Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Aplikasi Budidaya Ikan Nila Tunggal Kelamin Pada Pokdakan Desa Karangnangka Kabupaten Banyumas Dian Bhagawati; Farida Nur Rachmawati; Siti Rukayah
JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 1 No 3 (2020)
Publisher : Politeknik Dharma Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v1i3.355

Abstract

Hasil budidaya ikan nila pada pembudidaya ikan di Desa Karangnangka kurang optimal karena dilakukan dengan cara polikultur dan mixed sex. Solusi yang diambil untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan pelatihan pembuatan benih nila jantan untuk budidaya satu jenis. Metode pelaksanaan kegiatan bersifat partisipatif dengan tahapan kegiatan yaitu 1) persiapan, 2) pelaksanaan pelatihan, 3) evaluasi, dan 4) keberlanjutan. Kegiatan praktek dan pembuatan demplot dilakukan dengan melatih khalayak sasaran untuk memilih benih jantan dan betina, kemudian membesarkan secara terpisah untuk benih jantan dan betina dan membesarkannya secara seksual di kolam tanah selama enam minggu dengan menggunakan pakan pelet komersial. Seleksi kelamin dilakukan setelah biji memiliki panjang total 6 cm dan sebelum mencapai 12 cm. Hasil demplot menunjukkan bahwa benih ikan nila yang dipelihara dengan satu kelamin jantan memberikan hasil terbaik.
KUALITAS PAKAN FERMENTATIF BERBAHAN KULIT UBI KAYU DENGAN INOKULAN MEP+ UNTUK KULTUR IKAN NILA GESIT (Oreochromis niloticus L.) Cahiadir Ali Akbar; Sukanto Sukanto; Siti Rukayah
Scripta Biologica Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.502 KB) | DOI: 10.20884/1.sb.2014.1.2.440

Abstract

Feed is a major component in fish farming. However, the relatively high price of feed is very burdensome for fish farmers. Therefore a relatively low-cost solution is needed to address that problem. The use of local materials such as bran, waste mushroom, tofu, onggok starch, and skin cassava can be utilized as an alternative to reduce the needs of imported materials. However, the local materials have constraints regarding nutrition and digestibility, so an appropriate technology is required to overcome this. Improving the quality of the feed can be done by fermentation. Fermentation works by breaking macromolecules such as carbohydrates and amino acids into micromolecules, so the absorption of feed nutrients in the fish intestines become more efficient. The use of inoculants MEP+ aimed to improve the digestibility of feed, detoxification and increased the productivity of tilapia GESIT (Oreochromis niloticus). This study aimed to determine the effect of fermentation on enhancing the quality of feed nutrients made from cassava skin chips by the application of inoculant MEP+. The study was carried out experimentally using a complete randomized design. The independent variable in this study was the type of feed. Observed dependent variable was feed quality. The main parameter measured was the proximate level. Supporting parameter was the growth of tilapia GESIT. The results showed a progressive increase in the levels of nutrients of feed fermented in each treatment. The increments were recorded in treatment A from 16.15 became 21.64, in B from 13.21 became 15.46, in C from 9.66 became 11.53, and in D from 8.34 became 9.87. This result implies that the use of MEP+ fermentation inoculants could boost the nutritional content of food, with an average of the increment value of 11-15%. The increment of nutrient contents in each treatment was also affected the weight gain of fish although no significant difference were observed.
Ikan Introduksi Oxyeleotris marmorata, Bleeker (1852): Populasi, Laju Exploitasi dan Pengendaliannya di Waduk Sempor, Kebumen Windiariani Lestari; Siti Rukhayah; Tutilah Jamilatun
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 36, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.173 KB) | DOI: 10.20884/1.mib.2019.36.3.823

