Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

RAND DESIGN GENERASI EMAS 2045: TANTANGAN DAN PROSPEK PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK KEMAJUAN INDONESIA Sabit Irfani; Dwi Riyanti; Ricky Santoso Muharam; Suharno
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol. 14 No. 2 (2021)
Publisher : usat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v14i2.532

Abstract

This study aims to analyze the challenges of citizenship issues in preparing Indonesia's golden generation in 2045. This research is content analysis research with a qualitative approach. Data were collected through observation and tracing documents and archives. The results show great challenges of Indonesian as a state in terms of maintaining the foundational philosophical theory of Pancasila. This determines the importance of a study of civic education as the spearhead in preparing the generation that will inherit the nation and state of Indonesia. In 2045, Indonesia expects to have a golden generation. This of course requires Indonesian as a state to prepare its human resources, namely the younger generation, to face this momentum well. The golden generation of Indonesia is expected to be a generation that is tough, thinks forward, and always upholds the values of Pancasila. The golden generation of Indonesia in 2045 is the hope for the future of the nation. Civics as a subject in school has a paramount role in preparing Indonesia’s golden generation in 2045. Civics must be able to solve challenges such as intolerance, the ideology of other nations, and globalization. The prospect of civic education is being promoted as a panacea for solving problems that exist in Indonesia as a nation.
Kesantunan Mahasiswa Dalam Berbahasa Indonesia Di Media Sosial: Whatsapp, Facebook, Dan Instagram Widya Tri Utomo; Andhika Djalu Sembada; Ricky Santoso Muharam
JURNAL EDUSCIENCE (JES) Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Eduscience (JES)
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1028.077 KB) | DOI: 10.36987/jes.v8i1.1974

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis kesantunan mahasiswa dalam berbahasa Indonesia di mediasosial, agar mahasiswa lebih memerhatikan kesantunan dalam berbahasa Indonesia melaluimedia sosial. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk melukiskan realitassosial yang kompleks dengan cara mendeskripsikan, mengklasifikasi, menganalisis, danmenafsirkan data sesuai dengan kondisi alaminya. Teknik pengumpulan data mengambil dariScreenshoot percakapan mahasiswa dari media sosial WhatsApp, Facebook, dan Instagram.Hasil penelitian menunjukan, 1) masih terdapat penggunaan kata yang ambigu dalamkomunikasi tulis, 2) penggunaan kata “Maaf” untuk mengawali percakapan di media sosial, 3)ketidaksantunan dalam memberikan kata sapaan kepada dosen, 4) penggunaan bahasa santai(tidak sopan) kepada dosen, 5) ketidak santunan dalam pemilihan kata kepada dosen melaluimedia sosial, dan 6) ketidaksantunan dalam memberikan salam pembuka. Dosen memberikanarahan kepada mahasiswa melalui komunikasi tulis secara pribadi dan memberikan contohkomunikasi yang santun ketika Chating-an dengan mahasiswa. Respon mahasiswa setelahdiberikan arahan oleh dosen, memilik dampak yang positif. Mahasiswa lebih memerhatikankesantunan berbahasa ketika berkomuniasi dengan dosen, baik melalaui komunikasi tulis,maupun komunikasi lisan.
Pemanfaatan media youtube untuk mendukung e-learning pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi Ricky Santoso Muharam; Danang Prasetyo
Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/citizenship.v4i1.19444

