Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

KEPUTUSAN WISATAWAN PRANCIS BERLIBUR KE BALI PADA ERA NEW NORMAL Ferhadius Endi; Danang Prasetyo
Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah Vol 15, No 1 (2021): Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study discusses the decision of French tourists on their planned visit to Bali in the new normal era in 2021. This research is a qualitative descriptive study. Data was obtained by means of online interviews and questions and answers via email to 35 potential tourists. Based on the results of research that has been done, it was found that two decisions of French tourists regarding their vacation plans to Bali, namely: (1) Cancellation of tour trips with the consideration of (a) changes in tourist budgets and financial plans, (b) health reasons for tourists, (c) difficulty in managing time, and (d) the uncertainty of the global situation. (2) Delay or reschedule Tour trips. The factors that influence tourists to continue their travel agenda to Bali with a note of rescheduling, namely: (a) Advances that have been paid to travel agents, (b) the need for post-lockdown holidays during 2020, and ( c) vaccination as an effort to protect the tourists from Covid- 19. The hope is that the exposure of the research results can be a reference for researchers, tourism service business actors, and tourists to work together to implement health protocols in all tourism activities for a better Indonesian tourism.Keywords: French Tourists, Bali Tourism, New Normal
PEMANFAATAN MUSEUM SEBAGAI OBJEK WISATA EDUKASI Danang Prasetyo; Toba Sastrawan Manik; Dwi Riyanti
Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah Vol 15, No 1 (2021): Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study is to describe or strengthen the function of the museum as a means of education outside the classroom as part of the co-curricular education program. This program is often referred to as an educational tourism activity. This research is a descriptive qualitative research that uses data collection methods through literature study using various sources such as books, journal articles, and news sources that support the research. Data collection, data processing, and data analysis were carried out from September 2020 to January 2021. The conclusions of this study are: (1) museums have an educational function that must be elaborated and used as a source, media, and place of learning as part of educational co-curricular program. Museums provide open communication about ideas, concepts, information involving exploration and discovery. Museum is a place of learning for 3A (the authentic, the aesthetic, and the accessible). (2) it is necessary to increase the role, quality and professionalism of the teaching staff so that the museum can function effectively and improve the quality of education. (3) it is necessary to have the role of museum managers and related policy makers to optimize the quality and accessibility so that the museum is easily accessible to tourists and is open to educational programs. In addition, innovation is needed in managing museum tourism so that it can attract tourists. Thus, synergy is needed between museum managers as providers and formal educational institutions as users in the use of museums in educational functions.Keywords: Museums, Object Tourism, Education Tourism
KAJIAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI ERA DIGITAL Jeni Danurahman; Danang Prasetyo; Hendra Hermawan
Jurnal Kalacakra: Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 2, No 1 (2021): Januari
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/kalacakra.v2i1.3515

Abstract

Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui pengimplementasian kajian mengenai pendidikan multikultural di era digital, dengan pesatnya teknologi saat ini tentu berdampak pada kondisi pendidikan termasuk pada kajian pendidikan multikultural. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode hukum normatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan konseptual. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah diolah secara kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) mengklasifikasikan data yang didapat kemudian disesuaikan dengan konten yang diangkat; 2) melakukan sistematisasi hasil klasifikasi data; 3) menganalisis data yang telah dilakukan sistematisasi sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan hasil temuan analisis menunjukan bahwa dengan kondisi pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memiliki dampak negatif, maka dari itu pendidikan multikultural dalam hal ini berupaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya peserta didik agar mengetahui tentang nilai-nilai multikultural, yaitu sikap menerima, menghargai, serta menghormati segala bentuk perbedaan. Agar tidak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan seperti radikalisme, rasisme, diskriminatif dan lain sebagainya. 
Analisis Pelaksanaan Mata Kuliah Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi Danang Prasetyo
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29100/jr.v5i2.1104

