Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : AL KAUNIYAH

Keragaman Fenotipik Bunga Telang Double Petal Asal Indonesia dan Thailand Berdasarkan Morfologi Bunga Virda Aziza; Trixie Almira Ulimaz; Debby Ustari; Tarkus Suganda; Vergel Concibido; Budi Irawan; Agung Karuniawan
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 14, No 1 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v14i1.15558

Abstract

AbstrakBunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman legum yang bagian bunganya telah banyak dimanfaatkan. Double petal adalah salah satu varian spesies bunga telang yang banyak ditemukan di Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman fenotipik plasma nutfah bunga telang double petal asal Indonesia (Bali, Jawa Barat, dan Jawa Timur) dan Thailand berdasarkan morfologi bunga. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Data morfologi dianalisis menggunakan analisis multivariat berupa Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis) dan Analisis Klaster (Cluster Analysis) dengan bantuan program NTSYS 2.1. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima komponen utama yang berpengaruh terhadap keragaman aksesi dengan persentase keragaman kumulatif 88,82%. Karakter tipe bunga, susunan mahkota bunga, keberadaan lunas, tipe benang sari, dan posisi kepala putik memberi pengaruh terbesar terhadap keragaman aksesi. Analisis klaster membagi aksesi-aksesi tersebut menjadi dua klaster dengan koefisien ketidakmiripan 3,01–6,83. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bunga telang double petal asal Indonesia dan Thailand memiliki keragaman yang luas dan kekerabatan yang jauh; aksesi asal Bali memiliki morfologi bunga dan klaster yang berbeda dengan aksesi asal Jawa Barat, Jawa Timur, dan Thailand. Informasi ini akan bermanfaat dalam merencanakan pengelolaan plasma nutfah dan pemuliaan bunga telang double petal. Abstract Butterfly pea (Clitoria ternatea L.) is a legumeplant of which flower parts are widely used. One of butterfly pea variant is double petal which commonly found in Southern Asia. This study aimed to evaluate phenotypic diversity of double petal butterfly pea germplasm from Indonesia (Bali, West Java, and East Java) and Thailand based on flower morphology. The experiment was arranged in randomized complete blocks design with three replications. Morphology data were subjected to multivariate analysis using Principal Component Analysis and Cluster Analysis and performed by NTSYS 2.1. The result showed that there were five significant principal components that cumulatively explained 88.82% of variance. Existence of keel, aestivation type, position of stigma, type of stamen, and flower type gave high contributions to the diversity of accessions. Cluster analysis grouped the accessions into two clusters with dissimilarity coefficient from 3.01–6.83. From the results, it can be concluded that double petal butterfly pea from Indonesia and Thailand have wide diversity and genetic relationship; the accessions from Bali have different flower morphology and cluster compared to the accessions from East Java, West Java, and Thailand. The information will help planning management of the germplasm and breeding double petal butterfly pea.
PENGARUH POLYETHYLENE GLYCOL (PEG) TERHADAP KADAR KUERSETIN KULTUR KALUS Chrysanthemum morifolium Ramat PADA KONDISI PENCAHAYAAN BERBEDA Tia Setiawati; Syifa Fauzia Zazuli; Annisa Annisa; Mohamad Nurzaman; Budi Irawan
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 13, No 1 (2020): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3713.676 KB) | DOI: 10.15408/kauniyah.v13i1.13688

Abstract

AbstrakKrisan (Chrysanthemum morifolium Ramat) mengandung senyawa kuersetin dengan efek farmakologi yang sangat luas. Penambahan polyethilene glycol (PEG) dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi metabolit sekunder secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh PEG terhadap pertumbuhan kalus krisan dan kadar kuersetin 3-O-rhamnosida pada pencahayaan yang berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Eksplan kalus berumur 45 hari setelah tanam (HST) disubkultur pada media MS + 4 ppm 2,4-D dengan penambahan PEG dalam lima taraf konsentrasi yaitu 0, 10, 20, 30, dan 40 ppm. Kultur diinkubasi pada kondisi gelap dan terang. Parameter yang diamati adalah warna, tekstur, ukuran, berat basah, dan berat kering kalus serta kadar kuersetin 3-O-rhamnosida. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Analisis Varians dan Uji Jarak Berganda Duncan (α 5%), sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus pada kondisi terang berwarna cokelat dan cokelat kehijauan, sedangkan pada kondisi gelap berwarna putih kecokelatan. Perlakuan 10 ppm PEG menghasilkan berat basah dan berat kering kalus tertinggi baik pada kondisi terang maupun gelap berturut-turut 1,97 g dan 2,92 g; 0,94 g dan 1,09 g. Kadar kuersetin 3-O-rhamnosida tertinggi pada kondisi gelap dan terang terdapat pada perlakuan 10 ppm PEG berturut-turut  1,72 µg/g berat kering (BK) dan 2,59 µg/g BK.Abstract Chrysanthemum morifolium Ramat. contains quercetin with very broad pharmacological effects. The addition of PEG can be used to increase the production of secondary metabolites using in vitro method. This study aimed to determine the effect of PEG on the growth of Chrysanthemum callus and quercetin 3-O-rhamnoside content in different lighting conditions. The experimental design used was a Completely Randomized Design. After 45 days, callus were subcultured on MS medium + 4 ppm 2,4-D which PEG was added in five concentration levels (0, 10, 20, 30, and 40 ppm). Culture was incubated in dark and light conditions. Parameters observed were color, texture, size, wet weight and dry weight of callus, also quercetin 3-O-rhamnoside levels. Quantitative data was analyzed using Analysis of Variance and Duncan's Multiple Distance (α 5%). Qualitative data was analyzed descriptively. The results showed that in light condition, the callus has brown and greenish brown color, whereas in dark, it has brownish white color. The 10 ppm PEG treatment produced the highest fresh weight and dry weight in both light and dark conditions of 1.97 g and 2.92 g, 0.94 g and 1.09 g, respectively.The highest quercetin 3-O-rhamnoside content  in dark and light conditions were founded in 10 ppm PEG treatment of 1.72 µg/g dry weight (DW) and 2.59 µg/g DW.