Abstract

Perubahan proses perkuliahan pendidikan kewarganegaraan dari tatap muka langsung menjadi pembelajaran jarak jauh melalui jaringan menuntut perlunya inovasi dan kreativitas pendidik dalam mengembangkan media pembelajaran. Youtube adalah platform yang dapat dikembangkan dosen dalam mendukung pembelajaran dalam jaringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respons mahasiswa terhadap youtube yang dikembangkan dosen sebagai media pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam jaringan. Penelitian dilakukan secara deskriptif analitis kepada mahasiswa peserta kuliah pendidikan kewarganegaraan di STP Ambarrukmo Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media youtube yang dikembangkan dosen dapat membantu mahasiswa dalam memahami materi-materi perkuliahan pendidikan kewarganegaraan. Namun demikian, dosen dipandang perlu untuk terus melakukan inovasi dalam pengembangan media pembelajaran untuk perkuliahan lanjutan. Dilihat dari kesesuaian materi, 28,9% responden menyatakan sangat sesuai, 56,0% menyatakan sesuai, 14,8% menyatakan cukup, dan 0,3% menyatakan kurang memahami materi yang disampaikan lewat youtube. Berkaitan dengan perlunya inovasi lanjutan dalam pengembangan media pembelajaran, 86,7% responden mendukung dilakukannya inovasi dalam pengembangan media youtube sebagai media pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, dan 13,3% lainnya menyatakan tidak perlu dilakukan inovasi. Penelitian ini dapat memberi landasan empiris manfaat youtube yang dikembangkan dosen sebagai media pembelajaran dalam perkuliahan pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi.
SOCIALIZATION OF THE BHINNEKA TUNGGAL IKA IN KAPANEWON NGLIPAR, GUNUNGKIDUL REGENCY Ricky Santoso Muharam
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 4, No 4 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v4i4.5824

Abstract

Abstrak: Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, budaya, etnis serta bahasa sehingga menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara multikultural. Keberagaman yang dimiliki Indonesia tentu saja tidak selalu berjalan dengan baik, persoalan sikap intoleransi khususnya di beberapa wilayah Indonesia karena perbedaan pandangan serta pemahaman baik itu dari pemahaman agama, budaya, aliran kepercayaan serta sikap sosial di masyarakat menimbulkan konflik yang dikhawatirkan akan mengganggu disintegrasi bangsa. Kegiatan sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang keberagaman serta membangun sikap toleransi di masyarakat khususnya di Kapanewon Nglipar Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode dalam pelaksanaan kegiatan ini dengan metode sosialisasi dengan jumlah peserta terdiri dari 25 orang dari tokoh masyarakat, tokoh budaya, tokoh agama serta aparat dari beberapa desa di Kapanewon Nglipar Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan setelah kegiatan, terdapat peningkatan pengetahuan dan pemahamanan tentang Bhinneka Tunggal Ika.Abstract:  Indonesia consist of ethnicity, religion, culture, ethnicity, and language certainly makes the Indonesian nation a multicultural country. Of course, Indonesia's diversity does not always work well, the issue of intolerance, especially in some parts of Indonesia, due to differences in views and understandings of religion, culture, beliefs, and social attitudes in society create conflicts that are feared to disrupt the disintegration of the nation. The Bhinneka Tunggal Ika socialization activity aims to provide an understanding of diversity and build tolerance in society, especially in Kapanewon Nglipar, Gunungkidul Regency, Yogyakarta Special Region Province. The method in implementing this activity is the socialization method with the number of participants consisting of 25 people from community leaders, cultural leaders, religious leaders, and officials from several villages in Kapanewon Nglipar, Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta. Based on the results of the evaluation conducted after the activity, there was an increase in knowledge and understanding of Bhinneka Tunggal Ika.
RAND DESIGN GENERASI EMAS 2045: TANTANGAN DAN PROSPEK PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK KEMAJUAN INDONESIA Sabit Irfani; Dwi Riyanti; Ricky Santoso Muharam; Suharno
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol. 14 No. 2 (2021)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v14i2.532

Abstract

This study aims to analyze the challenges of citizenship issues in preparing Indonesia's golden generation in 2045. This research is content analysis research with a qualitative approach. Data were collected through observation and tracing documents and archives. The results show great challenges of Indonesian as a state in terms of maintaining the foundational philosophical theory of Pancasila. This determines the importance of a study of civic education as the spearhead in preparing the generation that will inherit the nation and state of Indonesia. In 2045, Indonesia expects to have a golden generation. This of course requires Indonesian as a state to prepare its human resources, namely the younger generation, to face this momentum well. The golden generation of Indonesia is expected to be a generation that is tough, thinks forward, and always upholds the values of Pancasila. The golden generation of Indonesia in 2045 is the hope for the future of the nation. Civics as a subject in school has a paramount role in preparing Indonesia’s golden generation in 2045. Civics must be able to solve challenges such as intolerance, the ideology of other nations, and globalization. The prospect of civic education is being promoted as a panacea for solving problems that exist in Indonesia as a nation.
INTEGRASI PENDIDIKAN ANTIKORUPSI DALAM PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI PERGURUAN TINGGI Danang Prasetyo; Ricky Santoso Muharam; Andhika Djalu Sembada
Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/citizenship.v9i2.8385

