain dan merugikan penggugat secara fisik dan psikis.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertimbangan majelis hakim dalam memutuskan perkara Nomor 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm di Pengadilan Agama Sungguminasa Kabupaten Gowa dan untuk mengetahui analisis UU Perkawinan terhadap perkara Nomor 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm terkait pembayaran nafkah iddah dan mut’ah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis dengan pendekatan yuridis noormatif dan teknik pengambilan data dilakukaan melalui studi dokumentasi dan wawancara dengan Hakim PA Sungguminasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan majelis hakim dalam memutuskan Perkara pada kasus cerai gugat Nomor 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm di Pengadilan Agama Sungguminasa Kabupaten Gowa telah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan Pertimbangan Majelis Hakim dalam menangani perkara Nomor 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm terkait pembayaran nafkah iddah dan mut’ah yang dikabulkan sesuai dengan tuntutan Penggugat telah sesuai dengan UU Perkawinan. Abstract. Decision of the Sungguminasa Religious Court (PA), Gowa Regency, South Sulawesi provides an illustration of the panel of judges giving a legal decision with verstek and imposing a fee of Rp. 361,000.00 to the plaintiff. However, the reason the plaintiff filed the lawsuit was because the defendant had left the house together and married another woman and harmed the plaintiff physically and psychologically. The aim of this research is to find out the provisions of munakahat jurisprudence according to the ulama regarding the provision of idah and mut'ah support, to find out the considerations of the panel of judges in deciding case Number 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm in the Religious Courts Sungguminasa Gowa Regency and to find out the analysis of the Marriage Law regarding case Number 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm related to the payment of iddah and mut'ah maintenance. The research method used was descriptive analytical with a normative juridical approach and data collection techniques were carried out through documentation and interviews with PA Sungguminasa. The results of the research show that the considerations of the panel of judges in deciding the case in the contested divorce case Number 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm at the Sungguminasa Religious Court, Gowa Regency were in accordance with the applicable statutory provisions and the considerations of the Panel of Judges in handling case Number 143 /Pdt.G/2014/PA.Sgm regarding the payment of iddah and mut'ah maintenance which was granted in accordance with the Plaintiff's demands in accordance with the Marriage Law.
Pendampingan Praktikum Kalibrasi Arah Kiblat Menggunakan Mizwala Untuk Guru PAI SMA Kota Bandung Fawzi, Ramdan; Rojak, Encep Abdul
Al-Khidmat : Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada masyarakat Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Al-Khidmat : Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu materi Pendidikan Agama Islam (PAI) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah ketentuan arah kiblat dalam melaksanakan shalat. Penentuan arah kiblat harus dilakukan dengan hati-hati berdasarkan kepada keilmuan, karena arah kiblat merupakan salah satu syarat shalat. Dalam kurikulumnya, guru-guru PAI tidak secara langsung mendapatkan materi arah kiblat secara spesifik, karena materi ini ada pada mata kuliah ilmu falak pada fakultas syariah. Sehingga tidak semua guru PAI mengajarkan praktikum penentuan arah kiblat secara langsung, namun melalui narasi saja. Praktikum penentuan arah kiblat dengan alat mizwala merupakan salah satu kegiatan pelatihan dan praktek pengukuran arah kiblat secara langsung. Para guru PAI dari berbagai SMA mengikuti kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan pengalamannya dalam menentukan arah kiblat yang benar, sehingga dapat disampaikan kembali kepada peserta didik. Metode pengabdian yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yaitu melibatkan seluruh peserta dalam proses pendampingan berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa para guru lebih memahami bagaimana teori dan praktek pengukuran arah kiblat yang benar. Dan materi yang disampaikan sangat terkait dengan kegiatan pembelajaran di kelas.   