Claim Missing Document
Check
Articles

NILAI- NILAI KEBANGSAAN DALAM LIRIK PUPUH UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR Suherman, Agus; Santosa Nugraha, Haris
JALADRI : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Vol 5 No 1 (2019): Jaladri
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jaladri.v5i1.1467

Abstract

Penanaman nilai-nilai kebangsaan sebaiknya dilakukan sejak dini terutama di usia sekolah dasar. Sumber-sumber nilai kebangsaan yang ditanamkan tersebut di samping berasal dari landasan ideal dan konstitusional, juga dapat diambil dari muatan-muatan mata pelajaran. Dengan menggunakan metode deskriptif, tulisan ini mengkaji nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam lirik pupuh untuk siswa sekolah dasar dalam mata pelajaran bahasa Sunda. Hasilnya, beberapa pupuh yang diajarkan di beberapa tingkatan kelas, banyak mengandung nilai-nilai kebangsaan. Nilai-nilai tersebut telah lama dianut dan diamalkan oleh masyarakat Sunda sehingga telah menjadi ingatan kolektif dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, nilai-nilai tersebut sangat bersesuaian dengan empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Oleh sebab itu, pelajaran bahasa Sunda khususnya materi pupuh sangat berkontribusi positif dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus bangsa.
Nilai Moral dalam Novel Catétan Poéan Réré Karya Ai Koraliati Wahyudin, Bayu; Ruhaliah, Ruhaliah; Suherman, Agus
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8273

Abstract

This study examines the narrative structure and moral values in the novel Catétan Poéan Réré by Ai Koraliati, a contemporary Sundanese literary work that boldly addresses LGBTQ+ issues, particularly gender identity and sexual orientation (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer/Questioning), within a society that upholds religious norms, propriety, and social harmony. The study employs a qualitative descriptive method with content analysis techniques to identify forms of moral values, classified according to Sudaryat’s framework, which includes human relationships with God, the self, others, nature, time, and the pursuit of both physical and spiritual well-being. The analysis reveals that all six categories of moral values are manifested explicitly and implicitly through the narrative, dialogues, and character actions. The novel presents emotional dynamics, moral conflicts, and reflective processes experienced by the characters as they face social pressures and questions of identity. Beyond its strong narrative structure, the work conveys profound ethical messages without being didactic. Catétan Poéan Réré illustrates how literature can serve as a space for dialectical engagement between traditional values and the complexities of contemporary Sundanese social realities. Abstrak Penelitian ini mengkaji struktur naratif dan nilai-nilai moral dalam novel Catetan Poéan Réré karya Ai Koraliati, sebuah karya sastra Sunda kontemporer yang secara berani mengangkat Isu LGBTQ+ merujuk pada identitas gender dan orientasi seksual (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer/Questioning) yang ada dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma agama, kesopanan, dan harmoni sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk nilai moral yang diklasifikasikan oleh Sudaryat, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, alam, waktu, serta dalam meraih kebahagiaan lahiriah dan batiniah. Hasil analisis menunjukkan bahwa keenam kategori nilai tersebut terwujud dalam narasi, dialog, dan tindakan tokoh secara eksplisit maupun implisit. Novel ini menampilkan dinamika emosional, konflik moral, serta proses reflektif tokoh-tokohnya dalam menghadapi tekanan sosial dan identitas. Selain menyuguhkan struktur cerita yang kuat, karya ini juga menyisipkan pesan-pesan etis yang dalam, tanpa kesan menggurui. Catetan Poéan Réré memperlihatkan bahwa sastra dapat menjadi ruang dialektika antara nilai-nilai tradisional dan kompleksitas realitas sosial kontemporer masyarakat Sunda.
Mengintegrasikan Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Sastra dan Budaya Lokal: Temuan dari FGD Kolaboratif UPI–UNDIKSHA Koswara, Dedi; Darajat, Danan; Alamsyah, Zulfikar; Isnendes, Retty; Suherman, Agus
Dimasatra Vol 5, No 1 (2025): April
Publisher : Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dm.v5i1.75630

