Siti Aisah
Universitas Muhammadiyah Semarang

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Efektivitas Intervensi Personal Care terhadap Manajemen Diri Pasien Diabetes: Systematic literature review Siti Linda Ariska; Satriya Pranata; Siti Aisah; Tri Hartiti; Rahayu Astuti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.48854

Abstract

Latar belakang: Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronis berupa gangguan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah di atas kisaran normal dan merupakan 10 penyebab kematian teratas di dunia. Perawatan mandiri (selfcare) merupakan sebuah tindakan mengupayakan orang lain untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki agar dikembangkan secara maksimal, sehingga seseorang dapat mempertahankan fungsi yang optimal. Metode: Systematic literature review menggunakan pendekatan PRISMA. Database yang digunakan yaitu google scholar, semantic scholar, pubmed, proquest dan sciencedirect terbatas publikasi 5 tahun terakhir yaitu tahun 2021-2025. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian yaitu “edukasi” AND “manajemen diri” AND “diabetes”. Systematic review ini menggunakan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil: Dari 160 artikel, terpilih 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa dari semua artikel yang ditinjau dalam penelitian ini semuanya menunjukkan adanya efektivitas personal care terhadap manajemen diri pasien diabetes, yang mana terjadi perubahan antara sebelum intervensi dan setelah intervensi. Kesimpulan: Intervensi personal care efektif dalam meningkatkan manajemen diri pasien diabetes Kata kunci: Personal care, Manajemen diri, Diabetes
Analisis Konsep Kewaspadaan Klinis Perawat ICU Failasuf Wibisono; Eni Isriani; Siti Aisah; Satriya Pranata; M. Fatkhul Mubin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53032

Abstract

Kewaspadaan klinis perawat ICU merupakan elemen fundamental dalam perawatan pasien kritis, yang memungkinkan deteksi dini perubahan kondisi, pengambilan keputusan tepat, dan peningkatan keselamatan pasien di lingkungan intensif yang dinamis. Penelitian menunjukkan perawat berpengalaman memiliki akurasi deteksi sepsis 30% lebih tinggi, meskipun faktor seperti shift panjang menurunkan tingkat kewaspadaan. Tujuan : Analisis ini bertujuan mengklarifikasi definisi, atribut, antecedent, konsekuensi, serta implikasi kewaspadaan klinis perawat ICU untuk mendukung pengembangan intervensi berbasis bukti yang meningkatkan praktik keperawatan intensif. Metode Walker and Avant (2018) diterapkan melalui delapan langkah sistematis, meliputi identifikasi penggunaan konsep dari kamus dan literatur, penentuan atribut (pemantauan sistematis, pengenalan pola, dll.), analisis antecedent-konsekuensi, kasus model/borderline/terkait/sebaliknya, serta referensi empiris dari studi terkini. Kewaspadaan klinis didefinisikan sebagai kemampuan mempertahankan perhatian berkelanjutan, mendeteksi perubahan dini, dan merespons cepat; antecedent mencakup pendidikan ICU, pengalaman >2 tahun, staffing optimal; konsekuensi meliputi penurunan komplikasi 30% dan mortalitas; model konsep dihasilkan dari kasus empiris, didukung survei vigilance skor 3,86/5. Model konsep ini memperkuat pemahaman aplikatif kewaspadaan klinis, mendorong pelatihan simulasi, instrumen pengukuran seperti Nursing Vigilance Scale, dan kebijakan rumah sakit untuk outcome pasien optimal. Clinical vigilance of ICU nurses is a fundamental element in the care of critically ill patients, enabling early detection of changes in patient conditions, accurate decision-making, and enhanced patient safety in a dynamic intensive care environment. Research indicates that experienced nurses have a 30% higher accuracy rate in detecting sepsis, although factors such as prolonged shifts may decrease levels of vigilance. Objective: This analysis aims to clarify the definition, attributes, antecedents, consequences, and implications of clinical vigilance among ICU nurses to support the development of evidence-based interventions that improve intensive nursing practice. Methods: The Walker and Avant (2018) concept analysis method was applied through eight systematic steps, including identifying concept usage from dictionaries and literature, determining attributes (systematic monitoring, pattern recognition, etc.), analyzing antecedents and consequences, constructing model/borderline/related/contrary cases, and incorporating empirical references from recent studies. Clinical vigilance is defined as the ability to maintain sustained attention, detect early changes, and respond rapidly; antecedents include ICU education, more than two years of experience, and optimal staffing; consequences involve a 30% reduction in complications and mortality; the conceptual model was developed from empirical cases, supported by vigilance survey scores of 3.86/5. This conceptual model strengthens the practical understanding of clinical vigilance, promoting simulation-based training, measurement instruments such as the Nursing Vigilance Scale, and hospital policies to optimize patient outcomes
Analisa Konsep Adaptasi Pasien dengan Gangguan Kecemasan Pasca Operasi Berdasarkan Teori Adaptasi Roy Gusana Prinda Erawati; Annisa Shalma Ginar Pradani; Aric Vranada; Siti Aisah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53352