Abstract

This study aims to determine (1) the policy of implementing the Pancasila Education course in Higher Education, (2) the Pancasila Education teaching material, (3) the supporting resources of the Pancasila Education course, (4) The solution to the implementation of the Pancasila Education course. The study and analysis of Pancasila education in Higher Education is done by emphasizing on three important aspects that have not been much of concern to researchers, observers, and educators. First, the policy aspects related to Pancasila education in Higher Education which undergo various phases of change both through legislative policies, ministerial regulations, and institutional policies carried out by Universities in Indonesia. Second, the teaching material or material aspects used by the lecturers of Pancasila Education courses. Third, aspects of teaching resources or lecturers who teach Pancasila Education courses. The approach taken in this study emphasizes the approach to library research. The method of collecting data is obtained through an inventory of data or documents, then examines data or documents in the form of product policies, legislation, books, scientific journals, newspaper articles, and documents relating to the topic of this study. The results of this study indicate that (1) the Pancasila Education policy in Higher Education must be strengthened again by strengthening the teaching capacity of Pancasila education, and monitoring the consistency of policies applied in each tertiary institution is carried out regularly, (2) standardizing teaching material materials nationally because At present there are many cases of misunderstanding and interpretation of the Pancasila, (3) there needs to be special rules or standardization relating to the recruitment of lecturers of Pancasila Education courses in Higher Education. Keywords:  policy, pancasila education, higher education
Pendidikan Berbasis Budaya Nasional Warisan Ki Hajar Dewantara Dwi Riyanti; Sabit Irfani; Danang Prasetyo
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 4, No 1 (2022): February Pages 1-1600
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.305 KB) | DOI: 10.31004/edukatif.v4i1.1833

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi pendidikan nasional dari prespektif pendidikan yang telah digagas oleh Ki Hajar Dewantara, hal ini karena masih adanya ketidak sesuaian konsep pendidikan yang sesuai dengan karakteristik ke-Indonesiaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian analysis content dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data menggunakan studi kepustakaan terhadap dokumen dan naskah publikasi. Hasil penelitian ini menunjukan era globalisasi menuntut bangsa Indonesia untuk mempersiapkan generasi mudanya dengan kepribadian yang mengakar pada budaya nasioanl Indonesia. Pendidikan berbasis budaya nasional yang diwariskan sudah seharusnya dimunculkan kembali untuk menghadapi masalah kebangsaan yang masih banyak terjadi. Melalui proses pendidikan yang berdasarkan pada ajaran nasionalisme berdasarkan budi pekerti dengan menumbuhkan kecintaan pada tanah air, dengan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan yang ditanamkan secara alamiah dan dengan berpedoman pada nilai-nilai kemanusiaan. Penekanan proses pendidikan ini dengan mengintegrasikan budaya nasional yang sesuai karakteristik karakter kebangsaan dalam hal ini nasionalisme yang berdasarkan budi pekerti untuk mengembangkan rasa cinta tanah air. Proses dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem among dengan menuntun peserta didik untuk tumbuh dengan memiliki kepribadian yang baik, melalui pembiasaan ngerti (mengerti), ngrasa (sadar), dan nglakoni (pencapaian).
Culture of the School Literacy Movement (GLS) for Students in Elementary Schools to Realize the 2045 Golden Generation Lisa Retnasari; Dewi Setyaningrum; Danang Prasetyo
Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran Vol 8, No 1 (2022): March
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.283 KB) | DOI: 10.33394/jk.v8i1.4448

Abstract

This study aims to analyze the culture of the School Literacy Movement (GLS) in elementary school students to realize the 2045 golden generation. This study uses a descriptive method with a qualitative approach. The subjects of this study consisted of principals, teachers, school committees, and students. Data collection techniques using interviews, observation, and document review. Data analysis techniques were carried out by collecting data, reducing data, presenting, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the educational environment at the Lempuyangwangi State Elementary School views literacy culture as an activity that is more than just reading books, but also includes a wider scope of literacy such as mathematical literacy and technological literacy. The GLS cultural program consists of writing guidance, activity competitions to visit the library, literacy celebrations, reading halls, reading in the library, and literacy corners. The success of GLS is supported by good cooperation. Cooperation within internal schools, schools with committees and schools with parents of students. Communication forums are established through regular meetings and two-way parent associations. Availability of literate human resources and physical infrastructure that supports GLS culture. Monitoring and evaluation are regularly carried out to see the progress of the GLS culture.
PENGARUH MODEL PBM DALAM PEMBELAJARAN PPKn TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN SIKAP DEMOKRATIS Risti Aulia Ulfa; Danang Prasetyo; Marzuki Marzuki
Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.42 KB) | DOI: 10.25273/citizenship.v6i2.3307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan berpikir kritis, dan (2) pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap sikap demokratis bagi peserta didik dalam pembelajaran PPKn di SMK Negeri 1 Magelang. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment. Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan berpikir kritis dan angket sikap demokratis. Data dianalisis dengan menggunakan uji-t. Hasil penelitian sebagai berikut. (1) Terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran PPKn di SMK Negeri 1 Magelang pada Kompetensi Dasar menganalisis kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban sebagai warga negara, yang terbukti nilai t hitung > t tabel pada taraf signifikansi α = 0,05  (2,557> 2,000). (2) Terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran berbasis masalah terhadap sikap demokratis peserta didik dalam pembelajaran PPKn di SMK Negeri 1 Magelang pada Kompetensi Dasar menganalisis kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban sebagai warga negara, yang terbukti nilai t hitung > dari t tabel pada taraf signifikansi α = 0,05 (5,332> 2,000).
INTEGRASI PENDIDIKAN ANTIKORUPSI DALAM PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI PERGURUAN TINGGI Danang Prasetyo; Ricky Santoso Muharam; Andhika Djalu Sembada
Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/citizenship.v9i2.8385