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru dan dosen pengajar bahasa daerah mengenai implementasi Kurikulum Merdeka dan capaian pembelajarannya, khususnya dalam konteks pembelajaran sastra dan budaya lokal. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali. Latar belakang kegiatan ini didasari oleh tantangan dalam dunia pendidikan pascapandemi Covid-19, yang menuntut adanya penyesuaian terhadap kurikulum serta penerapan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel, adaptif, dan kontekstual terhadap lingkungan budaya peserta didik. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) dengan mengintegrasikan metode ceramah, diskusi, dan simulasi. Subjek kegiatan difokuskan pada guru bahasa daerah dan dosen pengampu mata kuliah bahasa dan budaya daerah di lingkungan UPI dan Undiksha, serta se-Indonesia. Hasil FGD menunjukkan bahwa kegiatan ini mampu meningkatkan pemahaman peserta terhadap prinsip-prinsip dasar Kurikulum Merdeka, capaian pembelajarannya, serta strategi integrasi nilai-nilai budaya lokal, seperti budaya Sunda dan Bali, ke dalam proses pembelajaran. Selain memberikan dampak langsung dalam peningkatan kompetensi peserta, kegiatan ini juga menghasilkan sejumlah luaran akademik, di antaranya: (1) artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi, (2) buku hasil kegiatan, (3) artikel populer di media massa, serta (4) pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Temuan dan pengalaman dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model implementatif bagi institusi pendidikan lainnya dalam mengembangkan kurikulum berbasis kearifan lokal secara lebih sistematis dan berkelanjutan.
PRINSIP KERJASAMA DALAM KUMPULAN CERITA TEU TULUS PAÉH NUNDUTAN KARYA KI UMBARA: KAJIAN PRAGMATIK Juliwandina, Innasa; Suherman, Agus; Leonita, Leonita
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 19, No 2 (2024): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v19i2.8403

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan obrolan yang termasuk ke dalam prinsip kerjasama (kooperatif), maksim-maksim obrolan, dan tingkat kesesuaian obrolan kerjasama yang ada di dalam buku kumpulan cerita. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data yang dikumpulkan menggunakan teknik studi pustaka dengan instrumen kartu data digital. Sumber data dalam penelitian ini, adalah obrolan-obrolan yang ada di dalam kumpulan cerita Teu Tulus Paéh Nundutan karya Ki Umbara. Hasil dari penelitian ini, yaitu (1) ada 429 data obrolan yang termasuk ke dalam prinsip kerjasama (kooperatif); (2) maksim obrolan kerjasama didominasi oleh maksim kesesuaian atau relevansi; dan (3) data omongannya kebanyakan mematuhi prinsip kerjasama. Berdasarkan hasil analisis, data obrolan yang ada di dalam buku tersebut kebanyakan mematuhi dan obrolannya mengandung harti ‘kesesuaian’, karena obrolan atau informasi yang disampaikan oleh pembicara patuh terhadap salah satu maksim obrolan kerjasama, serta sesuai dengan permasalahan yang sedang diceritakan. Kata Kunci: cerita karya ki umbara, pragmatik, prinsip kerjasama Abstract This study aims to describe the chats that belong to the principle of cooperation (cooperative), the maxims of the chats, and the level of conformity of the cooperative chats in the story collection book. This research uses a qualitative approach with a descriptive method. The data were collected using a literature study technique with a digital data card instrument. The data source for this research is the chats in the story collection "Teu Tulus Paéh Nundutan" by Ki Umbara. The results of this study, namely (1) there are 429 chat data included in the principle of cooperation (cooperative); (2) the maxim of appropriateness or relevance dominates the maxims of cooperative chat; and (3) the chat data mostly comply with the principle of cooperation. Based on the results of the analysis, the chat data in the book mostly complies, and the chat contains harti 'suitability', because the chat or information conveyed by the speaker complies with one of the maxims of cooperative chat, and is in accordance with the problem being told.
Philosophical Numeracy Literacy in Sundanese Local Wisdom Sudaryat, Yayat; Suherman, Agus; Widyastuti, Temmy
International Journal of Multidisciplinary Sciences Vol. 3 No. 3 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ijms.v3i3.3930