Abstract

Gangguan kecemasan pasca operasi merupakan respon psikologis yang umum dialami pasien setelah menjalani tindakan pembedahan. Kecemasan yang tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi proses penyembuhan, meningkatkan nyeri, memperpanjang lama rawat inap, serta menghambat adaptasi fisiologis dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep adaptasi pasien dengan gangguan kecemasan pasca operasi berdasarkan teori Adaptasi Roy menggunakan pendekatan analisis konsep Walker dan Avant. Delapan tahapan analisis dilakukan untuk mengidentifikasi atribut, antecedent, konsekuensi, serta mendefinisikan konsep secara operasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa adaptasi pasien pasca operasi ditandai dengan kemampuan mengendalikan respon emosional, stabilitas fisiologis, penerimaan diri, serta dukungan sosial dan spiritual yang memadai. Atribut utama yang teridentifikasi meliputi respon fisiologis stabil, kontrol emosional, koping efektif, dukungan sosial, dan penerimaan terhadap kondisi pasca operasi. Konsep adaptasi ini dapat digunakan sebagai dasar dalam penyusunan intervensi keperawatan yang berfokus pada peningkatan kemampuan adaptasi dan pengurangan kecemasan pada pasien pasca operasi. (Walker & Avant, 2018; Alligood, 2022). Postoperative anxiety is a common psychological response experienced by patients following surgical procedures. Poorly managed anxiety may negatively impact recovery by increasing pain perception, prolonging length of stay, and hindering both physiological and psychological adaptation. This study aims to analyze the concept of patient adaptation with postoperative anxiety based on Roy’s Adaptation Model using Walker and Avant’s concept analysis approach. Eight stages of analysis were conducted to identify defining attributes, antecedents, consequences, and to establish an operational definition of the concept. The analysis revealed that adaptation in postoperative patients is characterized by the ability to regulate emotional responses, maintain physiological stability, achieve self‐acceptance, and receive adequate social and spiritual support. The main defining attributes include stabilized physiological responses, emotional regulation, effective coping, social support, and acceptance of postoperative conditions. This conceptualization of adaptation may serve as a foundation for nursing interventions focused on enhancing adaptive responses and reducing anxiety among postoperative patients (Walker & Avant, 2018; Alligood, 2022).
Persepsi Caring Pada Multikultural Pasien: Analisis Konsep (Caring Perception Among Multicultural Patients: A Concept Analysis) Livia Baransyah; Khofifatuz Zahroh; Aric Vranada; Siti Aisah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53449

Abstract

Persepsi Caring Pada Multikultural pasien merupakan inti dari praktik keperawatan yang melibatkan kemampuan teknis dan empati untuk memenuhi kebutuhan pasien secara menyeluruh. Dalam lingkungan pelayanan kesehatan yang semakin multikultural, pasien memiliki latar belakang nilai, kepercayaan, bahasa, dan pengalaman kesehatan yang berbeda-beda. Variasi budaya tersebut memengaruhi cara pasien memahami, menilai, dan merespons perilaku caring yang ditunjukkan oleh perawat. Pemahaman yang kurang terhadap perbedaan persepsi caring dapat berdampak pada rendahnya kepercayaan, keselamatan, dan kepuasan pasien. Tiga Atribut kunci yang menentukan diantaranya: “Pemahaman caring berdasarkan tingkat pendidikan pasien, Faktor usia dalam penilian caring, dan Pengalaman pasien dalam menerima perilaku caring”. Analisis antecenden mencakup Pengetahuan dan keterampilan, Rasa hormat, Keyakinan/Penjaminan, dan Keterhubungan. Konsekuensi yang diidentifikasi adalah Kepercayaan, Kepuasaan, Keselamatan pasien, dan Layanan berkualitas terbaik. Persepsi caring pada pasien multikultural menunjukkan perbedaan yang dipengaruhi oleh nilai dan pandangan budaya. Perawat perlu mengintegrasikan kompetensi budaya dalam praktik caring untuk mendukung pelayanan yang berpusat pada pasien, meningkatkan keselamatan, serta memperkuat hubungan terapeutik antara perawat dan pasien. Proses ini berpotensi untuk meyakinkan pasien agar lebih percaya terhadap pelayanan yang diberikan oleh tenaga Kesehatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan persepsi dalam pelayanan Kesehatan. Caring Perception Among Multicultural Patients. Caring is at the core of nursing practice, which involves technical ability and empathy to meet the needs of patients holistically. In an increasingly multicultural healthcare environment, patients have different backgrounds of values, beliefs, languages, and health experiences. These cultural variations affect the way patients understand, assess, and respond to caring behaviors exhibited by nurses. A lack of understanding of differences in caring perceptions can have an impact on low patient trust, safety, and satisfaction. Three key attributes that determine are identified: "understanding of caring based on the level of education of the patient, age factor in the care study, and the patient's experience in accepting caring behavior". The anteante analysis includes "Knowledge and skill, Respectfulness, Assurance, Connectedness". Consequences are defined according to "Trust, Satisfaction, Patient Safety, Top Quality Services". The perception of caring in multicultural patients shows differences influenced by cultural values and views. Nurses need to integrate cultural competencies in caring practices to support patient-centered care, improve safety, and strengthen therapeutic relationships between nurses and patients. This process has the potential to convince patients to have more trust in the services provided by health workers, so that they can increase knowledge perception in health services.
Analisis Konsep Dukungan Keluarga di Unit Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Berdasarkan Patient and Family-Centered Care Ade Rahmah Yulia; Dian Prestiyowati; Satriya Pranata; Siti Aisah; M. Fatkul Mubin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53477

