Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Peran Ekosistem Kebudayaan Sebagai Branding Pariwisata Budaya di Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan Lauhil Fatihah; Purnawan Basundoro
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal ALTASIA (Februari)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v8i1.10983

Abstract

Pariwisata di KCBN Trowulan merupakan upaya pemanfaatan warisan budaya yang menggabungkan pelestarian tinggalan arkeologis dengan pengembangan wisata berbasis sejarah dan kebudayaan Majapahit. Meskipun memiliki potensi budaya yang besar, pembentukan branding pariwisata budaya di kawasan ini masih belum optimal karena peran ekosistem kebudayaan belum teridentifikasi secara komprehensif sebagai dasar pembentukan identitas destinasi. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya pemahaman lebih mendalam mengenai bagaimana unsur biotik dan abiotik dalam masyarakat turt berkontribusi dalam memperkuat branding KCBN Trowulan sebagai destinasi budaya. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan mengenai bagaimana ekosistem kebudayaan membentuk branding pariwisata budaya di kawasan ini. Penelitian ini menggunakan data primer dari observasi lapangan dan wawancara dengan pelaku budaya, komunitas lokal, serta instansi pemerintah. Data sekunder diperoleh melalui dokumen resmi, regulasi, dan publikasi ilmiah. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk melihat keterkaitan antara ekosistem kebudayaan dan branding pariwisata. Validitas data diperkuat dengan triangulasi sumber dan metode, sementara hasil disajikan secara naratif dan tematik sebelum dirumuskan kesimpulannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem kebudayaan memiliki peran signifikan dalam membentuk branding pariwisata budaya yang autentik melalui penguatan narasi Majapahit, pelestarian objek pemajuan kebudayaan, dan pemanfaatan cagar budaya sebagai daya tarik utama. Penelitian ini terbatas pada kajian di KCBN Trowulan dengan pendekatan kualitatif sehingga belum dapat digeneralisasikan. Penelitian selanjutnya disarankan memperluas cakupan dan menggunakan metode campuran.
Curating the City: Begandring Soerabaia and the Production of Public Space Mazma De Huwrien'in; Purnawan Basundoro
Jurnal Sosial Humaniora Vol 18 No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24433527.v18i1.22964

Abstract

This paper examines the role of the heritage community of Begandring Soerabaia in the production of public space employing Henri Lefebvre's concept of social space as a theoretical framework. Focusing on the "Parade Oud Soerabaja" photography exhibition held at Balai Pemuda Surabaya, the study explores how historical narratives and archival materials are mobilized to generate immersive, socially meaningful experiences. It argues that Begandring’s initiatives—through cultural programming, community gatherings, and dialogic engagement—actively contribute to the transformation of urban heritage spaces into dynamic sites of memory, identity, and civic interaction. The exhibition is situated within Lefebvre's spatial triad, and this study highlights how Balai Pemuda functions as a living space shaped by historical continuity, cultural exchange, and communal agency. Finally, the paper emphasizes the significance of grassroots heritage activism in reconfiguring public spaces and preserving urban cultural memory
PAKAIAN TRADISIONAL SEDULUR SIKEP DI BOJONEGORO SEBAGAI MEDIUM PEMERTAHANAN BUDAYA DI TENGAH ARUS MODERNISASI Mayani, Fatikha; Samidi, Samidi; Basundoro, Purnawan
Metahumaniora Vol 16 No 1 (2026): METAHUMANIORA, APRIL 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v16i1.63872

Abstract

This study aims to examine how the Sedulur Sikep community preserves its traditional clothing as part of efforts to preserve local culture amid the tide of modernization. This study uses a qualitative approach with literature study and visual observation methods and descriptive interpretive data analysis. Stuart Hall's theory of representation is used to understand how cultural identity is formed and communicated through clothing symbols, while Clifford Geertz's concept of culture as a system of meaning is used to reveal how the Sedulur Sikep community's clothing practices are part of the construction of social values passed down through generations. The research findings indicate that the traditional attire of the Sedulur Sikep community not only serves as a visual identifier of identity but also carries philosophical meanings related to simplicity, equality, and respect for ancestors. Efforts to preserve traditional Samin clothing include wearing it during important events such as community gatherings, weddings, and other cultural activities. Preservation efforts also involve transmitting values to younger generations and through local government policies that support the use of local cultural symbols in formal settings.