Abstract

The old Sundanese people already had numeracy literacy or the ability to understand and use numbers. This is evident in some ancient Sundanese manuscripts. This study aims to describe the use of numbers philosophically in the life of the old Sundanese people. In the study, a qualitative approach with a descriptive method was used. Data were collected by bibliographic study techniques. Data sources are ancient Sundanese manuscripts Sanghyang Siksakandang Karesian (1518 AD) and several Sundanese culture books. The data is processed by immediate constituent analysis techniques. To carry out the philosophical interpretation of numeracy literacy used hermeneutic analysis techniques. The results of the study found five paradigms of numeracy literacy, namely numeracy paradigm- (two, three, four, five, and ten). These figures are used in philosophical expressions as Sundanese local wisdom. Philosophical values are related to character, social life, knowledge, education, leadership, and religion.
PELATIHAN PENYUSUNAN MODEL PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH (BAHASA SUNDA DAN BAHASA JAWA): TEMUAN DARI FGD KOLABORATIF UPI-UNY Nurjanah, Nunuy; Suherman, Agus; Hendrayana, Dian
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v5i2.7318

Abstract

This community service activity aims to improve teachers’ capacity in designing local language learning models, particularly Sundanese and Javanese, based on local wisdom. The method employed was participatory training with a collaborative Focus Group Discussion (FGD) approach involving lecturers and teachers. The training participants consisted of local language teachers from various junior high schools (SMP) and Islamic junior high schools (MTs) in the Special Region of Yogyakarta. The results of the activity indicated that teachers showed high enthusiasm for developing more innovative and contextual learning models. The characteristics of the designed model emphasized the integration of local cultural values, the use of creative methods, and strategies for strengthening students’ character. Further analysis revealed that the model’s strengths lie in its relevance to the Kurikulum Merdeka and its appeal to students, but it also faces challenges such as limited implementation and varying levels of teacher readiness. The recommendations include school-based trials of the model, follow-up training, and the development of supporting modules with cross-institutional collaboration support. ABSTRAKKegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam menyusun model pembelajaran bahasa daerah, khususnya bahasa Sunda dan Jawa, yang berbasis pada kearifan lokal. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD) kolaboratif yang melibatkan dosen dan guru. Peserta pelatihan terdiri atas guru bahasa daerah dari berbagai sekolah SMP dan MTs di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru memiliki antusiasme tinggi terhadap pengembangan model pembelajaran yang lebih inovatif dan kontekstual. Karakteristik model yang disusun menekankan integrasi nilai budaya lokal, penggunaan metode kreatif, serta strategi penguatan karakter siswa. Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa model memiliki kekuatan pada aspek relevansi dengan Kurikulum Merdeka dan daya tarik bagi siswa, tetapi juga menghadapi tantangan berupa keterbatasan implementasi dan variasi kesiapan guru. Rekomendasi yang dihasilkan mencakup uji coba model di sekolah, pelatihan lanjutan, serta pengembangan modul pendukung dengan dukungan kerja sama lintas institusi.
Eksitensi Perempuan dalam Novelet "Asmarandana Liwung" Karya Aam Amilia: Sebuah Kajian Feminisme Eksistensialis Sabila, Rifa Salsa; Suherman, Agus
LOKABASA Vol 16, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i2.91303