Abstract

Paradigma keperawatan intensif telah bergeser dari model biomedis–teknosentris menuju patient and family-centered care (PFCC) yang menempatkan keluarga sebagai mitra aktif dalam komunikasi, asuhan, dan pengambilan keputusan. Meskipun bukti global terus berkembang, kejelasan konseptual tentang “dukungan keluarga” dalam kerangka PFCC di ICU Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan merumuskan definisi konseptual dan operasional dukungan keluarga sebagai mitra dalam asuhan keperawatan kritis, mengidentifikasi atribut, antecedent, dan konsekuensi, serta menyusun indikator empiris untuk pengukuran dan integrasinya dalam praktik ICU. Analisis konsep dilakukan dengan pendekatan delapan langkah Walker dan Avant melalui sintesis bukti dari penelitian kuantitatif, kualitatif, dan campuran, uji klinis, serta telaah sistematis dan meta-analisis tentang PFCC dan partisipasi keluarga di ICU dewasa yang terbit tahun 2020–2025. Teridentifikasi lima atribut utama dukungan keluarga: (1) komunikasi terapeutik dan kolaboratif, (2) kehadiran fisik–emosional, (3) partisipasi aktif dalam perawatan dan pengambilan keputusan, (4) keterhubungan berbasis teknologi, serta (5) orientasi pada kebutuhan emosional, informasi, dan rasa aman pasien–keluarga. Atribut-atribut tersebut berhubungan dengan penurunan delirium, durasi ventilasi, dan lama rawat ICU, serta peningkatan kepuasan, kualitas komunikasi, dan kesejahteraan psikologis keluarga. Dukungan keluarga di ICU merupakan kemitraan terstruktur antara keluarga dan tim kesehatan yang meliputi komunikasi, kehadiran, partisipasi, dan pengambilan keputusan bersama. Model ini menjadi dasar teoritis bagi pengembangan kebijakan dan intervensi keperawatan ramah keluarga di Indonesia. The paradigm in intensive care nursing has shifted from a biomedical–technocentric model to patient- and family-centered care (PFCC), emphasizing the family as an active partner in communication, care, and decision-making. Despite growing global evidence, conceptual clarity of “family support” within the PFCC framework in Indonesian ICUs remains limited. This study aimed to formulate a conceptual and operational definition of family support as a partner in critical care nursing, identify its defining attributes, antecedents, and consequences, and develop empirical indicators for its measurement and integration into ICU practice. A concept analysis was conducted using Walker and Avant’s eight-step approach, synthesizing evidence from quantitative, qualitative, and mixed-method studies, clinical trials, and systematic reviews on PFCC and family participation in adult ICUs published between 2020–2025. Five core attributes of family support were identified: (1) therapeutic and collaborative communication, (2) physical–emotional presence, (3) active participation in care and decision-making, (4) technology-mediated connectedness, and (5) orientation to emotional, informational, and safety needs. These attributes were linked with reduced delirium incidence, shorter ventilation duration and ICU stay, improved satisfaction and communication quality, and enhanced family psychological well-being. Family support in the ICU is a structured partnership between families and the healthcare team encompassing communication, presence, participation, and shared decision-making. This conceptual model provides a theoretical foundation for developing evidence-based, family-friendly ICU policies and nursing interventions within the Indonesian critical care context.