Abstract

Oxyeleotris marmorata Bleeker or marble goby originally from China and is introduced to Indonesia in 1927. This predator fish could be a threat to freshwater fish diversity, thus its population should be controlled. In order to support their control efforts, this research attempted to evaluate the population size and exploitation rate of O.marmorata in Sempor Reservoir, Kebumen. Survey with purposive random sampling were applied by dividing the Sempor Reservoir into three parts (inlet, middle and outlet) and each part was represented by two sites. The population sizes of fish were analyzed using F-test and the exploitation rates of O.marmorata were analyzed using FiSAT II. The result shown that the population sizes of O.marmorata in inlet, middle and outlet were is different. (Fcal= 7.544 with P= 0.03). The fish population in middle possessed L∞ = 39.06, K = 2.0 and t0 = -0.44, and fish population in outlet with properties L∞ = 37.59, K = 2.1, and t0 = -0.42. The growth patterns of O.marmorata in both parts were relatively similar. The mortality of O.marmorata in the middle part was more caused by fishing activities, meanwhile in the outlet, the mortality occurred naturally. The exploitation rate in middle (E= 0.55) and in outlet parts (E=0.10). It seems that the middle part of Sempor Reservoir was 5 times more exploited than in the outlet part. Population control could be conducted by fishing O marmorata with 13.38-17.30 cm in length in outlet part and fishing (E) should not more than 0.5.
Biologi Reproduksi Ikan Gabus (Channa striata bloch, 1793) yang Tertangkap di Waduk PB. Soedirman, Kabupaten Banjarnegara) Nur Anisa; Norman Arie Arie Prayogo; Siti Rukayah; W. Lestari
MAIYAH Vol 1 No 1 (2022): Maiyah : Vol.1 No.1 Maret 2022
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.732 KB) | DOI: 10.20884/1.maiyah.2022.1.1.6631

Abstract

Ikan gabus (Channa striata Bloch, 1793) sangat dikenal di Indonesia karena sering dikonsumsioleh masyarakat. Tingginya permintaan ikan gabus, menjadikan nelayan sering melakukanpenangkapan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan berdasarkan informasi dari aspekbiologi, salah satunya mengenai reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspekreproduksi meliputi nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks gonadosomatik(IGS), fekunditas, diameter telur dan ukuran pertama kali matang gonad ikan gabus di Waduk PBSoedirman, Banjarnegara. Penelitian dilakukan pada bulan November 2020 – Juni 2021. Metodepenelitian yang digunakan adalah metode survei. Pengambilan data primer dilakukan denganteknik purposive random sampling. Sampel ikan gabus yang didapatkan selama penelitiansebanyak 64 ekor. Nisbah kelamin selama penelitian 1:0,37. Tingkat kematangan gonad pada ikangabus jantan I-II, sedangkan ikan gabus betina berada pada TKG I-IV. Nilai IGS jantan 0,003-0,62% dan IGS betina 0,04-2,60%. Nilai fekunditas berkisar 275-22.722 butir telur dengan kisarandiameter telur 0,08-1,51 mm. Ukuran pertama kali matang gonad ikan gabus betina yaitu 33 cm.
Aspek Reproduksi Spesies Asli Ikan Palung (Hampala macrolepidota C.V. 1823) Di Waduk PB. Soedirman Banjarnegara, Jawa Tengah niki oktavia angkasawan; Isdy Sulistyo; Siti Rukayah; Windiariani Lestari
MAIYAH Vol 1 No 1 (2022): Maiyah : Vol.1 No.1 Maret 2022
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.924 KB) | DOI: 10.20884/1.maiyah.2022.1.1.6633

Abstract

Penelitian ini berjudul “Aspek Reproduksi Spesies Asli Ikan Palung (Hampala macrolepidota C.V.1823) Di Waduk PB. Soedirman Banjarnegara, Jawa Tengah” telah dilakukan. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui aspek reproduksi meliputi rasio kelamin, indeks gonado somatik, ukuranpertamakali matang gonad, fekunditas, dan diameter telur ikan palung di Waduk. Pengambilansampel yaitu pada bulan November 2020 - November 2021, alat tangkap penelitian ini adalah gill netpanjang 30 m, lebar 3 m. Jumlah ikan hasil tangkapan sebanyak 60 ekor dengan jantan 54 ekor danbetina 6 ekor, hasil rasio kelamin ikan palung 9 : 1. IGS jantan (0,01 – 1,54%) lebih rendah dibandingbetina (0,02 – 13,91%). Ukuran pertamakali matang gonad jantan (24,95 cm) lebih pendek dibandingbetina (39,54 cm). Fekunditas bulan April 2021 ikan berukuran panjang 20,7 cm, berat 142 g yaitu30.612 butir dan bulan November 2021 ikan berukuran panjang 44 cm, berat 1335 gr yaitu 60.036butir. Diameter telur bulan April 2021 yaitu 0,715 – 1,128 mm dan bulan November 2021 yaitu 0,542– 1,059 mm.
POTENSI WISATA WADUK PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN KABUPATEN BANJARNEGARA G Manggara; LK Sari; S Rukayah; W Lestari
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 10 (2022)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waduk Panglima Besar Soedirman adalah waduk yang berada di Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah yang memiliki potensi sebagai destinasi wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidenti ikasi daya tarik objek wisata kawasan Waduk Panglima Besar Soedirman. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara, studi pustaka dan studi dokumen. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan dua metode yaitu analisis kuantitatif deskriptif dan metode penilaian kelayakan ekowisata dengan kriteria penilaian menurut Pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) dirjen PHKA tahun 2003 sesuai dengan nilai yang telah ditentukan untuk masing – masing kriteria. Hasil penelitian menunjukan bahwa di kawasan waduk memiliki potensi objek wisata berupa tempat olahraga, perikanan meliputi perikanan tangkap dan perikanan budidaya serta keindahan panorama alam seperti hamparan air yang luas dikelilingi perbukitan. Memiliki keragaman jenis ikan meliputi betutu (Oxyeleotris marmorata), louhan (Amphilophus trimaculatus), nila Gift (Oreochromis niloticus), mujair (Oreochromis mossambicus), nilem (Osteochilus hasselti), dan gabus (Channa striatus) yang hidup di waduk Kawasan tersebut layak untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata karena memiliki nilai lebih dari 66,6% yaitu dengan indeks kelayakan rata-rata presentase kelayakan 79%.
Diversitas, Deskripsi Tumbuhan dan Sumber Pakan Alami Monyet Ekor Panjang di Perbukitan Kebasen, Banyumas Kusuma, Tegar; Hidayah, Hexa Apriliana; Nasution, Erie Kolya; Hakim, Rosyid Ridlo Al; Rukayah, Siti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i2.5174