Kata Kunci: Arah Kiblat, Mizwala, Guru    Abstract One of the materials of Islamic Religious Education (PAI) at the Senior High School (SMA) level is the provision of the direction of the Qibla in performing prayers. Determining the direction of the Qibla must be done carefully based on knowledge, because the direction of the Qibla is one of the requirements for prayer. In its curriculum, PAI teachers do not directly get specific material on the direction of the Qibla, because this material is in the astronomy course at the Sharia Faculty. So not all PAI teachers teach the practicum of determining the direction of the Qibla directly, but only through narration. The practicum of determining the direction of the Qibla with the Mizwala tool is one of the training activities and practices for measuring the direction of the Qibla directly. PAI teachers from various high schools participated in this activity, it is hoped that they can increase their experience in determining the correct direction of the Qibla, so that it can be conveyed back to students. The community service method used is Participatory Action Research (PAR), which involves all participants in the ongoing mentoring process. The results of the activity showed that the teachers better understood the theory and practice of measuring the correct direction of the Qibla. And the material presented is closely related to learning activities in the classroom. Keywords: Qibla Direction, Mizwala, Teacher
The Basis for the Judge's Consideration of the Brebes Religious Court on Granting Permission for Marriage Dispensation in Decision Number 179/Pdt. P/2023/Pa. BBS After Jo Kawin Anak Program Rojak, Encep Abdul; Yulia, Marsella; Hayatudin, Amrullah
Alhurriyah Vol 8 No 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al hurriyah.v8i2.7550

Abstract

The marriage dispensation is intended for someone who wants to get married but is hindered because the minimum age limit for marriage is 19 (nineteen) years. One of the decisions related to this marriage dispensation is in case Number 179/Pdt.P/2023/PA.Bbs, which in its application requested the Panel of Judges as state officials to grant the request for marriage dispensation to their daughter, who is still aged 18 (eighteen) years. This research is field research, using qualitative analysis techniques with an inductive mindset. The results of this study are the factors that cause the application for marriage dispensation, namely because the parents are concerned for their children, who are already very close to their future husbands, so if they do not get married immediately, it is feared that they will fall into immoral acts. As for the consideration of the Panel of Judges in granting the request for marriage dispensation in Case Number 179/Pdt.P/2023/PA.Bbs after the Jo Kawin Boy programme in Central Java, namely considering the daughter of the petitioner who has been engaged since 1 (one) a year ago and is known to have had a love affair for 3 (three) years with her future husband, it is feared that if she does not get married soon, it will cause harm.Dispensasi pernikahan ditujukan bagi seseorang yang ingin melangsungkan pernikahan akan tetapi terhalang karena batas usia minimal pernikahan yaitu 19 (Sembilan belas) Tahun. Salah satu Putusan terkait dengan dispensasi pernikahan ini yaitu pada perkara Nomor 179/Pdt.P/2023/PA.Bbs, yang dalam permohonannya tersebut memohon Majelis Hakim selaku pejabat Negara untuk mengabulkan permohonan dispensasi pernikahan pada anak perempuannya yang masih berusia 18 (delapan belas) tahun. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (Field Research), menggunakan teknik analisis kualitatif dengan pola pikir induktif. Hasil dari penelitian ini yaitu faktor yang manjadi penyebab permohonan dispensasi pernikahan yaitu karena faktor kekhawatiran orang tua terhadap anaknya yang sudah berhubungan sangat dekat dengan calon suaminya sehingga jika tidak segera melangsungkan pernikahan dikhawatirkan akan terjerumus kedalam perbuatan maksiat. Adapun yang menjadi pertimbangan Majelis Hakim dalam mengabulkan permohonan dispensasi pernikahan pada Perkara Nomor 179/Pdt.P/2023/PA.Bbs, setelah adanya program Jo Kawin Bocah di Jawa Tengah yaitu mempertimbangkan anak Perempuan dari Pemohon yang sudah bertunangan sejak 1 (satu) Tahun yang lalu dan diketahui sudah memiliki hubungan cinta selama 3 (tiga) Tahun dengan calon suaminya tersebut, sehingga dikhawatirkan jika tidak segera menikah akan menimbulkan banyak kemudharatan.