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang menganalisis data yang diberikan oleh 361 mahasiswa sebagai responden yang terdiri dari 5 perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta. Data yang didapatkan dari hasil wawancara dan dokumentasi dari bulan Agustus 2020 sampai dengan bulan Januari 2021. Hasil penelitian ini menjelaskan adalah penguatan karakter antikorupsi di perguruan tinggi dilakukan dengan cara mengintegrasikannya ke dalam mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Implementasinya dengan cara (1) melaksanakan kuliah tatap muka melalui jaringan dan e-learning selama 100 menit untuk menjelaskan materi karakter antikorupsi, diskusi kelas, tanya jawab, dan presentasi gagasan penguatan karakter anti korupsi yang akan diinternalisasikan dalam pribadi mahasiswa; (2) memberikan tugas terstruktur setara 120 menit yang berupa tugas menyusun essay yang berisi konsep, strategi aktualisasi pendidikan karakter di perguruan tinggi sebagai panduan aktivitas mahasiswa dalam menguatkan karakter antikorupsi; (3) kegiatan mandiri setara 120 menit yang berupa aktivitas kokulikuler ataupun ekstrakulikuler dalam lingkup kampus dan aktivitas sosial/kemanusiaan di luar kampus. Aktivitas di lingkup kampus terkait dengan proses perkuliahan, unit kegiatan mahasiswa, dan perilaku dalam lingkungan kampus. Aktivitas sosial kemanusiaan berupa keikutsertaanya dalam organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dan pendidikan. Hal ini dilakukan sebagai upaya membentuk pelopor generasi muda cerdas dengan memiliki karakter antikorupsi.
Bimbingan Teknis Kinerja Pengawas Tempat Pemungutan Suara pada Pilkada 2020 di Era Pandemi Covid 19 Ricky Santoso Muharam
Jurnal Surya Masyarakat Vol 4, No 1 (2021): November 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jsm.4.1.2021.10-17

Abstract

Understanding of duty as a supervisor of polling places certainly needs to be given a thorough of various materials ranging from regulations on the selection of regional heads, regulations on the supervision of regional head elections during the Covid-19 pandemic, the code of ethics and the use of the election surveillance system (SIWASLU) need to be clearly understood.  This activity is carried out in two stages, namely technical guidance phase 1 and technical guidance phase 2 starting from the preparatory stage, material briefing, practice, posttest and questionnaire filling.  The results of this activity resulted in understanding for members of the polling station supervisor (PTPS) in carrying out their responsibilities   from regulatory understanding, supervision of health protocols as supervisors, code of ethics and commitment to contribute to becoming PTPS.   PTPS commitment to be able to contribute back to become a member of the TPS election supervisor for the 2024 elections correspondents answered 28 people (47.5%) willing to return to become PTPS in the   upcoming   elections or local elections, 28 people (47.5%) answer still in doubt or maybe willing to return to become PTPS and 3 people or about (5.1%) do not want to join the PTPS for the 2024 regional elections or presidential elections.
Bimbingan Teknis Kinerja Pengawas Tempat Pemungutan Suara pada Pilkada 2020 di Era Pandemi Covid 19 Ricky Santoso Muharam
Jurnal Surya Masyarakat Vol 4, No 1 (2021): November 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jsm.4.1.2021.10-17

Abstract

Understanding of duty as a supervisor of polling places certainly needs to be given a thorough of various materials ranging from regulations on the selection of regional heads, regulations on the supervision of regional head elections during the Covid-19 pandemic, the code of ethics and the use of the election surveillance system (SIWASLU) need to be clearly understood.  This activity is carried out in two stages, namely technical guidance phase 1 and technical guidance phase 2 starting from the preparatory stage, material briefing, practice, posttest and questionnaire filling.  The results of this activity resulted in understanding for members of the polling station supervisor (PTPS) in carrying out their responsibilities   from regulatory understanding, supervision of health protocols as supervisors, code of ethics and commitment to contribute to becoming PTPS.   PTPS commitment to be able to contribute back to become a member of the TPS election supervisor for the 2024 elections correspondents answered 28 people (47.5%) willing to return to become PTPS in the   upcoming   elections or local elections, 28 people (47.5%) answer still in doubt or maybe willing to return to become PTPS and 3 people or about (5.1%) do not want to join the PTPS for the 2024 regional elections or presidential elections.
Penguatan Nilai Karakter Pendidikan Antikorupsi Melalui Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Ricky Santoso Muharam; Sudaryatie Sudaryatie; Danang Prasetyo
Yustitiabelen Vol. 8 No. 1 (2022): Januari, 2022
Publisher : Universitas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36563/yustitiabelen.v8i1.524

Abstract

Penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif dengan menganalisis data dari 328 responden dari tiga perguruan tinggi (PT) di Yogyakarta. Dengan menggali data survey dalam survey/survey menggunakan mixed survey. Data dalam survei ini berasal dari data primer dan data sekunder. Hasil survei ini menjelaskan nilai pendidikan antikorupsi. Kepribadian: Dari 328 siswa yang disurvei yang menganggap nilai kejujuran itu penting, mereka sering melakukannya. Jumlah tanggapan 171 (52,1%), nilai tanggung jawab 162 responden (49,4%), nilai kasih sayang 114 (36,7%), nilai sederhana 98 responden (29,9%), nilai disiplin 75 responden (22,9%), nilai ketekunan 72 responden (22%), 68 responden dengan nilai independen (20,7%). ), Nilai wajar 66 responden (20,1%) dan nilai keberanian 64 responden (19,9%). Nilai-nilai kepribadian tersebut dapat dibagi menjadi tiga aspek: inti, etos kerja, dan sikap yang menghasilkan etika anti korupsi dalam profesionalisme berintegritas.
Pengabdian Dosen Dalam Program Pejuang Muda Kementerian Sosial di Manggarai - Nusa Tenggara Timur Puput Dani Prasetyo; Ricky Santoso Muharam
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Cv. Utility Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1235.403 KB) | DOI: 10.55338/jpkmn.v3i1.270

Abstract

Dalam rangka melatih mental siswa di lapangan, pemerintah melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat program yang disebut pejuang muda yang bertujuan untuk melatih siswa dalam mengambil keputusan dalam menghadapi masalah sosial yang terjadi di Indonesia. Masalah sosial tersebut antara lain kemiskinan atau faktor ekonomi, keterbelakangan pendidikan, infrastruktur, bencana alam, dan sebagainya. Siswa yang dibutuhkan dalam program pejuang muda ini adalah bagaimana siswa dapat memecahkan studi kasus nyata yang terjadi. Pada kesempatan ini, penulis selaku Pembina atau mentor para pejuang muda dan ditempatkan di Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur menyatakan bahwa Manggarai secara keseluruhan memiliki kekayaan alam yang begitu luar biasa, namun masyarakatnya masih dikatakan miskin, daerah manggarai terkenal dengan perkebunan kopi yang sangat luas dan sangat mendukung perekonomian masyarakat, namun karena proses tengkulak yang menyebabkan harga yang harus diterima oleh petani sangatlah kecil. Masyarakat di manggarai juga melakukan eksplorasi dengan menanam tanaman ubi-ubian yang bernama Porang, yang diindonesia saat ini menjadi salah satu tanaman umbi-umbian yang bernilai export, Porang juga disebut tanaman bernilai emas. Sehingga tugas dari mahasiswa adalah bagaimana menemukan kekayaan daerah yang bisa di budidayakan oleh masyarakat sekitar sehingga menjadi salah satu komoditi dan penghasilan tetap bagi masyarakat sekitar dan kekayaan daerahnya. Selain itu mahasiswa juga diharapkan dapat membantu dinas sosial didaerah setempat dalam melakukan pendataan masyarakat kurang mampu, sehingga bantuan dari pemerintah menjadi tepat sasaran.