Abstract

Keanekaragaman tumbuhan merupakan tumbuh-tumbuhan yang terdiri atas beberapa spesies hidup bersama pada suatu tempat. Keberadaan tumbuhan sebagai tempat bernaung saat hujan, tempat berlindung dari pemangsa, dan sumber pakan bagi primata. Monyet ekor panjang ditemukan di Perbukitan Kebasen, Banyumas yang merupakan habitat alami dan menjadi sumber pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan sebagai pakan monyet ekor panjang. Metode penelitian dengan survei dengan teknik sampling secara transek dan menghitung indeks keanekaragaman (H'). Hasil penelitian diketahui spesies tumbuhan yang tumbuh sebanyak 52 spesies dari 37 familia dengan total 310 individu. Indeks keanekaragaman (H') tumbuhan yang diperoleh pada tingkat pohon sebesar 2,52 atau keanekaragaman spesies sedang, tingkat pancang sebesar 1,79 atau keanekaragaman spesies sedang, dan tingkat semai sebesar 2,66 atau keanekaragaman spesies sedang. Tumbuhan yang dimanfaatkan monyet ekor panjang sebagai pakan sebanyak 15 spesies dari 12 familia. Tumbuhan tersebut meliputi sirsak (Annona muricata), pulai (Alstonia scholaris), pinang (Areca catechu), berenuk (Crescentia cujete), ketapang (Terminalia catappa), keruing (Dipterocarpus verrucosus), ajan kelicung (Dyospyros macrophylla), angsana (Pterocarpus indicus), saga (Adenanthera pavonina), melinjo (Gnetum gnemon), waru (Hibiscus tiliaceus), ilat-ilatan (Ficus callosa), beringin (Ficus benjamina), keming (Ficus microcarpa), dan kelat jambu (Syzygium grande). Bagian-bagian yang dimakan meliputi daun, daun muda, dan buah. 
A Review of Bioinformatics for Primatologists: A Note for Reducing Living Primate Model and Supporting the Conservation Al Hakim, Rosyid Ridlo; Nasution, Erie; Rukayah, Siti; Putri, Esa; Riani, Sri
Journal of Advanced Health Informatics Research Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Peneliti Teknologi Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59247/jahir.v1i1.1

Abstract

The problem is that bioinformatics, as a part of health informatics, plays a role in studying molecular things and genetic studies. Primatologists who studied primates, as well as non-human primates (NHPs), found a dilemma relating to biomedical studies and conservation. Which one to achieve, the goal of being a model animal or their conservation efforts, of course, has very few boundaries. The solution in this study tries to review how to seek to reduce the quantity of NHPs model animals but not reduce their quality, on the other hand, considerations of conservation efforts. The research contribution in this paper proposed authors' perspectives according to the context of the NHPs model as well as conservation efforts, which are considered for dry or wet materials, which means that the genetic resources come. This study would give the 3Rs principle idea, reducing, which contributes to its conservation efforts. This review method used literature surf, scientific selection, and report writing. The result proposed the discussion about related scientific sources as well as the authors' perspective to solve the problem of animal model uses in NHPs. The conclusion is that NHPs are fortunate to receive special attention outside their studies as animal models, even though they are still used in research to benefit humans. Of course, the benefits and drawbacks of using genetic samples—whether wet or dry—are only relevant when used as research materials for medical and bioinformatics investigations. So that there are no more instances of increasing conservation status brought on by the volume of research on the use of model animals, efforts to conserve NHPs as a component of wildlife in nature must be considered.
Stereotype and abnormal behaviour in Macaca fascicularis captive: Towards good environmental enrichment for its sustainability Nasution, Erie; Al-Hakim, Rosyid; Rukayah, Siti
JURNAL RISET RUMPUN ILMU HEWANI Vol. 1 No. 2 (2022): Oktober : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Hewani
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.683 KB) | DOI: 10.55606/jurrih.v1i2.551