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh konflik eksistensial perempuan antara tuntutan sosial dengan pencarian identitas diri. Perempuan sering kali merasa tidak sepenuhnya bebas dalam mengekspresikan eksistensi mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap eksistensi perempuan dalam novelet Asmarandana Liwung karya Aam Amilia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitik dan teknik telaah pustaka dalam mengumpulkan data. Sumber data dalam penelitian ini adalah novelet Asmarandana Liwung karya Aam Amilia. Hasilnya menunjukkan bahwa novelet ini menggambarkan dua sisi eksistensi perempuan. Pertama, ada untuk dirinya, yaitu tokoh utama perempuan menemukan kebebasan dan kesadaran akan keberadaannya setelah melalui berbagai konflik hidup. Kedua, ada untuk orang lain, terlihat dari pengorbanan yang dilakukan demi orang-orang di sekitarnya, baik pengorbanan positif seperti pengabdian tulus, maupun negatif ketika mengorbankan diri sendiri. Strategi eksistensinya meliputi perempuan karier, intelek, agen transformasi sosial, dan modern. Dengan demikian, kisah dalam novelet ini merepresentasikan eksistensi perempuan sebagai subjek otonom yang mampu menentukan keberadaannya secara sadar, bebas, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan hidupnya.This study is motivated by the existential conflict experienced by women between societal expectations and the search for self-identity. Women often feel that they are not entirely free to express their existence. The purpose of this study is to reveal the existence of women in Aam Amilia’s novelette Asmarandana Liwung. The research employs a qualitative approach using descriptive-analytic methods and literature review techniques for data collection. The data source is the novelette Asmarandana Liwung by Aam Amilia. The results show that the novelette portrays two dimensions of women’s existence. First, existence for themselves, where the female protagonist achieves freedom and self-awareness after various life conflicts. Second, existence for others, reflected through sacrifices made for those around her—both positive (selfless devotion) and negative (self-denial). Her existential strategies include being a career woman, an intellectual, a social transformation agent, and a modern individual. Thus, the story represents women’s existence as autonomous subjects capable of consciously, freely, and responsibly determining their own being.
Wawacan Pandita Sawang sebagai Naskah Keagamaan: Tinjauan Kedudukan dan Fungsi Suherman, Agus
Manuskripta Vol 7 No 2 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i2.85

Abstract

Religious matter always comes in every part of life as one of basic human needs, include its also recorded in old manuscripts. Wawacan Pandita Sawang (WPS) is one of manuscript which contains religious values (Islam). With analytic descriptive approach, this paper reveals religous values which contained in WPS. Furthermore, this paper also discusses about philologycal matter around, like copying, spreading manuscript, and its position and story function. Based on analytical result, WPS is very full of religious values with basics material of Islam. It starts from self-understanding through process of creation, maternity, death, principles of Islam, and wudhu. Pupuh poemis used to present religious values in this manuscript. So, besides as advices, it also provide a sense of entertainmentthrough wawacan rebound. === Sebagai salah satu kebutuhan dasar, masalah keagamaan senantiasa hadir dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk terekam dalam naskah-naskah kuna. Wawacan Pandita Sawang (WPS) merupakan salah satu naskah Sunda kuna yang berisi tentang keagamaan (Islam). Dengan menggunakan metode analisis deskriptif, tulisan ini mengungkap nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam naskah WPS. Selain itu tulisan ini juga disertai pembahasan seputar permasalahan filologis yang melingkupinya: penyalinan atau penyebaran naskah, serta kedudukan dan fungsi cerita. Berdasarkan hasil analisis, WPS sangat sarat dengan nilai-nilai keagamaan dengan cakupan materinya sangat mendasar. Diawali dari pemahaman diri melalui proses penciptaan (dalam kandungan), kelahiran, kematian, ritual rukun Islam, dan wudhu. Penghadiran ajaran agama dalam naskah ini dikemas dalam bentuk puisi pupuh, sehingga kedudukan dan fungsinya di samping sebagai ajaran atau petuah, juga memberikan rasa hiburan melalui lantunan tembang wawacan.
Pelatihan Keterampilan English for Business Untuk Pelaku UMKM di Kabupaten Subang Suryana, Deddy; Suherman, Agus; Amir, Amir; Suharno, Suharno
Abdimas Galuh Vol 6, No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v6i1.12653