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang menganalisis data yang diberikan oleh 361 mahasiswa sebagai responden yang terdiri dari 5 perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta. Data yang didapatkan dari hasil wawancara dan dokumentasi dari bulan Agustus 2020 sampai dengan bulan Januari 2021. Hasil penelitian ini menjelaskan adalah penguatan karakter antikorupsi di perguruan tinggi dilakukan dengan cara mengintegrasikannya ke dalam mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Implementasinya dengan cara (1) melaksanakan kuliah tatap muka melalui jaringan dan e-learning selama 100 menit untuk menjelaskan materi karakter antikorupsi, diskusi kelas, tanya jawab, dan presentasi gagasan penguatan karakter anti korupsi yang akan diinternalisasikan dalam pribadi mahasiswa; (2) memberikan tugas terstruktur setara 120 menit yang berupa tugas menyusun essay yang berisi konsep, strategi aktualisasi pendidikan karakter di perguruan tinggi sebagai panduan aktivitas mahasiswa dalam menguatkan karakter antikorupsi; (3) kegiatan mandiri setara 120 menit yang berupa aktivitas kokulikuler ataupun ekstrakulikuler dalam lingkup kampus dan aktivitas sosial/kemanusiaan di luar kampus. Aktivitas di lingkup kampus terkait dengan proses perkuliahan, unit kegiatan mahasiswa, dan perilaku dalam lingkungan kampus. Aktivitas sosial kemanusiaan berupa keikutsertaanya dalam organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dan pendidikan. Hal ini dilakukan sebagai upaya membentuk pelopor generasi muda cerdas dengan memiliki karakter antikorupsi.
Reinforcement of Character Education Based on School Culture to Enhancing Elementary School Students' Citizenship Character Lisa Retnasari; Yayuk Hidayah; Danang Prasetyo
Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar Vol 5 No 2 (2021): May 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jisd.v5i2.38072

Abstract

The development of the nation's character has not shown progress in the progress of its citizens to become more characterized. The phenomenon is that many people's behavior is not by the character imbued with the Pancasila philosophy. This study aims to analyze the program for strengthening character education based on school culture as a strengthening of the civic character of elementary school students. The method used in this research is descriptive qualitative with data collection in interviews, observations, and documentation. The data analysis technique uses the Miles and Huberman method triangulation. The results showed that the school culture-based character education program is a civic reinforcement for students by familiarizing the main character values in religion, nationalism, independence, cooperation in various school cultural activities. In addition, there is support in the implementation of character education programs as an enhancer of entrepreneurial character in Ngrukeman Yogyakarta Elementary School students, such as adequate infrastructure and teacher training. This paper concludes that the school culture-based character education program as a strengthening of the civic character of students in elementary schools can be implemented with the cooperation of various parties in the school. The recommendations in this article are to explore further the school culture-based character education program, especially in elementary schools.
KEEFEKTIFAN MODEL KOOPERATIF TIPE THINK-TALK-WRITE DALAM MENULIS EKSPOSISI DI PERGURUAN TINGGI Yeni Rahmawati; Danang Prasetyo
Jurnal Visi Ilmu Pendidikan Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jvip.v12i2.39607

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara keterampilan menulis eksposisi mahasiswa Program Studi S-1 Pariwisata yang diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe Think-Talk-Write dan yang diajar tanpa menggunakan model kooperatif tipe Think-Talk-Write; (2) keefektifan model kooperatif tipe Think-Talk-Write dalam pembelajaran menulis eksposisi mahasiswa Program Studi S-1 Pariwisata. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu dengan desain Randomized Control Group Pretest – Posttest Design. Populasi adalah seluruh mahasiswa Program Studi S-1 semester 2 Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta Tahun Ajaran 2019/2020. Teknik pengambilan sampel adalah cluster random sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan metode nontes berupa penugasan menulis eksposisi. Kemudian, data dianalisis dengan menggunakan uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan pada hasil pembelajaran menulis eksposisi mahasiswa yang menggunakan model pembelajaran Think-Talk-Write dan mahasiswa tanpamenggunakan model pembelajaran Think-Talk-Write. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Sig (2-tailed) di kelas postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol kurang dari 0,050. (2) Model pembelajaran Think-Talk-Write efektif untuk digunakan dalam pembelajaran menulis eksposisi.