Abstract

Stereotypes and abnormal behaviour (SAB) exhibited by long-tailed macaques (LTMs) have attracted the attention of behavioural study, although caused by many factors. Mostly found in captivity, it can also occur in the natural environment. This study aims to review several scientific articles on SAB in LTMs, as well as for environmental enrichment conditions. This study used a web-based survey to collect all scientific publications related to SAB in LTMs with a statistical correlation test to determine the cost of individuals' needs as an animal model for the research and the regression test to determine the effects of the number of individuals observed, as well as SAB types in LTMs. This study used two variables: the number of individuals and SAB types and sorted by rank. The statistical correlation result shows that the cost of individuals' needs as an animal model for the research and publication's year is positive correlate. The regression test result shows that the total number of individuals observed is significantly different (p-value<0.05, one-tailed) between SAB types. The primary goal of stimulating environmental enrichment is to give pleasant options for animals based on the treatment object in the study supplied while emphasising animal welfare and promoting research effectiveness.
Struktur Populasi dan Laju Eksploitasi Ikan Nilem (Osteochilus Vittatus Valenciennes, 1842) di Aliran Sungai Logending, Kebumen Hazmi, Muhammad Zikri; Rukayah, Siti; Sastranegara, Moh. Husien; Lestari, W.
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.16662

Abstract

Ikan nilem (Osteochillus vittatus Valenciennes, 1842) adalah anggota familia Cyprinidae yang tersebar di daerah Asia termasuk Asia Tenggara. Di Pulau Jawa ikan nilem dapat ditemukan di beberapa sungai seperti Sungai Banjaran, Sungai Cimanuk dan Sungai Brantas. Pengetahuan mengenai aspek ekologi O. vittatus sangat diperlukan untuk upaya pelestariannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur populasi (kelimpahan, sebaran panjang dan bobot) serta menentukan laju eksploitasi O. vittatus di Sungai Logending. Penelitian ini dilakukan di Sungai Logending Kebumen menggunakan metode survei dan teknik purposive random sampling. Sungai Logending dibagi ke dalam 10 stasiun dengan alasan kemudahan akses masuk kedalam sungai dan pengalaman nelayan mendapat ikan. Pengambilan dilakukan 2 kali dengan interval waktu satu bulan. Hasil penelitian ini menunjukan hasil kelimpahan O. vittatus di kesepuluh stasiun berfluktuasi dan cenderung meningkat ke arah muara sungai, akan jumlah individu ikan antarstasiun tidak berbeda secara signifikan (H = 2,33 ; p > 0,05). Analisis sebaran panjang dan bobot didapat panjang maksimal 164 mm dan panjang minimum 37 mm secara berturut di Stasiun 2 dan Stasiun 10, Ikan dengan bobot maksimal 53,15 g diperoleh di Stasiun 2, ikan dengan bobot minimal 0,22 g diperoleh di Stasiun 10. Sebaran panjang dan bobot O. vittatus menunjukkan bahwa struktur populasi ikan di Sungai Logending masih tergolong sehat, ditandai oleh proporsi ikan benih, ikan matang gonad, dan ikan tua masing-masing sebesar 54,8%, 32,5%, dan 12,7%, tetapi hasil analisis ELEFAN 1 menunjukkan bahwa panjang tangkap pertama (Lc) ikan nilem adalah 49 cm, yang lebih pendek dibandingkan panjang pertama ikan matang gonad (Lm), sehingga mencerminkan bahwa praktik pengusahaan sumber daya ikan belum optimal. Analisis nilai mortalitas penangkapan (F), mortalitas alami, mortalitas total dan laju eksploitasi. berdasarkan analisis program FISAT II adalah 1,22; 1,55; 2,77; dan 0,44 per tahun menunjukkan ikan nilem belum mengalami overfishing.