Abstract

Pertumbuhan  wirausaha kategori usaha mikro, kecil dan  menengah (UMKM) di  Kabupaten Subang mengalami perubahan signifikan setiap tahunnya. Fakta   di atas terdiri tersebut terdiri dari 17.676 usaha mikro, 3.521 usaha kecil, dan 882 usaha menengah yang bergerak di berbagai sektor usaha, antara lain toko kelontong, produk olahan pertanian, produk non pertanian, dan masih banyak lagi usaha kecil lainnya (BPS Kabupaten Subang, 2022). Namun sebagian besar usaha didominasi oleh industri dalam negeri dengan modal terbatas. Saat ini pelanggan  UMKM tidak hanya pembeli lokal tetapi juga  pembeli dari negara-negara  ASEAN. Menghadapi persaingan yang  ketat,  para pelaku UMKM tidak bisa lagi  hanya mengandalkan pelanggan lokal dan menggunakan strategi bertahan untuk memanfaatkan peluang pasar yang ada. Pelaku UMKM harus mampu lebih kompetitif dalam mengembangkan usahanya dan memanfaatkan peluang yang ada. Di era digital, dimana batas wilayah sudah tidak ada lagi, penguasaan bahasa Inggris sangatlah penting. Khusus bagi usaha kecil, seperti UMKM, penguasaan bahasa Inggris menjadi sangat penting. Dengan diperolehnya kemampuan dasar berbahasa Inggris, diharapkan dapat meningkatkan daya tawar pelaku UMKM. Dalam konteks fakta  di atas, program PkM ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dasar English for Business kepada para pelaku UMKM di Kabupaten Subang. Pada kegiatan PkM ini diperoleh hasil; kemampuan kosa kata bahasa Inggris untuk Business dari 50.4 menjadi 72.2; kemampuan mendengarkan dari 48.3 menjadi 65.1; kemampuan membaca dari 67.6 menjadi 70.3;  kemampuan menulis (texting, chatting) dari 55.2 menjadi 67.4; dan kemampuan mengucapkan dari 60.01 menjadi 70.8.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH (BAHASA SUNDA DAN BAHASA JAWA) BERBASIS KEARIFAN LOKAL MELALUI OLAHRAGA UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI BERBAHASA SISWA Nurjanah, Nunuy; Hendrayana, Dian; Suherman, Agus
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v5i4.6599

Abstract

Learning regional languages ??(Sundanese and Javanese) in schools often faces the problem of low student interest and engagement due to teaching methods that have not been optimally integrated with the local cultural context. This study focuses on developing an innovative local wisdom-based regional language learning model, integrating traditional sports to create meaningful and enjoyable learning. The key stages of this research used qualitative methods through literature studies, analyzing various relevant primary and secondary sources to formulate a conceptual model. The main findings of this study indicate that combining regional languages ??with traditional sports can be an effective medium for improving students' language competencies, both oral and written, as well as understanding contextual meanings. Another finding is that this model also fosters positive attitudes towards preserving local culture. It is concluded that the developed model, which is contextual, communicative, and interactive, is effective for actively internalizing ancestral cultural values ??and is aligned with the principles of the Independent Curriculum. ABSTRAKPembelajaran bahasa daerah (Sunda dan Jawa) di sekolah seringkali menghadapi latar belakang masalah berupa rendahnya minat dan keterlibatan siswa akibat metode pengajaran yang belum terintegrasi secara optimal dengan konteks budaya lokal. Penelitian ini berfokus pada pengembangan model pembelajaran bahasa daerah berbasis kearifan lokal yang inovatif, dengan mengintegrasikan olahraga tradisional untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Tahapan penting penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka, dengan menganalisis berbagai sumber primer dan sekunder yang relevan untuk merumuskan model konseptual. Temuan utama dari studi ini menunjukkan bahwa penggabungan bahasa daerah dengan olahraga tradisional dapat menjadi media yang efektif untuk meningkatkan kompetensi berbahasa siswa, baik lisan maupun tulisan, serta pemahaman makna secara kontekstual. Temuan lain adalah bahwa model ini juga menumbuhkan sikap positif terhadap pelestarian budaya lokal. Disimpulkan bahwa model yang dikembangkan yang bersifat kontekstual, komunikatif, dan interaktif efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai budaya leluhur secara aktif dan selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka.