Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Peran Zat Besi terhadap Adaptasi Fisiologis Ibu Hamil dengan Anemia Akibat Malaria di Daerah Endemis Malaria Kabupaten Pesawaran Efriyan Imantika; Dian Isti Angraini
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 3, No 2 (2019): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v3i2.2494

Abstract

Malaria merupakan infeksi oleh parasit golongan Plasmodium yang hidup dan berkembang biak di dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Lima daerah di Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung dengan kasus positif malaria tertinggi terjadi di 4 wilayah kerja Puskesmas yaituPuskesmas Hanura dengan jumlah kasus terbanyak yaitu 1.738 kasus,Puskesmas Padang Cermin 91 kasus, dan Puskesmas Pedada 82 kasus.Di Indonesia, kasus Malaria pada ibu hamil terjadi 66 kasus dari perkiraan jumlah ibu hamil sebanyak 4.066tahun 2014. Di dunia, kematian terjadi pada 10.000 wanita hamil dan 200.000 bayi setiap tahunnya akibat malaria dalam kehamilan. Di Kabupaten Pesawaran propinsi Lampung, angka kesakitan (Annual Parasite Incidence) sebesar 4,44 per 1000 penduduk berisiko. Malaria pada ibu hamil meningkatkan risiko kematian pada wanita hamil dan janin yang dikandungnya. Efek Malaria terhadap janin berupa anemia, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur dan kematian perinatal. Menggunakan metode penelitian analitik observasional dengan rancangan penelitian cohort retrospektif. Uji hipotesis yang digunkan yaitu Independent t-testyaitu peneliti mempelajari peran pemberian zat besi terhadap adaptasi fisiologi ibu hamil yang terdiagnosis dengan anemia akibat infeksi Malaria. Pemberian zat besi sebanyak 30-60 buah selama 4-6 minggu pada kelompok yang anemia dan normal, memberikan perbedaan frekuensi nadi (89.7 ±7.6vs78.6 ±8.1; p=0.001; IK 95% (-16.2-(-5.9)) dan selisih kadar hemoglobin sebelum dan sesudah pemberian tablet zat besi bermakna secara statistik (1.1±0.4 vs0.6 ±0.4; p=0.001; IK 95% (-0.8-(-0.3)). Pemberian tablet zat besi pada ibu hamil sebanyak 30-60 buah selama 4-6 minggu menyebabkan adaptasi fisiologis berupa peningkatan frekuensi nadi 11.3 kali pada kelompok anemia akibat Malaria dan peningkatan kadar hemoglobin sebesar 0.53 mg/dL.Keyword: Zat besi, adaptasi fisiologis, anemia, malaria
PELATIHAN KADER POSYANDU UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PENGUKURAN ANTROPOMETRI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI PUSKESMAS SUKARAJA BANDAR LAMPUNG Merry Indah Sari; Dian Isti Angraini; Efriyan Imantika; Dwita Oktaria
Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat Vol 2, No 1 (2021): Mei : Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.443 KB) | DOI: 10.37905/jpkm.v2i1.9833

Abstract

Stunting pada balita dapat berakibat pada kesehatan dan kecerdasan anak di masa yang akan datang seperti kerentanan terhadap infeksi dan menurunnya prestasi di sekolah. Kebaruan dalam kegiatan pengabdian ini adalah Pelatihan Kader Posyandu Untuk Meningkatkan Keterampilan Pengukuran Antropometri Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Di Puskesmas Sukaraja Bandar Lampung. Kegiatan ni bertujuan untuk melatih kader posyandu dalam meningkatkan keterampilan pengukuran antropometri pada balita. Khalayak sasaran pada kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah kader posyandu. Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah pemberian materi, pembagian modul pelatihan dan simulasi pengukuran antropometri serta role play. Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan pada bulan September 2020. Kegiatan ini dilaksanakan di aula Puskesmas Sukaraja. Hasilpelaksanaanterjadipeningkatanpemahamankaderposyandudenganpemahamanbaikdari 2 % menjadi 82%. Sebanyak  18% kader posyandu masih memiliki pemahaman yang cukup mengenai stunting dan metode pengukuran antropometri. Kesimpulan peningkatan keterampilan kader posyandu dan melakukan KIE mengenai stunting dapat meningkatkan upaya pencegahan stunting.Kata Kunci: Antropometri; Kader; Stunting; Kunjungan.
Revitalisasi Peran Kader Kesehatan dalam Program Pencegahan dan Penanggulangan Stunting Dian Isti Angraini; Efriyan Imantika; Merry Indah Sari; Ety Apriliana; Fitria Saftarina
Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi Vol. 3 No. 3 (2022): Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi
Publisher : Asosiasi Dosen Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47841/saintek.v3i3.205

Abstract

The purpose of this programme is to revitalize the role of health cadres in stunting prevention and control programs. The methods used in this programme are focus group discussions as the basis for making training modules, training health cadres with interactive lectures and discussion techniques, as well as simulating how to educate and assess toddler growth using maternal and child health books (KIA). This programme was carried out for 2 days and took place at the Tanjung Sari Natar Health Center, South Lampung Regency. The participants were 30 people who were health cadres in the Tanjung Sari Natar Health Center work area, South Lampung Regency. The results of the evaluation of the implementation of the programme found that there was an increase in participants' understanding of 93.33% to a good understanding, 6.67% of participants had a fairly good understanding, and none of the participants had a poor understanding of balanced nutrition in the first 1000 days of life (nutrition of pregnant women, breastfeeding mothers, infants and toddlers), stunting prevention, assessing the growth and development of toddlers and educational-information-communication techniques. The average pretest result was 59.5 and an increase in the posttest result was 85.5. Based on the analysis using the Wilcoxon test, it was found that there was a statistically significant mean difference between the pretest and posttest values of the participants regarding of balanced nutrition in the first 1000 days of life (nutrition of pregnant women, breastfeeding mothers, infants and toddlers), stunting prevention, and assessing the growth (p=0.000).
Pengaruh Sindrom Metabolik terhadap Penurunan Kekuatan Otot Dasar Panggul dan Risiko Terjadinya Prolaps Organ Panggul serta Disfungsi Seksual pada Wanita Pralansia Efriyan Imantika; Rodiani Rodiani; Dian Isti Angraini; Zahara Ayu Destrianti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.439

Abstract

Tujuan: Menganalisis pengaruh sindrom metabolik terhadap kekuatan otot dasar panggul dan risiko terjadinya prolaps organ panggul dan disfungsi seksual pada wanita pralansia sehingga dapat dipergunakan sebagai acuan dalam menghadapi masa menopause Metode: Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian potong lintang terhadap 33 orang wanita kelompok usia reproduktif dan 33 orang wanita pralansia anggota PERSIT KODIM 0410 Kota Bandarlampung pada bulan Maret–Mei 2022 yang meneliti tentang efek sindrom metabolik terhadap fungsi reproduksi dan fungsi seksual wanita pralansia.Hasil: Hasil analisis bivariat dengan uji Fisher menunjukkan terdapat hubungan antara terjadinya sindrom metabolik terhadap kekuatan otot dasar panggul yang dinilai dengan skala Brink (nilai p=0,001 dengan nilai r/ interval kepercayaan 1,28 (0,58-2,57)) dan hasil pemeriksaan POP-Q dengan nilai p=0,001 dengan nilai r/ interval kepercayaan 1,16 (0,6-2,2) pada kelompok usia pralansia dibandingkan usia reproduktif dan risiko terjadinya disfungsi seksual yang dinilai dari hasil pengisian kuisioner FSFI dengan (nilai p=0,001 dengan nilai r/ interval kepercayaan 2,6 (0,5-12,7)) pada kelompok usia pralansia dibandingkan usia reproduktif. Kesimpulan: Sindrom metabolik berpengaruh terhadap penurunan kekuatan otot dasar panggul dan meningkatkan risiko disfungsi seksual pada kelompok usia pralansia dibandingkan kelompok usia reproduktif.The Impact of Metabolic Syndrome on Pelvic Floor Muscle Strength Reduction and The Risk of Pelvic Organ Prolaps And Sexual Dysfunction in Premenopausal WomenAbstractObjective: Analyzing the impact of metabolic syndrome on pelvic floor muscle strength and the risk of pelvic organ prolapse and sexual dysfunction in premenopausal women that can be used as a reference in dealing with menopause stageMethods: This is a part of research on impact of metabolic syndrome on reproduction and sexual function. A cross sectional research using 33 women of reproductive and 33 premenopausal women in PERSIT KODIM 0410 Bandarlampung in March–May 2022. Result: The results using Fisher test showed that there was significant association between metabolic syndrome and pelvic floor muscle strength as assessed by the Brink scale (p value = 0.001 r value / confidence interval 1.28 (0.58-2.57)) and the results of the POPQ examination with p=0.001 (1.16 (0.6-2.2)). The risk of sexual dysfunction as assessed from FSFI questionnaire has p value=0.001 (2.2 (0.5-9.02)) in the premenopausal compared to reproductive age grup. Conclusion: Metabolic syndrome affects the decrease of pelvic floor muscle strength and increases the risk of sexual dysfunction in the pre-elderly age group compared to the reproductive age group Keyword: Metabolic syndrome, pelvic floor muscle strength, sexual disfunction
Peningkatan Efektifitas Program Pencegahan Anemia pada Ibu Hamil Dian Isti Angraini; Fitria Saftarina; Efriyan Imantika; Novita Carolia
Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi
Publisher : Asosiasi Dosen Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47841/saintek.v4i1.281

Abstract

The programme to increase the effectiveness of the anemia prevention program in pregnant women is an effort to empower the community, namely health cadres to increase the scope of the program for giving iron tablets to pregnant women. Empowerment of health cadres through training and health education to increase the ability to persuade pregnant women to want and comply with taking blood-added tablets as recommended can help increase the scope of the program for giving blood-added tablets to pregnant women. The purpose of this programme is to train health cadres and health workers to carry out persuasive communication to pregnant women to want and obediently take blood-added tablets (empowered cadres). The method that will be used is persuasive communication training for health cadres through interactive lectures and discussions, video screenings and exercise simulations. This activity was carried out for 1 day and took place at the Panjang City Health Center in Bandar Lampung. The participants were 30 people who were health cadres, health workers and pregnant women. The results of the evaluation of the implementation of the programme found that there was an increase in participants' understanding as much as 90% became a good understanding, 10% of participants had a fairly good understanding, and none of the participants had a poor understanding of anemia in pregnancy, prevention of anemia in pregnancy, persuasive communication to pregnant women so willing and obedient in taking blood-added tablets. The average pretest result was 55.1 and an increase in the posttest result was 83.7. Based on the analysis using the Wilcoxon test, it was found that there was a statistically significant difference in the pretest and posttest scores of the service participants (p=0.000). This programme to increase the effectiveness of the anemia prevention program in pregnant women has proven to be effective.
Model “PIN SENJA” (Pusat Informasi Dan Konseling Remaja) Sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Reproduksi Remaja Dian Isti Anggraini; Efrida Warganegara; Ety Apriliana; Novita Carolia; Merry Indah Sari; Efriyan Imantika
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v9i1.190

Abstract

Model PIN SENJA (pusat informasi dan konseling remaja) merupakan suatu model yang dirancang dan dimodifikasi untuk kegiatan promosi kesehatan dan KIE kesehatan reproduksi remaja, melatih cara menjaga kebersihan dan kesehatan organ genitalia dan reproduksi remaja serta membentuk kader PIN SENJA. Model ini juga dirancang dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja yang dikelola dari, oleh dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang kesehatan reproduksi, bagaimana menjaganya dan mencegah terjadinya masalah kesehatan reproduksi seperti seks pranikah, kehamilan remaja, pernikahan dini, penyakit infeksi genitalia dan infeksi menular seksual, HIV-AIDS, narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) serta pornografi.. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku remaja mengenai kesehatan reproduksi, meningkatkan keterampilan remaja untuk menjaga personal hygiene dan membentuk duta PIN SENJA. Metode yang akan dilakukan adalah dengan memberikan penyuluhan, melatih keterampilan, dan membentuk duta PIN SENJA sebagai agen KIE pada 40 orang siswi MA Dinniyah Putri Lampung. Hasil evaluasi pelaksanaan pengabdian didapatkan bahwa terjadi peningkatan pemahaman peserta sebanyak 90% menjadi pemahaman yang baik, dan 10% peserta memiliki pemahaman yang cukup mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja. Kemampuan KIE siswi MA Dinniyah Putri Lampung sebagai peserta juga sudah cukup baik, hampir 95% peserta sudah memahami dan mampu melakukan KIE melalui evaluasi simulasi dan diskusi. Rerata hasil pretes adalah 57,87 dan mengalami peningkatan di hasil postes yaitu sebesar 84. Berdasarkan analisis menggunakan uji Wilcoxon didapatkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang bermakna secara statistik nilai pretes dan postes peserta pengabdian mengenai kesehatan reproduksi (p=0,000). Peningkatan kemampuan siswi MA Dinniyah Putri Lampung untuk melakukan KIE mengenai kesehatan reproduksi remaja dalam upaya mencegah terjadinya gangguan kesehatan remaja dengan model PIN SENJA ini terbukti efektif
Efektivitas Program ‘Safe Motherhood’ di Puskesmas Poned dalam Menurunkan AKI akibat Kehamilan dan Persalinan Efriyan Imantika; Rodiani; Dian Isti Angraini; Merry Indah Sari
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v9i1.199

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator kesehatan dan kemajuan pembangunan sebuah negara. Data SDKI tahun 2013 menunjukkan AKI di Indonesia 228/100.000 kelahiran hidup. Salah satu upaya pemerintah dalam menurunkan AKI ditetapkannya Program Safe Motherhood yang dimulai sejak 1997. Masih tingginya AKI di Indonesia khususnya di Provinsi Lampung menjadi perhatian khusus bagi pemerintah dalam memenuhi target pencapaian pembangunan dalam RPJM tahun 2015-2019. Kegiatan ini diharapkan membantu mengevaluasi permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan Program Safe Motherhood di Puskesmas Poned sehingga dapat lebih efektif dan berperan dalam menurunkan AKI di Indonesia khususnya Provinsi Lampung. Metode yang digunakan yaitu menetapkan tolak ukur penilaian pada evaluasi program Safe Motherhood yang belum memenuhi target di Puskesmas Panjang Tahun 2021 berdasarkan Permenkes No.4 tahun 2019. Persentase capaian masing-masing pilar dalam program safe motherhood yaitu persalinan aman bersih oleh nakes di Puskesmas 79,5 %, antenatal care 72,9 %, pelayanan masa nifas 99,7 % dan program Keluarga Berencana 57,6 %. Efektivitas keempat program safe motherhood di Puskesmas Panjang dinilai cukup efektif dalam menurunkan angka kematian ibu, ditunjukkan dengan AKI di wilayah kerjanya yaitu 1 kematian maternal sepanjang tahun 2020 dengan nilai p = 0,04 dan nilai r = -0,68.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu Hamil dengan Taksiran Berat Janin di Wilayah Kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung Desta Stallaza Alifka; Reni Zuraida; Efriyan Imantika; Ratna Dewi Puspita Sari
MAJORITY Vol 12 No 1 (2023): MAJORITY
Publisher : Majority

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59042/mj.v12i1.175

Abstract

One of the activities routinely carried out in antenatal care is the measurement of Fundus Uterine Height (FUH) to determine Estimated Fetal Weight (EFW). Fetal weight growth can be indirectly affected by the basic nutritional knowledge of  pregnant  women  about the  importance of  fulfillinf nutrition during pregnancy to  support the  health  and development  of the  fetus. The aim of the study was to determine the relation between the level of nutritional knowledge of pregnant women and the estimated fetal weight at Kedaton Primary Health Center Bandar Lampung City. The research design used was analytic observational with cross sectional approach using primary data by measuring the knowledge of pregnant  women  using  a  questionnaire  consisting of 28 question  items  and  secondary  data  in  the   form  of uterine fundal height in the KIA book. Sampling was conducted at the Kedaton Primary Health Center in 2020. The sample was taken using purposive sampling with a total sample of 46 samples that met the inclusion and exclusion criteria. Data analysis used Chi Square with α = 0.05 and CI = 95%. The results  showed  that  there  were  8.7%  mothers with good nutritional knowledge, 71.7% mothers with moderate nutritional knowledge and 19.6% mothers with poor nutrition knowledge. Then pregnant women with small EWF during pregnancy and large EFW during pregnancy consisted of 10.9% and 78.3% respectively of mothers with EFW according to gestational age. Bivariate analysis showed that there was a relationship between the level of nutritional knowledge in pregnant women and the estimated fetal weight at Kedaton Health Center with a value of p = 0.003. There is a correlation between the level of nutritional knowledge of pregnant women with the estimated fetal weight.
The Effect of History of Low Birth Weight in Newborns and Maternal Anemia in Pregnancy on the Risk of Stunting in Toddlers Age 0-24 Months in Tanjung Bintang Health Center South Lampung Regency Dian Isti Angraini; Kristian Pieri Ginting; Efriyan Imantika
Sriwijaya Journal of Medicine Vol. 4 No. 2 (2021): Vol 4, No 2, 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/sjm.v4i2.104

Abstract

Stunting is the condition in children when their height is shorter than a child of his age because of stunted growth due to chronic malnutrition. Stunting can be caused by low birth weight in newborns and maternal anemia. The objective of the study is to know the effect of low birth weight in newborns and maternal anemia on the risk of stunting in the toddler with the age range between 0-24 months in the Tanjung Bintang Primary Health Care. This research is an observational-analytic study with a cross-sectional approach. This research was conducted in the region of Tanjung Bintang Primary Health Care. The sample was 73 toddlers with an age range between 0-24 months. Data were analyzed with a Chi-square test to know the influence of the independent variable with a value of α = 0,05. The results found a 37% risk of stunting, 12.3% history of low birth weight in newborns, and 34.2% history of maternal anemia. The results of the bivariate analysis was no influence of a history of low birth weight in newborns on the risk of stunting (p-value = 0.718) and there was an influence of maternal anemia on the risk of stunting in toddlers (p-value = 0.001). There is no influence history of low birth weight in newborns on the risk of stunting and there is an influence of maternal anemia on the risk of stunting in toddlers aged range between 0-24 months in the region of Tanjung Bintang Primary Health Care.
Diagnostic Approach to Vaginismus and How to Differentiate it from Dyspareunia Farhanah, Aninda Yasmin; Sukarsa, Mochamad Rizkar Arev; Armawan, Edwin; Achmad, Eppy Darmadi; Sasotya, R. M Sonny; Rinaldi, Andi; Ma’soem, Aria Prasetya; Praharsini, Raden Kania; Imantika, Efriyan; Nurtanio, Setiawan; Arwan, Berriandi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.689

Abstract

Introduction:Vaginismus is a recurrent or persistent spasm of the muscles of the outer third of the vagina that interferes with coitus. The diagnosis of vaginismus is challenging since it requires the exclusion of possible organic comorbidities. Vaginismus needs to be differentiated from dyspareunia. This article comprehensively discusses the approach to diagnosis and management of vaginismus and highlights its differences from dyspareunia.Methods: A literature search was conducted in PubMed®, ScienceDirect, and Google Scholar databases on February 7–8, 2024, using Boolean combinations of the specified keywords. No specific timeframe was used. Editorials, commentaries, and articles other than written in English and Indonesian were excluded.Results: The review found that vaginismus is characterized by involuntary pelvic floor muscle contractions and significant anxiety towards penetration, which is diagnosed mainly through patient history and physical examination. In contrast, dyspareunia encompasses a wider range of pain, which may be superficial or deep and can result from various physiological or psychological factors. Differentiating between the two conditions requires a detailed clinical interview, physical examination, and possibly additional tests to identify the specific cause.Conclusion: Treatment for vaginismus focuses on reducing fear and pelvic muscle spasms, while dyspareunia focuses on addressing the underlying cause and pain management.Pendekatan Diagnosis pada Vaginismus dan Cara Membedakannya dengan DispareuniaAbstrakPendahuluan: Vaginismus adalah spasme otot-otot sepertiga bagian luar vagina yang berulang atau terus-menerus dan mengganggu koitus. Diagnosis vaginismus menantang dan memerlukan eksklusi kemungkinan komorbiditas organik. Vaginismus perlu dibedakan dengan dispareunia. Artikel ini membahas pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan vaginismus secara komprehensif dan menyoroti perbedaannya dengan dispareunia.Metode: Pencarian literatur dilakukan di basis data PubMed®, ScienceDirect, dan Google Scholar pada tanggal 7 – 8 Februari 2024 dengan menggunakan kombinasi Boolean dari kata kunci yang ditentukan. Tidak ada jangka waktu tertentu yang digunakan dalam pencarian artikel untuk tinjauan literatur ini. Editorial, komentar, dan artikel yang tidak berbahasa Inggris dan Indonesia tidak disertakan.Hasil: Tinjauan menunjukkan bahwa vaginismus ditandai oleh kontraksi involunter otot dasar panggul serta kecemasan signifikan terhadap penetrasi. Diagnosis utama didasarkan pada riwayat pasien dan pemeriksaan fisik. Sebaliknya, dispareunia mencakup spektrum nyeri, baik superfisial maupun dalam, yang dapat dipicu oleh berbagai faktor fisiologis atau psikologis. Untuk membedakan kedua kondisi tersebut, diperlukan wawancara klinis yang mendetail, pemeriksaan fisik, dan tes tambahan guna mengidentifikasi penyebab spesifik.Kesimpulan: Terapi untuk vaginismus berfokus pada pengurangan rasa takut dan spasme otot panggul, sedangkan dispareunia berfokus pada penanganan penyebab yang mendasari dan manajemen nyeri.Kata kunci: Diagnosis, dyspareunia, tatalaksana, vaginismus